Tok... Tok... Tok...
Suara pintu diketuk, Hendri keluar dari kamarnya dan bergegas untuk membuka pintu. Wajahnya sedikit mengekpresikan rasa takut, dia takut tamu yang datang malam itu adalah Agus si juragan empang.
Beberapa minggu ini, Agus mulai menanyakan kemana Malika pergi. Hendri hanya bisa menjawab Malika pindah kerja ke luar kota dan akan kembali bulan depan, jadi dia belum sempat mendiskusikan soal rencana perjodohan mereka.
Agus merasa kesal, dia sangat ingin Malika dan Dede segera menikah. Tapi Malika malah kabur kaburan seperti menolak rencana perjodohan itu.
Klak...
Pintu terbuka, Malika melempar senyum kecil saat melihat Ayahnya.
"Malika," seru Hendri. Dia ingin marah marah, tapi disisi Malika ada seorang pria asing dan anak kecil.
"Dari mana saja kamu? Siapa mereka?" Tanya Hendri.
"Aku pergi bekerja di Jakarta, ini Bosku, dan ini anak asuhku. Sebentar lagi kami akan menjadi keluarga," sahut Malika.
"Keluarga?" Hendri bingung.
"Aku akan menikah dengan Pak Arnold, Bosku sendiri," jelas Malika.
"Apa? Menikah?" Hendri merasa syok. Lama tak pulang, sekalinya pulang malah membawa calon suami sekaligus anak. Apa yang harus Hendri lakukan sekarang pada Agus, sementara Malika pulang dengan membawa calon suami.
Ruang tamu kala itu masih saja terasa sepi, padahal ada empat kepala disana. Jessika diam karena takut pada calon Kakeknya, sementara Arnold enggan mengapa karena Hendri tidak menyapanya duluan.
Situasi macam apa ini? Tidak enak sekali. Malika benar benar merasa stres juga frustasi. Masa hal seperti ini harus Malika dulu yang memulai pembicaraan?
"Ehem... Siapa namamu?" Tanya Hendri pada Arnold. Suaranya terdengar datar tapi serius.
"Namaku Arnold," sahut Arnold singkat.
"Kenapa kamu bisa jadi duda?" Hendri to the point.
"Aku bercerai dengan sang istri karena dia punya PIL," sahut Arnold. Dia sengaja melakukan itu agar Jessika tidak mengetahui apa yang dia ucapkan.
"Begitu rupanya. Kalau boleh tau, apa pekerjaanmu?" Tanya Hendri lagi.
"Aku pemilik perusahaan yang bergerak di bidang fashion," sahut Arnold.
"Mantap jiwa, tak kusangka Malika bisa mendapatkan pria yang jauh lebih kaya dari Dede. Kalau begitu, aku setujui saja mereka menikah." Batin Hendri.
"Jadi bagaimana Pak? Apa aku boleh menikah dengan putri Bapak?" Tanya Arnold.
"Boleh, tapi aku minta mas kawin seratus gram emas dan seserahan uang senilai satu milyar," pinta Hendri.
"Baiklah, aku akan menuruti semua permintaan Bapak." Sahut Arnold enteng.
Malika melongo, uang satu milyar bukan jumlah yang sedikit. Begitu juga dengan emas seratus gram. Kenapa Arnold tidak meminta keringanan? Apa benar dia sekaya itu?
Malika cukup malu dengan kelakuan Ayahnya, dia takut Arnold mengecap sang Ayah sebagai mertua matre. Ya... Walaupun aslinya memang seperti itu.
"Jadi, kapan kamu akan menikahi anakku?" Tanya Hendri.
"Minggu depan." Jawab Arnold mantap.
"Apa? Minggu depan? Apa tidak terlalu cepat Pak?" Protes Malika. Dia belum siap untuk apapun.
"Bukanya lebih cepat jadi lebih baik?" Arnold mengedipkan matanya sebelah. Malika pun hanya bisa mendengus pasrah.
***
Seminggu kemudian...
Hari pernikahan Malika dan Arnold tiba. Mereka resmi menjadi suami istri setelah Arnold sukses melafalkan ijab kabul.
Pernikahan dua sejoli itu dilakukan dengan sederhana dirumah Malika, mereka tak mengundang banyak tamu, hanya tetangga sebelah saja yang datang.
Yeni sengaja mengambil cuti untuk menghadiri pernikahan Malika dan Arnold. Dia benar benar merasa iri pada kesuksesan Malika merayu Arnold dalam waktu dekat.
"Selamat ya, semoga cepat diberi momongan," ucap Yeni.
"Terimakasih sudah mau datang ke acaraku," Malika mengukir senyum.
"Aku datang bukan demi kamu, tapi demi Bosku," Yeni memutar kedua bola matanya.
Aura wajah Yeni saat itu terlihat menyeramkan, jelas sekali dia merasa cemburu dan tidak suka dengan pernikahan Malika. Apa yang harus Malika lakukan sekarang? Masa persahabatan yang baik jadi rusak hanya karena naksir pria yang sama?
***
Di rumahnya...
Dede mengamuk, dia memecahkan pot bunga, guci, dan tv yang ada diruang tamu. Dia juga mengacak acak isi lemari, memecahkan kaca jendela dan pintu.
Dede merasa dihina oleh keluarga Malika, dia ditolak begitu saja bahkan ditinggal menikah. memangnya apa kurangnya Dede? Dia tampan, punya banyak warisan, hanya sedikit nakal saja.
"Ayah tidak mau tau, kamu harus segera membereskan semua kekacauan ini!" Omel Agus.
"Aku tidak mau, biar pembantu saja yang membereskannya,"
"Dasar anak manja dan tak berguna, pantas saja kamu selalu di tolak wanita. Kamu suka sekali memerintah dan membuat orang lain susah," oceh Agus.
"Ayah, aku sedang berduka. Kenapa Ayah malah memarahiku bukannya mencari cara untuk merebut Malika dari pria itu?"
Pletak....
Agus menjitak kening anaknya, dia benar benar bodoh dan lemot hingga ketinggalan informasi. Arnold adalah pria paling kaya dan terkenal di Jakarta, dia punya banyak bawahan dan relasi. Mana mungkin Agus berani macam macam padanya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Femmy Femmy
bapaknya Malika matre'🤦
2024-04-13
0
Firman Firman
ha ha mampus Lo tau rasa sekarang dasar preman cap kampung 😂🤭🤗
2024-04-02
0