Tidak butuh waktu lama untuk Revan dalam menjalani masa berkabungnya, ia lebih memilih menyibukkan dirinya di perusahaan daripada di rumah hanya terus mengingat kepergian kedua orangtuanya yang secara mendadak itu.
Asisten Gavin sudah siap di depan halaman mansion untuk menjemput bosnya itu. Ini adalah hari ke 3 masa berkabung keluarga itu. Revan mampu bangkit dari kesedihannya.
Khadijah begitu bersyukur melihat suaminya menjalani aktivitasnya walaupun wajah itu masih berselimut kabut duka.
Khadijah menyiapkan perlengkapan Revan untuk bekerja. Mulai dari baju, celana, pakaian dalam, dasi, jas, kaos kaki dan sepatu. Bahkan tidak lupa dengan arlojinya. Semuanya sudah berada di atas kasur kecuali sepatu diletakkan di samping ranjang.
Khadijah turun ke bawa menyiapkan sarapan yang sudah matang. Ia juga menyiapkan makan siang untuk suaminya dalam wadah yang sangat cantik.
Sebenarnya, ini kali pertama untuk Revan membawa makan siang sendiri dari rumah karena sebelumnya ibunya tidak pernah melakukan itu.
Makan siang itu di buat dua tempat. Satu untuk Revan dan satu lagi untuk asisten Gavin. Khadijah sudah memberikannya kepada Gavin untuk di simpan di mobil.
Langkah kaki kokoh itu menuruni tangga dengan penampilan yang begitu menarik. Khadijah begitu senang apa yang ia siapkan sudah melekat di tubuh atletis suaminya.
Revan menarik kursi dan duduk makan dengan tenang tanpa menyapa Khadijah yang hanya tersenyum padanya. Revan menghabiskan sarapannya tanpa ada komentar. Pria tampan itu benar-benar menikmatinya.
"Apakah aku boleh minta uang belanja, Revan?" tanya Khadijah saat Revan sudah membersihkan mulutnya dengan serbet makan.
Revan mengeluarkan dompetnya dan memberikan black card untuk istrinya.
"Beli apapun yang kamu suka...!" ucap Revan datar.
"Terimakasih suami. Aku akan memakai uangnya dengan bijak," janji Khadijah.
"Jangan pergi ke manapun kecuali kamu ingin belanja sesuatu. Tapi kalau bisa pesan saja. Gunakan m-banking aku kalau mau belanja melalui online." Menyerahkan ponselnya pada Khadijah.
"Berapa nomor PINnya?" tanya Khadijah.
"Tanggal pernikahan kita sekaligus tanggal kematian kedua orangtuaku untuk mengingatkan kamu bahwa kamu tidak lebih dari seorang gadis pembawa sial," ketus Revan lalu meninggalkan Khadijah yang masih termangu mendengar ucapan menyakitkan dari suaminya.
Khadijah menarik nafas dalam untuk melonggarkan sedikit dadanya yang begitu sesak dan sakit. Hinaan Revan dianggap sebagai penggugur dosa baginya. Khadijah mengikuti langkah Revan untuk melepaskan kepergian suaminya untuk bekerja.
"Boleh aku Salim tanganmu, Revan?" pinta Khadijah saat Revan hendak masuk ke mobil.
Revan membalikkan tubuhnya dan menjulurkan tangannya untuk dicium oleh Khadijah yang mencium tangan itu penuh takzim. Bukan hanya sekedar menciumnya, tapi ada doa tulus yang terselip di dalamnya untuk kemudahan dalam urusan suaminya.
"Kau ingin tampil sebagai istri yang Sholehah di depanku, namun sayang sekali aku tidak tertarik, Khadijah," bisik Revan saat Khadijah mengangkat wajahnya dari tangannya.
"Bukan untukmu suamiku. Tapi aku lakukan ini hanya semata-mata mengharapkan ridho Allah." Mematahkan ucapan menohok suaminya dengan bisikan lembutnya.
Glekkk...
Tenggorokan Revan tercekat dengan lidah terasa kelu. Ingin menjatuhkan sang istri malah jawaban Khadijah lebih sadis untuknya.
Revan masuk ke dalam mobilnya. Khadijah menutup pintu mobil itu rapat sambil mengucapkan salam untuk Revan yang hanya berdehem.
Mobil bergerak perlahan lalu kembali stabil. Beruntunglah pintu gerbang itu buka tutup secara otomatis, jadi Khadijah tidak perlu lelah buka tutup pintu gerbang utama itu karena letaknya cukup jauh dengan mansion.
...----------------...
Berkat ponsel Revan, Khadijah memesan beberapa peralatan rumah tangga yang dapat membantu pekerjaannya melalui aplikasi belanja online.
Seperti mesin robot penyedot debu plus pel lantai yang bergerak sendiri dengan model terbaru dan banyak fitur dalam perintah pemiliknya. Ada juga alat pembersih kaca jendela yang dobel magnit luar dalam yang bisa bergerak sendiri dari atas ke bawah sampai kaca jendelanya bersih.
Mesin cuci yang langsung kering lipat tanpa harus jemur. Mesin cuci piring dan masih banyak peralatan lain yang tidak membutuhkan dirinya untuk bekerja menghabiskan waktu seharian di rumah sebesar itu.
Belum lagi ia menghubungkan semuanya dengan perintah google. Seperti menyiram tanaman bunga, menyalakan semua lampu yang berfungsi dalam waktu lama dan membuka pintu dan jendela dengan perintah google menggunakan suaranya.
Dan hebatnya lagi untuk membuang kejenuhannya, Khadijah menjadikan aktivitasnya di rumah dengan membuat konten. Ia ingin menjadi seorang youtuber.
Dengan begitu ia akan mendapatkan penghasilan sendiri tanpa harus semuanya minta pada suaminya atau menggunakan uang suaminya. Dan Khadijah melakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Revan.
"Alhamdulillah semuanya sudah rapi. Aku harus mandi sebelum Revan pulang," ucap Khadijah yang baru selesai memasak untuk makan malam.
Revan ternyata lebih cepat pulangnya. Sekitar pukul 17.30 WIB, asisten Gavin sudah mengantarnya pulang. Saat melewati pintu gerbang utama, Revan melihat pancuran air yang saat ini sedang menyiram tanaman bunga dan pohon lainnya sendiri. Revan mengerutkan keningnya melihat sesuatu yang menakjubkan.
"Astaga. Bagaimana bisa Khadijah melakukan ini semua?" tanya Revan lalu turun dari mobil.
Baru saja kakinya menaiki tangga teras, tiba-tiba semua lampu taman menyala. Begitu memasuki rumah semua lampu juga menyala sementara Khadijah tidak terlihat.
"Ke mana gadis itu?" tanya Revan meletakkan tas dan jasnya di sofa ruang keluarga lalu menaiki anak tangga. Saat ia lewati lantai dua, lampu juga menyala dengan sendirinya. Mansion mewah itu terlihat sangat rapi dan cantik. Dekorasinya semuanya diubah oleh Khadijah untuk menggantikan suasana baru.
"Apakah dia melakukannya sendiri atau menyuruh petugas kebersihan via online?" gumam Revan lalu masuk ke kamarnya.
"Khadijah... Khadijah...!" panggil Revan.
Saat membuka pintu ruang ganti, Khadijah sedang menggosok pakaian mereka yang sudah hampir selesai.
"Assalamualaikum suami..!" sapa Khadijah kembali mencium tangan Revan.
"Kenapa tidak menyambutku pulang kerja?" kesal Revan.
"Katanya aku tidak usah sok perhatian. Jadinya aku sedang menuruti permintaanmu," santai Khadijah.
"Apakah kamu membersihkan semua rumah ini tanpa bantuan orang lain? Mengapa air di taman bisa menyiram bunga sendiri?" selidik Revan.
"Sekarang jaman canggih. Manfaatkan teknologi canggih sesuai dengan kebutuhan kita. Apa lagi mengurus rumah sebesar ini harus merancang manejemen rumah tangga dengan baik dan efisien," ujar Khadijah.
"Berhenti menyiram tanamannya, google!" perintah Khadijah melalui ponselnya.
"Matikan lampu yang tak dibutuhkan google..!" pinta Khadijah lagi.
Revan memperhatikan kecerdasan gadis ini mengubah segalanya melalui teknologi canggih.
Alih-alih mau menjadikan istrinya babu di rumahnya sendiri, justru Khadijah lebih hebat dari yang ia kira karena mengalihkan sebagian pekerjaannya melalui teknologi canggih.
"Jadi kamu menghabiskan uangku untuk membeli barang-barang yang tidak berguna untuk rumah ini?" geram Revan.
"Siapa bilang tidak berguna? kamu lihat sendiri rumah ini bersih dan kinclong dengan peralatan canggih itu yang aku beli," ujar Khadijah.
"Mengapa kamu merubah semua dekorasi interior rumah ini dan juga kamar kita?" kesal Revan.
"Nyonya rumah ini sudah ganti. Aku ingin mengubah interiornya sesuai dengan seleraku. Dengan cara itu kita seperti berada di dimensi lain agar tidak begitu sedih dengan kepergian orangtuamu.
Cukup kenangan mereka kita simpan. Dan apa yang terlihat di depan mata kita bisa merubahnya agar suasana hati kita damai dan kamar ini ada aku juga tidur di sini jadi aku rubah sedikit feminim, bagus kan? papar Khadijah.
"Kalau kamu ingin melakukan apapun, gunakan uangmu sendiri jangan dengan uangku," ketus Revan.
"Bersedekah pada istri itu pahalanya besar lho, Revan. Bahkan sedekah untuk istri harus jauh lebih besar daripada sedekah untuk orang di luar. Insya Allah, rejeki mu akan bertambah. Itu kata Rosulullah bukan sok tahunya aku," timpal Khadijah.
"Bukan rejeki yang bertambah, malah aku yang bangkrut," timpal Revan.
"Buktikan dulu kata-kataku. Jika dalam waktu satu Minggu ini omset perusahaanmu tidak meningkat, aku akan menggantikan semua uangmu yang aku belanjakan," ucap Khadijah.
"Dengan cara apa kamu dapatkan uangnya? Rampok?" remeh Revan.
"Dengan cara Allah memberiku kenikmatan akal yang digunakan untuk mendapatkan uang tanpa harus keluar rumah. Dan aku akan membuktikan padamu bahwa aku juga bisa berpenghasilan.
Aku janji kamu tidak akan rugi menikahiku, Revan. Jika aku harus keluar dari rumah ini, cukup jenazahku saja yang akan membawaku ke pemakaman," balas Khadijah dengan kata-kata menohok.
Glekkk...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
guntur 1609
dunia halu beltul ni thor. mau beli juga kalau ada mesin seperti ni. tk istri di rumah kasihan..biar lebih ringan oekerjaan rumahnya
2024-05-08
1
guntur 1609
sok kepedean kau revan
2024-05-08
0
Wirda Lubis
lanjut
2024-01-07
0