Arnold kembali ke dalam kamar rawat, dia mendapati Malika sedang duduk merenung seperti memikirkan sesuatu. Apa dia terganggu dengan kedatangan Rossa? Arnold mencoba menebak dalam hati.
Malika mengalihkan pandangannya kearah Arnold, dia melempar senyum masam. Arnold membelai pipi Malika lembut dan membuat wanita muda itu merinding disko. Ini kali pertama Malika disentuh secara intens oleh lawan jenis.
"Maafkan aku, kedatangan Rossa benar benar diluar prediksiku," Arnold memasang wajah bersalah.
"Kamu tidak perlu meminta maaf," ucap Malika. Dia tak suka Arnold menyalahkan diri sendiri.
"Tapi dia merendahkan mu tadi," ucap Arnold.
"Tak apa, aku sudah biasa dianggap rendah oleh orang lain. Santai saja, aku bukan tipe orang yang mudah tersinggung," Malika berusaha menunjukan kalau dia baik baik saja dengan mengukir senyum lagi.
Arnold merasa lega, dia menarik tangan istrinya dan mendekapnya erat. Aroma parfum yang ringan tapi menggoda membuat Arnold merasa nyaman mendekap tubuh mungil Malika.
"Bagaimana keadaan Jessika?" Tanya Arnold sambil melepas dekapannya.
"Demamnya sudah turun, aku yakin besok atau lusa keadaanya akan semakin membaik,"sahut Malika.
"Syukurlah, aku tidak mau berlama lama dirumah sakit. Kebetulan aku fobia jarum suntik,"
"Benarkah? Aku tak percaya itu." Malika dan Arnold tertawa bersama.
***
Keesokan harinya...
Malika membuka mata, dia bangkit dari sofa dan menggeliat untuk mengendurkan otot otot yang tegang karena tidur meringkuk di sofa semalaman.
"Bu," Panggil Jessika.
Malika langsung berjalan menghampiri Jessika di ranjangnya. Malika mengecek suhu tubuh putrinya, sudah turun tak demam seperti kemarin. Wajah Jessika juga sudah kembali bersinar dan tidak pucat.
"Kamu sudah baikan?" Tanya Malika. Jessika mengangguk pelan.
"Ngomong ngomong Ayah pergi kemana?" Malika mencari keberadaan Arnold yang tak ada dalam ruangan.
"Katanya dia ingin membeli kopi hangat untuk Ibu,"
"Hem... Dia perhatian sekali padaku," Malika bergumam.
"Ibu tidak akan menyesal karena telah menikah dengannya, dia pria baik." Jessika membanggakan Ayahnya.
"Iya, dia memang pria baik. Kenapa tidak dari dulu saja aku bertemu dengannya ya?" Malika tersipu.
Seorang petugas rumah sakit mengantarkan sarapan untuk Jessika, Malika langsung menyuapinya dengan sabar dan penuh kasih sayang. Setelah itu dia meminta Jessika untuk meminum obat, Malika juga mengganti pakaian Jessika yang basah karena keringat.
Perlakuan baik Malika sungguh membuat Jessika bahagia. Tak mengapa jika dia tak diinginkan oleh Ibu kandungnya, yang penting ada Malika yang selalu bersamanya.
Arnold kembali, dia membawa dua cup kopi. Aromanya tercium begitu harum dan menggoda siapa saja yang menghirupnya untuk segera mencicipi.
"Ini untukmu," Arnold menyodorkan satu cup kopi untuk Malika.
"Terimakasih,"
"Sama sama."
Mata Malika melihat pucuk kepala Arnold, ada daun kering yang menempel disana. Segera Malika mengambil daun kering itu dengan sedikit menjinjit, membuat wajah keduanya saling berdekatan.
Cup...
Arnold tiba tiba saja melayangkan sebuah ciuman ke pipi Malika, dia tidak tahan memendam gelora dan perasaan yang membuncah sejak kemarin.
"Mas, apa yang kamu lakukan?"Omel Malika.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menahannya. Kamu begitu manis," Arnold menggaruk kepalanya.
"Cie... Ayah, Ibu. Sudah mulai berani bermesraan di depanku ya," goda Jessika. Malika hanya diam sambil menundukkan wajahnya yang memerah.
***
Tiba saatnya Jessika diperbolehkan pulang kerumah, Arnold menyambut dengan baik berita membahagiakan itu. Dia langsung menelfon Bi Narti dan memintanya untuk memasak makanan enak untuk Jessika.
Hal yang tak diinginkan terjadi, Rossa sedang menunggu kepulangan anaknya di teras rumah. Dia membawa banyak mainan dan buah untuk Jessika.
"Ayah, siapa wanita itu?" Jessika menatap wajah Ayahnya yang merah karena menahan marah.
"Turun dari mobil dan langsung masuk ke kamar, wanita itu jahat jadi jangan mau diajak bicara olehnya. Mengerti?" Ucap Arnold.
"Iya, aku mengerti."
Ketiganya turun dari mobil, Jessika langsung melangkah masuk rumah tanpa memperdulikan Rossa yang memanggilnya. Jangankan menoleh, melirik juga tidak. Rossa tau sikap buruk itu pasti karena perintah dari Arnold mantan suami Rossa.
Malika bingung, apa yang dia harus lakukan? Menyapa wanita itu dan mengajaknya masuk atau mengabaikannya? Arnold sangat tidak suka jika dia dan Jessika berdekatan dengan Rossa.
"Apa yang sudah kamu katakan tentang aku pada Jessika?" Tanya Rossa.
"Aku tidak mengatakan apapun," sahut Arnold.
"Bohong! Kamu pasti sudah memperdayainya agar membenciku kan?" Tuduh Rossa.
"Tidak juga, pikiranmu terlalu sempit!" Umpat Arnold.
"Berhenti bertengkar, sebaiknya kita masuk ke dalam rumah saja dan mengobrol sambil minum teh," sela Malika.
"Tidak usah so ramah, aku tidak perlu ke ramah tamahan mu!" Oceh Rossa.
Malika seketika terdiam, dia menghela nafas berat dan menghembuskannya secara perlahan. Wanita itu benar benar menyebalkan, pantas Arnold membencinya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Firman Firman
dasar wanita murahan wanita bar bar 😡
2024-04-02
0