“Dulu kau berjuang untuk mendapat restu dan kepercayaan kami, tetapi sekarang kau membuatnya menangis dan menghancurkan kepercayaan kami lagi. Ingatlah tidak akan ada kesempatan kedua untukmu kembali” ~Kevin Dikta Raharja~
.
.
.
Karena kelelahan menangis akhirnya Aqila terlelap didalam mobil. Hingga mobil mereka berhenti di depan rumah Kevin yang sekarang menjadi tempat tinggal Aqila.
Alex tak keluar ia sejenak memandangi Aqila yang tertidur pulas, wajahnya berantakan dan matanya membengkak.
“Aku harus bicara apa dengan Tante Angel,” gumam Alex mengacak rambutnya.
Ia segera keluar dan memutari mobilnya untuk membangunkan Aqila. Ia tak mungkin menggendongnya karena Aqila paling tidak suka ada seseorang menyentuh tubuhnya tanpa seijin darinya.
“Qila,” ucap lembut Alex sambil menggoyangkan bahu gadis cantik itu.
Tetapi Aqila masih terdiam. Bahkan terlihat dahi Aqila berkerut dan keluar keringat dingin. Segera Alex mengusap keringat di dahi Aqila dan menempelkan punggung tangannya.
“Astaga panas banget,”
Alex segera memutar tubuhnya kembali ke kursi kemudi. Tujuannya satu kerumah sakit. Segera tancap gas mobilnya dan melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.
Dengan cekatan Alex langsung menggendong Aqila dan berlari.
“Dokter tolong Dokter,” teriak Alex.
Suster segera mendekat dan Alex meletakkan Aqila di brangkar tersebut.
“Ya Allah Dokter Qila. Ada apa dengan Dokter Qila?” tanya salah satu suster sambil mendorong brangkar itu.
“Dia demam,” saut Alex cepat.
Sesampai di ruang UGD Alex diperintahkan untuk menunggu diluar.
Ia merasa khawatir pada Aqila dan marah pada James. Ingin sekali ia sekarang menuju apartemen James dan menghajarnya. Tetapi mengingat keadaan Aqila membuatnya harus menunggu seperti ini.
Ceklek.
“Bagaimana keadaannya Dok?” tanya Alex cepat saat melihat Dokter membuka pintu.
“Dokter Qila mengalami tekanan pada dirinya dan juga tubuhnya kelelahan jadi itu yang membuatnya demam. Saya mohon tolong jaga tekanan diri Dokter Aqila,” ujar Dokter berumur 55 tahun tersebut.
“Iya Dok terimakasih,” seru Alex tersenyum.
Dokter paruh baya itu mengangguk lalu berjalan bersama brangkar Aqila untuk ke ruang inapnya. Aqila diberi waktu 3 hari bermalam untuk menstabilkan tubuhnya.
Setelah sampai di ruangan Aqila, Alex segera menghubungi Kevin untuk memberikan kabar ini.
Tut tut
Tut tut
“Ya halo,” suara Kevin dari seberang.
“Tuan maaf saya ingin mengabari, Nona Aqila berada di Rumah sakit XY sekarang tuan,” ucap pelan Alex.
“Apa!!” pekik kaget Kevin.
“Tunggu saya disana,” kata Kevin lalu segera mematikan ponselnya.
Tut
---*---
Di rumah Kevin.
“Sayang” panggil Kevin pelan sambil membelai wajah tidur istrinya.
“Hm,” hanya deheman yang keluar.
“Bangun yang kita harus ke rumah sakit,” ucap pelan Kevin.
“Untuk apa mas ke rumah sakit” saut heran Adel sambil membuka matanya.
“Aqila di rawat disana,”
“Apaa!!” dengan mata melotot Adel mendudukan dirinya.
“Bagaimana bisa mas,” Adel segera berdiri dan mengambil piyama panjang dan jubahnya.
“Ayo mas,” segera menarik tangan Kevin.
Kevin segera berdiri dan keluar dari kamar. Tapi sebelum itu Adel menatap kedua bayinya yang sedang tertidur itu.
“Sepertinya mama titipin kamu bentar ke Bibi dulu ya sayang” mencium kening anaknya satu persatu dan segera keluar.
Didepan kamar sudah ada dua bibi yang sejak dulu menemani Kevin di rumah utama.
“Bibi saya titip Arianna dan Brianna dulu yah bi, saya mau ke rumah sakit,” pamit Adel dengan tersenyum.
“Baik nona. Nona hati-hati” seru bibi
“Baik bi ya sudah assalamu’alaykum,” salam Adel.
Adel segera menuruni tangga dan berlari menuju mobil Kevin.
“Ayo mas cepet,” pinta Adel.
“Sabar yang oke. Semua akan baik-baik aja,” Kevin mencoba menenangkan istrinya.
Kevin segera menginjak gas dan melesat cepat menuju Rumah Sakit XY. Dengan tangan masih menggenggam tangan Adel membuat Adel lebih tenang dan banyak memanjat doa agar sang adik baik-baik saja.
--*--
Sesampai Di Rumah sakit.
Adel dan Kevin segera mencari ruangan tempat Aqila yang berada di atas. Ruangan itu khusus untuk Keluarga Raharja.
“Sayang cepet yang,” ucap Adel dengan berjalan tergesa.
Kevin sejenak berhenti dan memegang tangan Adel.
“Kok berhenti mas, ayo mas aku khawatir sama Qila,” rengek Adel dengan air mata telah menetes dipipinya.
“Mas mohon jangan panik, tenang sayang mas yakin Qila baik-baik aja,” ujar lembut Kevin.
Adel mengangguk tetapi wajah paniknya masih terlihat.
“Tarik nafas terus buang,” pinta Kevin.
Adel pun menuruti setelah berulang kali akhirnya perasaannya mulai tenang. Lalu keduanya melanjutkan langkah mereka.
Ceklek.
Aqila terbaring lemah diatas ranjang, mata Adel sudah berkaca-kaca kembali dengan berlari ia mendatangi brangkar sang adik.
Ia usap kepala sang adik, mencium dahi yang masih panas itu. Dan segera memeluknya. Adel menangis tersedu-sedu. Bagaimana tidak, Adel sangat menyayangi sang adik perempuannya. Terutama hanya Aqila lah yang tidak menerima kasih sayang sang almarhum papa. Itulah yang menjadi Aqila lebih disayang oleh Axel dan Adel.
“Sayang bangun sayang hiks hiks,” pinta Adel dengan mengusap wajah sang adik.
Tapi sayang Aqila masih tertidur pengaruh obat yang disuntikkan pada infusnya. Kevin sendiri ia segera melangkahkan kakinya menuju Alex yang sedang duduk di sofa.
“Bisa kau jelaskan kenapa dengan adikku?” mata Kevin menatap tajam ke arah Alex.
Alex yang dipandangi tertunduk takut. Ia takut sahabatnya akan terkena amarah oleh bos mereka. Jika bos nya tau bahwa sang adik begini karena perselingkuhan James.
“Jangan mencoba membohongiku. Jika aku tau sendiri akan lebih sulit kau paham!” mengancam dengan nada dingin.
Alex menelan ludahnya kasar. Ia menghembuskan nafasnya berat sambil memejamkan matanya. Setelah yakin ia mulai membuka mata dan duduk dengan tenang.
“Sebenarnya seperti ini bos,”
Akhirnya mengalirlah semua yang tadi Aqila curhatkan saat selesai menembak pada Alex. Terlihat mata Kevin memerah, wajahnya merah padam dan tangannya terkepal kuat.
“Bedebah brengsek, berani sekali dia mengkhianati adikku sampai membuatnya sakit dan mendustai ucapannya itu,” ucap geram Kevin dengan gigi gemelatuk karena menahan marahnya .
Kevin segera mengontrol emosinya. Ia takut sang istri akan ketakutan seperti dulu ketika melihatnya marah.
“Tolong jaga istri dan adikku aku akan keluar” ujar Kevin lalu berdiri.
Alex akan menahan tetapi diurungkan ketika melihat tatapan mata Kevin yang menakutkan. Akhirnya Alex hanya mengangguk dan terduduk kembali sambil mengacak rambutnya frustasi.
“Semua karena nafsumu James, lihatlah kau tak ada kesempatan lagi. Wanita hebat ini akan pergi darimu dan kau akan kehilangan permata berhargamu” gumam Alex dalam hati.
--*--
Bersambung
Gimana masih mau lanjut kak? hihihi tenang author usahain update sehari dua bab. Tapi kalian juga harus kenceng dong vote poin dan koinnya.
Biar kita saling menguntungkan oke. Author semangat banget loh ini nulis cerita Aqila.
Yang mau gebukin babang James silahkan author bukain pintu rumahnya hehe.
Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN DAN RATE BINTANG 5
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Nurhayatins Aqil
lnjt,seru kayakx
2023-06-02
0
Rahma Inayah
hanya krn nafsu ..menghancurkan hub slm 4 thn ..dgn ssh payah membina nya...
2022-08-24
1
Rdssiti
kadang Alex kadang Axel gimana si
2022-06-14
1