Ciuman itu harus terlepas karena ada pengganggu yang membuka pintu kamar tanpa permisi. Siapa lagi kalau bukan asisten Gavin yang sangat cemas dengan bosnya, Revan.
Khadijah memasang lagi cadarnya buru-buru dan Revan kembali ke mode datar seperti biasanya. Melihat Khadijah yang gugup karena malu, asisten Gavin bisa menebak apa yang terjadi sebelumnya. Semuanya hanya ia simpan dalam otaknya yang mulai ngeres.
"Ada apa?" datar Revan.
"Bagaimana keadaanmu, bos?" tanya asisten Gavin.
"Seperti yang kamu lihat. Bagaimana perkembangan penyelidikannya?" tanya Revan setelah tahu dari istrinya kalau asisten Gavin sedang melakukan penyelidikan kasus penembakan padanya.
"Nihil." Singkat asisten Gavin.
"Sial....!" Revan terlihat sangat marah karena ia tidak bisa membayangkan kalau Khadijah yang menjadi korban penembakan itu. Mungkin saja istrinya langsung tewas hari ini juga. Dan ia tetap perjaka tiang-tiang dengan menyandang status duda.
"Aku punya ide, suamiku," ucap Khadijah tiba-tiba.
"Apa sayang?"
"Ada parkiran mobil sepanjang jalan itu di depan rumah warga. Entah itu milik warga atau milik tamu mereka.
Yang jelas tidak ada mobil yang bergerak keluar komplek selain kita saat kamu tertembak. Nah, kita bisa minta tolong pada pak RW untuk meminta rekaman CCTV di setiap rumah warga yang di depannya ada parkiran mobil," ucap Khadijah.
"Wah...! Hebat. Kenapa aku tidak memikirkannya sampai di situ," binar asisten Gavin.
"Berarti itu tugasmu mendatangi rumah pak RW untuk minta bantuannya seperti yang di sarankan istriku barusa!" ucap Revan.
"Kita juga bisa memeriksa rekaman cctv dasbor mobil kita, suami," ucap Khadijah.
Revan dan asisten Gavin saling menatap. Khadijah begitu cepat mendapatkan solusi dan mengetahui apa yang bisa mereka dapatkan dari segala kemungkinan yang ada. Kedua pria tampan itu saling tersenyum dengan kecanggihan otak Khadijah.
"Pinjam kontak mobilnya bos..!" pinta asisten Gavin dan Khadijah segera mengambil kunci mobil itu dari tasnya dan menyerahkan kepada asisten Gavin.
"Terimakasih nona Khadijah. Kamu benar-benar hebat," puji asisten Gavin.
"Keluar...!" usir Revan yang tidak suka ada pria lain yang memuji istrinya apalagi didepannya.
"Baik bos." Asisten Gavin tahu kalau saat ini Revan mulai bucin pada Khadijah.
"Apakah aku boleh pulang? Aku tidak bawa baju ganti untuk menginap di sini," pinta Khadijah.
"Tidak. Jangan pulang dan tetap di sini bersamaku. Pesan saja baju atau apapun yang kamu butuhkan melalui belanja online," pinta Revan yang tidak mau Khadijah di ikutin penjahat lagi.
"Baiklah." Khadijah menuruti permintaan suaminya. Tidak lama bagian pantry mengantar makan malam untuk Revan. Dan Khadijah menyuapi suaminya itu.
"Mulai besok ke manapun kamu pergi harus di kawal. Dan aku akan mencari sopir pribadi untukmu. Aku akan menghubungi Dwia lagi untuk membatu pekerjaanmu di rumah," ucap Revan.
"Tidak perlu Revan. Aku sudah bahagia kita bisa hidup berdua di rumah itu. Aku sudah keluar uang yang banyak untuk membeli para asistenku itu yang bekerja tanpa lelah dan istirahat," ujar Khadijah..
"Tapi aku tidak mau kamu kelelahan. Lagipula aku berencana buat anak denganmu," ucap Revan begitu frontal.
Khadijah mencubit pinggang Revan membuat Revan langsung menjerit.
"Aduhhh....! Aduhhh... sakit sayang. Jangan dicubit...! Di elus saja. Bagian yang ini!" menarik tangan Khadijah meletakkan diatas miliknya yang kembali mengeras.
Khadijah reflek menarik tangannya dari tempat kramat itu karena ia belum siap beradaptasi dengan benda kenyal dan keras itu.
"Kenapa sayang? Takut?" goda Revan.
"Bu...bukan. Itu...eh ini bukan tempatnya. Ini rumah sakit," kilah Khadijah mengalihkan wajahnya ke sembarang arah.
"Yang bilang ini kamar hotel siapa?" ledek Revan menarik tangan Khadijah lalu di kecupnya.
"Kalian itu harus belajar akur mulai sekarang, ya...!" nasehat Revan makin membuat wajah Khadijah merona malu.
"Dia lebih menakutkan daripada monster," gumam Khadijah membuat Revan tersenyum.
"Tapi nanti kamu pasti kangen sama dia," ucap Revan mengecup bibir Khadijah.
Cup..
Ciuman panas itu kembali terjadi di ruangan itu.
Tiga hari dirawat di rumah sakit membuat Revan mulai bosan. Ia begitu merindukan masakan istrinya dan merengek minta pulang.
Beruntunglah keadaannya sudah mulai membaik. Revan akhirnya diijinkan pulang ke rumahnya oleh dokter.
...----------------...
Di mansion itu, Khadijah tampak sibuk di dapur ditemani oleh Revan. Adanya Revan, Khadijah menjadi punya teman ngobrol. Khadijah meramu 4 masakan sekaligus yang bahan-bahannya sudah ia siapkan hanya tinggal mengolahnya saja.
Baru kali ini Revan melihat isi kulkas dan dapurnya begitu tertata rapi. Setiap wadah penyimpanan bebagai macam bahan makanan di namakan oleh Khadijah. Revan jadi senang melihat bagaimana dapur itu tertata dengan baik dan menarik.
"Luar biasa. Istriku mengurus semuanya sendiri dalam kesendiriannya. Pantas dia tidak merasa kesepian karena ada saja yang ia kerjakan." Revan merasa beruntung Khadijah memiliki semangat untuk menjadi ibu rumah tangga yang bisa melakukan apapun sendirian.
Tapi, Revan melihat Khadijah enjoy dengan pekerjaannya namun wajah lelah Khadijah sangat terlihat jelas terutama dibawah matanya terdapat lingkaran hitam.
"Setelah tanganku sembuh, kita akan pergi bulan madu ke luar negeri. Kamu mau pilih di negara mana yang akan kita kunjungi, sayang?" tanya Revan.
"Terserah kamu saja, suami. Yang penting masih di planet ini," ucap Khadijah sambil mengaduk masakannya.
"Mau keliling Eropa?" tanya Revan.
"Kalau pengantin baru bulan madu itu tidak usah jauh-jauh ke luar negeri. Di rumah sendiri juga lebih ekonomis," jawab Khadijah.
"Lho..kok kamu jawabnya begitu, sayang?"
"Survei membuktikan kalau setiap pengantin baru 90 persen prianya mengurung wanitanya di kamar. Karena setiap kali pria usai bercinta, ti..dur." Intonasi suara Khadijah terdengar melandai dengan wajah menggemaskan.
Revan mencubit pipi Khadijah gemas hingga gadis ini meringis kesakitan. Di saat haid Khadijah selesai dan kembali suci dan mulai menunaikan lagi sholat fardhu, justru tangan Revan masih dililit perban. Ada-ada saja kendalanya hingga ia terus menerus menunda unboxing bersama istrinya.
Revan merasa semesta sedang menghukumnya karena selama 9 bulan lebih menikah dengan Khadijah, ia bersikeras menjauh dari Khadijah. Sekarang ia baru merasakan penyiksaan tiada akhir.
"Sekarang kamu ke kamar ya...! Kita makan malam di balkon kamar." membawa baki besar berisi makan malam mereka dan di hidangkan di meja. Khadijah menyalakan lampu yang terlihat temaram.
Ia menambahkan cahaya lilin merah untuk menambah kesan romantis. Khadijah mampu menciptakan setiap ruangan maupun taman yang ada di mansion untuk mereka bisa merasakan bak suasana restoran
outdoor maupun indoor.
"Tunggu sebentar sayang. Aku mau ganti baju dulu. Kamu tidak keberatankan?" ijin Khadijah.
"Silahkan sayang...!"
Selang sepuluh menit kemudian, Khadijah keluar mengenakan dress yang cukup seksi hingga membentuk lekuk tubuhnya.
Rambutnya di gulung ke atas menampakkan leher putih mulus. Sentuhan terakhir adalah lipstik yang merah merekah membuat Revan mimisan juga malam ini.
"Aku sudah bersuci. Kita bisa lanjutkan di tempat tidur setelah makan malam, suamiku," bisikan penuh godaan yang disampaikan Khadijah membuat tubuh Revan meremang.
"Ya Allah. Godaan yang tidak tepat," gerutu Revan membatin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
lanjut.
2024-01-08
0
jhon teyeng
what...... 🤣🤣🤣🤣🤣
2023-12-14
1
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
🤣🤣🤣 Revan tlh di makan sumpah diri sendiri.... awal pernikahan dulu Revan bersumpah akan menjadikan Khadijah budaknya dan bukan lg istrinya...
jgn main2 dgn sumpah Revan nnti makan diri....hihihi
2023-11-24
3