“Mungkin untuk memaafkanmu itu sangat mudah untukku, tetapi semua ingatan tentang pengkhianatan dan kisah kita selalu berputar di otakku dan pelupuk mataku” ~Aqila~
.
.
.
Selama 3 hari benar Aqila berdiam diri di Rumah Sakit. Ia memulikan keadaannya dengan benar. Ia mencoba tak mengingat semua yang telah terjadi.
Sayangnya dengan kejadian itu membuat Aqila semakin pendiam dan tak ada senyuman diwajahnya. Ia seperti menjadi wanita dingin dan acuh. Yang dilakukan Aqila selama dirawat pun hanya tidur, makan dan membuka berkas ketika ia suntuk.
Sang Kakak Axel dan Adel pun dengan senantiasa menjaganya secara bergantian. Hanya saja yang menginap adalah Axel karena Adel harus merawat ketiga buah hatinya bersama Kevin.
Tepat hari ini Aqila di ijinkan pulang, barang-barang miliknya pun telah di rapikan oleh sang Kakak Adel dan Axel.
Setelah infus ditangannya dicabut ia mulai berdiri dan dibantu Axel berjalan. Mereka berempat berjalan meninggalkan ruangan menuju parkiran. Selama dijalan pun tak ada suara apapun. Hanya saja suara Adel dan Kevin yang terdengar.
Aqila hanya diam menatap kedepan dengan sorot mata hampa. Sang Kakak Axel yang melihatnya menjadi sedih. Aqila yang mudah tersenyum dan hangat menjadi hilang. Sekarang yang ada hanya Aqila yang dingin, cuek dan acuh.
Axel hanya bisa berdoa semoga kebahagiaan sang adik akan segera datang.
“Ayo masuk,” suruh Axel dengan membuka pintu belakang.
Aqila masuk dan di ikuti Axel. Kevin sudah duduk dikursi kemudi dan disamping ada istri tercinta Adel. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Kevin yang lama.
Disepanjang perjalanan Adel mencoba mengajak berbicara Aqila sayangnya yang diajak bicara hanya diam acuh. Adel menatap sedih tetapi ia akan terus berusaha membantu sang adik keluar dari kesedihannya.
30 menit kemudian mobil yang dikendarai telah sampai. Axel membantu Aqila keluar dan masuk kedalam rumah. Axel langsung mengantar Aqila ke kamarnya.
Ceklek.
“Kamu tidur ya,” ucap Adel setelah Axel menidurkan sang adik diranjang.
Aqila mengangguk lalu memunggungi sang kakak.
Mereka semua keluar dari kamar dan hanya tinggallah Aqila didalam. Suara pintu tertutup terdengar yang menandakan hanya tinggal Aqila disana.
Tiba-tiba air mata Aqila menetes kembali. Semuanya bermunculan diotaknya. Aqila mencoba mengatur nafasnya agar emosinya tak naik. Ia harus bisa mengontrol dirinya dan jangan seperti ini terus pikir Aqila.
“Gue pasti bisa, gue harus ikhlas. Gue gak boleh gini terus. Hidup gue masih panjang,” gumam Aqila dalm hati.
Aqila mendudukkan dirinya dan menyandarkan punggungnya sambil menatap foto disamping nakasnya.
Aqila tersenyum miris.
“Ternyata semua ucapanmu hanya bualan saja,” ucap Aqila sambil menatap pigora ditangannya.
Ya pigora itu terdapat foto James dan dirinya. Dengan segera Aqila turun dari ranjangnya. Ia mengambil kardus yang berada dibawah kolong tempat tidurnya. Memasukkan semua pigora dan foto dirinya bersama James. Memasukkan semua barang pemberian James kedalam kotak. Boneka, bunga, surat dan foto sudah masuk dalam kardus besar.
Dengan langkah mantap ia membopong kardus itu dan keluar dari kamar. Berjalan cepat menuju taman belakang setelah ia kedapur mengambil korek api. Ia melempar kasar kardus itu kedepannya dan mulai mengambil selembar foto.
Ia mulai membakar foto itu dari ujung sisinya. Setelah api lumayan merambat ia lempar kedalam kardus. Dalam sekejap si jago merah pun melahap apa yang bisa ia lahap didalam kardus. Panas api pun terasa dibadan Aqila. Tapi tak membuat sang empu akan pergi.
Axel yang melihat asap ngepul saat berada diteras rumah segera berlari menuju asal asap. Ia menatap sang adik yang berdiri mematung menatap kobaran api itu.
Ia segera menarik kasar tangan sang adik.
“Qila itu api sayang,” teriak Axel dengan memeluk sang adik.
Aqila hanya terdiam dengan tatapan mata masih menatap kobaran api.
“Apa yang kau lakukan sayang. Apa yang kau bakar,” ucap Axel penuh khawatir.
“Aku hanya membakar apa yang harusnya aku bakar,” ucap dingin Aqila.
Axel mencoba menatap kardus itu dan melihat apa isinya. Terlihat kertas yang terdapat foto dan boneka berwarna pink. Ia ingat boneka itu pemberian siapa dan akhirnya Axel tau apa isi kardus itu.
Setelah memastikan si jago merah melahap semua Aqila meninggalkan taman belakang di ikuti Axel. Ia berjalan menuju dapur dan mengembalikan korek apinya dan tak lupa mengambil sebotol air dingin dikulkas.
Glek glek
Dengan sekali minum Aqila menandaskan sebotol air dingin. Setelah habis ia kembali ke kamarnya dan Axel hanya bisa menatap sendu kearah sang adik.
“Aku berjanji aku akan menjagamu dan akan menghajar siapa saja yang menyakitimu” seru Axel dalam hati.
Axel segera berjalan kembali ke kamarnya untuk istirahat.
-*-
Di kamar Aqila.
Setelah masuk kembali ke kamar, wanita itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selama dirumah sakit ia tak bisa mandi dengan benar dan sekarang ia akan berendam di air hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
“Hmmm seperti ini lebih nyaman,” gumam Qila dengan memejamkan matanya setelah tubuhnya terendam di buthup.
Hampir tertidur akhirnya Aqila segera berdiri dan membersihkan dirinya. Setelah selesai ia keluar dan mengambil piyamanya dan menggunakannya. Setelah selesai ia pergi ke arah ranjang. Ia menidurkan dirinya dengan cepat meski waktu masih siang ia ingin mengistirahatkan otak dan hatinya.
Sedangkan Adel dan Kevin setelah mereka mengantar Axel dan Aqila mereka pergi meninggalkan rumah lamanya dan melajukan ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua mengobrol dan diselipi candaan hingga membuat sang empu ketawa tak tiada henti.
Sampai mobil mereka berhenti didepan pintu utama akhirnya mau tak mau candaan mereka berhenti.
“Assalamu’alaykum,” ucap Kevin dan Adel.
“Wa’alaykumsalam,” saut orang didalam.
Ternyata hari ini Mama Angel dan Mama Nora mampir kerumahnya. Mereka sangat merindukan si kembar yang berumur hampir 4 tahun dan Baby Taqy yang sudah 5 tahun.
Tingkah ketiga cucunya itu membuat masa tua mereka begitu bahagia. Saling menjahili dan bertengkar membuat manusia dewasa tertawa gemas kearah ketiga balita itu.
“Mama udah lama?” tanya Adel.
“Enggak sayang kita baru sampai ” seru Mama Nora.
Ya saat mereka pergi kedatangan Mama Nora belum mereka ketahui. Dan beberapa menit kemudian setelah Adel dan Kevin berangkat datanglah kedua wanita paruh baya itu dengan senang ingin menemui cucu mereka.
“Ma Kevin ke kamar dulu ya ” pamit Kevin setelah mencium ketiga pipi sang anak.
“Aku bantun mas dulu ya ma,” pamit Adel lagi.
Lalu Adel menyusul Kevin ke kamar dan mengambilkan pakaian ganti sang suami. Ia tau pasti si Kevin akan mandi jika ia datang dari rumah sakit. Si tukang bersih akan selalu berpenampilan bersih agar terhindar dari virus.
“Kamu gak mandi sayang ” tanya Kevin tiba-tiba memeluk Adel dari belakang setelah ia mengenakan baju gantinya.
“Sebentar lagi mas aku capek,” ucap Adel dengan mengusap tangan sang suami yang melingkar diperutnya.
“Apa mau dimandiin?” goda Kevin.
“Ih papa yah udah anak tiga masih nakal aja,” gerutu Adel.
“Kan Papa masih muda mah, bikin mama hamil aja papa masih sanggup,” goda Kevin.
“Astaga mas dasar si mesum,” gerutu Adel.
“Kan mesumnya cuma sama kamu sayang ” sambung Kevin.
“Udah ah udah Aku mandi mas,” ucap Adel dengan wajah memerah.
Lalu ia berlari menuju kamar mandi dengan Kevin yang tertawa geli dengan tingkah sang istri yang menurutnya sang lucu dan menggemaskan.
---*---
Yang rindu Babang Kevin dan Adel aku selipin nih hehehe.
Author juga kangen mereka loh, tapi harus sabar dulu nyelesain cerita ini baru cerita si Baby Taqy yang tampan.
Ayo jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YAH
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
OFF 📵
lope lope
2020-09-08
0
🍾⃝ᴠͩɪ͜ᴠᷞɪͧᴀᷠɴᷧ ᴡɪᴊ͠ᴀʏᴀ
aku suka suka
2020-07-27
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 ᙏᴼᙏ'ˢᎯ📴
lanjut thor,,,, semoga aqila segera bangkit...
2020-07-20
0