Syarat

...Bismillahirohmanirohim....

...Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗...

...بسم الله الر حمن الر حيم...

...Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad....

...اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد....

Masih di tempat yang sama Ulya terdiam sejenak setelah mendengar semua cerita Syahira. Mommy dari Alvan itu bangkit dari duduknya memeluk Syahira.

"Maafkan mommy telah membuatmu sedih Syahira," ucap Ulya merasa bersalah.

Entah kenapa mendapatkan pelukan dari Ulya, Syahira merasa seperti kembali merasakan pelukan suaminya 4 tahun lalu.

"Mommy?" ujar Syahira kala sadar akan penyebutan nama Ulya pada dirinya.

"Benar mommy, mommy yakin laki-laki yang kamu ceritakan tadi adalah Alvan."

"Tapi bagimana jika bukan? Sedangkan waktu itu polisi sendiri yang sudah menyatakan suamiku telah tiada."

Ulya menggeleng pelan. "Kamu tidak pernah melihat jasadnya bukan Syahira, sekarang kamu melihat seorang laki-laki yang sangat mirip dengan suamimu, karena dia memang suamimu. Nak," kata Ulya memberikan pengertian.

"Aku sudah berjanji dengan anak-anak akan segera pergi dan tidak menemui anak tante lagi." Syahira menatap lurus pada Ulya.

Bukannya marah Ulya malah terseyum dan menatap Syahira teduh. "Pergilah biar suamimu nanti yang datang menemui kalian jika dia sudah mengingat semuanya. Asal boleh mommy mengajukan dua persyaratan."

Dahi Syahira berkerut mendegar ucapan Ulya mengajukan persyaratan untuk dirinya walaupun aslinya ragu Syahira tetap mengangguk.

"Alhamdulillah, tolong perbolehkan mommy untuk selalu menemui kalian. Juga jangan panggil tante mulai sekarang kamu harus memanggilku mom, bagimana?"

Lagi-lagi Syahira menatap Ulya tak percaya, dia tidak bisa mengetahui pikirkan wanita cantik di depannya ini. Bingung? Tentu saja untuk apa Ulya mengajukan syarat padanya.

"Mom tahu kamu masih bingung, tapi mom 100% yakin sekali kamu memang istri Alvan dan kedua putrimu cucu Mommy. Untuk saat ini biar Alvan sendiri yang membuktikan. Mom janji selama kita bertemu nanti tidak akan memberitahu pada Alvan keberadaan kalian sampai dia menemukan sendiri, bagaimana?"

Sejenak Syahira terlihat berfikir mungkin ini juga waktunya untuk Syahira tahu apa yang terjadi pada Alvan 4 tahun lalu.

"Insya Allah, Syahira setuju. Tapi boleh lain waktu jika kita bertemu lagi aku ingin mendengar cerita dari mommy bagimana Mas Al bisa amnesia."

"Pasti mom akan cerita dan pasti kita akan bertemu lagi. Sekarang mommy harus kembali terima kasih telah menceritakan semuanya," ujar Ulya kembali memeluk Syahira.

"Sama-sama."

Akhirnya Syahira mengantar Ulya sampai ke depan pintu kamar rawat Arsya. Setelah itu dia kembali masuk melihat kedua putrinya.

"Ini kamar rawat gratis tapi sangat bagus," ucap Syahira menatap sekitar.

Dalam kepalanya banyak hal yang berputar. Syahira merasa akhir-akhir ini dia banyak pikiran setelah bertemu dengan Alvan.

"Mas jika benar kamu masih hidup, Syahira harap ingatmu segera pulih dan kembali mengingat aku," gumam Syahira mendesah pelan.

Di tempat yang berbeda seorang laki-laki terlonjak kaget dari tidurnya dengan keringat yang hampir membasahi seluruh tubuh Alvan.

"Mimpi itu lagi, sebenarnya siapa mereka?" bingung Alvan sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia selalu bermimpi dua orang wanita dan satu laki-laki yang selalu berada satu meja dengannya.

Laki-laki bertubuh tegap dan indah itu baru bisa istirahat dengan tenang malam ini setelah 3 hari berapa di luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Alvan bangkit dari tidurnya berjalan menuju kamar mandi.

Sejak satu tahu terakhir Alvan selama sebulan sekali sering bermimpi orang-orang yang tidak Alvan kenal, karena mereka tidak terlihat jelas dalam mimpi Alvan.

"Aku merindukan mereka," gumam Alvan sambil memikirkan Syahira dan kedua anak kembar Syahira.

"Sedang apa mereka? apakah mereka sudah tidur dengan nyenyak."

Rasanya Alvan ingin tugasnya cepat selesai dianak cabang rumah sakit. Selain merindukan keluarga Syahira, Alvan juga ingin selalu memantau kondisi abangnya yang masih berbaring di rumah sakit.

"Astagfirullah hal-adzim, salahnya aku kenapa tidak meminta nomor Syahira. Jika aku punya nomornya pasti bisa melihat wajah si kembar dan wajah cantik ibu mereka." Alvan tersenyum sendiri membayangkan wajah Syahira dan si kembar.

Untuk mengurungi rasa rindunya Alvan memutuskan keluar dari kamar mencari angin malam. Tanpa sadar Alvan melihat sahabatnya sedang termenung di sebuah kursi. Alvan dapat melihat wajah sedih Bara sambil meneteskan air mata.

"Ternyata disini memang masih bumi, tempat dimana banyak orang yang berpura-pura kuat, berpura-pura tersenyum seolah hidupnya paling bahagia padahal hidupnya sedang tidak baik-baik saja," sindir Alvan tanpa menatap Bara, dia malah menatap langit malam yang penuh akan bintang.

"Alvan, lo ngapain disini?" bingung Bara baru sadar akan kehadiran Alvan, dia juga tidak tahu sejak kapan Alvan berdiri di sebelahnya.

"Nggak salah lo nanya gitu sama gue? Harusnya gue yang nanya Bar, lo ngapain disini pake nangis segala lagi, bisanya lo kerjannya ketawa mulu," cecer Alvan menatap serius Bara.

Bara menghela nafas kasar mendengar ucapan Alvan. "Lo benar Al, ini masih bumi siapa saja bisa berpura-pura terlihat baik-baik saja tapi kita tidak tahu apa yang terjadi dalam hidupnya."

Alvan mengangguk setuju mendengar ucapan Bara. "Tapi aneh aja lihat lo nangis Bar, bener kagak mau cerita?"

Tatapan tajam Alvan mengarah pada Bara menatap serius sahabatnya itu, sudah lama bersama Bar baru kali ini dia melihat sang sahabat berwajah murung.

"Mama sakit Al," ucap Bara lirih.

"Inalilahiwainalilahirojiu'n, kok baru bilang sekarang sih Bar," kesal Alvan mengambil tempat duduk di sebelah Bara.

"Gue juga belum lama tahu kalau mama sakit keras tapi sampai sekarang beliau memang terlihat baik-baik saja. Gue cuman takut Mama pergi untuk selamanya ninggalin gue dalam waktu dekat."

Kali ini Alvan menghela nafas panjang. "Maksud lo takut mati?"

Bara mengangguk saja. "Jangankan orang yang memiliki riwayat penyakit mematikan Bar, kita semua manusia dekat dengan kematian. Tapi kita nggak akan tahu siapa yang lebih dulu menemui ajal."

Bara tertegun.

"Lo tahu sejak umur abang Aditya menginjak usia 4 tahun beranjak 5 tahun dia sudah divonis memilik penyakit mematikan dan kemungkinan besar umurnya hanya sampai 20 tahun, tapi sampai umur abang Aditya hampir masuk 30 tahun dia masih tetap hidup, karena memang umur bukan kita yang menentukan."

Jujur Bara baru tahu tentang penyakit Aditya yang selama ini dia alami. Walaupun Bara sahabat dekat sekaligus asisten Alvan tapi tentang Aditya, dia tidak banyak tahu.

"Lo serius Al?"

"Gue serius Bar, maksud gue ngomong gini bukannya apa. Gue juga pengen mama maupun Abang Aditya diberi umur panjang. Tapi lo harus tahu Bar, kita hidup berdampingan dengan kematian dan kematian adalah masa depan yang pasti untuk kita semua, karena kita hidup untuk menunggu mati."

"Dan sekarang gue baru sadar Al, kita memang hidup untuk menunggu mati," kedua sahabat itu saling berpelukan.

"Lo pasti mau bilang, ayo semakin memperbaiki diri lebih dekat dengan sang Maha Pemilik seluruh alam semesta."

Dua laki-laki itu terkekeh bersama, Bara sudah tahu kebiasaan Alvan. Sahabatnya ini bahkan pernah merasakan dalam ambang kematian hingga Allah memberikan keajaiban luar biasa sampai dia masih hidup sampai hari ini.

...setelah dibab ini ada yang masih bingung tetang kisah masa lalu Syahira dan Alvan?...

...Untuk umur si kembar baru menginjak umur 4 tahu ya kalau kalian bingung karena gempanya terjadi 4 tahu lalu disaat bulan september hampir 5 tahun....

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Udah ngerti jalan ceritanya ttp semangat 💪💪💪

2023-11-20

5

Ning Mar

Ning Mar

oke thor...
sudah jelas ceritanya...pokoke lanjut ya....

2023-11-20

0

lihat semua
Episodes
1 Dipecat
2 Arsyi hilang
3 Ayah
4 Punya cucu?
5 Cantik
6 Diusir
7 Tidak mungkin dia
8 Masuk rumah sakit
9 Kondisi Arsya
10 Perhatian
11 Gosip
12 Syahira bertemu Ulya
13 Pertemuan pertama (4 tahun lalu)
14 Pesona Syahira
15 Insiden
16 Menikah
17 Firasat
18 Kehilangan
19 Syarat
20 Menjenguk Aditya.
21 Menolong
22 Rencana si kembar
23 Mengingat
24 Sadar
25 Memberitahu keluarga
26 Bersama si kembar
27 Terulang lagi
28 Memulai
29 Perlu bicara
30 Alvan dan Syahira
31 Bahagia
32 Bekerja
33 Rencana membuka toko
34 Cemburu
35 Membuka toko
36 Usaha Alvan
37 Keluarga besar kasa
38 Kebersamaan
39 Aditya sadar
40 Keputusan
41 Hadiah
42 Tamu
43 Permainan
44 Kamar Alvan
45 Party 45
46 Party 46
47 Party 47
48 Party 48
49 Party 49
50 Party 50
51 Party 51
52 Party 52
53 Party 53
54 Party 54
55 Party 55
56 Party 56
57 Party 57
58 Party 58
59 Party 59
60 Party 60
61 Party 61
62 Party 62
63 Party 63
64 Party 64
65 Party 65
66 Party 66
67 Party 67
68 Party 68
69 Party 69
70 Party 70
71 Party 71
72 Party 72
73 Party 73
74 Party 74 (Special Arsyi)
75 Party 75
76 Party 76
77 Party 77
78 Party 78
79 Party 79
80 Party 80
81 Party 81
82 Party 82
83 Party 83
84 Party 84
85 Party 85
86 Party 86
87 Party 87
88 Party 88
89 Party 89
90 Party 90
91 Two genius ceo's
92 Party 92 Arsya Zahira Khasila
93 Arsyi Zahra Khalisa
94 94 Harus Kepoin! Karya baru
95 INTORVET LOVE
96 Helping girl
97 Fahri dan Cia, Kembali!!
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Dipecat
2
Arsyi hilang
3
Ayah
4
Punya cucu?
5
Cantik
6
Diusir
7
Tidak mungkin dia
8
Masuk rumah sakit
9
Kondisi Arsya
10
Perhatian
11
Gosip
12
Syahira bertemu Ulya
13
Pertemuan pertama (4 tahun lalu)
14
Pesona Syahira
15
Insiden
16
Menikah
17
Firasat
18
Kehilangan
19
Syarat
20
Menjenguk Aditya.
21
Menolong
22
Rencana si kembar
23
Mengingat
24
Sadar
25
Memberitahu keluarga
26
Bersama si kembar
27
Terulang lagi
28
Memulai
29
Perlu bicara
30
Alvan dan Syahira
31
Bahagia
32
Bekerja
33
Rencana membuka toko
34
Cemburu
35
Membuka toko
36
Usaha Alvan
37
Keluarga besar kasa
38
Kebersamaan
39
Aditya sadar
40
Keputusan
41
Hadiah
42
Tamu
43
Permainan
44
Kamar Alvan
45
Party 45
46
Party 46
47
Party 47
48
Party 48
49
Party 49
50
Party 50
51
Party 51
52
Party 52
53
Party 53
54
Party 54
55
Party 55
56
Party 56
57
Party 57
58
Party 58
59
Party 59
60
Party 60
61
Party 61
62
Party 62
63
Party 63
64
Party 64
65
Party 65
66
Party 66
67
Party 67
68
Party 68
69
Party 69
70
Party 70
71
Party 71
72
Party 72
73
Party 73
74
Party 74 (Special Arsyi)
75
Party 75
76
Party 76
77
Party 77
78
Party 78
79
Party 79
80
Party 80
81
Party 81
82
Party 82
83
Party 83
84
Party 84
85
Party 85
86
Party 86
87
Party 87
88
Party 88
89
Party 89
90
Party 90
91
Two genius ceo's
92
Party 92 Arsya Zahira Khasila
93
Arsyi Zahra Khalisa
94
94 Harus Kepoin! Karya baru
95
INTORVET LOVE
96
Helping girl
97
Fahri dan Cia, Kembali!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!