“Wajah kesalmu itu akan menjadi pandangan favoritku mulai saat ini.” ~Rey~
.
.
.
Pagi ini terasa berbeda seperti pagi sebelumnya. Biasanya kursi meja makan hanya terisi 3 kursi sekarang bisa terisi full. Sarapan hasil masakan mama Angel, Mama Nora dan kakaknya Adel menjadi andalan makanan kesukaan Aqila.
Ia makan dengan lahap bahkan sampai membawa bekal dan tambah nasi. Semua orang bahagia melihat Aqila yang dulu kembali. Aqila yang periang dan selalu tersenyum.
“Dek, kamu bisa gak sepulang dari Palestin bantuin kakak buat diperusahaan?” tanya Kevin pada Aqila.
Aqila mendongak dan tersenyum.
“Tentu saja bisa kak,” jawab Aqila.
Adel pun ikut bicara. “memangnya untuk apa Qila ke perusahaan sayang?” tanya Adel.
“Karena nanti perusahaan kita akan bekerja sama dengan Pangeran dari salah satu negara di Asia tenggara sayang,” ucap Kevin.
“Wah kamu hebat Vin,” timpal Papa Radit.
“Doakan Kevin bisa memenangkan meeting nanti pa,” ucap Kevin.
“Pastinya kami akan mendoakanmu nak,” seru Papa Radit.
“Gimana La?” tanya Kevin.
“Aku mau tapi takut kak,” cicit Aqila.
“Takut kenapa?” tanya Kevin.
“Klien kakak satu ini kan penting banget tuh,” ucap Aqila.
“Nah maka dari itu kakak pengen kamu mengasah kemampuan kamu dan belajar dari pakarnya. Dia seorang Pangeran yang perusahaannya sudah meraja lela diseluruh dunia,” ucap Kevin serius.
“Hmm baiklah,” Aqila mengangguk pasrah.
Dan semua orang akhirnya tersenyum puas. Sejujurnya semua keluarga setuju jika Aqila terjun dibidang bisnis. Tetapi karena cita-cita dan keinginan Aqila mereka memilih mengabulkan permintaan gadis itu.
Setelah rutinitas sarapan selesai akhirnya Aqila berpamitan berangkat ke Rumah sakit. Menyalami satu persatu orang rumah dan mulai keluar dari rumah.
--*--
Sesampainya dirumah sakit.
Aqila segera melakukan rutinitasnya sesuai jadwal dan syukurnya hari ini tidak sepadat seperti hari-hari sebelumnya. Setelah melihat tidak ada pasien akhirnya Dini masuk.
“Gimana dokter?” tanya Dini.
“Aku diijinin jadi kamu tuliskan namaku yah, kamu ikut juga kan?” tanya Aqila.
“Ya jelas dong, dimana ada kamu disitu ada aku,” goda Dini.
“Hih dasar gombal,” gerutu Aqila.
“Kan hanya padamu dok?” ledek Dini.
“Yaudah udah, udah gak ada pasien kan?” tanya Aqila.
Dini mengangguk.
“Aku mau tidur lagi bentar ya Din disini,” pamit Aqila.
“Lah serius dok?” tanya Dini.
“Iya Din,” ucap Aqila.
Mau tak mau Dini hanya bisa mengangguk dan kembali ketempatnya.
--*--
Hari ini Rey akan mengadakan kunjungan kembali ke Rumah sakit. Sejujurnya tujuan utamanya bukan untuk mengecek pekerjaan melainkan ia ingin bertemu wanita yang tak lain adalah Aqila.
Entah sejak pertemuan pertamanya Rey mulai sedikit tertarik dengan Aqila. Ia menjadi lebih penasaran dengan sifat Aqila yang menurutnya ganda itu.
Sesampainya di parkiran rumah sakit.
Rey dan Bima segera turun lalu segera masuk.
“Dia ada dimana Bim?” tanya Rey.
“Nona ada diruangannya tuan” ujar Bima.
“Baiklah Bim,”
Rey puas dengan hasil kerja Bima yang tak pernah mengecewakan dirinya. Bima selalu bisa diandalkan dalam segala hal. Menyangkut pribadi atau tidak Bima selalu setia berada disampingnya.
Rey masuk ke rumah sakit dengan wajah angkuh dan dingin. Rahang tegas dan wajah tampan tanpa senyuman itu menjadi sorotan mata para dokter, suster dan orang yang berlalu lalang disana.
“Selamat pagi tuan,” sapa Dokter yang tak sengaja berpapasan.
Rey hanya diam, dia hanya megangguk sedikit dan melanjutkan langkahnya. Rey sejenak diam ketika ia berada didepan ruangan Aqila. Terlihat pintu tertutup dan Rey melanjutkan jalannya.
“Nona di ruangan polinya tuan,” Bima angkat bicara seperti tau pikiran tuannya.
“Dimana ruangannya Bim?” tanya Rey.
“Ini lurus kemudian belok kiri dan tepat disebelah poli gigi tuan,” Bima menjelaskan.
Rey hanya manggut-manggut dan melanjutkan langkahnya.
--*--
Kembali ke ruangan Aqila.
Aqila merasa panggilan alamnya datang. Ia segera bangun dan merapikan pakaiannya. Ia sudah tak tahan akhirnya ia membuang hajad dulu. Setelah selesai Aqila segera kembali ke meja kerjanya. Sepertinya ia butuh sedikit kopi karena kepalanya pusing tidur dengan kepala dimeja.
“Astaga kepalaku sakit, aku cari kopi dulu,” gumam Aqila.
Aqila keluar dari ruangan dan mendapati Dini didepan.
“Din,” panggil Aqila.
Dini mendongak dan berdiri.
“Ya dokter,” saut Dini.
“Aku mau ke kantin ya cari kopi,” ujar Aqila.
“Apa perlu saya saja yang berangkat dokter,” ucap Dini.
Aqila menggeleng.
“Biar aku saja,” ucap Aqila.
Akhirnya Dini mengangguk. Aqila pun melanjutkan jalannya menuju kantin.
Sambil menunggu pesanan kopinya Aqila mengecek email dari kakak iparnya Kevin dari ponselnya. Aqila berkutat mengecek sampai suara ibu kantin memanggil.
“Dokter Qila sudah,” ucap Ibu kantin.
“Ah iya ibu ini,” menyodorkan uang.
“Sebentar ya dokter saya ambil kembalian,” ucap Ibu kantin.
Aqila buru-buru menggeleng.
“Tidak perlu bu, buat ibu aja yaudah ya terimakasih,” pamit Aqila.
Lalu ia segera meninggalkan kantin rumah sakit.
Aqila berjalan sambil memegang ponsel ditangan kanannya dan ditangan kirinya segelas kopi untuknya.
Aqila konsentrasi membaca emailnya sampai iya tak melihat jalan didepanya.
Bruk.
“Astagfirullah,” ucap kaget Aqila.
Ia buru-buru mengambil sapu tangannya di saku jasnya karena tak sengaja menabrak orang didepannya dan kopinya tumpah dijas orang itu.
“Maafkan saya pak,” ucap Aqila dengan raut wajah penuh rasa bersalah.
Aqila meraih jas itu dan mencoba membersihkan, tetapi saat akan menempelkan sapu tangannya suara bariton itu membuat gerakannya terhenti.
“Tidak perlu dokter saya akan mengganti jas saya,” ucap suara bariton yang terdengar dingin dan seksi.
Deg.
Aqila mematung, suara ini mengingatkannya dengan suara seseorang yang sangat ia rindukan. Aqila mencoba mendongakkan kepalanya. Dan,
Deg.
Tatapan mata mereka bertemu, tatapan tajam bak elang dan bertemu dengan tatapan mata yang meneduhkan tetapi terlihat ada luka didalamnya.
Buru-buru Aqila mengalihkan perhatiannya dan menunduk kembali.
“Maafkan saya tuan karena saya tak hati-hati jas anda kotor kena kopi saya,” ujar Aqila dengan menunduk.
Bukannya menjawab Rey malah mengalihkan pembahasannya.
“Apa anda tidak diajarkan sopan santun jika ketika berbicara dengan seseorang anda harus menatap orang itu,” ucap Rey dengan dingin.
“Astaga orang ini yah” geram Qila dalam hati.
Akhirnya Aqila mendongakkan kepalanya dan menatap mata tajam itu.
“Saya minta maaf tuan atas keteledoran saya ini. Kalau sudah saya mau kembali ke ruangan Poli saya,” ucap dingin Aqila dengan mulai melangkahkan kakinya.
“Tunggu,” Aqila berhenti tapi tetap tak menatap Rey.
“Saya belum menerima maaf anda dokter,” suara Rey terdengar menjengkelkan untuk Aqila.
“Uhh untung ganteng kalau gak udah aku cakar” gerutu Aqila dalam hati.
“Terus saya harus bagaimana tuan? Saya harus segera kembali,” ucap Aqila dengan kesal.
“Nanti kita makan siang bersama untuk permintaan maaf anda bagaimana?” tanya Rey dengan menaikkan alisnya.
“Apaa!” kaget Aqila.
--*--
Hayoo Aqila mau gak yah makan siang sama Babang Rey..
Eh bukan babang lagi tapi om Rey kali hahaha.
Ayo jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTE POIN KOIN YAH
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Jeni Safitri
Moduuussss😜
2022-06-27
0
🍹girl Cancer 🍭
😀permintaan maaf yg bs buat perut mnjd kenyang. asyeik😀😉
2021-12-29
0
𝐴𝑐𝒉𝑎✨𒆜 <_
wah mau nggak ya kira kira 🤔
2020-10-01
0