Pagi itu di area pemakaman yang baru selesai dikebumikan kedua orangtuanya Revan. Pria tampan itu terlihat sangat syok namun berusaha tegar walaupun saat ini ia sedang merutuki takdir.
Satu persatu semua pelayat yang mengikuti iringan mobil jenasah ke pemakaman itu, mulai meninggalkan pusara kedua orangtuanya Revan.
Kini yang tertinggal Revan, Khadijah, asisten Gavin dan manajer Ian. Jika Revan saat ini merasa sangat kehilangan kedua orangtuanya, justru Khadijah merasa sudah melewati kesedihan yang sama diusianya 10 tahun yang sedang-sedangnya membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya.
Ia akhirnya dibawa ke Amerika oleh paman dan bibinya yang bekerja di Amerika saat itu. Namun ketika memasuki jenjang SMP, Khadijah ingin masuk ke pesantren yang ada di Surabaya hingga tingkat SMA. Saat usianya 17 tahun tamat SMA, ia baru dibawa lagi oleh paman dan bibinya ke Rusia untuk kuliah di sana selama dua tahun. Ia menyelesaikan S1 di Rusia dengan dua jurusan berbeda yang diambilnya.
Khadijah mampu mengusai bahasa Inggris, Rusia, Arab dan Jerman karena Khadijah saat itu menekuni bahasa Jerman. Ditambah lagi ia juga mengusai ilmu bela diri selama menuntut ilmu di pesantren.
Khadijah mendekati suaminya yang masih duduk diantara dua nisan kedua orangtuanya.
"Revan. Kita pulang yuk...!" ajak Khadijah seraya menyentuh pundak suaminya.
Revan mendongakkan wajahnya ke arah Khadijah lalu menyemprot gadis itu dengan kata-kata yang sangat kasar.
"Siapa yang menyuruhmu menemaniku di sini? Jika kamu tidak suka di sini kenapa tidak pulang saja, hah?" bentak Revan sengit.
"Keberadaan seorang istri itu disisi suaminya. Apalagi dalam keadaan duka seperti ini. Aku memang tidak berguna bagimu, tapi aku tidak ingin melihatmu terpuruk dalam keadaan seperti ini," jelas Khadijah sabar dan lembut.
"Tahu apa kau rasanya kehilangan, hah?" sergah Revan menatap tajam manik bening nan indah itu.
"Kamu baru kehilangan kedua orangtuamu setelah usia dewasa. Bagaimana dengan aku yang masih terlalu kecil untuk mengarungi hidup dengan iba orang lain? Tolonglah...! Allah mungkin punya rencana disetiap musibah. Cukup kita Ridho atas takdir Allah, dengan begitu hati kita diringankan oleh Allah," nasehat Khadijah lembut dan santun.
"Ringan katamu? Ringan dengan apa? aku sesedih ini dan kamu bisa menasehatiku dengan mulut manismu itu?"
"Sholat dan sabar. Itu kuncinya bagi seorang muslim yang baru kehilangan. Kenali Allah dan datanglah padanya untuk menanyakan mengapa Allah mengambil kedua orangtuamu dalam sekejap, bukan menyalahkan aku yang tidak tahu apapun," tekan Khadijah untuk memberi pengertian pada suaminya dengan tegas.
"Cih...!" tersenyum miring." Lihatlah dirimu..! Apakah kamu sudah bahagia saat ini?" cibir Revan.
"Jika aku tidak bahagia, mana mungkin aku tumbuh besar dengan baik dan mau menikah dengan pria arogan sepertimu, pria angkuh dan bermulut sampah," hardik Khadijah untuk memberikan sok terapi pada Revan.
"Kau....!"
"Apa....! Mau menyalahkan aku lagi? Sampai kapan? apakah dengan kamu menikmati kesedihanmu ini, kedua orangtuamu bisa bangkit lagi? Makanya, cerdas sedikit jadi manusia yang tinggal di kota besar dengan pendidikan mentereng tapi akidahnya nol besar.
Gunakan akal sehatmu...! Yang telah pergi itu tak akan pernah kembali lagi seberapa banyak kau terus menyalahkan keadaan, mereka juga tetap ada di dalam bumi ini hingga datangnya hari kiamat untuk dibangkitkan," cecar Khadijah lalu meninggalkan suaminya yang seakan disumpal mulutnya oleh Khadijah dengan kaos kaki bau.
Asisten Gavin dan manajer Ian hampir meledakkan tawa mereka kalau tidak ingat saat ini masih masa berkabung. Namun mata mereka sambil melirik satu sama lain.
"Gila bener tuh cewek. Aku pikir dia gadis pendiam dan manut apa kata tuan, ternyata dia lebih galak daripada singa di hutan," puji asisten Gavin pada Khadijah membatin.
"Sialan...! berani juga itu wanita," maki Revan yang tidak terima jika dirinya direndahkan oleh istrinya sendiri yang tidak ia sukai sama sekali.
Ia meninggalkan juga pemakaman itu dan menyusul Khadijah yang sudah duduk manis di dalam mobil sambil menyandarkan kepalanya.
Khadijah memang tidak memperlihatkan air matanya sedikitpun saat pemakaman tadi hingga orang menyimpulkan gadis ini tidak merasakan kesedihan suaminya. Namun jauh dalam lubuk hatinya, sakitnya kehilangan itu seakan membenamkan air matanya entah ke mana.
Revan masuk ke dalam mobil dan memilih duduk di depan bersama asisten Gavin. Khadijah tidak mempermasalahkan itu. Dengan begitu ia bisa merebahkan tubuhnya di jok belakang itu sendirian karena kelelahan karena kurang tidur.
Revan menahan amarahnya melihat tingkah istrinya yang tanpa beban sama sekali dalam situasi berkabung saat ini. Mereka kembali ke mansion di mana mansion itu dalam sekejap tampak sepi.
Para pelayan menunggu kedatangan Revan dan nyonya baru mereka. Revan turun dari mobil dan memanggil para pelayannya untuk duduk bersamanya di meja dapur itu. Mereka satu sama lain menanti apa yang akan dikatakan oleh pria tampan sejuta pesona itu.
"Mulai besok kalian tidak lagi bekerja di sini. Besok aku akan meminta istriku untuk memberikan pesangon kalian. Jangan membantah dan lakukan apa yang aku pinta pada kalian.
Rumah sebesar ini hanya ada aku dan istriku. Dan aku tidak butuh pelayan karena cukup istriku yang melayani kebutuhanku," ucap Revan dengan niat jahat untuk menjadikan Khadijah sebagai budaknya.
Para pelayan mengerti akan permintaan tuan muda mereka. Lagi pula mereka juga tidak begitu suka dengan kehadiran Khadijah karena terlanjur percaya bahwa Khadijah adalah gadis pembawa sial.
Namun tidak dengan pelayan Dwia yang merasa Khadijah adalah gadis yang sangat baik. Para pelayan membubarkan diri. Khadijah beralih masuk ke kamarnya. Ia ingin menunaikan sholat Dhuha dan membaca Alqur'an.
Revan memperhatikan kelakuan istrinya yang tidak jauh dengan sajadah dan Al-Qur'an dari semalam. Khadijah lebih memilih melarikan dirinya dalam kesedihan dengan sholat.
"Apakah sholat bisa membuatmu kenyang?" tanya Revan saat Khadijah melipat sajadahnya.
"Insya Allah. Atas ijin Allah mungkin aku bisa kenyang hanya dengan sholat," timpal Khadijah sengaja membuat suaminya marah.
"Mulai besok lakukan tugasmu sebagai seorang istri di rumah ini tapi tidak untuk ditempat tidur," ucap Revan.
"Emang kamu gay ya? tidak mau dilayani di tempat tidur oleh istrinya?" ledek Khadijah.
"Apa katamu? Berani benar kamu mengatai aku gay." Mata Revan melotot tajam mendekati tubuh Khadijah yang sedikit menjauh dari tubuh Revan yang ingin menindihnya.
"Ya... Setahu saya hanya gay yang tidak bisa melakukan aktivitas ranjang. Apa jangan-jangan kamu homo lagi?" ledek Khadijah makin menjadi.
"Sialan...! jadi kamu ingin buktikan kejantananku? Ok. Kalau kamu memang ingin tahu aku jantan atau tidak. Sekarang buka pakaianmu...! Aku akan menunjukkan padamu seberapa hebatnya aku di ranjang," ucap Revan yang tidak terima direndahkan oleh Khadijah.
"Mampus aku...! Mana mau aku jadi kelinci percobaan untuk mengetes kejantanan seseorang? Ihh...nggak banget deh...!" jerit Khadijah membatin.
Revan benar-benar ingin membuktikan pada istrinya dengan melucuti semua pakaiannya dan sekarang tersisa boxer putih dengan isi yang tersembunyi sudah menyembul penuh hingga tegak mengacung.
Wajah Khadijah langsung bersemu merah. Tubuhnya gemetar dengan pompaan jantung tak terhitung lagi detiknya. Ia mematung diam menatap sesuatu yang bergerak di dalam boxer sana ingin dibebaskan oleh pemiliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Salwa Antya
aku Khadijah yg lemah lembut tp tegas untuk sesuatu yang baik
2024-01-20
1
Wirda Lubis
Khadijah sabar harus kuat jangan lemah
2024-01-07
0
jhon teyeng
bisa juga dia bertindak spt itu, repan hanya pandai dlm hal tertentu tp tdk cerdas
2023-12-14
1