Bab 11

Pernikahan adalah hal yang paling diimpikan oleh banyak wanita dalam kehidupan ini. Hidup bersama dengan orang yang kita cintai, berbagi suka maupun duka. Tapi apa yang sedang dialami Malika saat ini? Dia ada sedikit rasa suka pada Bosnya, tapi dia masih merasa belum siap untuk menyandang status istri seseorang.

Malam pertama saat itu berlalu tak sesuai dengan harapan Arnold, Jessika takut tidur sendirian dikamar asing. Alhasil, malam ini mereka tidur bertiga. Malika merasa senang akan hal itu, malam ini dia selamat dari terkaman seorang Arnold.

"Ayah, kenapa wajahmu terlihat muram?" Tanya Jessika polos.

"Mungkin Ayahmu sedang kelelahan, jangan ganggu dia ya. Ayo tidur peluk aku," Malika merentangkan tangannya lebar lebar.

"Hufft..." Arnold menghela nafas berat. Dia kesal karena keinginannya untuk segera bersenang senang dengan istri barunya terganggu.

Arnold keluar kamar, dia pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi kemudian duduk di teras rumah seorang diri. Suasana perkampungan saat malam hari lumayan seram juga, jalanan masih gelap karena minimnya lampu penerangan. Masih banyak pekarangan kosong, akibatnya lebih banyak nyamuk di tempat ini.

Malika memutuskan untuk menyusul suaminya setelah Jessika tidur, dia tidak enak hati mengabaikan suaminya yang juga adalah mantan Bosnya sendiri.

"Pak, sedang apa disini sendirian?" Malika duduk disisi Arnold.

"Cari angin," sahut Arnold singkat.

"Ada hal yang mau aku bicarakan dengan Bapak," ucap Malika serius.

"Bicara soal apa?" Arnold penasaran.

"Begini Pak, aku mungkin mau menikah dengan Bapak tapi aku belum siap untuk melakukan itu. Bapak Pasti tau maksudnya bukan?" Malika menaikkan alisnya sebelah.

"Ah... Iya. Kamu tenang saja, aku berjanji tidak akan menyentuhmu kecuali kamu sendiri yang menginginkannya," janji Arnold.

"Aku tidak segatal itu Pak," Malika cemberut. Dia merasa tidak mungkin untuk meminta hal itu duluan pada Arnold.

"Kita lihat saja nanti." Arnold mengedipkan matanya sebelah. Seolah olah dia sedang merencanakan sesuatu yang membahayakan dan sedikit licik.

Kepo dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Arnold dan Malika, Hendri diam diam mengintip dari balik pintu. Tapi sayang dia kurang jelas mendengar obrolan mereka karena pendengaran Hendri memang sudah tidak setajam waktu masih muda.

"Malam malam begini, bukannya belah nangka malah ngerumpi diluar. Mereka itu sebenarnya saling suka apa tidak si?" Gerutu Hendri lirih.

"Mereka memang belum saling suka, tapi mereka sudah saling membutuhkan satu sama lain. Aku yakin, sebentar lagi mereka akan saling mencintai," cicit Jessika yang diam diam ikut mengintip di samping Hendri.

"Hei, anak kecil! Ini sudah malam, kenapa belum tidur?" Omel Hendri.

"Aku dari toilet, toilet di rumah ini akan ada diluar. Kakek sedang apa nungging disini? Pasti Kakek sedang mengintip Ayah dan Ibu Malika kan?" Tuduh Jessika.

"Jangan sembarangan bicara, aku tidak mengintip. Hanya mencuri dengar saja!" Sanggah Hendri. Dia tak menyangka kalau bocah kecil itu sangat pandai menerka dan berbicara, sampai sampai Hendri mati kutu dibuatnya.

***

Pagi hari...

Malika membuka mata, dia mendapati dirinya sedang berpelukan dengan Arnold, sementara Jessika entah kemana. Malika turun dari ranjang pelan pelan, dia tak mau membangunkan suaminya.

Malika pergi ke dapur, tidak ada Ayahnya ataupun Jessika. Malika mengira kalau mereka berdua pergi ke pasar yang kebetulan dekat dengan rumah itu. Malika memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri, dia tidak mau terlihat kucel dan bau didepan suaminya.

Tak lama, Hendri dan Jessika pulang. Dia membawa empat buah nasi bungkus dan satu plastik gorengan. Tebakan Malika benar, mereka pergi ke pasar untuk mencari sarapan.

"Kamu bangun pagi sekali Jessika, bangun jam berapa kamu?" Tanya Malika.

"Aku bangun jam lima Bu, kemudian aku ke kamar mandi mau buang air. Terus melihat Kakek mau pergi ke pasar jadi aku ikut," tutur Jessika.

"Lain kali kalau mau pergi bilang padaku ya, jadi aku tidak khawatir," Malika membelai rambut Jessika lembut.

"Oke deh Bu."

Malika menyiapkan sarapan diatas meja, dia membuat secangkir teh untuk Ayahnya dan secangkir kopi untuk Arnold. Arnold muncul, dia ikut bergabung dan duduk disisi Jessika.

Sudah lama Arnold tidak makan nasi rames dan gorengan, perut datar Arnold langsung keroncongan. Apa lagi semalam dia lupa tidak makan malam.

"Makan yang banyak, biar cepat besar dan tumbuh sehat," ucap Hendri pada Jessika. Dia terlihat hangat walau wajahnya sedikit judes.

"Selesai makan kita ke makam ya Pak, sudah lama aku tidak mengunjungi makam Ibu," ucap Malika pada Arnold.

"Berhenti memanggilku Pak, aku kan suamimu," protes Arnold.

"Lalu aku harus panggil apa?"

"Panggil Mas dong, panggil sayang juga boleh." Ledek Jessika sambil tertawa lebar.

"Astaga, anak itu! Siapa yang sudah mengajarinya?" Gerutu Malika dalam hati.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Femmy Femmy

Femmy Femmy

jarang loh anak mendukung ayahnya untuk menikah lagi Malika..😀

2024-04-13

0

Femmy Femmy

Femmy Femmy

🤣🤣

2024-04-13

0

Firman Firman

Firman Firman

ha ha 😂🤭🤗babng Arnold sudah berani bucin

2024-04-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!