Obrolan Khadijah dan Irfan terhenti saat melihat kedatangan Icha yang membawa rangkaian bunga. Khadijah yang tidak bisa membendung kerinduannya pada sahabatnya Icha langsung berteriak kegirangan.
"Icha ....!"
"Khadijah ...?" sentak Icha yang sudah mengenali sahabatnya itu walaupun wajah mereka tertutup cadar.
"Apa kabar Icha! Lama tidak bertemu. Bagaimana kalian bisa ada di sini? Bukankah kalian kuliah di Kairo?" cecar Khadijah dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Kebiasaan mu tidak pernah berubah. Kalau tanya orang sepanjang rel kereta." Keduanya terkekeh hingga melupakan Irfan yang terlihat bahagia bisa bertemu lagi dengan wanita pujaannya.
"Bisakah kita ngobrol di tempat yang lebih nyaman?" tawar Icha pada Khadijah yang mengangguk setuju. Walaupun ada Irfan, tapi adanya Icha sebagai saudara kandungnya Irfan membuat Khadijah merasa terhindar dari fitnah.
"Itu ada food court. Jadi kita bisa makan sambil ngobrol di sana..!" ajak Khadijah yang sudah hafal tempat itu.
Ketiganya mengambil tempat yang cukup jauh dari para pengunjung lainnya. Dan mereka sepakat menggunakan bahasa arab sebagai alat komunikasi yang biasa mereka lakukan saat masih di pondok pesantren dulu.
"Khadijah. Apakah kamu masih tinggal dengan paman dan bibiku di Jakarta? Apakah mereka sudah balik dari Amerika?" tanya Icha.
"Paman dan bibiku masih berada di Rusia karena mereka saat ini masih bertugas sebagai duta besar RI di Rusia."
"Berarti kamu sedang berlibur di Jakarta?" tebak Icha.
Khadijah terdiam. Ia melirik Irfan yang sedang menikmati minuman juz alpukat-nya.
"Sebenarnya saya sudah menikah," gumam Khadijah lirih membuat Irfan dan Icha tersedak bersamaan ketika sedang menyedot minuman mereka.
Uhuk...uhuk....uhuk...
"Kamu sudah menikah?" sentak Icha tak percaya.
"Usia pernikahanku sekitar 9 bulan."
"Kenapa kami tidak diundang? Siapa suamimu?" tanya Icha sambil melirik wajah abangnya yang terlihat kecewa.
"Aku kehilangan kontak kalian karena ponselku saat itu hilang. Lagipula pernikahanku berlangsung kilat dan terkesan dadakan karena paman dan bibiku tidak bisa menetap lama di Indonesia dan kedua mertuaku mendesak aku untuk mempercepat proses pernikahan kami saat itu," tutur Khadijah.
"Jadi, pernikahan kamu bedasarkan perjodohan?" tanya Irfan.
"Iya mas Irfan," ucap Khadijah.
"Apakah kamu mencintainya?" tanya Irfan.
"Dengan segenap jiwa ragaku," ucap Khadijah.
"Syukurlah. Berarti kamu pasti sangat bahagia. Kami turut senang atas kebahagiaanmu," ucap Irfan antara ikhlas dan tidak ikhlas.
"Terimakasih mas Irfan."
"Oh iya, Icha. Kalian tinggal di Jakarta? Kalian bekerja di sini?" tanya Khadijah.
"Aku pengacara dan mas Irfan dokter. Kami tinggal di apartemen tidak jauh dari sini. Ayo mampir Khadijah...!" ajak Icha.
"Lain kali saja. Aku belum minta ijin pada suamiku. Kalau dadakan begini, dia pasti marah," tolak Khadijah santun.
"Ya sudah. Tidak apa Khadijah. Lain kali ajak suamimu berkunjung di tempat kami," tawar Icha.
"Apakah aku boleh minta nomor kontak kamu Icha?"
"Boleh." Icha menyebutkan sebaris angka dan Khadijah langsung menyimpannya. Ia menghubungi lagi Icha untuk mengirim kontaknya pada sahabatnya itu.
Sementara di perusahaan sana, Revan terlihat gelisah dan sejak tadi tidak kosen mendengar presentasi dari beberapa stafnya yang sedang mempertanggungjawabkan laporan data perusahaan.
Ia sudah berulang kali meneguk air putih. Ia mengendorkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Nafasnya terasa sesak. Asisten Gavin memperhatikan kegelisahan Revan.
Ia memperhatikan GPS ponselnya Khadijah yang sedari tadi berada di toko bunga dan belum beranjak pergi.
"Apa yang gadis itu lakukan di toko bunga sana? Apakah dia sedang membantu para karyawan toko itu melayani pelanggan?" batinnya bertanya sendiri dengan nada geram bercampur cemburu.
Revan melirik ke luar jendela dan melihat gumpalan awan mendung yang kian gelap. Melihat itu perasaan Revan makin tidak karuan. Dia lebih tenang jika tahu kalau Khadijah berada di rumah daripada di luar sendirian tanpa ia dampingi.
Revan mengirim pesan singkat pada istrinya. Ia pura-pura bertanya pada Khadijah.
"Apakah kamu sedang memasak makan malam? Kamu masak apa?" tanya Revan basa basi hanya berharap istrinya membalas pesannya.
Setelah ditunggu beberapa menit, Khadijah tidak kunjung membalas pesannya. Revan mulai gundah. Entah kenapa perasaannya sangat tidak enak saat ini.
"Ada apa denganku? Kenapa aku jadi kuatir padanya?" tanya Revan membatin.
"Tuan Revan. Saya sudah membuat beberapa gebrakan baru dalam perencanaan pembangunan beberapa apartemen yang kita canangkan tahun depan dengan menyediakan banyak fasilitas untuk penghuni apartemen termasuk tempat penitipan anak-anak bagi ibu pekerja yang tidak mau direpotkan dengan jasa baby sitter.
Apakah tuan menyetujui saran saya?" tanya salah seorang stafnya namun pikiran Revan tidak berada di ruangan itu.
Asisten Gavin langsung mengambil alih meeting. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Revan. Namun ia lebih fokus memimpin meeting saat ini.
"Apa yang ibu Alfira lakukan sudah bagus. Idenya sangat brilian. Justru fasilitas itu yang terlewatkan oleh kita. Silahkan diteruskan...!" ucap asisten Gavin.
Revan melirik Gavin dan Gavin mengerti kalau bos-nya itu punya kepentingan mendesak saat ini. Ia hanya mengangguk paham dan Revan segera meninggalkan ruang meeting untuk menyusul istrinya di toko bunga.
Di toko bunga, Khadijah sudah pamit pada Icha dan Irfan untuk pulang duluan. Khadijah belum memeriksa ponselnya karena batre ponselnya low. Ia segera meninggalkan toko bunga itu yang diikuti dengan turunnya hujan yang tiba-tiba deras.
Khadijah melirik jam tangannya dan ternyata sudah melewati dua jam yang diberikan suaminya.
"Ya Allah. Bagaimana ini? Tanpa terasa sudah jam lima saja. Alhamdulillah, untung lagi haid jadi tidak kepikiran dengan sholat," gumam Khadijah seraya menambahkan kecepatan mobilnya.
Dalam perjalanan pulang, Khadijah melihat ada mobil mogok yang terparkir di pinggir jalan. Ia memperlambat laju mobilnya dan melihat plat mobil itu adalah milik suaminya.
"Bukankah itu mobilnya Revan?" gumam Khadijah seraya menepikan mobilnya. Ia melihat Revan sedang membongkar ban mobilnya sendiri dalam keadaan hujan deras.
Khadijah buru-buru turun sambil membuka payungnya. Melihat ada yang datang, Revan menghentikan aktivitasnya menggantikan ban mobil yang sedikit lagi rampung.
"Khadijah...?" sentak Revan antara senang dan geram bercampur jadi satu.
"Revan. Mobilnya kenapa?" tanya Khadijah sambil memayungi Revan yang sibuk mengencangkan ban mobilnya.
"Emang kamu tidak bisa lihat ban mobilku lagi diganti?" ketus Revan.
"Kenapa tidak menelpon orang bengkel saja? Dengan begitu kamu tidak usah repot-repot ganti ban mobil sendiri dalam keadaan hujan deras begini," jawab Khadijah.
"Ponselku low bat dan aku sedang buru-buru," ucap Revan sambil cemberut.
"Buru-buru mau ke mana?" tanya Khadijah dengan polosnya.
Revan begitu gengsi mengakui kalau ia kuatir dengan keadaan Khadijah yang belum pulang-pulang.
"Mau ketemu klien," jawab Revan asal.
"Kalau begitu biar aku yang antar kamu ketemu kliennya," tawar Khadijah.
"Tidak perlu karena klien yang nyebelin sudah ada di sini," lirih Revan tak terdengar oleh Khadijah.
"Masuklah ke dalam mobil. Nanti kamu sakit," pinta Khadijah seraya menarik tangan suaminya.
Revan mengikuti saran istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Khadijah mengambil koper kecil yang ia simpan dibawah jok mobil yang merupakan perlengkapan pakaian Revan untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu pada Revan seperti saat ini.
Hati Revan mulai mencair sedikit saat melihat Khadijah mengambil handuk kecil dan besar sekaligus. Karena keduanya duduk di jok belakang, memudahkan Khadijah mengurus suaminya.
Khadijah mengusap wajah Revan dengan handuk kering lalu membuka kancing baju Revan satu persatu dengan telaten. Sentuhan jemari Khadijah pada dadanya mampu membangunkan sang junior dibawah sana.
Revan memperhatikan wajah cantik Khadijah yang sengaja melepaskan cadarnya saat ini. Revan melihat bibir pink segar Khadijah yang seakan memanggilnya untuk memagut bibir sensual itu.
"Apakah kamu bisa membuka gesper dan celanamu, Revan?" tegur Khadijah membuyarkan Revan yang hampir menyentuh bibir pink segar itu.
"Tolong bukakan untukku Khadijah...!" pinta Revan membuat sekujur tubuh Khadijah spontan merinding disko.
"What.....?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
guntur 1609
gegana kau kan
makanya jangan sok jual mahal
2024-05-08
0
aira aira
haha
2024-01-11
0
Wirda Lubis
lanjut
2024-01-08
0