Bab 17

"Selamat pagi Malika," sapa Arnold ramah sambil mengecup kening istrinya mesra. Pria itu terlihat begitu sangat bersemangat dengan senyum yang selalu terukir di wajahnya.

Malika hanya diam menahan malu, dia tak membalas sapaan Arnold, melirik kearahnya pun tidak. Arnold tak marah, dia tau apa yang sedang Malika rasakan saat ini. Tapi Arnold bersikap biasa saja seolah olah dia tak tau kalau Malika sedang malu padanya.

Bi Narti sudah memasak banyak makanan enak dan bergizi sesuai dengan pesan Arnold tadi. Dia ikut senang karena Arnold begitu perhatian kepada Malika, bahkan kesehatan dan kebugaran Malika saja sangat dia jaga.

"Ayah, apa ada yang ulangtahun hari ini? Kenapa ada banyak sekali makanan diatas meja?" Jessika mengerutkan dahi.

"Ayah menyiapkan semua ini untuk Ibumu, kasihan semalam dia baru saja kerja lembur," goda Arnold. Malika yang sedang menenggak segelas air minum langsung terbatuk dan reflek mencubit pinggang Arnold kuat.

"Awh..." Arnold berteriak kesakitan. Melihat hal itu Bi Narti jadi malu sendiri, dia kabur dan tak mau melihat pemandangan yang membuatnya merasa iri.

"Memangnya semalam Ibu lembur ngerjain apa?" Jessika menatap Malika.

"Dia memijit badan Ayah yang kecapean,"

"Oh... Memijit. Pasti pijatan Ibu sangat kuat ya, sampai sampai lengan dan leher Ayah banyak merah merahnya," celetuk Jessika.

Malika memperhatikan lokasi yang jessika maksud, benar saja, dia menemukan banyak bekas cakaran dan gigitan disana. Apa semalam dia seagresif itu? Malika ternganga, dia tak menyangka seorang gadis sepertinya bisa bersikap liar seperti macan kelaparan.

Pipi Malika memerah, Arnold jadi gemas melihatnya. Dia menarik hidung Malika ke depan dan mencubit pipinya.

"Aku tidak apa apa, kamu tenang saja. Jangan khawatir ya!" Ucap Arnold.

"Sebenarnya apa yang sedang kalian bahas?" Jessika bingung.

"Tidak ada!" Sahut Malika dan Arnold bersamaan.

"Orang dewasa memang kadang kadang aneh!" Gerutu Jessika lirih.

***

Tiba di kantor, Arnold melangkah dengan penuh kegembiraan. Moodnya sedang sangat baik hari ini, dia bahkan memberikan beberapa pekerjanya yang bekerja sebagai OB uang tunai dengan jumlah lumayan.

Beberapa diantara mereka menduga kalau Arnold sedang jatuh cinta, karena memang seluruh pegawainya belum ada yang tau kalau Arnold telah melepas masa dudanya.

Braak...!

Seseorang mendobrak pintu ruangan pribadi Arnold hingga membuat keributan disana.

"Teganya kamu tidak mengundangku di acara pernikahanmu!" James marah marah.

"James, dengarkan penjelasan ku dulu," Arnold mencoba menenangkan temannya.

"Kamu sudah tidak menganggap ku sebagai teman ya?" James mencak mencak.

"Bukan begitu, kemarin aku menikah juga dadakan, tidak ada rencana sama sekali. Semua karena anakku ingin aku dan Malika menikah,"

"Malika? Baby sitter putrimu itu?" James menaikan alisnya sebelah.

"Benar tebakanku, kamu menyukainya dan akhirnya berhasil menikahinya juga,"

"Ah, iya. Semua berkat bantuan putri kecilku." Arnold menggaruk kepalanya dan tersenyum malu malu.

Diluar sana, beberapa pegawai Arnold termasuk asisten pribadi arnold berhasil mencuri dengar. Mereka kaget karena ternyata Bos mereka sudah menikah. Seperti apakah istri kedua dari Arnold? Apa lebih cantik dari istri pertamanya? Mereka benar benar penasaran.

***

"Rossa, berhentilah menangis seperti bayi. Telingaku sudah lelah mendengar rengekan mu itu!" Omel Sarah Ibu dari Rossa.

"Aku benci Arnold Bu, dia melarang ku bertemu Jessika dan menolak kembali denganku. Dia malah menikah dengan wanita kampungan yang jelek," Rossa terisak.

"Jangan salahkan Arnold, semua terjadi karena ulahmu. Dan jangan menghina orang lain, istri kedua Arnold mungkin jelek tapi siapa tau hatinya baik tidak seperti kamu," Sarah menyindir pedas. Dia paham betul bagaimana kelakuan anaknya selama ini, wajar jika Arnold tidak mau kembali padanya.

Sarah bangkit dari kursi ruang tamu, dia beranjak pergi meninggalkan putri semata wayangnya yang sudah tua tapi kelakuan masih seperti anak TK. Tiap hari, hanya bisa menambah beban pikiran orangtuanya saja.

"Ibu mau kemana?" Tanya Rossa.

"Aku mau ke salon. Pusing mendengar mu menangis seperti bayi!" Sahut Sarah sekenanya.

***

Di dapur...

Telinga Malika terus menerus berdenging, sepertinya ada seseorang yang sedang membicarakannya. Tapi siapa? Apa mungkin Ayahnya?

Sudah hampir satu bulan Malika tak mengirim pesan pada Hendri, dia terlalu sibuk dengan kegiatannya sebagai istri dan Ibu bagi seorang anak gadis.

Malika merogoh ponsel yang sejak tadi dikantonginya, dia menghubungi nomor Hendri berharap bisa mengobrol dengannya.

Tut... Tut... Tut...

Bunyi telfon tersambung, tapi Hendri tidak juga menjawab panggilan telfon darinya. Apa yang terjadi? Apa sesuatu telah terjadi pada pria tua itu? Perasaan Malika berubah tidak enak, dia takut terjadi sesuatu pada Ayahnya yang jauh disana. Apa lagi dia membatalkan secara sepihak rencana perjodohan Malika dengan anak juragan empang yang terkenal brutal itu.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Firman Firman

Firman Firman

lanjut

2024-04-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!