Bab 4

Waktu menunjukan pukul 23.00 malam, Narti duduk di sofa sambil sesekali melirik kearah pintu. Sudah selarut itu tapi Arnold belum juga pulang ke rumah, mau ditinggal tidur takut tidak dengar kalau ada yang mengetuk pintu. Narti benar benar merasa serba salah, padahal kedua matanya sangat mengantuk.

Sudah menjadi kebiasaan bagi Arnold saat malam sabtu tiba, dia akan nongkrong di suatu tempat bersama teman temannya. Sekedar mengobrol sambil menikmati minuman yang bisa membuatnya mabuk dan melupakan permasalahan dalam hidupnya.

Sebenarnya Arnold tidak terlalu sibuk, tapi dia sendiri yang membuat sibuk hingga tak punya waktu untuk bersama dengan putrinya kecuali saat sarapan. Jessika sudah sering protes, tapi Arnold masih saja tidak peduli. Menyebalkan bukan?

"Bibi sudah mengantuk belum?" Tanya Malika sambil berjalan mendekat.

"Sudah Neng," sahut Bi Narti.

"Kalau begitu Bibi tidur saja, biar aku yang menunggu Pak Arnold pulang,"

"Benar nih Neng?"

"Benar dong, kasihan Bibi sudah ngantuk berat,"

"Oke, terimakasih ya Neng."

Narti dengan semangat meninggalkan ruang tamu, dia berjalan cepat menuju kamarnya. Sementara itu Malika mengambil alih tugas Bi Narti. Dia dengan setia menunggu Bosnya datang, sambil bermain ponsel agar tidak mengantuk.

Satu jam menunggu, akhirnya Pak Arnold pulang juga. Malika langsung membuka pintu saat mendengar suara mobil terparkir di halaman rumah.

"Kamu belum tidur?" Arnold sedikit kaget karena bukan Bi Narti yang menunggunya pulang.

"Kalau aku tidur, nanti yang membuka pintu untuk Bapak siapa?" Sahut Malika.

"Memangnya Bi Narti sudah tidur?" Tanya Arnold lagi.

"Sudah. Dia terlihat sangat mengantuk tadi, jadi aku menyuruhnya tidur. Bapak perlu makan atau minum tidak?" Malika menatap teduh Bosnya itu.

"Emh... Tolong buatkan aku semangkuk mie kuah, sepertinya enak malam malam makan mie," sahut Arnold.

"Baiklah, aku buatkan dulu,"

Arnold naik ke kamarnya untuk mengganti pakaian, sementara Malika langsung pergi ke dapur. Dia memasak dua mangkuk mie kuah karena perutnya juga kebetulan merasa lapar.

Aroma mie menyeruak memenuhi dapur, membuat siapa saja yang menciumnya akan menelan air liur. Apa lagi jika melihat topingnya yang begitu lengkap seperti bakso, irisan telur rebus dan bawang goreng, pasti akan langsung tertarik untuk ikut makan.

"Mau kemana kamu?" Arnold merasa heran saat Malika membawa mangkuk mie miliknya ke meja lain.

"Aku mau makan disana saja, masa orang rendah sepertiku makan satu meja dengan Bapak?" Malika merasa tak enak hati menerima ajakan Arnold.

"Sudahlah, makan disini saja. Aku tidak pernah membedakan diriku dengan para bawahan atau pegawaiku yang lainnya. Kita itu tidak ada bedanya, sama sama makan nasi juga bukan?" Arnold tersenyum. Malika pun menuruti kemauan Bosnya itu.

Keduanya makan dengan tenang, saking tenangnya hanya helaan nafas mereka saja yang terdengar. Merasa jenuh, Arnold kembali membuka pembicaraan dengan Malika.

"Apa motivasi kamu untuk hijrah ke Ibu kota Malika?" Tanya Arnold.

"Uang, aku ingin punya uang yang banyak," sahut Malika sekenanya. Karena ucapan Arnold jadi tertawa terbahak bahak.

Memangnya apa yang salah dengan ucapan Malika? Bukankah semua orang didunia ini bekerja untuk mendapatkan uang?

"Kamu itu polos sekali, pasti banyak pria yang suka padamu," cicit Arnold.

"Tidak juga, buktinya aku masih jomblo sampai sekarang," celetuk Malika. Dia mengerutkan dahi sebagai pertanda jika dia sedikit lelah. Pria sekarang ini tidak hanya mencintai yang cantik, berbodi seksi dan berpenampilan menarik. Tapi mereka juga menginginkan wanita dari keluarga mampu, tidak seperti dirinya.

"Benarkah?" Arnold merasa tak percaya.

"Benar, aku tidak berbohong. Sebenarnya aku dipaksa menikah oleh Ayahku dengan anak juragan empang, tapi aku kabur dari rumah dan pergi ke kota ini untuk mencari pekerjaan," tutur Malika.

"Kenapa kamu menolak dijodohkan dengan pria itu?" Arnold penasaran.

"Dia preman, bisanya hanya menyiksa dan menyusahkan orang lain. Mana mungkin pria seperti itu bisa menjadi suami yang baik," sahut Malika.

"Memang seperti apa tipe pria idealmu?" Arnold tanpa sadar telah mengorek informasi tentang Malika lebih jauh.

"Emh... Dia harus berusia matang, tampan, mapan dan baik hati," sahut Malika lagi.

"Kalau dengan duda beranak satu kamu mau tidak?" Canda Arnold.

"Kalau dudanya seperti Bapak, aku mau," canda Malika balik.

"Uhuk... Uhuk..." Arnold langsung tersedak. Malika panik dan menyodorkan segelas air untuk pria itu.

"Aku hanya bercanda saja, jangan panik seperti itu. Bapak ini lucu sekali." Malika tertawa renyah melihat Arnold salah tingkah.

Acara makan malam bersama selesai, keduanya pergi ke dalam kamar masing masing dengan perasaan canggung. Arnold tak menyangka Malika akan seberani itu menggodanya, dan entah mengapa dia suka digoda oleh gadis itu. Sepertinya malam ini dia akan sulit tidur karena terus memikirkan celotehan Malika tadi.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Firman Firman

Firman Firman

astaghfirullah 😂🤭🤗dasar Bebi sister jail berani sekali godain duda kesepian 😊nnti kmu di sentil kasih sayang baru tau rasa

2024-04-01

1

Cahaya

Cahaya

nah looooo... keselek kan?
belum juga dibelai manja🤣

2024-03-18

2

niktut ugis

niktut ugis

wah pak duda

2024-01-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!