Bab 7

Tak seperti biasanya, Arnold pulang tepat waktu. Dia membawa banyak makanan enak kesukaan putrinya dan membelikan mainan baru. Jessika senang bukan main, dia terus melompat seperti anak katak yang sedang menyambut turunnya hujan.

Akhir akhir ini Arnold sering pulang terlambat, dia punya banyak pekerjaan yang menumpuk di kantornya. Alhasil, Arnold memiliki sedikit waktu untuk bersama dengan anaknya.

"Malika, taruh makanan ini di piring. Ajak Bi Narti untuk makan bersama kita disini," perintah Arnold.

"Baik, Pak." Malika mengangguk patuh.

Bi Narti bertanya tanya di dalam hati, tumben pria itu pulang cepat? Biasanya dia lebih suka pergi nongkrong dengan teman temannya daripada pulang lebih awal.

Mereka makan bersama dalam satu meja, tidak ada jarak antara majikan dan pekerjanya. Arnold memang pria baik, saking baiknya dia sampai tidak sadar telah ditipu dan dikhianati oleh mantan istrinya dulu.

"Nanti malam kita belajar bersama ya," ucap Arnold sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.

"Belajar bersama? Memang Ayah tidak sibuk?"

"Tidak, Ayah tidak sedang sibuk. Mulai saat ini Ayah akan meluangkan banyak waktu untukmu,"

"Benarkah?"

"Iya, benar,"

"Janji?"

"Ayah janji Nak." Arnold mengacak acak rambut Jessika yang masih tak percaya dengan kata katanya itu.

Wajar saja jika Jessika sulit percaya pada Arnold, Arnold sering membuat janji pada Jessika dan Arnold tak menepatinya. Entah itu karena sibuk, lupa, atau lain sebagainya. Jessika sakit hati, sejak itu dia tidak pernah menghiraukan janji janji Ayahnya lagi.

"Asik, malam ini aku bisa istirahat lebih awal. Saatnya aku menelfon Yeni dan mengobrol banyak dengannya." Batin Malika.

***

Bukannya tidur, Malika malah berguling guling diatas kasur. Dia teringat pada Ayahnya di kampung halaman. Sudah hampir satu bulan dia kabur dari rumah, pria itu pasti sedang pusing mencarinya kesana kemari.

Apa sebaiknya Malika kabari saja kalau dia ada di jakarta saat ini? Ah, tidak. Nanti Ayah bisa menyusulnya dan menyeretnya pulang lalu menikahkannya dengan anak juragan empang itu.

"Ini sudah malam, kenapa kamu belum tidur?" Bi Narti memperhatikan kelakuan rekan kerjanya sejak tadi.

"Aku rindu pada Ayahku," sahut Malika.

"Kalau rindu ya tinggal telfon saja," ucap Bi Narti santai.

"Tidak bisa, dia tidak memegang ponsel," Malika berbohong.

"Kalau begitu doakan saja Ayahmu. Doa adalah tanda cinta yang paling besar dan rahasia bagi seorang manusia," Bi Narti menyunggingkan senyum kecil.

Yang dikatakan Bi Narti benar, sudah lama Malika tidak memanjatkan doa spesial untuk Ayahnya, terutama setelah mereka memiliki konflik pribadi.

Baru saja Malika bersiap untuk membaca baca doa, telinga Malika mendengar ada suara teriakan samar samar.

"Apa itu Bi?" Malika cemas.

"Seperti suara teriakan Nona Jessika, pergilah untuk mengeceknya," pinta Bi Narti.

"Oke Bi."

Malika pergi ke kamar Jessika dengan langkah terburu buru, tiba disana dia kaget melihat Jessika dan Ayahnya saling berpelukan.

"Ada apa?" Tanya Malika.

"Ada kecoak,"

"Hanya seekor kecoak kan? Kenapa Bapak sampai beringsut seperti itu? Bapak takut kecoak?"

"Aku tidak takut, hanya geli saja!" Arnold bergidik ngeri.

"Oh... Astaga. Keluarlah, biar aku cari kecoak nya dulu." Malika memutar kedua bola matanya.

Setelah kurang lebih berada didalam kamar selama sepuluh menit, Malika keluar dari kamar sambil membawa seekor kecoak yang sudah dia masukan kedalam plastik bening. Arnold merasa Malika hebat, dia tidak takut pada binatang menggelikan itu.

Jessika menyenggol ayahnya dengan siku, Arnold pun mendekatkan wajah kepadanya.

"Dia keren, cocok jadi Ibu sambung ku. Jadi Ayah, berusahalah untuk mendapatkan hatinya. Aku tau Ayah menyukainya," bisik Jessika lirih.

Mendapatkan hati seorang gadis yang baru berusia dua puluh tahun? Apa Arnold bisa? Sayangnya Arnold juga tak memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi untuk mendekati Malika.

"Sumber masalah sudah tidak ada, semoga kalian bisa tidur dengan nyenyak ya. Aku juga mau pergi tidur." Pamit Malika sambil menundukkan sedikit wajahnya.

Diatas kasur, Jessika kembali berusaha untuk membujuk Arnold agar mau mendekati Malika. Bahkan, gadis kecil itu berani menawarkan bantuan. Kepala Arnold benar benar dibuat pusing oleh kelakuan anaknya kali ini.

"Aku tidak akan pernah berhenti membujuk Ayah sebelum Ayah mengatakan iya padaku," Jessika mengancam sambil memonyongkan bibirnya ke depan.

"Jujur saja, aku juga suka pada Malika. Tapi apa dia mau menikah dengan pria tua seperti aku?" Arnold kehilangan kepercayaan dirinya.

"Jangan suka memandang rendah diri sendiri. Ayah tampan, mapan, wanita mana yang sanggup menolak pesona Ayah? Cobalah dulu, baru menyerah," Jessi memberi dukungan dan semangat.

"Oke, aku akan mencoba untuk mendekatinya mulai besok." Janji Arnold.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Femmy Femmy

Femmy Femmy

anak katak??bisa ajha author perumpamaannya terhadap Jesica🤣

2024-04-13

1

Firman Firman

Firman Firman

trnyata sekarang Jes yang mnjadi guru privat ayahnya 😂🤭🤗

2024-04-02

0

Cahaya

Cahaya

wkwkwkwk...
parah nih... Jessica jadi mentor ayahnya sendiri 🤣

2024-03-18

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!