Bab 18

Dede membawa dua orang pria bertubuh tinggi besar ke rumah Hendri. Mereka membawa tongkat kayu berukuran besar dan membuat keributan disana.

Kaca rumah Hendri di pukul hingga pecah, pintu rumah pun ditendang sampai hancur. Saat kejadian buruk itu terjadi, Hendri sedang berada di luar rumah. Para tetangga yang melihat kejadian itu tidak berani berbuat apa apa karena mereka juga khawatir dengan keselamatan diri mereka sendiri.

"Bos, apa lagi yang perlu kita hancurkan?" Tanya pria berkepala botak dengan tubuh gemuk bak banteng dari Bengkulu.

"Masuk ke dalam rumah. Hancurkan tv, peralatan masak, dan barang elektronik lainnya. Salah sendiri sudah mempermainkan perasaan seorang Dede, pria tengik itu harus menerima balasannya," Dede tersenyum sinis.

Hampir setengah jam lamanya, Dede cs membuat keributan dirumah Hendri. Mereka langsung kabur saat melihat kedatangan Pak RT, Pak RW dan petugas keamanan desa. Sepertinya untuk beberapa saat Dede dan dua anak buahnya harus bersembunyi di suatu tempat, aparat desa sudah pasti akan melaporkan ulah mereka ke polisi.

Hendri berdiri mematung di teras rumahnya, dia melongo melihat kerusakan terjadi disana sini. Tanpa diberi tahu, Hendri sudah tau kalau itu semua adalah ulah Dede dan anak buahnya.

Baskoro, ketua RT setempat langsung menghampiri Hendri dan menanyakan keadaanya karena khawatir.

"Untung saja tadi kamu tidak ada dirumah. Kalau dirumah, kamu pasti sudah babak belur dihajar mereka, ucap Baskoro.

"Iya, untung saja,"

"Kamu tenang saja, aku sudah melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Dede dan anak buahnya harus mempertanggung jawabkan perbuatan buruk mereka ini,"

"Terimakasih atas perhatiannya Pak, aku berhutang budi pada Bapak,"

"Tidak usah sungkan, ini sudah menjadi tugasku sebagai ketua RT."

Dalam diamnya, Hendri sibuk menghitung total kerugian yang dia alami. Dia ingin meminta ganti rugi pada Agus Ayah dari Dede. Membuat rumah itu syaratnya banyak, membutuhkan uang yang tak sedikit. Tapi Dede malah merusak semua hasil kerja kerasnya selama ini.

***

Kediaman Agus, malam hari...

Hendri bertolak pinggang dan berdiri dengan angkuh didepan Agus. Matanya memerah menahan marah karena rumah kesayangannya hancur berantakan seperti kapal pecah oleh anak semata wayang Agus.

"Em... Soal kerusakan rumah, aku akan menggantinya seratus persen. Bahkan kalau kamu mau dibangunkan rumah baru aku sanggup mengabulkannya, asal jangan laporkan anakku ke polisi," Agus mulai mengeluarkan bujuk rayunya.

Apa kata orang jika anak dari keluarga terpandang menjadi napi? Bisa buruk hingga tujuh turunan nama baik keluarga Agus. Agus mengira bujuk rayunya akan berhasil mengingat Hendri mata duitan, tapi dia lupa kalau Hendri punya menantu kaya.

"Aku cuma mau ganti rugi untuk memperbaikinya saja, aku tidak perlu rumah baru. Soal dilaporkan polisi, aku tidak akan melaporkan anakmu itu. Tapi sayang, Pak RT dan Pak RW sudah melaporkannya," ucap Hendri sambil menyunggingkan senyum sinis.

Di desa itu, siapa yang tak kesal dengan Dede? Dia tukang teror, pembuat onar. Hendri mungkin bisa memaklumi, tapi warga yang lain? Ah... Agus benar benar kecewa pada Dede. Kini kewibawaan dan pamor seorang Agus di desa terjun payung, semua gara gara Dede.

"Sebaiknya kamu biarkan saja Dede ditangkap polisi, biar dia tau bagaimana rasanya dihukum saat melakukan kesalahan. Jangan bantu dia, dia seperti itu juga karena kamu terlalu memanjakannya," Hendri memberi nasihat. Meski kesal, Hendri tetap memiliki sedikit kepedulian pada Agus. Bagaimanapun, Agus adalah teman baiknya.

"Ya, kamu benar. Aku minta maaf karena putraku sudah banyak menyusahkan mu," Agus memasang wajah malu dan menyesal.

***

Arnold pulang sedikit terlambat dari biasanya, dia sedang banyak kerjaan di kantor. Malika cemberut karena pria itu tidak memberi kabar akan pulang terlambat dan membuat Malika khawatir.

Malika mengacungkan Arnold, dia mengira kalau Arnold sengaja menjebaknya dengan menaruh minuman pembangkit g@irah itu di dalam kulkas. Untung saja bukan Jessika yang meminumnya, pria itu benar benar tidak bisa berpikir jernih jika hasratnya sudah diujung.

"Apa kamu marah padaku?" Tanya Arnold terus terang.

"Tentu saja, Mas menjebak ku dengan minuman itu,"

"Aku tidak bermaksud menjebak mu, aku lupa menaruhnya sembarangan. Minuman itu aku tidak membelinya, itu pemberian Joko," Arnold membela diri.

"Memangnya Mas Joko sering jajan diluar? Sampai sampai main kerumah teman pun bawa minuman seperti itu?" Malika merasa ragu dengan penjelasan suaminya.

"Dia pemilik pabrik minuman stamina itu sayang, jadi kemana mana selalu membawanya di mobil. Agar dia mudah saat ingin mempromosikannya pada teman temannya,"

"Oh..." Malika membuang muka.

"Apa maksudnya oh...?"

"Ya... Oh... Saja!"

"Jangan buat aku pusing Malika," Arnold mengeluh.

"Kalau pusing pegangan meja, biar tidak jatuh." Cicit Malika sekenanya.

Malika meninggalkan ruang tv, Arnold mengejarnya dan mendekapnya dari belakang. Saat itu juga Arnold harus bisa meraih maaf dari Malika, kalau tidak dia tidak akan bisa meminta jatahnya malam ini.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Firman Firman

Firman Firman

astaga babng Arnold 😱🤦😂bucin bucin

2024-04-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!