...Bismillahirrohmanirrohim....
...Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗...
...بسم الله الر حمن الر حيم...
...Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad....
...اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد....
Dengan perasaan cemas Syahira terus berdoa agar tidak terjadi hal buruk pada putri sulungnya. Sejak tadi dia terus menatap pintu UGD cemas, karena dokter tak kunjung keluar.
"Ya Allah, selamatkan putri hamba," gumam Syahira. Walaupun begitu dia tidak lengah akan putri bungsu yang duduk anteng di sampingnya.
Arsyi memutar kepalanya agar bisa menatap Syahira, tanpa disadari sang bunda, anak itu dapat melihat dengan jelas raut wajah khawatir bunda.
"Ya Allah, tolong celamatkan Allcya. Allcyi macih mau main baleng-baleng lagi cama Allcya. Allcyi nggak mau picah dengan Allcya. Tolong Ya Allah," doanya menatap langit-langit rumah sakit penuh harapan.
"Aamiin, Allah pacit dengel doa Allcyi kan. Allahamdulillah." lalu dia mengengam tangan Syahira.
Apa yang dilakukan Arsyi membuat Syahira menoleh, dia langsung mendaratkan kecupan singkat di pipi mulus Arsyi.
"Anak pintar bunda, pasti sedang mendoakan keselamatan Asrya."
"Iya unda, kita memang halus banyak beldoa. Bial doktel yang belusaha dan Allah yang menentukan," ucapnya bijak.
"Kamu memang pintar," tangan Syahira mengusap-usap pelan rambut Arsyi.
"Belantakan unda rambut Allcyi," ucapnya sambil mengerucutkan bibir, Syahira malah tertawa dibuatnya.
"Oke bunda minta maaf."
Beberapa menit berlalu pintu UGD itu terbuka keluar seorang dokter perempuan yang masih terlihat muda tersenyum ramah pada Syahira.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Syahira cemas-cemas.
"Anak Mbak hanya mengalami luka ringan beruntung cepat di bawa kerumah sakit. Tapi untuk beberapa hari ke depan perlu di rawat lebih dulu di rumah sakit."
"Alhamdulillah, baik dok," rasanya Syahira baru bisa menghembuskan nafas lega.
"Alhamdulillah, Allcya baik-baik caja kan unda," celetuk Arsyi.
"Benar sayang."
Dokter yang masih berdiri di hadapan Syahira itu tampak menatap wajah Arsyi dengan saksama, dia merasa pernah bertemu dengan anak kecil satu ini.
"Arsyi, Kamu benar Arsyi?" kata dokter Namira yang tertulis di name tagnya.
Namira memang sedang magang di rumah sakit Kakeknya untuk beberapa bulan ke depan. Gadis yang masih memilik dua kembaran itu memang memutuskan ingin menjadi seorang dokter anak-anak.
Sama dengan kakak pertamanya yang juga memutuskan untuk menjadi dokter. Tapi Eril bukan menjadi dokter anak-anak melainkan dia memutuskan menjadi dokter bedah.
Anak terakhir Eris dan Azril yang bernama Ebrahiem tidak terjun di dunia kesehatan, dia menjadi seperti ayahnya. Ahli dibidang kontarnya.
"Dokter kenal putri saya?" bingung Syahira, sementara Arsyi masih mengingat-ingat siapa dokter cantik berhjiab di depannya ini.
"Waktu itu Kakak sepupu saya tidak sengaja membawa pulang putri, Mbak, kami kira waktu itu dia abis nyulik anak siapa. Kalau boleh tahu siapa nama, Mbak?" tanya Namira sambil mengulurkan tanganya pada Syahira.
Gadis dengan pakian dokter itu yakin, jika Syahira masih seumuran dengan Alisa jarak satu tahun lebih dengan dirinya.
"Syahira, dok." jawabnya sambil membalas uluran tangan Namira.
Syahira yang mendengar penjelasan Namira jadi teringat Alvan, dia tahu siapa yang Namira maksud pasti laki-laki kemarin yang sempat ikut sarapan bersama keluarganya.
"Panggil saja Namira, Mbak. Tidak usah sungkan." Syahira mengangguk saja.
"Tante Namila," ujar Arsyi setelah berhasil mengingat siapa dokter cantik yang baru saja memeriksa kembarannya.
Waktu berada di kediaman Kasa satu hari satu malam, Arsyi bertemu dengan keluarga besar jadi saat Arsyi di sana mereka semua sedang berkumpul.
"Kamu masih ingat rupanya." Arsyi mengangguk lucu membuat Syahira dan Naimra tertawa.
"Jadi doktel cantik, Allcya tidak apa-apakan?" tanya anak kecil itu, bersamaan dengan para suster yang membawa keluar hospital bad Arsya untuk di pindahkan ke kamar rawat.
"Alhamdulillah, tidak ada cedera serius, kamu punya kembaran rupanya."
"Betul doktel cantik hebatkan."
"Dokter juga punya kembaran, dua malah tapi mereka laki-laki semua," ucap Namira memberitahu, dia ingin ikut menyombongkan diri seperti Arsyi.
"Masya Allah, kebetulan sekali Ira," sambung Syahira. Entah kenapa tiba-tiba Syahira memanggil Namira dengan sebutan Ira, mungkin agar lebih singkat saja.
"Benar juga Mbak," dia tertawa renyah. "Aku tinggal dulu Mbak, kamar rawat Arsya ada di nomor 04A."
Paham apa yang dikatakan Namira, Syahira mengangguk lalu mereka berdua berpisah di depan ruang UGD.
"Sampai bertemu lagi Arsyi, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, doktel." jawab Arsyi antusias.
Setelah Namira pergi, Syahira segera membawa putrinya menuju kamar rawat Arsya yang tadi disebutkan oleh Namira. Syahira yang terburu-buru tidak sadar jika melewati Alvan sedang bersama beberapa orang penting dari rumah sakit harapan Bangsa.
"Jadi sayang ingin-" ucap Alvan tertahan ketika melihat sosok Syahira.
Kebetulan Alvan yang sedang membicarakan hal penting bersama 9 orang laki-laki dan perempuan yang merupakan petinggi. Sambil mengelilingi beberapa tempat di rumah sakit membuat Alvan mengernyit dahi melihat keberadaan Syahira di rumah sakit, Alvan dapat melihat Syahira yang masku ke dalam kamar rawat tergesa-geas.
"Syahira-" gumam Alvan pelan.
"Tuan Alvan."
"Pak Alvan."
"Alvannnn-" panggil Bara penuh penekanan.
"Astagfirullah hal-adzim, maaf semua tadi sampai mana ya?"
"Untuk ide membaut rumah sakit semakin memberikan kenyamanan para pasien pak," jawab seorang dokter perempuan dengan malu-malu.
"Baik kita lanjut, jadi saya ingin kinerja para dokter lebih banyak memberikan perhatian pada pasien-pasien di rumah sakit."
Langkah Alvan kembali berheti ketika tak sengaja melihat Syahira dan Arsyi sedang berada di kamar rawat, dia juga melihat Arsya sedang berada di bad hospital dengan kepala yang diperban.
"Kenapa lagi sih Al?" sekarang Eril yang bersuara, karena dia berada diantara para penting itu.
"Bara tolong teruskan tugas saya," suruh Alvan pada Asistennya yang sejak tadi mencatat point-point penting yang disebutkan.
"Baik Pak."
Sembilan orang bersama Alvan tidak ada berani bertanya akan pergi kemana Alvan, kecuali sepupunya itu.
"Mau kemana Al?" namun Eril tidak mendapatkan jawaban mereka semua hanya menatap kepergian Alvan.
Mereka terlihat bingung ketika Alvan musuk ke dalam kamar rawat gratis yang disedikan pihak rumah sakit.
"Pak Alvan ngapain masuk ke kamar rawat orang rendahan?" ucap dokter yang bernama Talita, dia yang tadi menjawab antusias pertanyaan Alvan.
"Tolong janga bicara anda dokter Talita, di rumah sakit ini semua setara dan atittud sangat dinomor satukan," sahut Bara penuh penekanan.
"Arsyi," gumam Eril, dia juga malam itu sempat bertemu dengan Asryi. Mendengar perkataan Eril, Bara itu menatap dimana Alvan berada.
Mereka masih melihat apa yang sedang Alvan lakukan di dalam sana dari kaca transparan. Orang-orang yang tadi bersama Alvan tampak kaget melihat pria itu menghampiri Syahira dan si kembar. Bahkan Alvan langsung memeluk si kembar dan mengelus sayang pucuk kepala Arsyi, semua terlihat jelas dari luar.
"Siapa mereka?" tanya Talita.
"Jangan ikut campur urusan bos anda dokter Talita! tugas anda disini bekerja bukan mengorek tentang kehidupan bos," ujar Eril membuat Talita bungkam.
"Kita lajut," perkataan Bara sukses membuat mereka semua kembali fokus kembali.
...(Sejenak mari kita juga mendoakan yang terbaik untuk saudara-saudara kita yang tinggal di bumi di Palestina)...
...Tinggalkan jejak agar athor lebih semangat lagi. Like, komen dan Gift jangan lupa 💖...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Boy Putra
thorr kapn ni up nya,.
2023-11-17
3
Ning Mar
Alhamdulillah...gak ada luka yg berbahaya...lanjut
2023-11-17
2
Yani
Semoga Arsya lekas sembuh
2023-11-17
2