...Bismillahirohmanirohim....
...Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗...
...بسم الله الر حمن الر حيم...
...Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad....
...اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد....
Pagi hari Alvan dan Bara sudah beraktifitas kembali di rumah sakit cabang mereka beruda sama-sama ingin segara kembali ke kota B, maka dari itu keduanya bekerja dengan serius agar semua cepat selesai, walaupun begitu keduanya harus tetap memberikan kualitas terbaik untuk rumah sakit anak cabang.
Sedangkan di rumah sakit besar kota B.
Pagi-pagi sekali Syahira sudah membereskan barang-barang untuk hari ini mereka akan segera meninggalkan rumah sakit. Sudah waktunya Arsya pulang.
"Unda kita mau pulang cekarang?" tanya Arsyi memastikan.
"Benar sayang, kita harus pulang sekarang lagipula Arsya sudah sembuh." Syahira dan Arsyi kompak menatap Arsya bersama.
"Jangan menatapku seperti itu bunda, Alsyi! aku memang sudah sebuh kemarin memangnya kalian tidak dengal apa kata dokter cantik."
"Kita mendengarnya Arsya," sahut Syahira terkekeh melihat wajah sebal Arsya.
"Betul, aku dan unda dengal kok Alcya," sahut Arsyi juga.
"Jangan ditekuk begitu wajahnya." Syahira mencubit gemas pipi Arsya.
"Cakit tidak dicubit unda?"
"Tidak Alsyi, kalau kamu ingin mencobanya ini biar aku yang melakukan." Arsyi menggeleng kuat menolak penawaran Arsya.
"Sudah-sudah tidak usah ribuat lagi, maafkan bunda telah membuatmu kesal sekarang ayo peluk dulu bunda," pinta Syahira pada kedua putrinya.
Arsya dan Arsyi segera memeluk erat bunda mereka karena Syahira sedang jongkok agar tubuhnya bisa sejajar dengan tubuh Arsya dan Arsyi, jadi keduanya memeluk Syahira bersebelahan.
"Kita sayang bunda." ucap keduanya mencium pipi Syahira bersebelahan secara bersama.
"Bunda juga sayang kalian, I love you girl's."
"Love you too mom," jawab keduanya kembali mencium pipi Syahira membuat bunda mereka tertawa.
Ceklek!
Pintu kamar rawat itu terbuka Namira yang melihat pemandangan indah di depannya tersenyum sekaligus merasa iri melihat Syahira memiliki dua putri yang sangat menyayanginya. Ketiga orang itu menatap pintu kamar rawat bersama.
"Apakah aku mengganggu kalian?" tanya Namira sedikit canggung kala di tatap tiga orang itu bersama.
"Tidak doktel!" jawab ketiganya kompak, namun suara Arsya dan Arsyi yang sama-sama belum bisa menyebut huruf R dengan benar lebih mendominasi, daripada suara Syahira.
"Syukurlah, tapi aku minta maaf jika mengganggu," ujar Namira sambil berjalan masuk ke dalam.
"Tidak sama sekali dok." Namira mengangguk.
"Jadi apakah kalian akan langsung pulang?" untuk sekarang tatapan Namira tertuju pada Syahira.
"Benar dok," jawab Syahira apa adanya.
Namira menghembus nafas pelan. "Baiklah, mommy menitip salam untuk kalian dia mengatakan tidak bisa menemani kalian pulang karena harus mengaja abang Aditya."
"Apakah paman pintal?" celetuk Arsyi.
"Benar Arsyi, paman pintal sedang sakit."
"Boleh kita melihatnya?" Arsyi menatap bundanya penuh harapan, setelah mendapatkan persetujuan dari Syahira, kini dia menatap Namira berharap diperbolehkan untuk menjenguk Aditya.
Sorot mata Arsyi yang penuh harapan membuat Namira tidak bisa menolak keinginan anak itu.
"Tentu saja boleh, paman pintal pasti senang jika kalian menjenguknya, ayo aku akan mengantar kalian," ajak Namira pada ketiganya.
Tak sampai hati Syahira menolak keinginan putrinya, jadi mau tidak mau dia membawa si kembar mengikuti Namira untuk menuju kamar Aditya, Syahira sedikit risih karena melihat para suster dan beberapa dokter menatapnya aneh juga mendengar bisikan tengang dirinya.
"Tengan Ra, mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan dirimu, dengan kehidupanmu dimasa lalu, kamu tidak harus menutup mata dan mulut mereka semua agar mereka berhati membicarakan dirimu, agar kamu juga tidak merasa risih, kamu cukup mengacukan ucapan mereka tidak usah di dengar." ucapnya pada diri sendiri.
Sampai di kamar rawat Aditya rupanya disana hanya ada Ulya seorang diri. "Mom yang lain mana?" heran Namira. Tidak menemukan siapapun selain Ulya.
"Daddy sedang membeli sarapan. Alias sudah pulang bersama kak Arion. Mama dan Papamu mungkin siang akan datang."
"Baiklah mom, aku kesini mengantar orang yang ingin menjenguk abang."
"Siapa?" tanya Ulya menatap Namira penuh tanya.
"Masuklah Ra," suruh Namira pada Syahira.
Ragu-ragu Syahira masuk ke dalam kamar tersebut bersama kedua putrinya yang sudah menatap lurus pada bad hospital dimana Aditya berbaring tak berdaya.
"Masya Allah, kalian datang keisni," ucap Ulya senang sekaligus terharu. Rasa sedihnya sedikit terobati melihat kehadiran Syahira bersama kedua putri kembarnya.
Syahira mengangguk canggung sedangkan Arsyi sudah menarik tangan Arsya agar bisa berdiri lebih dekat di hadapan Ulya.
"Oma, kenalkan ini caudala kembar Alcyi, namanya Alcya." Ulya tersenyum mentapa lembut Arsya.
"Assalamualaikum sayang, oma senang bisa kenal denganmu."
"Al-" jawabnya ragu.
"Tidak apa sekarang aku kan menjadi oma kalian," ucap Ulya lagi.
Dua anak kembar itu menatap Syahira meminta persetujuan apakah boleh mereka memanggil Ulya, Oma. Syahira hanya bisa mengganguk setuju.
"Baik oma, apakah cekalang kami bica menemui paman pintal?" tanya Arsyi memastikan.
"Silahkan mungkin dengan adanya kalian Aditya juga bisa merasakan kebahagain."
Arsya dan Arsyi bejalan mendekati bad hospital Aditya, keduanya berdiri tepat disisi Aditya dengan wajah sedih. Melihat itu Namira jadi kagum dengan si kembar karena bisa mengekspresikan waja mereka dengan sangat pas. Kali ini dua bocah itu memang benar-benar bersedih.
"Paman pintal Alcyi cudah kembali membawa Alcya untuk beltemu dengan paman pintal. Alcyi cudah menepati janji Alcyi untuk membawa Alcya, jadi cekalang ayo bagun kita main cama-cama."
Melihat adiknya bicara Arsya jadi ikut bicara pula dengan Aditya yang masih terbaring dengan segala alat bantu rumah sakit.
"Assalamualaikum paman, mungkin kita balu beltemu tapi peltemuannya cudah cepelti ini. Alsya tidak suka. Alsya belhalap kita bisa beltemu lagi dalam keadaan paman pintal lebih baik lagi."
"Aamiin." tanpa sadar ketiga wanita yang sejak tadi memperhatikan apa yang si kembar lalukan mengucap amin saat mendengar ucapan Arsya.
"Semoga pama pintal cepat sembuh, aku ingin beltelima kasih pada ayah dan paman pintal yang sudah menolong adikku."
Dua anak kembar itu lalu saling memeluk satu sama lain, Syahira memaku di tempatnya mendengar ucapan Arsya dan Arsyi.
Tak lama setelah itu mereka pamit pulang, sebenarnya Ulya berat melepas mereka tapi untuk sekarang dia tiba bisa berbuat apa-apa.
"Kalian hati-hati," pesan Ulya sebelum Syahira bersama Arsya dan Arsyi pergi menjauh, Syahira mengangguk.
Sekarang setidaknya Syahira lega melihat keinginan kedua putrinya untuk bertemu Aditya sudah terwujud.
"Kita pulang sekarang ya," ujar Syahira ketika mereka sudah berada di gerbang keluar rumah sakit.
"Baik bunda," jawab keduanya.
'Alcya berhalap bica beltemu ayah cebelum kami pelgi tapi kenapa ayah tidak telihat sejak tadi.'
'Apakah Alsyi belhalapan sama sepeltiku ingin beltemu ayah, sebelum tidak boleh beltemu lagi setelah ini.' batin Arsya juga.
...Masih ada pertanyaan kalian yang belum terjawab tengang kisah mereka?...
...Jangan lupa like and komen 🤗...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
anti sinetron suara hati istri
ini anak"nya ceritanya udah umur 4 thn yach,perasaan umur 4 th itu bicaranya sudah lancar🤭🤭🤭
2023-12-20
1
Yani
Semoga kalian bersatu kembali dengan ayah mu
2023-11-20
0
Putri rahmaniah
up lagi Thor
2023-11-20
0