Berjalannya waktu, perusahaan milik Revan makin berkembang pesat. Belum lagi perusahaan cabang dan juga beberapa hotel mewah yang ada di beberapa kota besar menjadi dibawah urusannya. Kini perusahaannya sudah merambah ke ke negara asia tenggara.
Khadijah kerap membantu suaminya secara diam-diam melalui asisten Gavin yang selalu memberikan informasi tentang perusahaan. Gadis ini hanya bekerja dibalik layar untuk kesuksesan bisnis suaminya yang melejit bak roket dalam waktu tiga bulan terakhir.
Kadang manajemen perusahaan yang berantakan itu dibenahi lagi oleh Khadijah secara runut dan terarah. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Khadijah mengembalikan lagi melalui asisten Gavin yang tidak menyangka kejeniusan Khadijah itu makin membuat perusahaan Revan berkembang pesat.
Kehebatan Khadijah ini dianggap Revan kalau asisten Gavin lah yang punya pengaruh besar dalam kemajuan bisnisnya.
"Kenapa kamu semakin hari semakin pintar?" puji Revan pada asisten Gavin yang merasa tidak pantas pujian Revan padanya.
Ingin sekali ia mengakui bukan dirinya yang melakukan itu melainkan Khadijah. Namun Khadijah sudah mengingatkan asisten Gavin untuk tidak menyebutkan dirinya yang berperan penting hingga keuntungan perusahaan melebihi beberapa digit angka yang selama ini tidak terlihat fantastis seperti saat ini.
"Terimakasih tuan ...! Itu sudah menjadi tugasku untuk menciptakan inovasi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman yang mengandalkan fasilitas teknologi," ucap asisten Gavin.
"Cara bicaramu sudah seperti Khadijah," cibir Revan sambil memperhatikan laporan data perusahaan dalam laptopnya.
"Yang ngajar aku bicara begini juga istrimu," lirih asisten Gavin tak terdengar oleh Revan namun suaranya masih bisa tertangkap oleh suaminya Khadijah itu.
"Kamu bicara apa Vin?" tanya Revan memanggil nama kecil asisten Gavin.
"Tidak ada tuan," ucap asisten Gavin seraya pamit kembali ke ruang kerjanya.
"Jika kamu tahu bahwa dalam tiga bulan ini, Khadijah yang telah melobi banyak investor luar negeri yang ia kenal untuk bekerjasama dengan perusahaan milikmu, tuan Revan," batin asisten Gavin yang merasa sangat prihatin dengan penderitaan Khadijah karena ulah suami yang tidak tahu diri.
Khadijah sedang membuktikan pada Revan kalau dia bukan gadis pembawa sial tapi membawa keberuntungan untuk suaminya.
Gavin mengirim pesan pada Khadijah untuk melaporkan bagaimana para investor asing itu puas dengan hasil kerja kerasnya perusahaan milik Revan yang memberikan mereka banyak keuntungan.
"Nona Khadijah. Kenapa kamu tidak bekerja saja di perusahaan ini? Dengan begitu tuan Revan mengetahui kemampuanmu dalam mengolah bisnis," ucap asisten Gavin.
"Tugasku di rumah mengurus rumah tangga untuk suamiku," ucap Khadijah.
"Kalau kamu berkerja di belakang layar, maka tuan Revan akan terus meremehkan mu," ucap asisten Gavin.
"Biar saja dia menganggap aku bagaimana yang dia inginkan. Aku sedang memelihara keikhlasan hatiku dalam membatunya semampuku. Jika dia tahu kinerjaku, maka itu jatuhnya pamrih," ucap Khadijah.
"Tapi dia mengira aku yang punya jasa besar dalam meningkatkan mutu perusahaan. Bahkan aku yang mendapatkan bonus 3 kali lipat dari biasanya," ucap asisten Gavin.
"Itu adalah rejekimu. Nikmati itu semua, asisten Gavin. Tolong jangan mengkhianati suamiku dan jaga dia untukku. Aku sangat mencintainya," lirih Khadijah membuat asisten Gavin begitu terharu.
"Masya Allah. Mana ada hati wanita jaman sekarang diperlakukan kejam oleh suami masih mau terima dengan ikhlas. Sabar menerima semuanya sebagai bagian dari takdir.
Coba pernikahan artis, mungkin tuan Revan hanya bisa bertahan sebulan langsung gugat cerai karena mereka juga bisa cari uang sendiri tanpa bergantung pada suami," ucap Asisten Gavin.
"Semua orang memiliki tingkat kekuatan hati saat mendapatkan ujian Allah. Aku ingin menyelesaikan ujian tersulit ini. Siapa tahu Allah memberiku hadiah yang begitu besar suatu saat nanti.
Jika tidak dari suamiku, pastinya aku bisa panen pahala. Jika menikah berdasarkan ego masing-masing, maka pernikahan hanya mengharapkan sebuah kenikmatan dan itu tidak akan berlangsung lama," timpal Khadijah.
"Kenapa kamu sangat baik pada tuan Revan, Khadijah? Sementara dia sendiri menyia-nyiakan dirimu bahkan menganggapmu pembawa sial. Jika kamu menunjukkan eksistensimu, nyalinya mungkin akan ciut juga," ucap asisten Gavin.
"Suamiku begitu karena Allah memang menjadikan suamiku untuk menguji keimananku. Insya Allah, ada saatnya Allah memberikan kita diawal kesempitan untuk menyiapkan kelapangan hati untuk kita agar kita dipersiapkan untuk menerima kebahagiaan dengan penuh rasa syukur."
"Baiklah Khadijah. Jika ada wanita sepertimu di dunia ini, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menikahinya," ucap asisten Gavin penuh rasa kagum pada Khadijah.
"Assalamualaikum...!"
"Waalaikumuslam..!"
Keduanya mengakhiri obrolan mereka tepat disaat kue yang dibuat Khadijah matang. Timer oven itu berhenti dengan sendirinya.
"Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah. Kueku sudah matang." Mengeluarkan kue itu dari oven dan menghiasinya secantik mungkin.
"Apakah kue ini aku kirim saja ke Revan? Semoga dia suka. Khadijah menghubungi aplikasi jasa pengiriman barang untuk mengantarkan kue itu ke perusahaan suaminya.
...----------------...
Tepat usai makan siang, ada meeting dengan beberapa dewan direksi perusahaan pusat maupun cabang yang dipimpin langsung oleh Revan yang didampingi oleh asisten Gavin.
Kue yang dikirimkan oleh Khadijah di siapkan untuk meeting hari itu. Aroma kue itu tidak asing bagi Revan. Iapun menanyakan perihal kue itu pada asisten Gavin.
"Apakah kuenya dikirim oleh Khadijah?"
"Kok bos bisa tahu itu dari nona Khadijah. Cie....cie ....! Yang sudah sehati bisa menebak kue buatan istrinya sendiri," goda asisten Gavin.
Revan menatap horor wajah asisten Gavin yang langsung mengangkat dua jarinya sebagai bentuk permintaan maaf.
"Sorry bos...!" senyum asisten Gavin mengembang saat melihat Revan menyicipi kue itu sebentar sebelum para peserta meeting datang ke ruang pertemuan itu.
Khadijah mengirim pesan pada suaminya untuk menanyakan perihal kue itu sekaligus minta ijin mau keluar sebentar.
"Bagaimana dengan kue buatanku, suami? Apakah kamu menyukainya?"
"Biasa saja. Kue rumahan mana pernah rasanya enak?" cibir Revan.
"Seorang ibu maupun istri adalah koki terbaik di dunia. Membuat makanan untuk keluarganya penuh rasa cinta begitu pula dengan mendiang ibumu dan juga ibuku saat membesarkan kita dengan makanan dibuatnya.
Jangan meremehkan sesuatu yang berharga yang tidak terukur dengan nilai uang karena rasa cinta itu tidak bisa kamu tebus dengan balas budi," balas Khadijah.
"Iya ustazah...! Sudah ceramahnya?" ledek Revan.
"Aku mau minta ijin keluar rumah. Apakah boleh?" tanya Khadijah.
"Waktumu hanya dua jam. Tidak lebih dari itu. Pakai mobil yang kamu suka dan awas jangan sampai lecet...!" ingat Revan.
"Terimakasih suamiku." Khadijah menutup ponselnya dan segera keluar menuju tempat parkiran mobil yang sejubel sudah seperti showroom mobil. Mobil dengan berbagai tipe dan merk serta warna yang terlihat semuanya mewah.
"Sepertinya ini mobil ibu mertuaku. Warna unyu-unyu sama seperti kesukaanku." Menyalakan mesin mobilnya untuk memanasnya sesaat. Setelah cukup panas Khadijah mulai menjalankan mobilnya.
Khadijah berkunjung di sebuah toko aneka bunga hidup. Ada juga beberapa macam buah dan jenis sayuran. Khadijah memilih beberapa bunga dan tanaman buah dan sayuran kesukaannya.
Saat berbalik hendak ke kasir, Khadijah menabrak troli seorang pengunjung. Begitu melihat sang pemiliknya, Khadijah melebarkan matanya seakan tidak percaya siapa pria yang ada dihadapannya saat ini.
"IRFAN..!" gumam Khadijah membuat Irfan mengernyitkan dahinya.
"Apakah anda mengenalku, nona?" tanya Irfan yang sudah lama tidak bertemu dengan Khadijah.
"Aku Khadijah....-"
"Khadijah sahabat adikku Icha?" tanya Irfan dengan menebak wanita yang selama ini ia idamkan bahkan merindukan Khadijah.
Khadijah mengangguk. Tubuhnya tiba-tiba memberi respon lain. Ia begitu gugup bertemu lagi dengan pria yang selama ini menghiasi mimpinya sebelum datang hari pernikahannya. Pria tampan yang ingin ia jadikan imamnya. Sayangnya, Irfan datang terlambat saat ia sudah memiliki pasangan hidupnya yaitu Revan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
lanjut.
2024-01-08
0
jhon teyeng
R. I. P Love itu kalimat yg pantas buat Irfan,
aish ini kakak author bikin tambah asyik ada prahara cinta dimasa lalu.
2023-12-14
1
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
yesss... Revan pasti cemburu nnti... sok jual mahal pd istri... insaf Revan atas kelakuan mu sebagai suami yg sllu menyakiti hati istri... skrg sudah ada saingan yg ganteng lg soleh...
2023-11-20
3