Darah Revan makin berdesir dengan jantung yang tidak bisa dibujuk tenang. Di tambah lagi miliknya yang tidak tahu diri tegak mengeras begitu saja seakan tidak bisa melewatkan barang bagus.
Walaupun ia belum pernah mencicipi manisnya bercinta dengan wanita lain namun, sebagai pria normal tentu saja ia tidak menepikan gairahnya yang tersulut atas ikatan halal.
"Tidak..! Aku tidak boleh menyentuhnya. Aku tidak mencintainya. Gairah birahiku harus disertai cinta bukan nafsu. Lagi pula aku tidak menginginkan pernikahan ini.
Tujuanku cuma satu memiliki semua harta dan perusahaan milik ayah yang seharusnya milikku bukan milik putra angkat ayah yang ada di luar negeri itu," desis Revan membatin.
Melihat tidak ada respon dari suaminya, Khadijah beralih mengambil pakaian santai miliknya dalam koper. Ia kembali ke kamar mandi dan mengenakannya.
Rambut basahnya dikeringkan dengan hair dryer. Ia lalu memakai bodylation untuk menjaga kelembaban kulitnya. Khadijah lalu keluar lagi dengan wajah terlihat segar tanpa make-up.
"Makanlah ...! Setelah itu lakukan apapun yang kamu suka karena aku harus kembali ke perusahaan," ketus Revan.
"Terimakasih mas. Makanannya sangat lezat," ucap Khadijah lirih padahal belum menyentuh makanannya.
"Jangan memanggilku dengan kata mas. Panggil namaku saja...! Tidak usah sok manis di depanku. ..! karena aku sama sekali tidak menghendaki pernikahan ini apalagi mencintaimu," ucap Revan datar namun menusuk sampai ke ulu hati.
"Apakah kamu yakin dengan perkataanmu?" tanya Khadijah lembut.
"Jadi kamu menantang ku?" geram Revan merasa diremehkan oleh Khadijah.
"Bukan begitu, Revan. Kamu lupa kalau hati dan tubuh kita ini milik Allah. Jadi, hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati hambaNya sesuai kehendaknya. Jadi jangan takabur dengan sesumbar seperti itu," ucap Khadijah lalu menyuapi nasi ke mulutnya.
Revan terdiam menyimak penuturan Khadijah yang sangat tenang hingga menghujam jantungnya. Perkataan Khadijah ada benarnya namun hatinya tidak mau kalah menanggapi ucapan Khadijah.
"Hatiku milikku. Terserah aku bagaimana aku bersikap padamu," ucap Revan menghabiskan makanannya lebih cepat seakan sedang dikejar setan.
Bukan tidak ada alasan Revan lebih cepat menghabiskan makanannya karena ia tidak sanggup menatap kecantikan Khadijah lebih lama di tambah lagi harum tubuh gadis itu seakan terus menggoda libido kejantanannya yang akan meruntuhkan keteguhan hatinya untuk tidak mencintai Khadijah.
Khadijah masuk lagi ke kamar mandi untuk bersuci karena ia belum menunaikan sholat dhuhur. Revan memperhatikan Khadijah yang mengenakan mukena putihnya yang merupakan bagian dari mas kawin yang diberikan suaminya.
Lagi-lagi Revan terpukau dengan kesejukan wajah Khadijah yang menenangkan hatinya. Matanya seakan dipaksa untuk terus menatap makhluk Allah yang sangat sempurna menurutnya.
"Kamu tidak sholat? Apaka kamu mau jadi imanku?" pinta Khadijah.
"Sholat saja duluan. Aku mau pergi." Revan mengenakan lagi pakaiannya lalu keluar dari kamar itu. Ia tidak lantas langsung melangkah.
Revan berdiri sesaat sambil mengatur nafasnya karena tidak menyangka ia mendapatkan istri yang sempurna baik fisik, wajah dan akhlak Khadijah yang tidak mudah marah maupun tersinggung dengan perkataannya seperti bom molotov yang kapan saja meletus.
"Ya Tuhan. Jangan biarkan aku jatuh cinta padanya..! Aku sudah bersumpah dari awal sebelum pernikahan ini terjadi," lirih Revan melangkah dengan berat hati menuju pintu lift.
Khadijah tampak khusu menunaikan sholat dhuhur. Ia menyerahkan sepenuhnya urusan hidupnya plus sakit hati perkataan suaminya pada Penciptanya.
"Ya Allah. Aku milikmu dan hatiku ada dalam genggamanMu maka cabut rasa sakit itu dalam hatiku. Jika ini adalah bagian dari penggugur dosa hamba, maka hamba ikhlas menjalaninya.
Jika ini adalah bagian dari ujian untuk mengangkat derajat hamba, maka mudahkan bagiku untuk menyelesaikan ujian ini," doa Khadijah di sujud panjangnya yang terakhir.
"Aisss...! Kenapa aku bisa lupa menanyakan berapa nomor ponselnya," kesal Revan saat sudah mencapai lobi hotel. Ia menuju resepsionis.
"Siang Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Meisya.
"Aku pinjam telepon sebentar."
"Baik tuan." Memberikan gagang telepon pada Revan yang langsung menghubungi nomor kamar istrinya.
Kring....kring....!
Khadijah buru-buru mengangkat telepon kamar itu ketika baru saja mengucapkan salam usai sholat." Hallo..! assalamualaikum..!" Sapa Khadijah.
Revan sempat termangu mendengar suara Khadijah seperti anak remaja." Kenapa suaranya sangat lembut dan begitu magis saat di telepon? Gadis itu terbuat dari apa? Apakah hanya aku saja yang saat ini sedang terhipnotis oleh sihirnya?" batin Revan yang tidak langsung menjawab salam Khadijah malah bengong.
"Hallo...! ini dengan siapa?" tanya Khadijah lagi.
"Ini aku Revan. Berapa nomor ponselmu? Aku lupa mencatatnya?" tanya Revan datar. Khadijah menyebutkan setiap angka secara bertahap dan langsung di simpan oleh Revan di dalam ponselnya.
Tak tanggung-tanggung ia menulis nama Khadijah dengan sebutan
"My wife". Revan hampir saja tersenyum namun sesaat kemudian wajah itu kembali berubah datar karena di tatap oleh dua orang wanita cantik di depannya yang begitu mengagumi pahat sempurna tuan mereka.
"Tundukkan pandangan kalian. Dasar karyawan tidak sopan...!" tegur Revan membuat keduanya terperangah.
"Sorry tuan." Keduanya tertunduk malu ketika tertangkap basah oleh Revan.
Revan meninggalkan lobi dan asisten pribadinya yaitu Gavin sudah menjemputnya. Gavin segera membukakan pintu untuk Revan yang langsung masuk tanpa menyapa asistennya itu.
Melihat raut wajah datar Revan dengan sikap diamnya membuat Gavin urungkan niatnya untuk memberikan selamat atas pernikahan tuannya itu. Revan mengirim pesan pada Khadijah.
"Jangan keluar dari kamar itu tanpa ijinku. Kenakan kembali cadarmu setiap kali ada pelayan hotel ke kamarmu. Aku tidak mau ada yang melihat wajah jelekmu itu," tulis Revan.
Khadijah membaca pesan itu tersenyum sendiri." Cih...! Ucapanmu tidak pernah konsisten. Tadi bilang lain sekarang lain lagi. Apakah besok akan berubah lagi? Apakah perasaannya sudah seperti perkiraan cuaca? Mendung tak berarti hujan. Itu bagian bait lagu sama nih seperti suamiku. Ternyata dia sangat tampan," puji Khadijah terlihat berbunga-bunga.
"Baik. Hati-hati. Semoga urusan pekerjaanmu cepat selesai....! Aku menunggumu. Assalamualaikum suamiku...!" balas Khadijah romantis.
Revan mengulum senyumnya yang tak sampai terlihat oleh asisten Gavin. Ia tidak mau ada yang bisa menebak perasaannya saat ini.
"Apakah kita langsung ke perusahaan bos?" tanya asisten Gavin.
"Apakah ada jadwal pertemuanku dengan klien hari ini?" tanya Revan.
"Tidak ada tuan. Semuanya di tunda karena pernikahan tuan. Jadwal akan dibuat ulang Minggu depan karena harus disesuaikan jadwal klien," imbuh asisten Gavin.
Tiba di perusahaan, Revan menyelesaikan berkas yang berhubungan dengan saham miliknya dan beberapa saham milik kedua orangtuanya.
Saking seriusnya menyelesaikan pekerjaannya, Revan sudah melewati jam demi jam dan tidak terasa sudah memasuki pukul 7 malam.
Ketukan pintu terdengar keras membuat Revan baru sadar dan melirik jam tangannya. Asisten Gavin masuk ke ruang kerjanya Revan.
"Apakah tuan mau pulang sekarang?" tanya Gavin yang tidak lain sepupunya Revan sendiri.
"Baiklah. Aku harus kembali ke hotel. Khadijah pasti sedang menungguku. Pesan pizza dan kirim ke kamar hotelku...!" titah Revan.
"Baik tuan." Asisten Gavin menghubungi restoran pizza dengan selera yang biasa dimakan oleh Revan.
Baru saja Revan masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk pulang, ada telepon masuk ke ponselnya. Nomor itu tidak ia kenal namun merasa penting, Revan mengangkatnya juga.
"Hallo. Selamat malam ..!" sapa seseorang dari seberang.
"Malam. Saya bicara dengan siapa?" tanya Revan gugup.
"Kami dari rumah sakit. Kami ingin mengabarkan saat ini kedua orangtua anda mengalami kecelakaan dan berada di ruang IGD dan kami mohon maaf tidak bisa menolong keduanya karena pendarahan hebat yang dialami keduanya," tutur sang dokter.
"Apa maksud dokter?" suara Revan sudah berubah meninggi.
"Kedua orangtua anda meninggal dunia," ucap dokter itu hati-hati.
Duarrrr......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
orang tua Revan meninggal
2024-01-07
1
jhon teyeng
wah ini dia sdh dpt kliknya, thanks yah kak buat cerita bagus lg.
2023-12-14
1