Tujuh hari sudah masa berkabung keluarga Revan berakhir. Kini saatnya pengacara perusahaan bernama tuan Indrawan membacakan wasiat terakhir yang sudah ditulis oleh tuan Alviano satu tahun sebelumnya.
Di ruang kerjanya mendiang tuan Alviano, pertemuan itu berlangsung. Sudah ada Revan dan kakak angkatnya Andika yang memang bertahan di Jakarta hingga ada keputusan pembacaan surat wasiat itu.
Ada juga asisten pribadinya yaitu Gavin yang tidak lain saudara sepupunya Revan.
"Kami sudah ada di sini semua. Sekarang segera bacakan surat wasiatnya..!" pinta Revan.
"Mohon maaf tuan Revan...! Masih ada orang yang harus ada di sini," ucap tuan Indrawan.
"Siapa lagi?" tanya Revan mengernyitkan dahinya.
"Khadijah. Karena dalam surat wasiat ini ada nama gadis yang bernama Khadijah. Karena namanya ada di sini sebagai syarat penyerahan warisan untukmu, tuan Revan.
"Astaghfirullah...! Kenapa tidak bilang dari awal kalau butuh istri saya juga," ucap Revan kesal.
"Bukankah terjadinya pernikahan tuan Revan dan gadis itu karena warisan ini?" cibir tuan Indrawan.
Revan mendengus kesal. Harusnya ia sudah mendengar semua isi wasiat ayahnya, namun lagi-lagi Khadijah menjadi penghalang baginya.
"Apakah jangan-jangan warisan itu atas nama Khadijah bukan aku? Oh my God...! Jangan sampai itu terjadi," gugup Revan.
"Biar saya saja yang menjemputnya, tuan!" ucap asisten Gavin.
"Jangan...! Biar saja dia naik ojol supaya waktu kita tidak terbuang percuma," ucap Revan seraya menghubungi istrinya.
Khadijah sedang membuat konten. Resep kue yang ia buat saat ini hasil kreasinya sendiri. Ia lantas mengeluarkan kue itu dari oven dan meletakkannya di atas piring.
Baru saja ia ingin menghias kuenya dengan banyak toping, ponselnya berdering dan Khadijah segera mengangkatnya.
"Sayang...! Apakah kamu bisa ke perusahaanku dengan ojek? Aku sudah memesan ojek untukmu. Segera datang sekarang ya...! Tidak pakai lama," pinta Revan yang langsung mengakhiri pembicaraan mereka tanpa menunggu jawaban dari Khadijah.
"Cih...! Apakah kepalanya terbentur sesuatu? Tiba-tiba panggil sayang? Apakah jangan-jangan dia ada maunya lagi? Kenapa aku di undang ke perusahaannya?" tanya Khadijah sambil menatap ponselnya seakan ponsel itu adalah suaminya.
Khadijah melepaskan apron lalu ke kamarnya mengambil tas tanpa dandan dan ganti baju karena bajunya sendiri sudah bagus karena sedang membuat konten jadi harus berpenampilan menarik walaupun bagian wajahnya di cut agar netizen tidak mengetahui identitasnya.
Bunyi bel rumah terdengar nyaring. Khadijah meminta google untuk membuka pintu pagar itu agar ojol bisa masuk sampai halaman mansion.
Ojol terkagum-kagum melihat mansion mewah itu. Ia sampai melongo saking terkesima nya. Dan ojol itu seorang perempuan. Khadijah merasa bersyukur karena ojolnya perempuan. Dengan begitu ia tidak kuatir.
"Buset...! Kapan gue punya rumah kayak gini ya? Ah...! Tunggu di surga ajalah..! Boro-boro mikirin rumah bagus, bisa makan saja sudah syukur," ujar ojol itu monolog.
"Assalamualaikum...!" sapa Khadijah pada ojol itu.
"Waalaikumuslam...! Masya Allah..! Anggun pisan eay..!" puji ojol itu pada Khadijah yang terlihat sangat cantik dan elegan walaupun mengenakan cadar.
"Kita berangkat sekarang neng?" tanya ojol itu menyerahkan helm sejuta umat pada Khadijah yang mengambilnya dan mengenakan di kepalanya.
"Masa besok, mbak," canda Khadijah.
"Pegangan ya neng! Awas jatuh. Kita ngebut nih," ucap ojol yang bergaya tomboy itu.
Motor matic itu melesat dengan cepat menuju perusahaannya Revan sekaligus perusahaan mendiang mertuanya. Setibanya di perusahaan, Khadijah memberikan tip untuk ojol itu lebih dari ongkos ojol itu sendiri.
"Mbak.. ongkosnya sudah dibayar kok," tolak si ojol.
"Iya saya tahu. Tapi ini buat kamu mbak. Saya butuh doa tulus kamu. Doain saya ya mbak...!" pinta Khadijah begitu ramah.
"Terimakasih neng...! Terimakasih..!" ucap ojol itu sambil manggut-manggut dan cengengesan.
Khadijah masuk ke dalam lobi perusahaan di mana Revan sudah menunggunya.
"Masya Allah. Tanpa dimintapun, saya dengan senang hati akan mendoakan neng. Barakallah ya neng. Siapa lagi suaminya? Beruntung banget dapet bini seperti itu. Pasti wajahnya cantik seperti bidadari seperti hatinya. Aku yakin itu." Melanjutkan perjalanannya.
Beberapa karyawan yang belum mengetahui pernikahan rahasia Khadijah dan Revan sempat bertanya-tanya tentang Khadijah saat melihat gadis itu digandeng Revan begitu mesranya.
Walaupun ada segelintir karyawan yang sudah pernah melihat Khadijah di pemakaman beberapa hari lalu saat jenazah kedua orangtuanya Revan dikebumikan.
Revan menautkan jemarinya pada jemari Khadijah dan membawa gadis itu masuk ke dalam lift yang sudah terbuka pintunya.Ketika di dalam lift Khadijah masih melihat tautan jemari mereka. Darahnya berdesir dan jantungnya seakan saat ini sedang melompat kegirangan.
"Ya Allah. Mimpi apa aku semalam? Kenapa suamiku tiba-tiba berubah? Apakah ada masalah? Ah, pasti ada yang tidak beres ini," tebak Khadijah yang ragu akan kebaikan Revan padanya yang begitu mendadak.
"Apa kamu tidak suka aku menggenggam tanganmu, hmm?" tanya Revan makin mengeratkan tautan jemarinya pada Khadijah.
Khadijah mengusap keningnya Revan dengan tangan dinginnya.
"Suhunya normal kok. Kirain demam tinggi," batin Khadijah tersenyum simpul.
"Kamu genggam tanganku seperti kita mau nyebrang jalan aja. Terlalu kencang tahu. Yang mesra dikit apa?" gerutu Khadijah membuat Revan merasa tergelitik.
Kadang tingkah Khadijah terlihat sangat dewasa tapi spontanitas nya terlihat kekanak-kanakan. Sulit sekali ditebak prilakunya Khadijah menurut Revan.
"Jangan terlalu GR. Aku sedang bersandiwara. Jawabannya nanti kamu akan tahu sendiri," ucap Revan.
Keduanya sudah berada di depan ruang kerjanya tuan Alviano.
"Jawaban apa?" tanya Khadijah bingung.
"Ada di dalam sana." Revan mendorong pintu itu dan Khadijah melihat ketiga pria tampan berada di ruangan itu menatapnya penuh kagum dengan penampilan Khadijah ala super model pakaian syar'i.
Terlihat sangat modis dan tidak kampungan. Bahkan Khadijah mengenakan sepatu boots fashion untuk melengkapi penampilannya.
"Assalamualaikum..!" Khadijah memberikan salam sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Waalaikumuslam. Silahkan duduk nona Khadijah...! Perkenalkan saya Indra. Pengacara perusahaan ini," ucap tuan Indrawan yang usianya terpaut 5 tahun dengan Revan.
Khadijah duduk di sebelah suaminya. Tuan Indrawan mulai membacakan isi wasiat tuan Alviano.
"Assalamualaikum putraku Revalino Alviano Darmawan. Aku menyerahkan perusahaanku dan seluruh asetku yang ada di dalam surat wasiat ini untukmu jika kamu bersedia menikahi Khadijah.
Jika kamu sudah menikah dengannya, harta warisan ayah berserta perusahaan ayah bisa kamu kuasai sepenuhnya saat Khadijah melahirkan cucu pertama ayah dan ibu."
Pak Indrawan sengaja menjedah kalimatnya untuk melihat ekspresi wajah Revan yang sangat tidak menyukai isi wasiat itu.
"Sialan...! Kenapa ayah tega memberiku persyaratan gila seperti itu?" umpat Revan membatin.
Tuan Indrawan melanjutkan membaca lagi isi surat wasiat itu.
"Jika putraku Revan tidak menyetujuinya, maka semua harta warisan dan apapun yang aku miliki akan aku hibahkan kepada putra angkatku Andika Bagaskara.
Dan apabila putraku Revan menyetujuinya, maka resort yang ada di Denpasar Bali aku hibahkan kepada putra angkatku Andika.
Jika Khadijah mengeluhkan ketidaknyamanannya selama mengarungi rumah tangga dengan putraku Revan, Khadijah boleh mengajukan gugatan perceraian dan Khadijah tidak mendapatkan apapun dari putraku Revan.
Demikian surat wasiat ini aku buat dalam keadaan sadar dan sehat tanpa paksaan oleh pihak manapun. Tertanda, Alviano Attala putra Darmawan."
Visual Khadijah
Visual Revan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
ganteng dan cantik
2024-01-07
0
jhon teyeng
jgn mau diajak bercinta ya khadijjah biar saja revo miskin jiwa, harta dan mental
2023-12-14
1
Far~ hidayu❤️😘🇵🇸
kakak author libur hari ini..
2023-11-17
3