Seperti hari-hari sebelumnya, Khadijah melayani suaminya dengan sangat baik. Dari dapur dan sumur namun tidak dengan urusan kasur karena Revan belum menyukainya.
Revan seakan mati rasa pada dirinya dan Khadijah tidak berusaha tampil menggoda suaminya karena diamnya Revan usai mengetahui isi surat wasiat itu membuat Khadijah memaklumi sikap suaminya.
Seakan tidak peduli dengan apapun, Khadijah tidak terbebani dengan itu semua. Ia tetap tampil ceria dengan senyum terbaiknya. Tidak ada satu pelayan di rumahnya membuat ia bebas berkeliaran tanpa harus menggunakan baju syar'i apa lagi dengan niqob-nya.
Setiap hari seperti itu tampilan Khadijah yang selalu memperlihatkan bagian feminimnya dengan dress selutut tanpa lengan di depan sang suaminya walaupun tidak tampil seksi namun kecantikan bidadari mungil ini tidak lagi menarik perhatiannya Revan padanya.
Hampir tiga bulan ini, sikap Revan terlihat butuh tak butuh pada Khadijah. Lagi-lagi, Khadijah mengokohkan kesabarannya setegar karang di lautan jika suaminya hanya mengumbar nyinyiran pedas untuk membuatnya tersinggung dan marah.
Seperti memasuki weekend saat ini, Khadijah sibuk di dapur membuat kue sambil merekam aksinya itu dengan ponselnya hingga kuenya matang, Khadijah mengantarnya ke taman di mana Revan sedang duduk dan asyik dengan dunia ponselnya seakan menganggapnya tak ada.
"Revan. Aku membuat kue dengan resep baru. Kamu mau mencobanya?" tanya Khadijah meletakkan kue itu di depan Revan yang meliriknya sekilas lalu kembali menatap ponselnya.
Untuk menghilangkan kecanggungannya, Khadijah memakan setiap potongan kue buatannya itu.
"Ya Allah. Dimakan lho Revan kuenya...! Mumpung hangat. Insya Allah enak lho, Revan. Soalnya pakai bumbu cinta di dalamnya. Membuat makanan dengan hati yang penuh cinta itu, di jamin enak lho Revan..!" celoteh Khadijah yang menebalkan wajah malunya setiap kali berhadapan dengan suaminya yang super cuek ini.
"Makanlah sendiri hasil kreasimu. Aku bisa memesannya di luar kalau aku mau," ketus Revan.
Khadijah meletakkan piringnya dan meneguk minuman segar yang dibuatnya dari dedaunan herbal seperti teh sebagai pelengkap kue manis buatannya. Mata indah dan teduhnya menatap wajah suaminya yang setiap saat tidak menganggapnya ada.
"Revan. Aku tahu kamu tidak mencintaiku. Tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Aku tidak masalah. Rumah ini terlalu besar untuk kita berdua. Dan aku begitu kagum padamu yang sama sekali tidak tergiur pada tubuhku. Itu berarti kamu adalah pria hebat yang tak mudah tergoda pada wanita ja**Ng di luar sana. Tapi, tolong jangan cuekin aku," puji Khadijah.
Revan tampak menyimak setiap ucapannya Khadijah namun tidak begitu merespon kalimat wanita cantik ini karena belum tahu apa kelanjutan ucapan Khadijah padanya.
"Jika kamu tidak mencintaiku, tidak masalah. Tapi, kita bisa kan jadi teman saja. Ngobrol lah denganku seperti biasa. Apakah kamu tidak kasihan padaku? Aku bahkan tidak menemui siapapun yang bisa ku ajak bicara.
Aku pingin piara kucing, tapi kamu tidak boleh. Bagaimana caraku untuk bisa bicara dengan seseorang layaknya manusia normal, Revan?" tanya Khadijah.
"Aku hanya ingin kau pergi dari hidupku bahkan sekalian pergi dari dunia ini agar hidupku kembali berwarna tanpamu," ucap Revan terdengar tenang namun sangat melukai hati Khadijah yang lembut itu.
Lagi-lagi Khadijah menyimpan lukanya itu lebih dalam. Seakan seperti ban mobil yang bocor halus namun adanya cairan nitrogen bisa membuat ban itu kembali mulus dan membal dan tetap bergulir di aspal panas tanpa mengeluh pada pemiliknya.
"Apa masalahku Revan? Apakah aku kurang cantik, seksi dan terpelajar. Di dalam diriku ada semua yang dibutuhkan oleh lelaki dewasa dan normal manapun kok.
Khususnya lelaki lajang yang mengharapkan istri yang mendekati sempurna seperti aku dan itu kenyataannya Revan. Apakah kamu tidak melihat itu dalam diriku, hmm?" Mengiklankan dirinya sendiri di depan sang suami.
"Iya. Kamu memang segalanya. Tapi, kenapa aku tidak pernah tertarik ya? malah terkesan sangat membosankan setiap harinya." Merendahkan Khadijah serendah-rendahnya agar Khadijah siap angkat kaki dari rumahnya.
Khadijah tersenyum menatap wajah tampan suaminya." Masya Allah. Suamiku yang tampan ini tidak mau mengakui bahwa hatinya menyukaiku tapi mulutnya berkata lain bak seorang pria munafik," balas Khadijah lembut dan menenangkan namun mampu membuat Revan terkejut.
"Sialan. Apakah dia seorang cenayang? Bisa menerka perasaanku?" batin Revan.
"Ayolah di makan kuenya Revan. Tidak apa kamu tidak menyukaiku. Tapi, tolong dimakan kuenya ya..! Hargai aku juga dong sayang. Seperti aku menghargai apapun pemberianmu termasuk kata-kata pedas darimu," sarkas Khadijah seraya bangkit untuk kembali ke dapur.
Khadijah membersikan dapurnya yang sempat berantakan karena membuat kue tadi. Sepanjang membersikan peralatan kue, Khadijah kembali terngiang perkataan Revan padanya.
Ia kemudian memohon pertolongan Allah agar Allah segera menyembuhkan lukanya agar tidak menyimpan dendam dan membuat tubuhnya sakit.
Revan akhirnya menikmati kue hasil buatan istrinya sambil mencibir namun di habiskan juga.
"Cih...! Katanya enak. Enak dari mana? Kuenya terlihat murahan seperti ini malah disuguhkan kepada ku. Tapi, tak apalah. Daripada dibuang mendingan aku habiskan."
...----------------...
Kehebohan terjadi siang itu di perusahaan Revan. Pasalnya ada investor asing yang dari Jerman ingin melakukan perjalanan bisnis ke Indonesia. Kabar menggembirakan itu disampaikan oleh asisten Gavin pada bos-nya.
"Tuan. Mereka ingin menanamkan modal ke perusahaan kita begitu besar. Besok malam tuan Edgar mengundang kita makan malam di restoran. Tapi, ia meminta tuan membawa pasangan karena ia juga membawa pasangannya. Bagaimana menurut tuan?" tanya asisten Gavin.
"Kenapa harus membawa pasangan?" kesal Revan.
"Agar istrinya punya teman ngobrol saat suami-suami sibuk mengulas bisnis mereka," balas Revan.
"Baiklah. Apakah ada penerjemahnya?" tanya Revan yang tidak bisa bahasa Jerman.
"Tentu saja dari pihak dia sudah disiapkan. Jadi, kita tidak perlu kuatir akan penerjemah yang bisa menguasai bahasa Indonesia," ucap asisten Gavin.
"Syukurlah. Semoga proyek besar ini akan mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan kita," ujar Revan antusias dan terlihat sangat bahagia.
Namun ia agak sedikit malas kalau harus mengajak istrinya ikut nimbrung dalam urusan bisnisnya. Tapi, daripada kehilangan modal besar, mau tidak mau ia harus mengajak Khadijah untuk ikut makan malam dengannya.
"Semoga gadis itu tidak membuat ulah dan mempermalukan diriku," ucap Revan.
Malam tiba, Revan menyampaikan keinginannya pada Khadijah yang langsung berbinar cerah.
"Benarkah aku juga diajak makan malam? Oh..! terimakasih suamiku. Kamu baik banget. Aku senang sekali," ucap Khadijah dengan tawa jenakanya terlihat begitu menggemaskan.
"Yang penting jaga sikapmu saat makan malam nanti...!" ucap Revan.
"Insya Allah, suami. Aku tidak akan mengecewakanmu," Khadijah langsung masuk ke ruang ganti untuk memilih busana terbaik yang akan ia kenakan untuk acara makan malam itu.
Sekitar pukul 7 malam, keduanya sudah sampai di restoran mewah dibilangan kawasan Jakarta Selatan. Tampilan Khadijah yang terlihat sangat modis walaupun wajahnya tertutup cadar namun mata indahnya cukup menggambarkan bagaimana cantiknya gadis ini.
Tamunya menyambut mereka bertiga di mana ada asisten Gavin yang ikut mendampingi bosnya untuk pembahasan bisnis yang sebentar lagi akan dimulai.
Saling sapa satu sama lain dengan salaman namun tidak dengan Khadijah yang hanya mengatupkan kedua tangannya di dada kecuali dengan nyonya Eliot yang melakukan cipika-cipiki dengannya sebagai sesama wanita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Salwa Antya
lanjut kak
2024-01-20
0
Wirda Lubis
lanjut.
2024-01-08
0
Dhidin Abdiansyah
mirip nabila dan armanmu thor...
2023-12-17
1