...Bismillahirrohmanirrohim....
...Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗...
...بسم الله الر حمن الر حيم...
...Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad....
...اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد....
Seorang pemuda berusia sekitar 23 tahun berdiri sediki jaug dari hadapan sebuah gerbang desa yang tertuliskan 'Desa Bajo' senyum menghiasi wajah pemuda tersebut.
Dari rumah pemuda itu sudah memutuskan untuk tidak membawa kendaraan saat datang di desa, padahal mobil masih bisa masuk desa.
"Akhirnya kesampean juga untuk berkunjung kesini, Opa nggak salah nyuruh gue buat survei di desa ini buat pembangunan rumah sakit baru," ucap laki-laki itu pada diri sendiri.
Dia, Alvan Kasa. Cucu kedua dari keluarga Kasa. keluarga terkenal sekaligus keluarga kaya di kota B. Laki-laki dengan styelan rapi itu berjalan mendekati gerbang desa sambil membawa tas di punggungnya, rupanya didekat gerbang ada orang yang mungkin sedang menunggunya kedatanganya.
"Assalamualaikum," sapa Alvan ketika melihat kehadiran dua orang di depan gerbang.
"Wa'alaikumsalam, Nak Alvan apa betul?" tanya seorang laki-laki paruh baya dengan ramah.
"Betul, pak saya sendiri."
"Masya Allah, Allhamadulilah tiba dengan selamat," ucap pria paruh baya itu menghela nafas lega.
"Alhamdulillah, pak." sahut Alvan pula.
"Tapi saat perjalanan menuju kesini apa, Nak Alvan terserat?"
"Tidak pak, bapak bisa panggil saya Alvan saja," kata Alvan.
"Baik Alvan, hampir lupa perkenalkan saya Pak Dago kepala desa disini, senang bisa bertemu dengan Alvan. Dan ini istri saya namanya bu Marti."
"Alvan, senang bisa berkenalan dengan bapak dan ibu," ucapnya ramah.
Bersama kepala desa Alvan masuk ke dalam desa Bajo yang cukup luas untuk ukuran sebuah desa, orang-orang yang tinggal di desa sangat ramah menyapa Alvan, sebagian tamu di desa mereka.
Kebetulan Alvan tiba hari minggu, dimana beberapa orang-orang desa bajo sedang berkumpul bersama di jalan atau di taman yang berada di sepanjang jalan desa.
"Masya Allah, ada pangeran datang Hira. Ayo kita lihat," ajak teman-teman Syahira.
"Kalian saja aku malas," jawab gadis itu bahkan tak berminat untuk ikut gabung bersama teman-temannya yang lebih dulu melihat Alvan.
"Nggak asyik kamu, Hira."
"Kamu aja sono atau tetap disini sama aku," ancam Syahira pada temannya.
"Ogah, daah aku kesana dulu." Syahira mengangguk setuju.
"Cih! Pemuda kota, lihat saja jika dia mencari masalah di desa ini, aku akan membuat kamu jera," gumam Syahira sambil menggigit kasar buah apelnya yang ada di tangannya.
Para gadis yang melihat kehadiran Alvan langsung menyukai pemuda kota tersebut. Teman-teman Syahira sudah meninggalkan Syahira seorang diri.
Melihat semua orang sangat ramah pada dirinya Alvan begitu senang, tapi ada seorang gadis yang menarik perhatian Alvan. Hanya gadis itu yang tidak peduli akan kehadiran Alvan, sempat melihat gadis itu menatap tak suka kearahnya.
"Pak kepala desa, maaf kalau boleh tahu siapa gadis itu?" tunjuk Alvan pada Syahira yang asyik mengunyah buah apel.
"Ooh, dia Nak Hira. Nanti kalian bakal ketemu kok, rumahnya dekat rumah bapak," sahut kepala desa.
Sejak pertama memperhatikan orang-orang di Desa Bajo, Alvan langsung dibuat tertarik dengan seorang gadis berhijab yang sekaan mengabaikan kehadiran dirinya. Sedangkan yang lain, Alvan dapat melihat mereka sangat antusias sekali.
Alvan mengikuti kepala desa bersama istrinya hingga mereka sampai disebuah rumah yang cukup besar dan halaman rumahnya juga lumayan luas. Di sebelah rumah pak kepala desa ada sebuah rumah yang juga cukup besar juga.
"Mari masuk, Alvan. Semoga kamu betah tinggal sementara waktu di desa ini."
"Masya Allah, Pak Dago apa ini tamu yang dari kota?" tanya bapak-bapak yang baru saja keluar dari rumah sebelah.
"Benar Pak Irpan, perkenalkan ini Alvan. Yang satu minggu lalu konfirmasi ingin berkunjung kesini." Alvan berkenalan dengan Pak Irpan.
"Masya Allah, semoga apa kata pak Dago tadi benar, Nak Alvan betah tinggal disini."
"Panggil Alvan saja, Pak." Irpan mengangguk setuju.
Beliau yakin jika Alvan orang baik, tidak seperti kebanyakan pemuda kota liar yang beliau dengar dari temannya di kota.
"Nah, Alvan. Pak Irpan ini orang tua, Nak Hira," timpa Marti.
"Ada apa, dengan putri saya bu? Apakah Hira buat onar lagi, sekarang siapa sasarannya."
"Hira tidak buat onar Irpan, seperti biasa dia selalu mengabaikan para pengunjung laki-laki," sahut kepala desa.
"Anak itu," gumam Irpan paham akan kebiasan putrinya.
Di desa bajo bahkan laki-laki takut dengan Syahira, karena gadis itu jago bela diri. Jika ada yang berani mengusiknya makan siap-siap akan Syahira hajar habis-habisan. Kalau ada pemuda yang membuat teman Syahira menangis atau segala macan, gadis itu tidak akan tanggung-tanggung untuk melebraknya. Walaupun terkesan bar-bar tapi Syahira memiliki tutur kata yang lembut.
"Ayo masuk dulu semua," ajak Marti.
Jadi Irpan juga ikut masuk ke dalam rumah kepala desa untuk mengobrol lebih lanjut. Kedatangan Alvan di desa bajo memang sudah Alvan konfirmasi sendiri, karena dia datang bukan hanya untuk berlibur melainkan ada hal penting yang dilakukan.
Di ruang tamu rumah pak kepala desa Alvan banyak mengobrol dengan Pak Dago dan Pak Irpan tentang tujuannya datang ke desa bajo.
"Berarti dari kota ada orang yang berniat membangun rumah sakit di desan ini, bukan begitu, Alvan."
"Benar sekali Pak, tapi saya harus surevi lokasi lebih dulu untuk tempat pembanungan rumah sakit yang pas."
"Alhamdulillah, Insya Allah, saya bisa membantu Alvan" sahut Pak Irpan.
"Terima kasih pak Irpan," sahut kepala desa.
Orang-orang di desa Bajo memang membutuhkan rumah sakit. Ataupun klinik untuk di desa mereka agar tidak jauh-jauh harus pergi ke kota dengan jarak tempuah yang sangat jauh.
Kembali tiga orang itu berbincang-bincang dalam waktu yang cukup lama, sampai suara orang mengucapkan salam membuat mereka berhenti mengobrol.
"Assalamualaikum," ucap salam seorang gadis.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Hira, masuk sini." suruh pak kepala desa.
"Maaf pak Dago mengganggu waktunya, Hira kesini cuman disuruh ibu buat cari ayah." Kepala desa mengangguk paham.
"Untuk apa Ibu nyarin ayah, Ra."
"Ayah ditungguin ibu dari tadi, kata ibu udah setengah jam ayah disuruh ambil jeruk nisip di pohonya nggak balik-balik juga. Sampai ibu samperin nggak ada orangnya disana. Tahunya nyangkut disini," oceh Syahira pelan.
Syahira, gadis yang berumur beranjak 20 tahun itu tidak sadar jika pemuda kota itu menatapnya lekat.
'Gadis yang menarik,' batin Alvan. 'Baru kali ini ada perempuan yang mengusik hati gue, padahal waktu kuliah banyak yang cewek yang mau mendekat sama gue, tapi gue sama sekali nggak tertarik. Anehnya gadis desa ini langsung buat gue tertarik dari pertama kalian gue ngelihat dia.' batin Alvan, senyumnya bahkan semakin mengembang.
"Astagfirullah ha-adzim, ayah lupa Ra. Ayo kita pulang. Tapi kamu kenalan dulu sama Alvan."
Syahira memutar bola matanya malas, "Syahira, aku peringatin sama kamu jangan cari gara-gara di desa kami," ucap Syahira dengan gerak bibir. Alvan tersenyum mendapatkan ancaman dari Syahira.
"Gadis unik!"
...Untuk beberapa part ke depan masih tentang masa lalu Alvan dan Syahira ya, gimana mereka bisa menikah terus keluarga Alvan nggak ada yang tahu, sampai mereka terpisah oleh kejadian gempa bumi di desa. 🤗🤭...
...jangan lupa komen gusy...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Ani
oke kak 💪💪💪
2023-12-20
2
Yani
Seru
2023-11-19
2
Boy Putra
lanjut thor.,
2023-11-18
0