...Bismillahirrohmanirrohim....
...Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗...
...بسم الله الر حمن الر حيم...
...Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad....
...اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد....
Lama-lama pengunjung taman semakin bertambah, Arsyi berfikir ingin menyusul bunda dan kakak kembarnya. Bocah itu segera turun dari kursi taman.
Anehnya tidak ada yang memperhatikan Arsyi, dengan santai dia berjalan menuju toilet dimana orang tuanya pergi tadi.
Baru setegah perjalanan Arsyi menghentikan langkah kakinya. Netra bocah itu menatap tajam seorang laki-laki berpakaian hitam.
"Ada olang jahat!" ucapnya pada diri sendiri.
Buru-buru Arsyi mendekati orang yang mencurigakan tadi, jalan Asryi sangat cepat sekali dia memang sangat lincah.
"Olang jahat mau menculi ya!" ucap Arsyi lantang.
Sontak laki-laki yang memang hendak berbuat jahat itu menoleh pada Arsyi bersamaan dengan orang yang hendak dicuri dompetnya.
"Om, olang ini mau culi dompet Om tadi," kata Arsyi memberitahu. Dia menunjuk laki-laki di depannya yang diam-diam menatap tajam Arsyi.
Namun, bocah itu sama sekali tidak takut. dia malah balik membalas tatapan tajam si pencuri.
"Allsyi tidak takut dengan om, Allsyi cuma takut cama Allah, unda bilang halus jadi pembelani."
"Bocah, siapa yang lo bilang maling enak aja, gue nggak kenal sama lo ya, udah sono pergi."
Arsyi menggeleng pelan, laki-laki berpakaian kantor di sebelah mereka tak bergeming hanya memperhatikan interaksi keduanya.
"Sini lo!"
"Mau apa?" Alvan segera mencegah laki-laki yang hendak berbuat kasar pada Arsyi.
"Pergi dari sini atau lo bakal tahu akibatnya," ancam Alvan kedua bola matanya melotot sempurna tatapan tajam itu mirip seperti milik Arsyi tadi.
Pria yang memakai seragam kantor itu merupakan Ceo muda yang terkenal, pewaris rumah sakit terbesar di kota B. Namun, dikabarkan jika separuh ingatannya hilang.
"Iya saya pergi Pak. Minta maaf karena sudah mengganggu."
Buru-buru si pencuri pergi setelah Alvan melepaskan cengkeraman erat dari baju si pencuri
"Kamu tidak apa-apa?" Arsyi menggeleng.
"Om kata unda kalau cudah ditolong halus bilang telima kacih," beritahu Arsyi karena Alvan hanya menatapnya saja.
"Anak manis maafkan Om sudah lupa mengucapkan terima kasih."
"Tidak apa."
"Kamu berani sekali kok bisa?" heran Alvan.
"Bicalah, kan Unda yang ajalin Allsyi."
"Sekarang dimana-"
"Al, udah nih ayo pulang nanti malah si Alisa sama Namira ngamuk lagi," suara seorang menghentikan obrolan Alvan dan Arsyi.
Keduanya sama-sama menatap pada orang yang baru saja bersuara. Dia berdiri tepat di belakang Alvan.
'Alvan udah punya anak?' kaget Aditya, dia tak dapat meneruskan langkah kakinya, anak perempuan di hadapan dirinya sekarang sangat mirip dengan Alvan.
"Bang kok malah bengong," tegur Alvan menyadarkan Aditya.
"Eh, nggak papa." Aditya baru bisa melangkah lebih dekat menuju Alvan.
Kakak sulung Alvan itu ikut memposisikan diri seperti yang Alvan lakukan agar tubuhnya bisa sejajar dengan Arsyi.
"Sejak kapan lo punya anak?" tanya Aditya penuh selidik.
"Sembarang kalau ngomong lo, Bang. Dia bukan anak gue nikah aja belum udah punya anak."
Aditya meringis mendengar jawaban dari Alvan, tapi gadis kecil di depan mereka ini mirip sekali dengan Alvan.
"Lo yakin Al, nggak ngelakuin hal aneh-aneh diluar sana."
"Lo nggak percaya sama gue Bang?"
"Percaya tapi adik kecil ini mirip banget sama lo, coba perhatiin aja setiap inci wajahnya."
Alvan menuruti apa yang Aditya suruh, dia membenarkan ucapan Aditya. Arsyi sangat mirip dengannya lalu keberanian yang Arsyi miliki tadi hampir mirip seperti Alvan.
"Memang mirip," gumam Alvan entah sadar atau tidak.
Huf!
Arsyi menghembuskan nafas pelan. "Om, paman kalian dali tadi ngomongin apa? Boleh dilepas Allsyi mau ketemu Unda, nanti Unda cama Kakak Allsya caliin Alsyi. Pasti nanti mereka khwatilin Allsyi."
Dua laki-laki dewasa itu saling menatap satu sama lain mendengar ucapan Arsyi, dalam kepala mereka berdua sama-sama beranggapan jika gadis kecil ini anak pintar.
"Sekarang dimana Unda kamu?" tanya Alvan hati-hati.
Bahu Arsyi terangkat lalu kepalanya menggeleng. "Tidak tahu Allsyi lupa," dia menepuk jidatnya sendiri.
Memang Arsyi tukang lupa akan sesuatu jika sudah pindah dari tempat awalnya.
"Unda diamana?" menyadari satu hal bola mata Arsyi mulai berkaca-kaca seperti hendak menangis.
"Hei, sayang jangan menangis ikut Om terlebih dahulu nanti kita cari unda kamu bagaimana?" kata Alvan memberikan usulan.
"Lo serius Al?" Aditya menatap tak percaya adiknya.
"Serius lah bang, masa lo tega ninggalin anak kecil ini sendiri disini. Kalau dia kenapa-napa gimana coba."
"Gue juga nggak tega Al, tapi kita mau bawa kemana dia kalau misalnya ibunya nggak ketemu."
"Mansion," jawab Alvan singkat.
"Om, paman jangan beltengkal, bial Allsyi cali unda cama Allsya cendiri caja."
"Jangan sayang bahaya, ikut Om dulu nanti kita cari sama-sama bagaimana."
Tingkat kewaspadaan Arsyi sangat tinggi, dia mengingat apa yang Syahira ajarkan maka dari itu dia tak langsung menyetujui ajakan Alvan, Aditya yang paham segera bersuara.
"Kita bukan orang jahat Arsyi percaya dengan paman, nanti kita akan sama-sama menemui bunda kamu."
"Janji!"
"Janji," ucap Alvan dan Aditya bersama, mereka kompak mengelus pucuk kepala Arsyi.
Gadis kecil itu tertawa senang, dia paling suka jika rambutnya dielus-elus beda dengan Arsya yang tidak mau disentuh.
Kruk!
Alvan tertawa kembali mengacak-acak rambut Arsyi, mendegar suara perut Arsyi berbunyi merasa gemas.
"Kita makan dulu mau, kamu sepertinya lapar sekali."
"Apa boleh?" tanya Arsyi semangat kedua bola matanya sudah berbinar-binar.
"Boleh ayo ikut," dengan senang hati Alvan menggendong Arsyi, Aditya mengekor di sampingnya.
Sementara itu Arsya baru saja keluar dari toilet, siapa yang akan tahu kalau anak itu mengalami sakit perut, jadi mereka sedikit lama berada di kamar mandi.
Syahira sudah was-was karena terlalu lama meninggalkan Arsyi sendirian di taman, sebagai seorang ibu tentu Syahira tidak ingin terjadi hal buruk pada putrinya.
"Bunda mencemaskan Alsyi?" Syahira mengangguk tanpa menutup-nitupi.
"Ayo kita segela kembali bunda, pasti Alsyi masih disana." Arsya menarik pelan tangan Syahira.
Bergegas ibu dan anak itu menuju taman, tapi sampai disana Arsyi tidak ada lagi di kursi tempat mereka duduk tadi sudah kosong.
"Arsyi," gumam Syahira tubuhnya tiba-tiba terasa lemah.
"Ayo kita cali bunda, pasti Alsyi masih disekital sini," dia juga sedih mengetahui kembarannya menghilang.
Syahira bergegas mencari keberadaan Arsyi terus membawa Arsya dalam gendongannya tidak mau hal serupa menimpa satu anaknya lagi.
Mulai Syahira bertanya satu persatu pada pengunjung taman apakah mereka melihat Arsyi, jawaban sama yang Syahira dapat setiap bertanya pada orang-orang. Mereka sema sekali tidak melihat Arsyi.
"Ya Allah, Arsyi, kamu dimana Nak?" Syahira mendongkan kepala merasa air dari langit menetes.
Hujan turun orang-orang mulai meneduh, Syahira juga melakukan hal yang sama.
"Bunda pasti Alsyi ketemukan?"
"Insya Allah, sayang kembaran kamu pasti ketemu kita perlu mencarinya lagi."
"Tapi bunda hujan sangat lebat bagaimana kita bisa menemukan Arsyi?" air mata sudah membasahi pipi Arsya.
"Pasti ketemu bunda janji."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Luk Mawati
siapa ayah kandung si kembar
2023-11-25
6
Yani
Seru ceritanya
2023-11-14
1