Setibanya di mansion, Revan sedang mencari Khadijah. Gadis ini nampak menyusun bunga yang ia beli di balkon kamarnya. Ia memasang rumput sintetis di atas lantai agar terkesan seperti taman.
Bahkan ia merangkai meja kecil yang baru ia beli melalui aplikasi belanja on line sebagai kepentingan shooting vlog miliknya saat ia bisa bersantai sambil makan di tempat itu.
Revan memeriksa di ruang ganti dan kamar mandi ternyata tidak ada Khadijah. Beruntunglah gorden kamarnya terbuka sehingga bisa melihat istrinya sedang berkutat dengan menghias balkon kamar mereka penuh dengan bunga cantik.
Dan Khadijah mengenakan pakaian minim agar mudah bergerak. Namun sebelumnya ia sudah menutup balkon dengan tirai agar tidak terlihat oleh tetangga samping rumah mereka. Wajah Khadijah tampak muram.
Melihat itu, Revan makin merasa bersalah. Ia mengucapkan salam, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya setiap kali pulang dan berangkat kerja.
"Assalamualaikum Khadijah..!" sapa Revan gugup melihat paha mulus Khadijah yang mengenakan celana pendek sepaha.
Deggg...
Deggggg...
"Apa orang ini baru mualaf? Sejak kapan dia kenal kata salam? Biasanya langsung ngeloyor masuk. Pasang wajah datar. Sedingin kulkas tujuh pintu," batin Khadijah menertawakan suaminya dalam hatinya.
Khadijah tampak diam dan tidak menganggap suaminya hadir di situ. Revan mengulangi salamnya dengan suara lebih keras dan lagi-lagi Khadijah cuek.
"Menjawab salam itu hukumnya wajib lho...! apa lagi sama suami," ucap Revan.
"Cih...! Sejak kapan dia beralih profesi jadi ulama kilat?" decih Khadijah membatin.
"Waalaikumuslam," batin Khadijah sambil terus menyusun bunga-bunga yang ia belanja kemarin.
"Bunga cantik. Secantik istriku. Malah lebih cantik istriku," goda Revan.
Khadijah sempat menghentikan kegiatannya mendengar pujian suaminya. Namun ia ingin mogok bicara dan memasang ekspresi datar.
Khadijah berkacak pinggang melihat hasil kreasinya hari ini sangat memuaskan. Ia mengambil ponselnya dan mengambil gambar untuk ia pasang di IG miliknya.
Revan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rasanya saat ini dia seperti pria playboy yang lagi meluluhkan hati wanita yang digilainya.
"Khadijah. Bicaralah padaku...! jangan diam seperti ini. Aku tidak suka. Itu bukan diri kamu yang aku kenal. Di mana Khadijah-ku yang selalu ceria menyambutku dengan senyumnya yang menyejukkan jiwaku?" gumam Revan terlihat jujur bercampur frustrasi.
Khadijah menahan air matanya agar tidak mudah terbit. Darahnya terasa mendidih mengingat kembali penghinaan Elmira padanya.
"Kenapa diam saja saat wanita itu menghinaku? Apakah kamu masih mencintainya? Cinta kalian belum tuntas, bukan? Kenapa tidak kembali padanya? Oh, iya kamu mau bercerai dariku.
Ayo....! Kita bercerai...! Aku kuat mendapatkan hinaan darimu. Tapi aku tidak sanggup mantan kekasih suamiku menghinaku di depan suamiku sendiri," geram Khadijah.
"Ayolah Khadijah...! Dia hanya bagian masa lalu. Kamu adalah masa depanku. Jangan percaya apapun yang dikatakan padanya...!
Aku minta maaf karena tidak membelamu tadi. Kamu tahukan aku masih sakit. Jadi, aku tidak bisa bicara banyak padanya," jelas Revan.
"Alasan."
"Baiklah. Aku minta maaf. Tolong maafkan aku Khadijah....!" pekik Revan karena tidak sanggup melihat Khadijah marah padanya.
Khadijah masuk ke dalam kamarnya karena saat ini baju kaosnya basah hingga tercetak dada sekang miliknya begitu menggoda iman Revan yang lagi-lagi membangunkan adik kecilnya spontan bereaksi.
Melihat Khadijah yang mendiaminya membuat kesabaran Revan tidak bisa ditolerir. Revan menarik lengan Khadijah dengan kasar hingga berbalik membentur dadanya. Dengan secepat kilat, bibir mungil itu menjadi santapannya kini.
Revan memagut lebih dalam bahkan memaksa masuk ke dalam rongga mulut Khadijah yang berusaha menolak namun tengkuknya ditekan kuat oleh Revan sambil mencubit bokong montok Khadijah membuat gadis ini reflek membuka mulutnya. Revan menghisap kuat lidah istrinya.
Revan memasukkan tangannya ke punggung Khadijah sambil melepaskan pengait bera itu dengan cepat. Tangan kekar itu sudah menggerayangi dada sekang itu dengan gemas.
Tubuh Khadijah seakan tersengat beberapa ribuan voltase listrik hingga menegang parah. Tubuh mungil itu di giring ke kasur empuk tanpa melepaskan pagutannya. Makin Khadijah berontak, makin dalam Revan memagut bahkan menghisap lidahnya kuat.
Revan menghempaskan tubuhnya Khadijah lalu menindih tubuh gadis itu dengan kuat. Revan melepaskan pagutannya dan beralih menelusuri leher Khadijah yang seketika melenguh.
"Revan. Aku masih haid," lirih Khadijah sambil merapatkan kakinya.
"Aku tahu, sayang. Hanya bagian bawahmu yang haid bukan bagian atas-kan?" serak Revan menyesap salah satu benda kenyal itu.
Khadijah pasrah dan menikmati setiap sentuhan suaminya. Amarahnya seakan terhapus sudah dengan sentuhan yang itu. Sentuhan yang selama ini ia harapkan dari suaminya.
...----------------...
Puas bercumbu dengan Khadijah agar istrinya memaafkannya, Revan masuk ke kamar mandi berniat berendam dengan air dingin untuk mendinginkan miliknya yang belum berhasil masuk gawang.
Sebenarnya ia bisa saja meminta Khadijah memanjakan miliknya dengan mulut gadis itu. Tapi, ia tidak ingin merusak suasana hati Khadijah yang akan menganggapnya hanya sebagai pelampiasan.
Khadijah masih berbaring dengan tubuh setengah telanjang ditutupi oleh selimut. Ia baru tahu kelemahan Revan yang tidak bisa dicuekin olehnya.
"Alhamdulillah. Ternyata ada manfaatnya juga kedatangan Mak lampir itu." Khadijah senyum-senyum sendiri.
Sementara Revan masih membayangi setengah tubuh telanjangnya Khadijah yang membuat jaringan otaknya mulai eror.
Revan juga senyum-senyum sendiri di kamar mandi karena ia bisa merasakan bibir kenyal Khadijah dan dada sekang yang membuatnya menginginkannya lagi.
"Suami...! Aku boleh masuk tidak?" tanya Khadijah dari balik pintu.
"Masuk saja...! Aku sudah selesai," ucap Revan tanpa berniat membuka pintu. Khadijah mendorong pintu itu perlahan dan melihat Revan sudah mengenakan handuk yang melilit pinggangnya hingga memperlihatkan otot dada kekar itu hampir membuatnya mimisan.
"Dandan yang cantik...! Aku ingin mengajakmu jalan-jalan." Mengecup bibir kenyal Khadijah tanpa sungkan.
"Ok." Khadijah buru-buru mandi dan Revan berpakaian di dalam kamar ganti.
"Kalau menghibur istri yang lagi ngambek, ajak dia belanja. Beli perhiasan, dengan begitu amarahnya akan berkurang 80 persen." Revan mengenang lagi ucapan ayahnya saat dia menanyakan bagaimana menghibur wanita yang sedang ngambek. Dan sekarang ia ingin membuktikan perkataan ayahnya itu pada Khadijah.
Dua puluh menit berlalu, Khadijah sudah rapi dengan gamisnya berwarna coklat muda. Revan tersenyum melihat penampilan Khadijah yang selalu memukau walaupun berpakaian syar'i.
"Jangan dulu mengenakan cadarmu sampai kita bertemu dengan banyak orang...!" Merangkul pinggang Khadijah untuk turun ke lantai satu.
"Baik suamiku." Binar Khadijah menuruni tangga satu demi satu selaras dengan langkah suaminya.
Mobil yang digunakan Revan bukan mobil yang sama saat ia balik dari perusahaan. Ia menggunakan mobil sedan mini Cooper keluaran terbaru berwana kuning.
"Kapan kamu sholat lagi?" tanya Revan untuk mengetahui kapan berakhirnya masa menstruasi Khadijah. Hanya saja kalimatnya terdengar diplomasi.
"Tiga hari lagi. Emang kenapa?" tanya Khadijah saat mobil mereka keluar dari pintu gerbang.
"Karena aku ingin mengajakmu bulan ma...-"
Dorrr...dorr..
"Khadijahhhhh......!" pekik Revan saat melihat Khadijah tertembak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
khadijah kena tembak
2024-01-08
0
jhon teyeng
wah ternyata wanita ini yg bikin semua jd mati
2023-12-14
1
Sukhana Ana Lestari
Manusia luknut jongosnya si Kunti.. Mudah"an Khadijah gpp.. paling tdk klw terkena tembakan meleset.. Dan Revan segera mengusut tuntas asal tembakan tersebut.. semoga Ukhti Khadijah selamat..
2023-11-23
3