Revan yang semula ingin membuka hatinya pada sang istri tiba-tiba menjadi benci pada istrinya. Sesuatu hal yang tidak logis dengan pikirannya yang kerdil hingga mengkambinghitamkan sang istri sebagai gadis pembawa sial.
Betapa tidak, baru saja mereka menikah tiba-tiba ia dikejutkan dengan berita buruk bahwa kedua orangtuanya meninggal dalam waktu bersamaan.
Tragisnya lagi, kedua orangtuanya meninggal ketika baru pulang mengantarkan besan mereka yaitu paman dan bibinya Khadijah yang harus kembali ke Rusia.
Padahal kesalahan itu adalah sopir pribadi orangtuanya yang ceroboh. Sang sopir ingin menyalip mobil di depannya saat jalan tol sedang lengang.
Namun sayang sebelum ia menyalip mobil di depannya, mobil dari belakang lebih dulu meluncur dengan kencang tanpa melihat mobil kedua orangtuanya Revan mengambil arah kiri.
"Dasar wanita pembawa sial...! Kenapa hidupku menjadi yatim pintu dalam seketika saat menikah dengannya," umpat Revan saat sudah berada di rumah sakit.
Ia juga tidak mau mengabari istrinya yang saat ini sedang menunggunya di dalam kamar sendirian sambil membaca buku.
"Kenapa suamiku belum pulang? Apakah sesibuk itu hingga tidak mengabari aku sebentar saja?" gumam Khadijah seraya meraih gelas air di atas nakas.
Baru saja tangannya menggenggam tangkai gelas itu, tiba-tiba langsung jatuh dari genggamannya membuat Khadijah terperanjat.
"Astaghfirullah halaziiim..!" gugup Khadijah yang merasakan firasat yang tidak enak.
Belum sempat membereskan pecahan beling di bawah tempat tidurnya, bunyi telepon kamar mengagetkan dirinya. Khadijah segera meraih gagang telepon itu.
"Hallo...! Assalamualaikum..!" sapa Khadijah.
"Waalaikumuslam...! Maaf nona. Kami ingin mengabarkan kepada anda kalau kedua mertua anda meninggal dunia dan sekarang ada di rumah sakit internasional tidak jauh dari hotel ini," ucap resepsionis itu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun. Ya Allah. Baik. Terimakasih atas informasinya mbak. Kalau begitu saya langsung saja ke rumah sakit," ucap Khadijah segera beringsut dari tempat tidur di posisi yang berbeda karena takut ke injak beling.
Dalam waktu sepuluh menit, Khadijah sudah turun ke lobi hotel yang disambut oleh manajer hotel.
"Silahkan nona...! Biar saya yang mengantar anda ke rumah sakit," ucap manajer Ian.
"Terimakasih tuan."
"Maaf nona. Panggil saja nama saya Ian. Nona tidak boleh memanggilku tuan. Walaupun saya lebih tua dari anda nona," ucap manajer Ian sungkan.
"Aku harus menghargaimu sebagai sesama manusia. Tidak perlu memikirkan status kita sebagai majikan dan bawahan. Cukup di depan suamiku saja aku memanggil dengan namamu saja."
Khadijah masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang dengan perasaan carut marut. Ia juga tidak bisa menangis walaupun hatinya sangat sakit saat ini. Drama pernikahannya yang terasa hambar kini ditambahkan lagi dengan kepahitan.
"Ya Allah. Cobaan apa lagi ini? Padahal aku baru saja ingin merasakan kasih sayang kedua mertuaku sebagai pengganti mendiang kedua orangtuaku, kenapa malah diambil juga?" batin Khadijah sambil meremas pinggiran gamisnya.
Setibanya di rumah sakit, kedua jenazah mertuanya sudah siap untuk dibawa pulang ke mansion suaminya. Revan yang melihat kedatangan istrinya ke rumah sakit itu tanpa sepengetahuannya membuatnya makin murka.
Tanpa melihat keadaan sekitarnya, Revan dengan tega menyeret tubuh Khadijah menjauhi kelurga besarnya yang sedang berkumpul sambil menangis.
"Siapa yang menyuruhmu kemari? Bukankah aku sudah bilang padamu agar jangan keluar dari kamarmu tanpa ijin dariku, hah?!" bentak Revan membuat Khadijah gugup dan malu.
"Maafkan saya Revan...! Saya kira kamu meminta pihak hotel untuk memberitahu kabar meninggalnya ayah dan ibumu padaku dan meminta aku ke rumah sakit. Makanya aku datang. Aku ingin berada disampingmu di saat seperti ini," ucap Khadijah berusaha tenang.
"Kau pikir, kedatanganmu ke sini bisa membangkitkan kembali kedua orangtuaku hidup? atau merasa ingin berjasa di depanku bahwa kamu istri yang perhatian dan menenangkan?
Asal kamu tahu, kehadiranmu dalam hidupku hanya membawa sial," sarkas Revan membuat Khadijah langsung beristighfar.
"Astaghfirullah halaziiim. Istighfar Revan. Kematian adalah bagian dari takdir Allah bukan kesialan seseorang. Kenapa aku yang malah kamu salahkan?" protes Khadijah.
"Diam...! atau pergi dari sini...! Jangan pernah membantah setiap perkataanku. Aku suamimu dan kau wajib diam sebelum aku mengijinkanmu bicara," ucap Revan mendorong kasar tubuh Khadijah hingga membentur dinding.
"Astaghfirullah...!" ucap Khadijah seraya mendesis kesakitan karena punggungnya terbentur cukup keras ke dinding.
Revan masuk ke dalam mobil ambulans. Khadijah kebingungan mau mengikuti mobil yang mana. Di tambah lagi kelurga besar suaminya hanya mencibir sinis ke arahnya sambil berjalan menuju ke mobil mereka.
"Nona. Ikut ke mobil aku saja..!" ucap asisten Gavin.
"Kamu siapa?" tanya Khadijah karena belum mengenal Gavin.
"Aku asisten pribadinya tuan Revan sekaligus sepupunya tuan Revan dari bagian ibunya tuan Revan," ucap asisten Gavin memperkenalkan dirinya pada Khadijah yang mengangguk bingung.
"Maafkan aku. Baiklah. Aku ikut denganmu," ucap Khadijah mengekori langkah asisten Gavin.
Tiba di rumah duka, Khadijah diperlakukan bak orang asing di hadapan keluarga suaminya. Walaupun dalam keadaan berduka mereka sempat-sempatnya menghina Khadijah.
"Ini...! Gadis yang dibela-belain kakakku untuk menjadi menantunya hanya mendatangkan sial bagi keluarga ini?" sindir Tante Yeni adik kandungnya tuan Alviano mengatai Khadijah di hadapan kelurga lainnya.
"Apakah kamu kira dengan kepergian kakakku kamu bisa menguasai rumah ini? Jangan harap...! Suamimu saja tidak menyukaimu sama sekali. Ia menikahimu karena terpaksa," cecar Tante Lidya.
Revan yang melihat istrinya sedari tadi dihina keluarganya menghampiri para tante-tantenya itu yang mulai ikut campur mengompori situasi dukanya.
"Ini sudah malam. Masuk ke kamarmu. Dwia...!" antar istriku ke kamarku...!" teriak Revan pada pelayan Dwia yang langsung menghampiri tuan mudanya.
"Nona. Silahkan ikut saya ..!" pinta pelayan Dwia menggiring nona mudanya ke dalam kamar majikannya.
Khadijah mengikuti pelayan tanpa pamit pada keluarga suaminya yang duduk tidak jauh dengan jenasah kedua mertuanya. Sepeninggalnya istrinya, Revan mendekati ketiga adik kandung ayahnya dan dua orang adik ibunya.
"Jangan pernah menghina istriku. Dan mansion ini adalah milik kedua orangtuaku. Kalian sama sekali tidak berhak mendapatkan sepersen dari harta kedua orangtuaku," sarkas Revan yang memiliki orang tua berada.
"Bukankah kamu sendiri tidak menyukai istrimu, Revan?" sinis Tante Yeni.
"Bukan berarti tante seenak hati menghinanya di depanku, bukan?" Hanya aku yang boleh menghinanya bukan kalian.
Cukup hari ini aku mendengar kalian menghinanya. Jika kalian berani menghinanya lagi maka siap-siaplah suami- suami kalian keluar dari perusahaan aku, ayah dan ibuku."
Revan segera menuju kamarnya menemui Khadijah yang duduk di bawah sisi tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya dengan wajah tertunduk. Ia sama sekali tidak bisa menangis walaupun hatinya mungkin sudah berdarah-darah.
Pintu di dorong dengan kasar oleh Revan. Seakan belum puas melampiaskan amarah dan kesedihannya pada Khadijah yang jadi sasaran atas kehilangan orangtuanya,
Revan dengan kasar menarik lengan Khadijah yang baru saja berdiri menyambutnya. Ia kembali meluapkan kata-kata pedasnya pada Khadijah yang hanya bisa mendengar kemurkaan suaminya.
"Siapapun yang ada di dekatmu seakan menjadi tumbal dalam kehidupanmu. Dari kedua orangtuamu yang tewas karena dirimu dan sekarang giliran kedua orangtuaku juga meninggal bertepatan dengan malam pengantin kita.
Mulai detik ini aku bersumpah akan menjadikan kamu budak di rumahku bukan lagi istriku. Apakah kamu paham, hah?!" teriak Revan membuat gadis bercadar itu hanya bisa menangis pasrah.
"Astaghfirullah halaziiim. Ya Allah lindungilah aku dari kekejaman suamiku," batin Khadijah lagi-lagi merasa teriris perasaannya malam ini. Baru kali ini ia bisa menangis karena disudutkan sebagai gadis pembawa sial.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Salwa Antya
tambahkan hatimu Khadijah,semoga kak othor membuka hati Revan...
2024-01-20
0
Mbah Darmo
lebih tepatnya 'pihak ibu' bukan 'bagian ibu'
2024-01-12
0
Wirda Lubis
Khadijah terus di kasari Revan lebih baik pergi dari rumah dari pada di sakiti terus
2024-01-07
0