Sekitar pukul 11 malam, Revan mulai merasa gerah. Ia mencium aroma yang sangat harum lagi menenangkan. Matanya mulai mengerjap untuk melihat ada apa di depannya.
Betapa terkejutnya Revan karena matanya harus membentur dua gundukan kenyal menyembul sebagian menyentuh hidungnya.
Ia mengumpulkan kesadarannya dan berharap ini bukan mimpi tapi ini benar nyata. Agar tidak membuat Khadijah bangun, Revan sedikit menjauh dari tubuh Khadijah dan memperhatikan lebih lama gundukan kenyal putih mulus itu.
Otaknya mulai traveling. Sang junior lebih heboh lagi karena langsung respon baik dengan tegak mengeras tanpa di suruh. Revan mengusap lehernya yang terasa tegang.
Ingin rasanya ia menarik keluar bongkahan kenyal itu tapi sang empunya lagi terlelap. Revan kewalahan sendiri menenangkan jantungnya dan desiran darah seakan menghisap keberaniannya.
Revan mencoba menenangkan hatinya lalu beringsut turun dari tempat tidur karena sudah kebelet pipis. Kalau terlalu lama menatap tubuh molek istrinya, bisa-bisa bukan pipis yang keluar namun cairan lain yang akan menyembur.
"Mengapa dia tidur tidak pakai baju? apa maksudnya? mengapa dia yang malah menggodaku?" tanya Revan sambil melepaskan air seni yang sudah memenuhi kadung kemihnya yang terasa sangat lega ke dalam closet.
Revan menggosok giginya dan membersihkan tubuhnya dengan air hangat agar ia bisa mendekati Khadijah tanpa ada aroma aneh yang keluar dari tubuhnya. Walaupun sebenarnya tubuhnya sedikit lemah namun tidak dengan gairahnya yang masih belum padam.
Setelah di rasa tubuhnya cukup harum, Revan bersiap keluar dari kamar mandi. Saat pintu di buka, Khadijah sudah berdiri di depan pintu kamar dengan mengenakan kimono tidur bahan satin. Revan sedikit kesal karena Khadijah sudah berpakaian lagi.
"Kamu mau sholat tahajud?" tanya Revan saat melihat Khadijah di depan pintu.
"Lagi nggak sholat. Ini mau ganti pembalut," ucap Khadijah membuat tubuh Revan langsung limbung.
"Hah....?! Wajah itu seakan ingin menjerit sambil menangis karena Khadijah seakan membunuh gairahnya.
Melihat Revan yang hampir jatuh, Khadijah buru-buru menangkap pergelangan tangan Revan.
"Hati-hati Revan. Apakah kamu masih pusing?" tanya Khadijah tanpa dosa.
"Iya...! Kepalaku makin pusing berat," ucapnya dengan nada geram yang luar biasa.
Khadijah mencoba membantu memapah tubuh tinggi kekar Revan namun Revan sudah enggan. Tangan Khadijah ditepisnya kasar. Revan terlihat ngambek seperti anak kecil yang tak dibelikan mainan.
"Tidak usah...! Aku bisa jalan sendiri," ketus Revan kembali lagi pada tabiat buruknya.
"Ya Allah. Salahku apa lagi?" menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas berat. Khadijah masuk lagi ke kamar mandi untuk menggantikan pembalut.
Revan terlihat uring-uringan di atas kasur dan melempar semua bantal dan selimut karena saking kesalnya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau dia sedang haid? Kenapa saat aku menginginkannya malah mendapati tamu yang tidak tahu diri itu." Memukul-mukul kasur sambil telungkup di tempat tidur.
Khadijah keluar kamar mandi melihat kasur dan selimut sudah mendarat di lantai. Khadijah yang sabar, memungut satu persatu bantal lalu di letakkan kembali pada tempatnya. Sementara selimut hanya di lipat memajang agar memudahkannya untuk ditarik menutupi tubuh mereka.
"Kepalanya masih pusing? Mau aku pijat, hmm?" tanya Khadijah seraya mendekati Revan. Revan membalikkan tubuhnya dan meraih bantal menyanggah kepalanya.
Khadijah mengusap lagi kepala Revan yang ternyata masih hangat. Ia memindahkan kepala Revan di atas pahanya lalu memijat lembut kepala dan wajah Revan agar lebih ringan.
Hidung Revan yang masih meler yang membuat Revan juga agak terganggu. Khadijah mengambil tisu dan memberikan pada Revan agar pria ini membersihkannya sendiri.
"Apakah kamu mau minum sesuatu yang hangat? Mau aku buatkan susu jahe?" tanya Khadijah.
"Tidak usah. Tidurlah...! Aku masih ngantuk," ucap Revan yang menyembunyikan perasaan sebenarnya.
Revan berpindah lagi ke bantalnya dan tidur membelakangi Khadijah. Gadis cantik ini memeluk pinggang suaminya sambil mencium punggung kekar Revan.
"Tidurlah sayang...! Semoga besok bangun lebih segar dan insya Allah sehat," ucap Khadijah lalu membaca doa tidur.
"Khadijah. Mengapa aku merasa dihukum olehmu? mengapa di saat aku justru menginginkan dirimu, ada saja halangannya?" kesal Revan mencoba untuk memejamkan matanya lagi.
Bayang-bayang dada sekang nan mulus milik Khadijah kembali menganggunya. Ingin rasanya dia berbalik dan menyesap ujung benda kecil yang ada di balik bajunya Khadijah, namun ia tidak sanggup dan hanya bisa melepaskan tekanan gairahnya dengan bermain solo dengan tangannya di kamar mandi.
...----------------...
Pagi tiba, Revan sudah dijemput oleh asisten Gavin di mansionnya. Pria tampan itu terlihat cemberut dengan hidung memerah sambil sesekali mengusap hidungnya yang berair dengan tisu.
Khadijah sudah memintanya untuk istirahat namun ia menolak dengan alasan banyak pekerjaan. Asisten Gavin melirik wajah bosnya yang nampak kuyu terlihat kurang tidur.
"Kalau kurang sehat kenapa tidak istirahat saja bos? Biasanya juga saya yang menghandle semua pekerjaan bos. Lagi pula kenapa bos tiba-tiba flu? Apa kemarin mandi hujan?" tanya Gavin dengan keisengannya.
Revan menceritakan apa yang terjadi padanya kemarin dan semalam. Asisten Gavin sempat kaget saat mendengar kalau Revan sampai saat ini belum melewati malam pengantinnya.
"Jadi bos dan nona Khadijah masih perawan dan bujang?" memastikan lagi kalau tebakannya salah.
"Iya. Sayangnya Khadijah dapat bendera Jepang," gerutu Revan.
Asisten Gavin melipat bibirnya dengan menahan tawa sekuat mungkin hingga wajahnya memerah. Revan membuang wajahnya menatap jalanan ibu kota yang tampak padat merayap.
"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran bos? Apakah tidak takut kena sial dari Khadijah?" ledek asisten Gavin.
Tanpa sadar, asisten Gavin kembali menabuh perang dingin diantara Revan dan Khadijah. Hatinya yang semula merasa masih teringat kemolekan tubuh sang istri berubah benci. Pikirannya kembali di tunggangi setan untuk membenci lagi istrinya.
"Untunglah aku tidak jadi menyentuhnya. Mungkin adanya halangan membawa keberuntungan bagiku agar tidak ditimpa sial dari gadis pembawa sial itu," batin Revan dengan asumsi buruknya sendiri pada Khadijah.
Tiba di perusahaan, Revan beristirahat di dalam kamar pribadinya yang menyatu dengan ruang kerjanya. Asisten Gavin tidak ingin menganggu bosnya itu.
Sementara Khadijah saat ini sedang membuat makan siang untuk suaminya dan ingin mengantarnya sendiri ke perusahaan.
Ia kembali memasak yang berkuah agar bisa mengobati flu yang dialami oleh Revan. Mungkin sudah masuk musim penghujan membuat langit masih betah menampung awan hitam membentuk mendung kelabu yang kemudian kembali turun hujan.
Ketika memasuki waktu makan siang, Khadijah sudah menyetir mobilnya sendiri membawa makanan untuk suami tercinta.
Di perusahaan sendiri, saat ini Revan sedang kedatangan seorang tamu wanita yang tidak lain adalah mantan kekasihnya Revan. Walaupun keduanya sudah putus dan tidak berkomunikasi lagi namun Elmira merasa penasaran dengan mantan kekasihnya itu.
Yah, keduanya putus karena hubungan mereka di tentang oleh kedua orangtuanya Revan karena Revan sudah mereka jodohkan dengan Khadijah.
"Apa kabar Revan ....! Lama tidak bertemu," tanya Elmira yang sudah berada di ruang kerjanya Revan.
"Aku lagi kurang sehat. Kenapa kamu tiba-tiba datang tanpa memberitahuku?" kesal Revan.
"Aku ingin memberi kejutan untukmu," ucap Elmira dengan memperlihatkan senyumnya yang manis.
"Aku sudah menikah. Dan sekarang pulanglah....! Aku mau istirahat dan lain kali jangan coba-coba membohongi asistenku bahwa kamu ingin bahas bisnis denganku," geram Revan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
guntur 1609
kepala ucoknya sdh cenat cenut. makanya jangan banyak tingkah. rasain loe
2024-05-08
0
guntur 1609
kepala ucoknya sdh cenat cenut. makanya jangan banyak tingkah. rasain loe
2024-05-08
0
aira aira
khadijah semangat
2024-01-11
0