Pagi hari, Malika dan Bi Narti bangun lebih awal dari biasanya, mereka membagi tugas agar pekerjaan rumah cepat selesai. Malika memasak sarapan, menyiapkan bekal untuk Jessi dan Arnold. Sementara Bi Narti mengerjakan pekerjaan lain.
Semua hidangan tersaji diatas meja, Jessika dan Arnold menelan air liur karena visual makanan itu sangat menggoda dan berbau harum. Segera pasangan Ayah dan anak itu menyendok nasi, kemudian makan dengan lahap.
"Ternyata Kak Malika tidak hanya pintar membuat kue, tapi juga pandai memasak makanan lainnya," batin Jessi.
"Sayang, bagaimana rasanya masakannya? Tidak kalah dengan masakan koki bintang lima bukan?" ucap Arnold.
"Biasa saja tuh," ucap Jessi ketus. Meski mulutnya ketus, Jessi tetap menyantap masakan Malika dengan lahap. Bahkan mulutnya sampai belepotan.
"Mungkin mulutmu sedang sariawan ya, jadi tidak enak makan. Masakan seenak ini kok dibilang biasa saja," goda Arnold. Jessi hanya memutar bola matanya ke sudut lain.
Jessika terus menyelipkan anak rambutnya pada daun telinga, dia sangat malas mengikat rambut. Malika menghampiri Jessika, dia mengambil satu buah karet gelang yang melingkar ditangannya dan mengikat rambut Jessika dengan rapih.
Kini, bocah berusia tujuh tahun itu terlihat imut. Dengan kedua pipi yang terlihat lebih tembem dari sebelumnya.
"Biasakan untuk mengikat rambutmu sebelum berangkat ke sekolah, agar tidak mengganggu konsentrasi dan aktivitasmu disana nantinya," Malika membelai kepala jessika lembut. Karena merasa nyaman, Jessika tidak menolaknya.
Arnold tersenyum, dia suka pada perhatian yang diberikan Malika pada Jessika. Dia tak menyangka, gadis berusia muda itu tau bagaimana memperhatikan anak asuhnya dengan baik.
Selesai sarapan, Malika ikut mengantar Jessika sampai ke sekolah. Anak manja itu memang selalu minta ditemani oleh pengasuhnya selama hampir dua puluh empat jam, kapanpun dan dimanapun dia akan pergi.
Didalam mobil, Malika melirik kearah Arnold. Pria itu terlihat menawan dengan setelan jas dan sepatu berwarna senada. Sudah tampan, kaya, masih saja dikhianati. Memang nasib Arnold saja yang sial, atau karena mantan istrinya yang bodoh?
Deg...!
Jantung Malika hampir lepas, pandangannya dan Arnold bertemu secara tidak langsung. Ternyata bukan hanya Malika saja yang suka mencuri pandang pada pria itu, tapi juga sebaliknya.
"Kak," panggil Jessika.
"Iya," sahut Malika singkat.
"Nanti Kakak tunggu aku di bangku taman sekolah ya, jangan kemana mana. Saat jam istirahat aku akan datang mencari Kakak,"
"Oke, aku tidak akan kemana mana. Aku akan menunggu sampai jam belajarmu selesai,"
"Nanti pulang sekolah, kita mampir dulu ke minimarket dekat rumah untuk membeli ice cream ya Kak,"
"Tanya Ayahmu dulu, boleh tidak. Kakak tidak bisa sembarangan membawa kamu pergi," Malika menunjukan sisi tanggung jawabnya sebagai seorang pengasuh.
"Ayah, apa boleh aku pergi ke minimarket nanti?" Tanya Jessika. Dia menurut pada perintah Malika.
"Tentu saja boleh, tapi jangan lama lama ya!" Pesan Arnold.
"Iya."
Arnold sedikit tertegun, sikap judes Jessi pada Malika sudah sedikit berkurang. Apa karena perhatian yang Malika berikan tadi?
***
Waktu bergulir, jam istirahat tiba. Ratusan siswa dan siswi SD Kencana Ungu keluar dari dalam kelas dan berbondong bondong menuju kantin sekolah.
Jessika berlari menghampiri Malika, dia mengambil tas belanja dan membuka kotak makannya.
Dua tangkup roti bakar rasa coklat kacang ada didalam sana menunggu untuk segera dieksekusi.
"Kenapa isinya hanya roti isi saja? Makanan yang tadi pagi mana?" Jessi protes sambil memonyongkan bibirnya.
"Aku pikir kamu tidak suka dengan masakanku yang tadi, jadi aku membuat bekal baru untukmu," Malika tertawa geli.
"Aku kurang suka roti, lain kali bawakan aku bekal yang lain saja!" Omel Jessika.
"Siap Nona!"
"Ngomong ngomong, kenapa kamu tidak ikut bergabung dengan teman temanmu saat jam istirahat?" Malika penasaran karena Jessika seperti menarik diri dari lingkungan sekitarnya.
"Aku tidak punya teman disini, itu kenapa aku mengajak pengasuhku ke sekolah agar aku punya teman ngobrol saat jam istirahat tiba," Jessika sedikit menekuk wajahnya.
"Kenapa bisa tidak punya teman? Kamu kan anak baik?" Malika terkejut.
"Mereka selalu mencemooh ku, mengolok olok kalau aku tidak punya Ibu. Menyebalkan bukan?"
"Siswa dan siswi disekolah ini kan ada banyak, tidak cuma satu. Jangan hanya karena ada yang tidak suka padamu kamu jadi menutup diri dari temanmu yang lain. Coba perhatikan sekelilingmu, aku yakin ada satu diantara mereka yang mau menjadi temanmu," Malika memberi masukan positif untuk anak asuhnya.
"Emhmmm... Tapi aku tidak yakin. Lagi pula apa punya teman itu menyenangkan?" Jessika memasang wajah polos.
"Tentu saja menyenangkan, kamu jadi punya tempat berbagi dan bercerita tentang suka duka. Bisa saling mendukung satu sama lain dan masih banyak yang lainnya,"
"Kamu itu hanya pengasuhku, jangan si dia memberi aku nasihat!"
"Anak ini mulutnya pedas sekali! Apa yang Ibunya makan saat sedang ngidam dulu? Seblak jeletot level sepuluh kah?" Gerutu Malika dalam hati.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Firman Firman
ha ha namanya juga putri malu yg jarang di sentuh belaian kasih seorang ibu😂🤭🤗 mngkanya durinya tajam sekali ucap langsung nusuk hati
2024-04-01
1
Cahaya
mulut Jesica pedas.
karena nggak ada Asi, makanya diganti susu formula campur merica🤣🤣🤣🤣
2024-03-18
3
Nuryanti 94
kurang pedes kyanya klo level 10 kk
2024-02-23
1