Peran Khadijah yang sudah menyelamatkan bisnis perusahaan suaminya melalui kerjasama antara Revan dan tuan Kasparov tidak serta merta menggugah hatinya Revan. Pria tampan ini menganggap peran istrinya biasa saja.
Padahal tuan Kasparov dan istrinya tidak henti-hentinya berterimakasih pada Khadijah yang menjadi pahlawan untuk mereka.
Sampai kedua pasangan itu kembali ke tempat mereka masing-masing, Revan terlihat sibuk dengan ponselnya begitu pula dengan Khadijah.
Asisten Gavin yang lebih dulu membuka suara agar mengusir kesenyapan antara mereka bertiga yang ada di dalam mobil.
"Nona. Apakah nona pernah tinggal di Jerman?" tanya asisten Gavin.
"Tidak perlu tinggal di sana hanya untuk mengusai bahasa Jerman. Aku memang suka belajar bahasa apa saja termasuk bahasa kalbu," canda Khadijah yang tidak menanggapi serius pertanyaan asisten Gavin.
"Bahasa kalbu siapa yang sudah nona pelajari?" tanya asisten Gavin.
"Tentu saja suamiku. Aku hanya punya dia. Aku harus tahu apa yang dia inginkan atau tidak. Dengan begitu aku bisa menyentuh hatinya," ucap Khadijah sambil menatap Revan yang tidak peduli pada obrolan keduanya.
"Semoga saja si bos merayakan keberhasilan nona dengan mengajak nona bulan madu," canda asisten Gavin membuat Revan menatap tajam wajah asistennya yang sedang menyetir itu melalui spion dalam.
"Apakah kamu bisa diam dan fokus pada jalanan?" geram Revan yang sudah terlihat lelah karena mereka pulang cukup larut malam.
"Sorry bos...!" asisten Gavin menutup mulutnya dan menambah kecepatan mobilnya menuju kediamannya Revan dan Khadijah.
Khadijah menatap Revan yang langsung membuang muka melihat arah luar jendela. Ingin rasanya ia menegur suaminya namun karena masih ada asisten Gavin membuat ia mengurungkan niatnya.
Tiba di mansion, seperti biasa Khadijah sudah meminta google untuk membuka pintu gerbang, menyalakan lampu taman dan juga lampu yang ada di dalam rumah bahkan kunci pintu utama juga menggunakan perintah google.
Turun dari mobil dan Revan langsung masuk ke dalam rumah. Asisten Gavin pamit pada Khadijah yang berdiri sebentar hingga pintu gerbang kembali tertutup rapat.
"Orang itu kenapa? Bukankah semuanya sudah baik-baik saja? Apa yang membuat dia masih marah? dasar tidak jelas," gerutu Khadijah melepaskan sepatu heels nya dan mengenakan sendal santai yang berbulu di dalam rumah.
Khadijah ke dapur membuat segelas susu hangat untuk mereka berdua yang selalu minum susu sebelum tidur. Setibanya di kamar, Revan sudah menggantikan baju formalnya dengan piyama tidur.
"Mau minum susunya?" tawar Khadijah dan Revan meraih gelas susu itu dan meminumnya hingga tandas.
Khadijah masuk ke kamar mandi dengan membawa baju tidurnya. Ia kemudian bersuci karena belum menunaikan sholat isya. Revan keluar kamar untuk merokok sebentar di balkon kamarnya.
Revan kembali ke kamarnya setelah melihat Khadijah sudah selesai sholat dan membaca Alqur'an. Khadijah merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.
Di pembaringan itu sudah ada bantal guling sebagai pembatas mereka. Walaupun Revan kadang-kadang mengambil tempat Khadijah dan tak sengaja memeluk pinggang Khadijah bila sudah tidak sadar.
"Terimakasih sudah menolongku malam ini...!" ucap Revan tanpa ingin melihat wajah cantik Khadijah.
Ia memang tidak kuat menatap lama manik hitam nan indah milik Khadijah. Dengan cara menghindari kontak mata, Revan merasa terselamatkan dari godaan untuk menenangkan adik kecilnya yang tidak tahu diri.
"Dengan senang hati suamiku," jawab Khadijah penuh binar.
"Ingatlah. Kebaikanmu malam ini bukan berarti membuat aku tersentuh untuk jatuh cinta padamu," ketus Revan lagi.
"Revan. Cukup terimakasih saja. Tidak usah ada embel-embel yang lain. Emang kamu nggak enak ya? Kalau itu mulut senang banget nyakitin hati orang? Kalau kamu tidak mencintaiku juga tidak apa.
Tapi, ingat ya Revan...! suatu hari nanti jangan pernah menyesali dengan setiap kecamanmu padaku," balas Khadijah lalu membalikkan tubuhnya.
"Jika kamu merasa bisa bahasa Jerman, kenapa tidak mengaku dari awal. Kenapa sok-sokan pura-pura tidak tahu apapun," ucap Revan.
"Ooh...jadi itu masalahnya? Jadi kamu merasa tertipu olehku?" tanya Khadijah.
"Setidaknya kita tidak perlu menyaksikan drama kebohongannya tuan Ven tadi jika kamu sudah anti spasi duluan. Kau bahkan membuatku terlihat malu di depan relasi bisnisku. Kamu mau pamer pada mereka atau pada aku dan Gavin kalau kamu memang hebat?"
"Emangnya selama ini kamu pernah tanya aku? Bagaimana kehidupanku? pendidikanku dan apapun yang mengenai diriku?
Pernah tidak kamu tanyakan itu? Jika tidak sebagai istrimu setidaknya perlakukan aku seperti temanmu bukan musuhmu," sarkas Khadijah.
Revan kembali terbungkam. Ia kebingungan sendiri karena tidak tahu lagi bicara apa pada Khadijah. Rasanya asyik sendiri jika bisa membuat istrinya itu marah. Khadijah yang sudah merasa lelah akhirnya memilih tidur.
Revan sibuk mengoceh namun gadis ini sudah masuk ke alam mimpinya.
"Khadijah. Aku bicara padamu. Kamu dengar tidak, hah...?" bentak Revan. Namun tubuh Khadijah tidak bergerak lagi.
Revan mendekati Khadijah sambil menyentuh pundak Khadijah dengan sedikit mengguncangkan tubuh mungil itu namun Khadijah sudah mendengkur halus.
"Sial...! Aku malah ditinggal tidur," geram Revan.
Revan akhirnya tidur juga karena ia juga memang sudah mengantuk. Sekitar pukul tiga pagi, Khadijah kembali bangun. Ia menunaikan sholat tahajud dan kembali mengaji. Setelah itu ia menyusun ulang surat perjanjian kontrak kerjasama kedua perusahaan tersebut karena berkas perjanjian itu dipegang olehnya.
Satu dalam bahasa Indonesia dan yang satu lagi dalam bahasa Jerman. Bahkan Khadijah merevisi isi perjanjian itu dengan bahasa yang lebih simpel dan mudah dipahami oleh kedua belah pihak.
Pagi harinya, Revan sudah rapi dan menghampiri meja makan untuk sarapan. Khadijah meletakkan ransum makan siang untuk Revan dan asisten Gavin di atas meja. Khadijah menemani suaminya sarapan pagi yang ringan.
"Aku sudah menyelesaikan berkas perjanjian bisnis kedua perusahaan kalian. Aku sudah mengirim ke email kamu, asisten Gavin dan tuan Kasparov. Entar tolong dipelajari lagi sebelum di print dan di tandatangani."
"Kapan kamu melakukannya?" tanya Revan seraya membuka email-nya dan memeriksa pesan masuk dari Khadijah.
"Semalam. Usai sholat tahajud sambil menunggu azan subuh," ucap Khadijah.
Revan meneliti setiap kalimat yang tertera di dalam isi perjanjian itu. Bahasa Khadijah sangat elegan dan profesional. Revan begitu kagum dengan kejeniusan Khadijah.
Namun sayang, ia tidak memperlihatkan rasa kagum itu melalui pujian pada sang istri. Wajahnya kembali datar. Ia meneguk kopi lalu air putih.
"Terimakasih. Sudah banyak membantuku," datar Revan tanpa senyum.
"Sama-sama Revan. Jika ada masalah sampaikan saja. Aku senang membantumu," ucap Khadijah.
"Tapi tidak ada imbalannya untuk itu dan jangan berharap lebih dariku apalagi cinta," ucap Revan terus mengingatkan Khadijah dengan membangun benteng kokoh antara mereka berdua.
"Tenang saja Revan...! Jangan terlalu menekan ku karena Allah punya cara sendiri untuk membuatmu mencintaiku...!" balas Khadijah seraya mengambil tangan Revan itu untuk ia salim.
Glekkk....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
jhon teyeng
karakter wanita yg mirip dg🤔
2023-12-14
1
Lovita BM
tapi Revan ada plusnya ,selau mengatakan istri didepan semua orang ,walau dirumah diajak gelud terus
2023-11-28
2
Lovita BM
pura² main hp ,padal Revan masih terheran-heran dg istrinya
2023-11-28
2