Bab 2

Keesokan harinya, Yeni mengantar Malika kerumah Bosnya yang bernama Arnold. Pria matang berusia 35 tahun, tampan, kaya, dan kebetulan seorang duda. Banyak wanita yang tertarik pada duda beranak satu itu, termasuk Yeni. Tapi Yeni sadar diri siapa dirinya, dan dia sedang berusaha untuk membuang rasa sukanya pada Arnold saat ini.

Taxi yang ditumpangi oleh Yeni dan Malika berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah berlantai dua. Yeni menggandeng Malika erat dan membawanya menuju teras rumah mewah bercat putih itu.

Ting... Tong...

Bel berbunyi saat Yeni menekan tombolnya beberapa kali. Setelah menunggu lumayan lama, seorang wanita paruh baya keluar membukakan pintu.

"Pagi Bi Narti," sapa Yeni dengan senyum manis.

"Pagi Non, tumben pagi pagi sekali kesini?" Tanya wanita itu penasaran.

"Bos Arnold ada tidak? Ada temanku yang mau melamar menjadi baby sitter Jessika," ucap Yeni.

"Ada, mari semuanya masuk dulu. Biar Bibi panggilkan pak Arnold," ajak Bi Narti dengan ramahnya.

"Oke Bi, terimakasih ya Bi."

Yeni menarik tangan Malika, membimbingnya untuk masuk keruang tamu dan duduk diatas sebuah sofa beludru. Malika menyentuh sofa itu, terasa begitu lembut ditangan. Sudah jelas kalau sofa itu berharga mahal.

"Malika, yang tadi itu Bi Narti. Dia masih saudari jauh ibuku," jelas Yeni.

"Oh... Pantas kamu akrab sekali dengannya," ucap Malika.

"Dia orang baik, jika kamu diterima bekerja disini pasti akan betah. Soalnya hanya kamu dan Bi Narti saja asisten yang ada dirumah ini," Yeni menepuk pundak temannya beberapa kali.

"Iya, semoga saja aku diterima ya." Malika nampak tidak sabar ingin segera bertemu dengan Pak Arnold dan Jessika.

Tak lama, seorang pria menuruni anak tangga. Dia terlihat gagah dengan pakaian rapih dan brewok tipis yang melekat di dagunya. Untuk sesaat, Malika menatap pria itu sampai lupa berkedip. Untuk pertama kalinya dalam hidup dia melihat pria matang tampan seperti itu.

Segera, Malika menundukkan wajahnya. Dia tak mau dibilang sebagai gadis genit yang hobi memandangi pria sampai keluar air liur. Walaupun sebenarnya dia masih enggan memalingkan pandangannya dari Arnold.

"Siapa namamu?" Tanya Arnold.

"Malika Pak,"

"Berapa usiamu? Apa pendidikan terakhirmu?"

"Usiaku dua puluh tahun, pendidikan terakhir SMK,"

"Apa kamu sudah punya pengalaman mengurus anak kecil sebelumnya?"

"Belum, tapi aku punya banyak adik jadi sedikit banyak aku mengerti bagaimana cara mengurus anak kecil," Malika berbohong.

Yeni melotot, dia tau kalau temannya sedang berbohong. Malika adalah anak satu satunya Pak Hendri, dia bahkan tak punya saudara sepupu, apa lagi seorang adik. Tapi Yeni bisa memaklumi kebohongan Malika, karena dia sudah sangat ingin mendapatkan pekerjaan.

Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun keluar dari kamarnya, dia nampak lucu dengan rambut panjang dikepang dua. Dia adalah Jessika, putri kesayangan Arnold.

"Siapa dia Ayah?" Tanya Jessika sambil duduk disamping Ayahnya.

"Dia temannya Yeni, sedang melamar menjadi baby sitter kamu. Bagaimana menurutmu?" Arnold meminta pendapat putrinya.

Jessi memandang Malika lekat lekat. Wajah cantik, bodi ramping, usia muda. Dia tak hanya cocok untuk dijadikan pengasuh saja, melainkan cocok untuk dijadikan bintang iklan. Jessi cemas kalau Ayahnya akan tergoda dengan pesona Malika jika Malika diterima bekerja dirumah itu.

"Aku tidak butuh pengasuh, apalagi usianya masih terlalu muda. Dia pasti minim pengalaman bukan?" Ucap Jessika ketus.

"Kamu tidak hanya memerlukan pengasuh, tapi juga teman untuk bercerita. Ayah rasa dia cocok untuk menjadi pengasuh sekaligus temanmu," ucap Arnold.

"Terserah Ayah saja lah! Ayah memang suka memaksakan kehendak!" Jessi yang kesal meninggalkan Arnold dan Malika begitu saja.

Arnold menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Anak itu memang keras kepala, sama seperti dirinya. Arnold benar benar dibuat kewalahan oleh titisannya sendiri.

"Maafkan aku Malika, putriku memang terkadang bersikap menyebalkan. Tapi sebenarnya dia anak yang baik,"

"Tidak apa apa Pak, aku bisa memahami sikap anak kecil," Malika meringis. Padahal dalam hati dia kesal pada ulah tengil calon anak asuhnya itu.

"Oke Malika, aku menerima kamu bekerja menjadi pengasuh putriku. Bekerjalah dengan baik, dan jangan kecewakan aku. Mengerti?" Ucap Arnold sambil memandang wajah Malika lekat lekat.

"Ya, aku mengerti Pak." Sahut Malika sambil menyunggingkan senyum lebar.

Sebenarnya Arnold masih sedikit ragu dengan kinerja anak muda itu, terlebih dia belum memiliki pengalaman menjadi pengasuh. Tapi tidak ada salahnya mencoba bukan? Lagi pula sepertinya Jessika membutuhkan teman.

***

Malika diajak oleh Bi Narti kedalam kamarnya, mulai hari ini dan seterusnya mereka akan berbagi kamar sekaligus tempat tidur. Sebenarnya Malika kurang nyaman jika harus berbagi kamar dengan orang lain, tapi ini perantauan, bukan rumahnya dikampung halaman. Mau tidak mau Malika harus mau belajar berbagi ruangan dengan teman kerjanya.

Kamar itu hanya berukuran 3x3 meter, memiliki satu buah ranjang berukuran besar dan dua buah lemari plastik. Meski hanya kamar asisten, disana disediakan AC dan fasilitas lain seperti kulkas mini dan dispenser.

"Malika, apa rumahmu dekat dengan rumah Yeni?" Bi Narti membuka pembicaraan.

"Lumayan Bi, hanya berjarak beberapa meter saja," jawab Malika.

"Aku jarang sekali main kerumah Yeni, jadi aku tidak tau kalau Yeni punya teman secantik kamu," Bi Narti sedikit menggoda.

"Bibi pandai sekali memuji," Malika sedikit terbang ke awang awang.

Kenyataanya Malika memang gadis cantik, dia memiliki kulit putih seperti susu dan rambut lurus meski tidak di rebonding. Banyak pria yang suka padanya, tapi selalu di tolak karena Malika belum ingin belajar berpacaran.

"Jessika itu sebenarnya anak yang baik, tapi dia kurang perhatian dari orangtuanya makannya jadi nakal. Dalam setahun, dia bisa empat atau lima kali ganti pengasuh," cerita Bi Narti.

"Kalau boleh tau, kemana Ibu Nona Jessi Bi?" Malika penasaran.

"Dia diusir dari rumah ini oleh Pak Arnold, setelah mereka resmi bercerai. Saat itu Jessika masih berusia lima bulan dan belum putus asi,"

"Kenapa mereka berdua bisa bercerai?" Lanjut Malika.

"Nyonya ketahuan selingkuh dengan sepupu Pak Arnold sendiri, memalukan bukan? Seperti tidak ada pria lain saja dimuka bumi ini," Bi Narti menceritakannya dengan nada sedikit kesal. Seolah dia ikut sakit hati pada mantan istri majikannya itu.

"Pantas saja Pak Arnold terlihat datar saat melihat perempuan, ternyata dia punya trauma masa lalu," cicit Malika.

"Kamu tau tidak, Pak Arnold kurang suka pada Non Jessika. Karena wajah anak itu sangat mirip dengan Ibunya. Pak Arnold sering mengabaikan Nona Jessi dan acuh padanya,"

"Kasihan sekali anak itu, dia kan tidak salah apa apa. Aku akan menjaga dan mendampingi anak itu dengan baik, jangan sampai dia merasa hidup kesepian didunia yang begitu ramai ini," janji Malika pada Bi Narti.

"Semoga kamu bisa betah kerja disini ya, dan bisa kuat menghadapi tabiat buruk anak itu," Bi Narti. sedikit khawatir.

"Ya, semoga saja."

***

Menjalin hubungan dekat dengan anak kecil susah susah gampang, Malika akan memulainya dengan membuatkan Jessika camilan yang biasa disukai oleh anak anak yaitu kue coklat.

Malika berkutat di dapur selama beberapa jam hingga bau kue sehabis dipanggang menyeruak ke seluruh ruangan yang ada didalam rumah itu.

Tak perlu menunggu waktu lama, Jessika langsung muncul di dapur dengan hidung mengendus endus.

"Baunya enak sekali, Kakak sedang membuat apa?" Tanya Malika.

"Aku sedang membuat pie coklat untukmu," sahut Malika.

"Untukku?" Jessika sedikit terkejut.

"Iya, untukmu. Apa kamu suka?"

"Aku suka segala sesuatu yang memakai coklat. Tapi tunggu dulu, Kakak pasti sedang mencoba untuk merayuku bukan?" Jessi memiliki firasat buruk tentang kebaikan Malika.

"Ah, tidak. Itu tidak benar. Aku hanya ingin membuat makanan untukmu saja, aku tidak memiliki niat lain. Membuat makanan untukmu kan juga menjadi salah satu tugasku sebagai pengasuh," Malika beralibi.

"Omongan Kakak ada benarnya juga," cicit Jessi lirih.

"Ayo coba kue ini," perintah Malika.

Jessi mengambil satu potong kue pie dan memasukannya kedalam mulut. Dia mengunyah makanan itu secara perlahan dan mencoba menikmatinya, rasa manis langsung meledak ledak didalam mulut.

"Kue ini tidak enak, sebaiknya Kakak simpan saja kue ini untuk Kakak sendiri!"

"Masa sih tidak enak? Mungkin karena tidak sesuai dengan seleramu saja ya. Baiklah, aku akan menyimpan makanan ini didalam lemari. Aku akan memberikannya pada kucing liar jika ada yang lewat didepan rumah ini."

Malika kembali ke kamarnya, dia menutup pintu dan menunggu untuk beberapa saat. Dia ingin tau apa yang akan dilakukan Jessi pada kue yang dibuatnya tadi. Malika tidak pernah gagal membuat kue sebelumnya, dia yakin Jessi sengaja mengatakan hal itu untuk membuatnya patah hati.

Setengah jam berlalu, Malika kembali ke dapur. Dia melihat kue pie yang disimpan olehnya berkurang beberapa biji.

"Dasar bocah tengi! Bilang tidak enak, tapi diam diam menyantapnya sampai habis beberapa biji. Anak yang menyebalkan!" Umpat Malika.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Oky Sarri

Oky Sarri

lucu nieh kayanya ceritanya

2024-08-23

0

LISA

LISA

Awal cerita yg bagus nih

2024-05-12

0

Femmy Femmy

Femmy Femmy

kucing kecil Jessi🤭😀

2024-04-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!