2. Mencoba Melunak

Darah Revan makin berdesir dengan jantung yang tidak bisa dibujuk tenang. Di tambah lagi miliknya yang tidak tahu diri tegak mengeras begitu saja seakan tidak bisa melewatkan barang bagus.

Walaupun ia belum pernah mencicipi manisnya bercinta dengan wanita lain namun, sebagai pria normal tentu saja ia tidak menepikan gairahnya yang tersulut atas ikatan halal.

"Tidak..! Aku tidak boleh menyentuhnya. Aku tidak mencintainya. Gairah birahiku harus disertai cinta bukan nafsu. Lagi pula aku tidak menginginkan pernikahan ini.

Tujuanku cuma satu memiliki semua harta dan perusahaan milik ayah yang seharusnya milikku bukan milik putra angkat ayah yang ada di luar negeri itu," desis Revan membatin.

Melihat tidak ada respon dari suaminya, Khadijah beralih mengambil pakaian santai miliknya dalam koper. Ia kembali ke kamar mandi dan mengenakannya.

Rambut basahnya dikeringkan dengan hair dryer. Ia lalu memakai bodylation untuk menjaga kelembaban kulitnya. Khadijah lalu keluar lagi dengan wajah terlihat segar tanpa make-up.

"Makanlah ...! Setelah itu lakukan apapun yang kamu suka karena aku harus kembali ke perusahaan," ketus Revan.

"Terimakasih mas. Makanannya sangat lezat," ucap Khadijah lirih padahal belum menyentuh makanannya.

"Jangan memanggilku dengan kata mas. Panggil namaku saja...! Tidak usah sok manis di depanku. ..! karena aku sama sekali tidak menghendaki pernikahan ini apalagi mencintaimu," ucap Revan datar namun menusuk sampai ke ulu hati.

"Apakah kamu yakin dengan perkataanmu?" tanya Khadijah lembut.

"Jadi kamu menantang ku?" geram Revan merasa diremehkan oleh Khadijah.

"Bukan begitu, Revan. Kamu lupa kalau hati dan tubuh kita ini milik Allah. Jadi, hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati hambaNya sesuai kehendaknya. Jadi jangan takabur dengan sesumbar seperti itu," ucap Khadijah lalu menyuapi nasi ke mulutnya.

Revan terdiam menyimak penuturan Khadijah yang sangat tenang hingga menghujam jantungnya. Perkataan Khadijah ada benarnya namun hatinya tidak mau kalah menanggapi ucapan Khadijah.

"Hatiku milikku. Terserah aku bagaimana aku bersikap padamu," ucap Revan menghabiskan makanannya lebih cepat seakan sedang dikejar setan.

Bukan tidak ada alasan Revan lebih cepat menghabiskan makanannya karena ia tidak sanggup menatap kecantikan Khadijah lebih lama di tambah lagi harum tubuh gadis itu seakan terus menggoda libido kejantanannya yang akan meruntuhkan keteguhan hatinya untuk tidak mencintai Khadijah.

Khadijah masuk lagi ke kamar mandi untuk bersuci karena ia belum menunaikan sholat dhuhur. Revan memperhatikan Khadijah yang mengenakan mukena putihnya yang merupakan bagian dari mas kawin yang diberikan suaminya.

Lagi-lagi Revan terpukau dengan kesejukan wajah Khadijah yang menenangkan hatinya. Matanya seakan dipaksa untuk terus menatap makhluk Allah yang sangat sempurna menurutnya.

"Kamu tidak sholat? Apaka kamu mau jadi imanku?" pinta Khadijah.

"Sholat saja duluan. Aku mau pergi." Revan mengenakan lagi pakaiannya lalu keluar dari kamar itu. Ia tidak lantas langsung melangkah.

Revan berdiri sesaat sambil mengatur nafasnya karena tidak menyangka ia mendapatkan istri yang sempurna baik fisik, wajah dan akhlak Khadijah yang tidak mudah marah maupun tersinggung dengan perkataannya seperti bom molotov yang kapan saja meletus.

"Ya Tuhan. Jangan biarkan aku jatuh cinta padanya..! Aku sudah bersumpah dari awal sebelum pernikahan ini terjadi," lirih Revan melangkah dengan berat hati menuju pintu lift.

Khadijah tampak khusu menunaikan sholat dhuhur. Ia menyerahkan sepenuhnya urusan hidupnya plus sakit hati perkataan suaminya pada Penciptanya.

"Ya Allah. Aku milikmu dan hatiku ada dalam genggamanMu maka cabut rasa sakit itu dalam hatiku. Jika ini adalah bagian dari penggugur dosa hamba, maka hamba ikhlas menjalaninya.

Jika ini adalah bagian dari ujian untuk mengangkat derajat hamba, maka mudahkan bagiku untuk menyelesaikan ujian ini," doa Khadijah di sujud panjangnya yang terakhir.

"Aisss...! Kenapa aku bisa lupa menanyakan berapa nomor ponselnya," kesal Revan saat sudah mencapai lobi hotel. Ia menuju resepsionis.

"Siang Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Meisya.

"Aku pinjam telepon sebentar."

"Baik tuan." Memberikan gagang telepon pada Revan yang langsung menghubungi nomor kamar istrinya.

Kring....kring....!

Khadijah buru-buru mengangkat telepon kamar itu ketika baru saja mengucapkan salam usai sholat." Hallo..! assalamualaikum..!" Sapa Khadijah.

Revan sempat termangu mendengar suara Khadijah seperti anak remaja." Kenapa suaranya sangat lembut dan begitu magis saat di telepon? Gadis itu terbuat dari apa? Apakah hanya aku saja yang saat ini sedang terhipnotis oleh sihirnya?" batin Revan yang tidak langsung menjawab salam Khadijah malah bengong.

"Hallo...! ini dengan siapa?" tanya Khadijah lagi.

"Ini aku Revan. Berapa nomor ponselmu? Aku lupa mencatatnya?" tanya Revan datar. Khadijah menyebutkan setiap angka secara bertahap dan langsung di simpan oleh Revan di dalam ponselnya.

Tak tanggung-tanggung ia menulis nama Khadijah dengan sebutan

"My wife". Revan hampir saja tersenyum namun sesaat kemudian wajah itu kembali berubah datar karena di tatap oleh dua orang wanita cantik di depannya yang begitu mengagumi pahat sempurna tuan mereka.

"Tundukkan pandangan kalian. Dasar karyawan tidak sopan...!" tegur Revan membuat keduanya terperangah.

"Sorry tuan." Keduanya tertunduk malu ketika tertangkap basah oleh Revan.

Revan meninggalkan lobi dan asisten pribadinya yaitu Gavin sudah menjemputnya. Gavin segera membukakan pintu untuk Revan yang langsung masuk tanpa menyapa asistennya itu.

Melihat raut wajah datar Revan dengan sikap diamnya membuat Gavin urungkan niatnya untuk memberikan selamat atas pernikahan tuannya itu. Revan mengirim pesan pada Khadijah.

"Jangan keluar dari kamar itu tanpa ijinku. Kenakan kembali cadarmu setiap kali ada pelayan hotel ke kamarmu. Aku tidak mau ada yang melihat wajah jelekmu itu," tulis Revan.

Khadijah membaca pesan itu tersenyum sendiri." Cih...! Ucapanmu tidak pernah konsisten. Tadi bilang lain sekarang lain lagi. Apakah besok akan berubah lagi? Apakah perasaannya sudah seperti perkiraan cuaca? Mendung tak berarti hujan. Itu bagian bait lagu sama nih seperti suamiku. Ternyata dia sangat tampan," puji Khadijah terlihat berbunga-bunga.

"Baik. Hati-hati. Semoga urusan pekerjaanmu cepat selesai....! Aku menunggumu. Assalamualaikum suamiku...!" balas Khadijah romantis.

Revan mengulum senyumnya yang tak sampai terlihat oleh asisten Gavin. Ia tidak mau ada yang bisa menebak perasaannya saat ini.

"Apakah kita langsung ke perusahaan bos?" tanya asisten Gavin.

"Apakah ada jadwal pertemuanku dengan klien hari ini?" tanya Revan.

"Tidak ada tuan. Semuanya di tunda karena pernikahan tuan. Jadwal akan dibuat ulang Minggu depan karena harus disesuaikan jadwal klien," imbuh asisten Gavin.

Tiba di perusahaan, Revan menyelesaikan berkas yang berhubungan dengan saham miliknya dan beberapa saham milik kedua orangtuanya.

Saking seriusnya menyelesaikan pekerjaannya, Revan sudah melewati jam demi jam dan tidak terasa sudah memasuki pukul 7 malam.

Ketukan pintu terdengar keras membuat Revan baru sadar dan melirik jam tangannya. Asisten Gavin masuk ke ruang kerjanya Revan.

"Apakah tuan mau pulang sekarang?" tanya Gavin yang tidak lain sepupunya Revan sendiri.

"Baiklah. Aku harus kembali ke hotel. Khadijah pasti sedang menungguku. Pesan pizza dan kirim ke kamar hotelku...!" titah Revan.

"Baik tuan." Asisten Gavin menghubungi restoran pizza dengan selera yang biasa dimakan oleh Revan.

Baru saja Revan masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk pulang, ada telepon masuk ke ponselnya. Nomor itu tidak ia kenal namun merasa penting, Revan mengangkatnya juga.

"Hallo. Selamat malam ..!" sapa seseorang dari seberang.

"Malam. Saya bicara dengan siapa?" tanya Revan gugup.

"Kami dari rumah sakit. Kami ingin mengabarkan saat ini kedua orangtua anda mengalami kecelakaan dan berada di ruang IGD dan kami mohon maaf tidak bisa menolong keduanya karena pendarahan hebat yang dialami keduanya," tutur sang dokter.

"Apa maksud dokter?" suara Revan sudah berubah meninggi.

"Kedua orangtua anda meninggal dunia," ucap dokter itu hati-hati.

Duarrrr......

Terpopuler

Comments

Wirda Lubis

Wirda Lubis

orang tua Revan meninggal

2024-01-07

1

jhon teyeng

jhon teyeng

wah ini dia sdh dpt kliknya, thanks yah kak buat cerita bagus lg.

2023-12-14

1

lihat semua
Episodes
1 1. Gawat...!
2 2. Mencoba Melunak
3 3. Gadis Pembawa Sial
4 4. Menantang
5 5. Sentuhan Lembut
6 6. Untung Suami Ya Allah...!
7 7. Kehebatan Khadijah
8 8. Persyaratan Gila
9 9. Berusaha Terima
10 10. Ajakan Makan Malam
11 11. Ketahuan Curang
12 12. Tak Tersentuh
13 13. Pertemuan Dengan Mantan Pujaan
14 14. Telat Pulang
15 15. Bergetar Hatiku
16 16. Wanita masa Lalu
17 17. Dia Milikku...!
18 18. Gemas
19 19. Salah Sasaran
20 20. Godaan Yang Tidak Tepat
21 21. Rahasia Sebenarnya
22 22. Makin Cinta
23 23. Aku Mencintaimu...!
24 24. Mengerikan
25 25. Tidak Sabar
26 26. Penuh Cinta
27 27. Dikerjain
28 28. Tetap Seperti Ini
29 29. Dilindungi
30 30. Selalu Saja Ada Gangguan
31 31. Ternyata Primadona
32 32. Makin Dendam
33 33. Tak Bisa Ditembus
34 34. Cukup Sampai Disini...!
35 35. Tidak Semudah Itu
36 36. Tes Hamil...
37 37. Hamil
38 38. Menolak
39 39. Hadiah
40 40. Menapa Menangis...?
41 41. Teror
42 42. Hampir Saja
43 43. Menculik
44 44. Syok Berat
45 45. Petunjuk
46 46. Penyelamatan
47 47. Terperangkap
48 48. Pelukan Kerinduan
49 49. Keputusan Sulit
50 50. Merindukan Rumah
51 51. Rutinitas Khadija
52 52. Gugup
53 53. Keisengan Revan
54 54. Manjur
55 55. Sang Pelakor
56 56. Ketegangan
57 57. Malam Sunyi
58 58. Kesempatan Kedua
59 59. Membuang Sial
60 60. Tewas
61 61. Akhirnya Bahagia
Episodes

Updated 61 Episodes

1
1. Gawat...!
2
2. Mencoba Melunak
3
3. Gadis Pembawa Sial
4
4. Menantang
5
5. Sentuhan Lembut
6
6. Untung Suami Ya Allah...!
7
7. Kehebatan Khadijah
8
8. Persyaratan Gila
9
9. Berusaha Terima
10
10. Ajakan Makan Malam
11
11. Ketahuan Curang
12
12. Tak Tersentuh
13
13. Pertemuan Dengan Mantan Pujaan
14
14. Telat Pulang
15
15. Bergetar Hatiku
16
16. Wanita masa Lalu
17
17. Dia Milikku...!
18
18. Gemas
19
19. Salah Sasaran
20
20. Godaan Yang Tidak Tepat
21
21. Rahasia Sebenarnya
22
22. Makin Cinta
23
23. Aku Mencintaimu...!
24
24. Mengerikan
25
25. Tidak Sabar
26
26. Penuh Cinta
27
27. Dikerjain
28
28. Tetap Seperti Ini
29
29. Dilindungi
30
30. Selalu Saja Ada Gangguan
31
31. Ternyata Primadona
32
32. Makin Dendam
33
33. Tak Bisa Ditembus
34
34. Cukup Sampai Disini...!
35
35. Tidak Semudah Itu
36
36. Tes Hamil...
37
37. Hamil
38
38. Menolak
39
39. Hadiah
40
40. Menapa Menangis...?
41
41. Teror
42
42. Hampir Saja
43
43. Menculik
44
44. Syok Berat
45
45. Petunjuk
46
46. Penyelamatan
47
47. Terperangkap
48
48. Pelukan Kerinduan
49
49. Keputusan Sulit
50
50. Merindukan Rumah
51
51. Rutinitas Khadija
52
52. Gugup
53
53. Keisengan Revan
54
54. Manjur
55
55. Sang Pelakor
56
56. Ketegangan
57
57. Malam Sunyi
58
58. Kesempatan Kedua
59
59. Membuang Sial
60
60. Tewas
61
61. Akhirnya Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!