Pesona Syahira

...Bismillahirrohmanirrohim....

...Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗...

...بسم الله الر حمن الر حيم...

...Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad....

...اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد....

"Susah banget, Astagfirullah. Gimana orang-orang disini bisa hidup tanpa sinyal, udah 3 hari gue disini tapi belum bisa ngasih kabar orang rumah," keluh Alvan.

Di atas bebatuan dekat aliran sungai Alvan berusaha mencari sinyal, sudah hampir satu jam Alvan berada di tempat tersebut tapi apa yang Alvan inginkan tidak berhasil dapat.

Cek!

Alvan berdecak sebal, dirinya sungguh merasa lelah. Sudah tiga hari berurut-burut pemuda kota itu mencari sinyal tak kunjung dapat, hari ini bahkan sudah kesekian kalinya Alvan berpindah tempat hanya untuk mendapatkan sinyal.

"Tau gini gue buat persiapan lebih matang." Alvan menyerah sekarang, di atas batu dia memutuskan untuk duduk.

Netra Alvan menjelajahi sungai dari ulu ke hilir sambil menatap tempat sekitar yang banyak pepohonan. "Enak sih tinggal di desa begini, sejuk, tenang, nggak ada kebisingan jalan raya. Tapi kalau nggak ada sinya begini gimana ceritanya."

Sepanjang berada di atas batu besar itu Alvan terus mengoceh, sampai netranya melihat Syahira yang sedang berada dikali.

"Mau ngapain dia?" tanya Alvan entah pada siapa.

Masih bisa bertahan di desa yang tidak memilik sinyal itu salah satu alasan untuk Alvan karena ada Syahira, sejak hari pertama mereka bertemu Alvan sudah bertekad untuk meluluhkan hati gadis apel.

Tanpa sepengetahuan Syahira, Alvan sedang berjalan pelan kearahnya, dia sedang fokus menangkap ikan. Setiap hari Alvan bisa bertemu Syahira, karena dia tinggal di rumah kepala desa tepat di sebelah rumah Syahira.

"Assalamualaikum," salam Alvan dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Wa'alaikumsalam," jawab Syahira sambil menoleh ke belakangnya diaman Alvan berada.

"Kamu! Ngapain kamu disini," kaget Syahira melihat keberadaan Alvan, dia menatap sekitar tapi tidak ada siapa-siapa selain Alvan seorang diri.

"Gue udah dari tadi disini ya, sebelum lo datang," balas Alvan.

"Bohong! Kamu ngikutin aku, kan." Syahira menatap Alvan penuh selidik.

"Peda banget, gue benar dari tadi udah disini, noh di batu besar itu," telujuk Alvan mengarah pada batu yang sempat dia tempati.

Syahira percaya Alvan, walaupun pemuda kota ini menyebalkan bagi Syahira, dia tahu selama Alvan di desa mereka tidak pernah berbohong.

"Terus sekarang ngapain masih disini?"

"Nemenin lo lah, ngapain lagi emang," balas Alvan enteng.

"Aku disini bisa sendiri, kamu pulang saja sana," usir Syahira.

Di atas batu-batu kecil di pinggir sungai keduanya saling berhadapan, namun Syahira terus menduduk tak ingin menatap Alvan, dia sengaja mengusir Alvan agar laki-laki itu segera pergi. Syahira tidak ingin ada yang salah paham melihat hanya ada mereka berdua saja di sungai. Di desa mereka sangat dilarang keras laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom berduaan.

"Jadi lo ngusir gue?"

"Iya, kalau kamu nggak mau pergi biar aku saja yang pergi," ucap Syahira hendak melangkah harus urung karena suara Alvan.

"Oke gue bakal pergi, tapi setelah lo jawab pertanyaan gue," ucap Alvan akhirnya.

"Apa?" tanya Syahira tanpa menoleh pada Alvan.

"Lo tahu diaman ada sinyal disini? Gue udah 3 hari cari sinyal kagak dapat-dapat, bahkan udah hampir setiap tempat gue datangin cuman buat cari sinyal."

Penuturan Alvan berhasil membuat gadis mengekan gamis biru syar'i dengan kerudung hitam sampai menutupi dadanya kembali menghadap Alvan.

Huh!

Alvan dapat mendengar Syahira yang menghembuskan nafas pelan. "Disini memang tidak ada sinyal, tapi kalau kamu mau menghubungi keluarga bisa pakai telepon umum di desa sebarang, bisanya buka dari jam 9 pagi sampai jam 9 malem."

Gleg!

"Separah itu disini." Alvan sampai menela kasar salafinya mendengar penjelasan Syahira.

"Iya mau gimana lagi."

"Lo semua disini memang nggak ketinggalan zaman gitu, nggak ada hp bahkan sinyal aja susah."

"Kita nggak ketinggalan zaman kok, setiap minggu dua kali pemuda-pemudi disini mempelajari tentang dunia luar."

"Terserahlah, pantes gue waktu itu harus ngirim pesan lewat surat pos," gumam Alvan.

"Udah tahukan jadi sekarang boleh pergi," usir Syahira.

"Lo benci banget deh kayaknya sama gue." Syahira memtar bola matanya malas mendengar ucapan Alvan.

"Bukan benci cuman nggak enak dilihat sama orang nanti malah jatuhnya fithan."

"Maksud lo ada yang marah gitu kalau kita berdua disini, siapa? Pacar lo," entah mengapa Alvan tidak rela jika Syahira sudah memilik seorang pacar.

"Astagfurllah hal-adzim, ngomongnya. Syahira nggak punya pacar! Ayah nyuruh langsung nikah kalau nggak ta'aruan dulu."

Di desa bajo memang ada larangan untuk para pemuda pemudinya untuk berpacaran, mereka harus menikah daripada pacaran. Tapi tetap saja jika sebuah aturan pasti ada yang melanggar.

"Nikah sama gue gimana?" celetuk Alvan.

Jujur Alvan sendiri tidak tahu kenapa ucapan itu bisa meluncur begitu saja dari mulutnya, bahkan setelah melamar Syahira secara mendadak Alvan langsung menutup mulutnya.

Ups!

"Astagfirullah, mulut kok lo nyeletuk gitu aja sih. Malu ui kalau ditolak," gumam Alvan.

Gadis itu mengerut mendengar ucapan Alvan yang terdengar serius di kuping Syahira, Alvan dapat mendengar kekehan kecil dari Syahira.

"Ada-ada saja, tadi katanya janji mau pergi."

"Iya, maaf yang tadi jangan dimasukin hati gue pergi dulu. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab Syahira pelan.

Dari tempatnya berdiri Syahira memperhatikan punggung Alvan yang pergi menjauh tanpa terasa sebuah senyum terbit di bibirnya mengingat ucapan Alvan tadi.

"Ada-ada saja," guman Syahira kembali melanjutkan kegiatannya mencari ikan.

Malam hari tiba.

Atas saran dari Syahira, Alvan bisa menghubungi keluarganya menggunakan telepon umum di desa sebelah, setelah magrib Alvan memutuskan untuk langsung pergi ke desa tersebut tak lupa bermpaitan dengan pak kepala desa.

"Nasib-nasib pasti orang rumah bakal ngoceh-ngoceh, gue baru mau ngasih kabar mereka sekarang." Alvan melangkah keluar dari rumah kepala desa.

Sejenak dia menoleh pada rumah di sebelahnya kebetulan Syahira juga keluar rumah dengan pakian rapi. Melihat itu Alvan tersenyum manis, Syahira kembali masuk ke dalam rumahnya melihat kehadiran Alvan.

"Ya Allah, kok ada dia sih," biasanya Syahira akan mengancam Alvan, tapi kejadian di sungai tadi siang mengusik Syahira.

"Dia kenapa?" bingung Alvan.

Alvan meneruskan langkah setelah mengingat Syahira sempat tersenyum pada dirinya. "Indah kali ya hari-hari gue kalau tiap hari lihat senyum dia."

Dur!

"Astagfirullah hal-adzim, lo Boim ngagetin aja. Datang itu ucapin salam."

Boim salah satu pemuda desa bajo yang dekat dengan Alvan, termasuk Alvan banyak mendapat informasi tentang Syahira dari Boim.

"Ya Maap Al, abisnya kamu dari tadi bengong aja sambil senyum-seyum sendiri kesambet baru tahu rasa nanti, ngapian sih Al senyum-seyum kayak orang gila?"

"Syahira cantik ya Im, kalau lagi senyum. Nggak senyum aja dia cantik."

"Hira aja terus yang dibahas, kalau kamu benaran suka datangi orang tuanya. Jangan sampai malah kegerbek."

"Maksud lo apa?"

"Nggak! kamu mau kemana, Al?" Alvan baru ingat tujuan awalnya keluar malam.

"Temenin gue yok Im ke kampung sebelah, mau nelfon orang tua."

Terpopuler

Comments

Boy Putra

Boy Putra

lnjut thorr seruuu ni

2023-11-19

3

Ning Mar

Ning Mar

ooooc sinyal...
lanjut2

2023-11-19

0

lihat semua
Episodes
1 Dipecat
2 Arsyi hilang
3 Ayah
4 Punya cucu?
5 Cantik
6 Diusir
7 Tidak mungkin dia
8 Masuk rumah sakit
9 Kondisi Arsya
10 Perhatian
11 Gosip
12 Syahira bertemu Ulya
13 Pertemuan pertama (4 tahun lalu)
14 Pesona Syahira
15 Insiden
16 Menikah
17 Firasat
18 Kehilangan
19 Syarat
20 Menjenguk Aditya.
21 Menolong
22 Rencana si kembar
23 Mengingat
24 Sadar
25 Memberitahu keluarga
26 Bersama si kembar
27 Terulang lagi
28 Memulai
29 Perlu bicara
30 Alvan dan Syahira
31 Bahagia
32 Bekerja
33 Rencana membuka toko
34 Cemburu
35 Membuka toko
36 Usaha Alvan
37 Keluarga besar kasa
38 Kebersamaan
39 Aditya sadar
40 Keputusan
41 Hadiah
42 Tamu
43 Permainan
44 Kamar Alvan
45 Party 45
46 Party 46
47 Party 47
48 Party 48
49 Party 49
50 Party 50
51 Party 51
52 Party 52
53 Party 53
54 Party 54
55 Party 55
56 Party 56
57 Party 57
58 Party 58
59 Party 59
60 Party 60
61 Party 61
62 Party 62
63 Party 63
64 Party 64
65 Party 65
66 Party 66
67 Party 67
68 Party 68
69 Party 69
70 Party 70
71 Party 71
72 Party 72
73 Party 73
74 Party 74 (Special Arsyi)
75 Party 75
76 Party 76
77 Party 77
78 Party 78
79 Party 79
80 Party 80
81 Party 81
82 Party 82
83 Party 83
84 Party 84
85 Party 85
86 Party 86
87 Party 87
88 Party 88
89 Party 89
90 Party 90
91 Two genius ceo's
92 Party 92 Arsya Zahira Khasila
93 Arsyi Zahra Khalisa
94 94 Harus Kepoin! Karya baru
95 INTORVET LOVE
96 Helping girl
97 Fahri dan Cia, Kembali!!
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Dipecat
2
Arsyi hilang
3
Ayah
4
Punya cucu?
5
Cantik
6
Diusir
7
Tidak mungkin dia
8
Masuk rumah sakit
9
Kondisi Arsya
10
Perhatian
11
Gosip
12
Syahira bertemu Ulya
13
Pertemuan pertama (4 tahun lalu)
14
Pesona Syahira
15
Insiden
16
Menikah
17
Firasat
18
Kehilangan
19
Syarat
20
Menjenguk Aditya.
21
Menolong
22
Rencana si kembar
23
Mengingat
24
Sadar
25
Memberitahu keluarga
26
Bersama si kembar
27
Terulang lagi
28
Memulai
29
Perlu bicara
30
Alvan dan Syahira
31
Bahagia
32
Bekerja
33
Rencana membuka toko
34
Cemburu
35
Membuka toko
36
Usaha Alvan
37
Keluarga besar kasa
38
Kebersamaan
39
Aditya sadar
40
Keputusan
41
Hadiah
42
Tamu
43
Permainan
44
Kamar Alvan
45
Party 45
46
Party 46
47
Party 47
48
Party 48
49
Party 49
50
Party 50
51
Party 51
52
Party 52
53
Party 53
54
Party 54
55
Party 55
56
Party 56
57
Party 57
58
Party 58
59
Party 59
60
Party 60
61
Party 61
62
Party 62
63
Party 63
64
Party 64
65
Party 65
66
Party 66
67
Party 67
68
Party 68
69
Party 69
70
Party 70
71
Party 71
72
Party 72
73
Party 73
74
Party 74 (Special Arsyi)
75
Party 75
76
Party 76
77
Party 77
78
Party 78
79
Party 79
80
Party 80
81
Party 81
82
Party 82
83
Party 83
84
Party 84
85
Party 85
86
Party 86
87
Party 87
88
Party 88
89
Party 89
90
Party 90
91
Two genius ceo's
92
Party 92 Arsya Zahira Khasila
93
Arsyi Zahra Khalisa
94
94 Harus Kepoin! Karya baru
95
INTORVET LOVE
96
Helping girl
97
Fahri dan Cia, Kembali!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!