Khadijah tercenung saat menatap wajah pria tampan yang baru muncul di rumah mertuanya itu sesaat. Matanya tertuju pada foto keluarga yang terpampang di ruang keluarga. Iapun langsung tersenyum dan menyambut kedatangan kakak iparnya itu. Walaupun mengenakan cadarnya, kakak iparnya tahu kalau Khadijah tersenyum kepadanya.
"Waalaikumuslam kak. Baru tiba ya? Ayah dan ibu sudah di makam tadi pagi," sendu Khadijah.
"Kamu Khadijah-kan?" tanya sang kakak ipar.
"Benar kak. Tapi Revan sedang tidur. Apa perlu aku bangunkan?" tanya Khadijah.
"Tidak usah. Pesawatku terlambat karena delay. Makanya aku baru tiba. Aku mau ke kamarku saja. Nanti malam saja aku akan menemui Revan. Kamu sudah tahu namaku, bukan?" tanya Andika.
"Kak Andika-kan?" tegas Khadijah.
"Gadis pintar...!" puji Andika melewati Khadijah yang masih berdiri di tangga.
"Ya Allah. Yang ini senyumnya meleleh seperti es krim. Suamiku sendiri sudah kayak batu es. Saking bekunya sampai tidak tahu cara untuk senyum," batin Khadijah kembali ke kamarnya.
Malam tiba, Khadijah sudah selesai menunaikan sholat isya. Namun sejak tadi, Revan belum bangun juga. Tidurnya saja sudah seperti orang mati, sampai-sampai Khadijah mendekatkan punggung tangannya ke hidung Revan untuk merasakan hangatnya nafas suaminya.
"Syukurlah masih hidup. Ku kira dia sudah mati," lirih Khadijah menatap dalam wajah suaminya.
Diam-diam ia mengagumi pahatan sempurna itu." Tampan sih, sayangnya terlalu galak," gumam Khadijah.
Revan langsung membuka matanya di saat Khadijah masih menundukkan wajahnya menatap wajahnya.
Melihat Revan yang membuka matanya tiba-tiba membuat Khadijah terperanjat lalu mundur beberapa langkah.
"Astaghfirullah halaziiim..!" sentak Khadijah sambil memegang dadanya.
"Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu ingin menciumku? Ternyata kau adalah gadis mesum," sindir Revan lalu duduk dengan malas bersandar di tempat tidurnya.
"Mesum sama suami sendiri itu halal. Kalau sama pria lain itu baru bahaya," jelas Khadijah menutupi rasa malunya karena ketangkap basah walaupun tidak sesuai dengan tuduhan Revan.
"Mau mandi tidak? Biar aku siapkan air hangatnya di bathtub.
"Tidak usah sok perhatian. Aku mau mandi dibawah air shower saja," ucap Revan seraya beringsut turun menuju kamar mandi.
"Tunggu Revan..! Kakakmu baru saja datang. Dia menunggumu. Apakah kamu mau makan malam bersamanya?" tawar Khadijah.
"Aku tidak akur dengannya. Lagipula dia hanya kakak angkat bukan kakak kandung. Jadi, bilang padanya kalau aku tidak suka makan bersamanya. Bawa makan malamku ke kamar. Aku ingin makan bersamamu..!" titah Revan.
"Masya Allah. Kelurga apaan ini? Apakah kekayaan telah menutupi mata batin manusia hingga tidak punya lagi rasa saling kasih sesama saudara walaupun itu hanya saudara angkat? Benar-benar tidak sopan," gerutu Khadijah seraya ke kamar ganti mengambil baju santai untuk Revan.
Khadijah meletakkan diatas tempat tidur lalu turun ke lantai bawah di mana ia melihat Andika sudah duduk menunggu suaminya di meja makan lantai satu itu.
"Di mana Revan?" tanya Andika.
"Maaf kak. Sepertinya Revan masih syok dan tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk kakak. Tolong bersabar ya kak...!" ucap Khadijah berbohong.
"Baiklah tidak apa. Tolong katakan kepadanya kalau aku tidak tergiur dengan harta warisan kedua orangtuanya. Jadi jangan takut seakan kedatanganku ke sini ingin meminta jatah tersebut..!" geram Andika.
"Ya Allah. Kenapa aku malah jadi perantara pesan kedua pria setress ini?" kesal Khadijah yang tidak ingin di manfaatkan satu sama lain.
"Maafkan saya kak. Sebaiknya kakak sendiri saja yang menyampaikan perasaan kakak pada Revan.Saya ini orang luar jadi, tolong jangan libatkan saya dalam urusan sensitif ini," santun Khadijah.
"Jangan terlalu takut padanya..! Ikuti saja kata hatimu dan....-"
"Jangan coba-coba menghasut istriku...! Urusanmu hanya denganku. Kita tunggu saja kedatangan pengacara perusahaan ayah saat membacakan isi wasiat setelah tujuh hari meninggalnya kedua orangtuaku," ucap Revan.
"Ambil saja bagianku. Aku juga cukup tahu diri di rumah ini.. Sebagai anak angkat hanya ada kata hibah bukan warisan. Aku tidak membutuhkan apa yang menjadi milikku. Aku sudah sukses dengan bisnisku di luar negeri sana," sarkas Andika.
Revan yang begitu malu di depan istrinya saat mendapat serangan dari kakak angkatnya, meminta Khadijah untuk kembali ke kamar mereka.
"Khadijah. Masuk ke kamar..!" titah Revan dan Khadijah langsung menurut.
"Jika tidak menginginkan apapun dari keluarga ini, maka tinggalkan rumahku sekarang juga...!" hardik Revan yang tidak ingin kakak angkatnya itu mencari alasan bisa bicara dengan istrinya.
Revan sempat melihat Andika yang terlihat sangat penasaran pada wajah Khadijah hingga tertangkap basah olehnya saat Andika hendak mendekati Khadijah yang selalu tertunduk jika bicara dengan pria yang bukan muhrimnya.
Entah mengapa kedatangan kakak angkatnya itu menjadi ancaman baginya terutama rumah tangganya.
"Kamu sudah tahukan kalau kedua orangtuaku meninggal. Jika tidak memiliki kepentingan apapun di sini, kamu bisa menginap di hotel. Ada istriku di sini sendirian dan aku tidak mau ada tamu pria yang bukan muhrimnya ada di rumahku," sarkas Revan.
"Secantik apa istrimu sehingga begitu takutnya kamu padaku? Gadis cantik di luar sana juga banyak. Jadi untuk apa aku jauh-jauh pulang dari luar negeri untuk merebut istrimu. Kurang kerjaan.
Oh iya, ku dengar kau menikahi Khadijah hanya harta warisan itu bukan? Berarti kapanpun kamu bisa mendepak istrimu dari rumah ini. Kasihan sekali kamu. Mau dapat harta warisan hingga mau saja dijodohkan. Menjijikan..!" maki Andika.
"Itu bukan urusanmu..! Keluar dari sini..!"
"Tidak perlu mengusirku. Tanpa kamu minta, aku memang tidak berkenan menginap di sini. Tidak ada alasan untuk menahan aku di sini lebih lama karena ayah dan ibu sudah meninggal.
Satu hal lagi...! Jangan sia-siakan gadis itu. Dia perempuan baik dan hebat. Sekalinya kau lepaskan dia seumur hidupmu akan dikejar rasa penyesalan."
"Cih...! Kau bicara seakan dia milikmu...! dasar munafik...!" Revan berlalu pergi meninggalkan Andika yang menggenggam gelas minumnya begitu erat seakan ingin memecahkannya.
"Kalau tidak ingat kebaikan mendiang ayah dan ibu, sudah ku patahkan lehermu, bangsat...!" geram Andika lalu ke kamarnya untuk mengambil ranselnya.
Pintu dibuka dengan kasar oleh Revan lalu dibanting lagi dengan kencang. Khadijah hanya bisa beristighfar dan tidak ingin bertanya apapun pada suaminya karena ia sedang menyisir rambut panjangnya.
Lagi-lagi, Revan dibuat meleleh menatap kecantikan Khadijah yang tidak bisa membuatnya berpaling. Namun sayang, egonya lebih tinggi daripada hasrat batinnya yang ingin menyentuh Khadijah.
"Mau makan malam sekarang?" tanya Khadijah yang sudah menyiapkan makanan itu di atas meja.
"Tidak. Selera makanku sudah hilang," ketus Revan.
"Mau aku suapin?" tawar Khadijah.
Revan mendekati Khadijah lalu menangkup dagu Khadijah dengan kedua jarinya." Dengar gadis sok alim...! Kebaikan apapun yang kamu tawarkan kepadaku tidak akan merubah pendirian ku untuk jatuh cinta padamu." Mendorong dagu lancip itu dengan kasar.
"Astaghfirullah halaziiim. Untung suami ya Allah. Kalau orang lain sudah ku lempar pria ini ke balkon kamar ini," geram Khadijah membatin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
Khadijah jangan lemah tegas
2024-01-07
0
jhon teyeng
sesekali ksh pelajaran dg tonjokkan sayang
2023-12-14
1
daroe
lempar aja dijah
kalo perlu toyor dulu biar pikirannya normal lagi
2023-11-16
2