Week end tiba, Arnold mengajak putrinya sekaligus Malika untuk pergi jalan jalan ke Mall. Mereka membeli banyak kebutuhan dapur di supermarket, membeli pakaian, juga makan makanan enak di food court.
Lelah berjalan jalan, Malika mengajak Jessika dan Arnold untuk duduk di sebuah bangku untuk beristirahat sejenak. Malika heran, kenapa para wanita itu bisa kuat jalan berjam jam di dalam mall, sementara Malika baru jalan satu jam saja sudah merasa lelah.
"Ayah, aku mau es krim," rengek Jessika.
"Biar aku yang pesankan, kalian duduk saja disini," ucap Malika.
"Tidak, biar aku saja. Kamu tetap disini temani Jessika," sela Arnold.
"Aku juga mau es krim, Bapak tidak tau kan es krim kesukaanku yang mana? Jadi Bapak disini saja ya. Biar aku yang pesan," paksa Malika.
"Oke," Arnold menyerah.
"Kakak, jangan lama lama ya!" Jessika terlihat begitu tidak sabar.
"Iya sayang." Malika melempar senyum manis.
Kesempatan emas bagi Jessika untuk mengobrol lebih serius lagi dengan Ayahnya saat Malika pergi. Dia ingin bertanya pada sang Ayah, apakah pria itu sudah memiliki sebuah siasat untuk mendekati Malika. Tapi gadis itu takut kena semprot, karena Ayahnya paling tidak suka diburu buru.
Arnold melirik kearah putrinya, dia mendapati gadis ayu itu tengah menatapnya. Arnold tau, Jessika sedang ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Arnold.
"Apa Ayah sudah mengutarakan perasaan Ayah pada Kak Malika?" Tanya Jessika balik.
"Tentu saja belum, Ayah sedang menunggu waktu yang tepat," celoteh Arnold sambil menggaruk kepala.
"Kapan?"
"Ayah belum tau,"
"Jangan terlalu lama mengulur waktu, nanti jika keduluan pria lain bagaimana?"
"Iya, nanti malam Ayah akan coba ajak dia bicara empat mata."
Obrolan keduanya langsung berakhir saat Malika datang membawa tiga cup es krim dan membagikannya pada mereka. Mata Malika menelisik, sepertinya ada yang baru saja mereka diskusikan. Apa itu? Malika sedikit penasaran.
Selesai makan es krim, mereka tak langsung pulang. Malika mampir ke toko pakaian dalam khusus wanita dan membuat Arnold terpaksa harus menunggu di luar toko. Mana mungkin juga dia ikut masuk? Dia seorang duda. Bisa bisa otaknya langsung traveling melihat patung peraga menggunakan segitiga bermuda dan sarung gunung kelud super seksi.
"Nona, kenapa suaminya tidak ikut masuk? Bukankah akan lebih menyenangkan jika belanja prodak seperti ini bersama dengan pasangannya?" Goda salah satu pegawai di toko.
Malika membisu, dia tak tau harus menjawab apa. Sementara itu, pipi Arnold berubah merah karena tak sengaja mendengar ocehan pegawai itu.
"Ramah si ramah, tapi jangan terlalu juga. Bisa bisanya dia bicara begitu pada Malika, aku kan jadi malu." Batin Arnold sambil menggigit ujung bibir bawahnya.
***
Tiba dirumah, Malika langsung bersiap untuk membantu Bi Narti mengerjakan pekerjaan dapur. Tapi tiba tiba Arnold memanggilnya dan memintanya untuk masuk ke dalam ruang pribadinya.
Jantung Malika deg degan, apa yang mau dibicarakan oleh pria itu? Kenapa sepertinya penting sekali?
"Duduklah," perintah Arnold pada Malika. Malika duduk di sofa berdampingan dengan Bosnya itu.
"Ada apa Pak?"
"Emh... Aku mau bicara padamu, penting,"
"Soal apa?"
"Soal perasaanku padamu. Aku menyukaimu Malika, mau tidak kamu menjadi istriku?"
Malika mendelik, dia tak menyangka pria kaya itu ternyata diam diam menaruh hati padanya bahkan sampai menawarinya untuk menjadi istri. Bagaimana ini? Apa yang harus Malika lakukan sekarang?
Bolehkah Malika menolak begitu saja? Apa Pak Arnold tidak akan tersinggung? Bukannya Malika tidak suka pada duda beranak itu, hanya saja Malika masih terlalu muda untuk menikah. Belum lagi jarak usia diantara mereka yang lumayan jauh.
"Bagaimana ya Pak, aku bingung," Malika gelagapan.
"Jawab saja dengan santai dan jujur, aku tidak akan memaksa jika kamu tidak mau,"
"Aku belum siap untuk menikah, aku masih muda dan masih banyak hal yang ingin aku kejar,"
"Baik, aku mengerti,"
"Bapak tidak marah aku tolak kan?"
"Aku tidak marah, kamu juga jangan sungkan padaku apa lagi sampai menjaga jarak karena hal ini,"
"Iya Pak,"
"Ya sudah kalau begitu, terimakasih atas waktunya. Kamu boleh lanjut melakukan pekerjaanmu,"
"Iya Pak."
Malika keluar dari ruang pribadi Arnold, dia melangkah gontai karena separuh nyawanya telah hilang dimakan oleh perasaan. Dia tidak akan menyesal karena telah menolak pria itu kan? Kesempatan bagus seperti ini tidak akan datang dua kali, dan lagi Malika sebenarnya juga suka pada Pak Arnold.
Di ruangannya...
Arnold meratapi penolakan yang Malika lakukan padanya. Apa yang kurang darinya? Dia baik, tampan dan mapan. Diluar sana dia jadi banyak rebutan kaum hawa, tapi dimata Malika Arnold seperti tidak ada menarik menariknya.
Setelah ini, Arnold yakin Jessika akan kecewa padanya. Dia mungkin akan melakukan cara cara konyol untuk memaksa Malika agar mau menjadi istri dari Arnold.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Femmy Femmy
mdd centilnya pelayannya🤣
2024-04-13
1
Firman Firman
sabar babang semuanya butuh waktu 😂🤭🤗
2024-04-02
0