Bab 9

Rumah dihebohkan dengan suara tangisan Jessika, dia meraung dan menjerit seperti harimau kelaparan. Malika panik, dia berlari cepat menuju kamar anak majikannya itu.

Malika sedikit syok saat melihat isi rumah berantakan, sepertinya Jessika baru saja mengamuk. Tapi anehnya Arnold hanya diam terpaku dipojokan tanpa melakukan upaya apapun.

Malika memeluk Jessika, dia bisa merasakan kalau suhu tubuh gadis kecil itu meningkat. Ternyata dia sakit, pantas dia menangis dan mengamuk. Kekanakan sekali, tapi dia memang masih anak anak bukan?

"Apa kamu flu atau batuk? Tubuhmu panas," ucap Malika.

"Perutku sakit, kepalaku pusing dan tenggorokanku juga sakit," keluh Jessika sambil menangis.

"Kenapa tidak bilang kalau kamu sedang sakit? Malah mengamuk seperti kuda lumping," seloroh Arnold.

"Kakak, lihat Ayahku jahat!" Jessika merengek.

"Pak, sebaiknya Bapak menelfon sekolah. Mintakan Ijin untuk Jessi agar bisa libur dan beristirahat dirumah," ucap Malika sambil melirik kearah Arnold.

"Ya, baiklah. Aku juga akan memanggil Dokter untuk memeriksanya." Ucap Arnold sambil berlalu.

Setelah diperiksa, Dokter menyatakan kalau Jessika menderita radang tenggorokan. Dia juga mengalami sakit mag. Dokter meresepkan beberapa jenis obat dan vitamin. Dia juga memberikan beberapa jenis makanan yang tidak boleh dikonsumsi oleh Jessika sementara waktu.

Dokter berperawakan subur itu pergi, Malika mendekat pada Jessika dan mengajaknya bicara.

"Aku buatkan sup ayam untuk makan mau tidak?" Tanya Malika sambil mengelus rambut Jessika.

"Tidak mau, aku tidak mau makan, aku juga tidak mau minum obat," bentak Jessika.

"Kenapa kamu tidak mau makan dan minum obat?"

"Pokoknya kalau Kakak tidak mau menikah dengan Ayah Jessika akan mogok makan dan mogok minum obat!" Ancam Jessika.

Malika mendelik, ternyata Arnold telah mengatakan kalau Malika menolak diajak menikah olehnya. Dia tak menyangka Jessika akan merasa sedih dan jatuh sakit.

Bi Narti tersenyum, dia paham betul kalau Nona kecilnya sedang memanfaatkan keadaan. Anak itu mana boleh keinginannya ditolak, dia pasti akan melakukan segala cara agar keinginannya itu bisa terwujud. Kelakuan buruk itu diturunkan pada Jessika oleh Ibu kandungnya.

Malika kebingungan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia sayang pada Jessika, dia takut terjadi apa apa pada anak itu jika terus menolak makan dan minum obat.

"Baiklah, aku bersedia menikah dengan Ayahmu." Ucap Malika lirih.

Mendengar hal itu, jantung Arnold seperti mau meledak. Baru semalam dia ditolak, tapi keesokan harinya dia diterima. Bukan karena Malika yang plin plan atau Arnold yang bernasib baik, tapi karena Jessika pandai mengancam dan mengintimidasi orang lain.

***

Jessika tertidur pulas setelah makan dan minum obat. Arnold kembali memanggil Malika untuk menghadap ke ruangan pribadinya untuk membicarakan masalah tadi.

Arnold tidak mau Malika menikah dengannya hanya karena terpaksa. Pernikahan semacam itu hanya akan membuat dia dan Malika tertekan hingga gila.

"Malika, soal ucapanmu tadi itu kamu tidak serius bukan?" Tanya Arnold. Dia menatap wajah Malika lekat lekat.

"Aku serius Pak. Semua aku lakukan untuk anak Bapak. Mungkin aku baru sebentar merawat anak Bapak, tapi aku sudah merasa sangat sayang dengan anak itu. Sayangku ini tulus dan bukan main main," sahut Malika serius.

"Kamu yakin mau menikah denganku? Tidak takut menyesal dikemudian hari?"

"Aku tidak takut Pak, aku serius mau menikah dengan Bapak,"

"Baiklah kalau begitu, besok kita akan pulang ke kampungmu untuk meminta restu jika Jessika sudah sembuh dari sakitnya." Ujar Arnold.

Gadis itu terlihat begitu tulus dan polos. Harusnya tidak sulit menaklukan hati Malika jika sudah menjadi suami istri. Arnold masa bodoh jika awalnya semua terjadi karena terpaksa, yang jelas Malika harus jatuh cinta padanya cepat atau lambat.

***

Beberapa hari berlalu...

Jessika sembuh dari sakitnya, Malika dan Arnold langsung mengajaknya pergi ke desa cisumur, kecamatan Gandrungmangu, kabupaten Cilacap, Jawa Tengah tempat Malika dilahirkan dan dibesarkan.

Mereka pergi menaiki kereta api, Jessika begitu senang karena ini adalah pengalaman pertamanya naik kereta. Sementara Malika merasa pusing, dia memikirkan bagaimana reaksi Ayahnya ketika Malika pulang membawa calon suami. Duda beranak satu pula.

Mungkin Malika akan dimarahi, lalu dia akan bertengkar dan berkelahi dengan juragan empang itu. Kemudian, Malika diusir dari rumah dan dicoret dari kartu keluarga. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Malika harus bisa menghadapi semuanya dengan baik dan cerdik.

Harusnya semua akan baik baik saja, apa lagi Arnold adalah pria kaya. Ayah Malika selalu terobsesi memiliki menantu kaya bukan? Dia bahkan jauh lebih kaya dari juragan empang itu.

"Apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya Arnold.

"Aku memikirkan Ayahku. Aku takut menghadapinya, apa lagi aku pernah kabur dari rumah dan membuatnya cemas," sahut Malika.

"Tenang saja, ada aku. Kita hadapi ini bersama sama ya." Arnold tersenyum manis.

Dada Malika berdesir, seperti ada hembusan angin dingin yang memporak porandakan isi hatinya. Wanita mana yang tidak meleleh melihat senyum manis itu juga mendapat perlakuan baik dari Arnold? Malika benar benar sulit menolak pesonanya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Femmy Femmy

Femmy Femmy

kasihan sekali Jesica 😔

2024-04-13

1

Femmy Femmy

Femmy Femmy

🤣🤣🤣

2024-04-13

0

Femmy Femmy

Femmy Femmy

author bisa ajha masa' Jesica disamakan dengan Harimau😀😀😀

2024-04-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!