Basa basi diantara kedua pria pebisnis itu terlihat hangat. Mereka menggunakan bahasa Inggris seadanya karena tuan Kasparov terlihat tidak begitu fasih dalam berbahasa Inggris.
Khadijah tidak memperlihatkan dirinya yang juga mengusai bahasa Jerman karena ingin belajar situasi.
"Silahkan duduk dan silahkan pesan menu makanan untuk anda dan istri anda tuan Revan...!" ucap tuan Kasparov sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih tuan," ucap Revan.
Pelayan yang sedari tadi masih stay dekat dengan meja makan tamu segera mendekati Khadijah yang memilih menu makanan untuk dia dan suaminya karena dia sudah tahu selera Revan.
Sementara itu tuan Garry Kasparov memperkenalkan penerjemahnya yaitu tuan Ven. Revan menyalami tuan Ven dan mengucapkan beberapa patah kata dalam bahasa Indonesia.
"Tuan Ven adalah penerjemah saya dan dia mengusai beberapa bahasa di dunia dan selalu mendampingi saya setiap kali kami menjalin hubungan bisnis dengan negara tertentu seperti Indonesia, Cina, Rusia, Turki, Itali, Perancis dan lainnya," jelas tuan Kasparov.
"Berarti tuan Ven asli dari Jerman?" tanya Revan.
"Blasteran," ucap tuan Ven menyebutkan asal kedua orangtuanya yang juga berasal dari negara yang berbeda terutama kakek dan neneknya.
Tidak lama hidangan mereka disajikan oleh pramusaji. Khadijah memastikan makanan milik suami sudah lengkap atau belum. gadis ini benar-benar sangat teliti dengan urusan makanan suaminya.
"Suami. Apakah kita makan dulu atau ngobrol dulu dengan mereka?" tanya Khadijah yang enggan memanggil nama suaminya di depan orang lain.
"Terserah tuan rumahnya, sayang..!" ucap Revan berusaha mesra pada Khadijah.
"Silahkan dimakan dulu makanannya setelah itu kita baru bahas bisnis...!" pinta tuan Kasparov.
Tuan Ven menerjemahkan semuanya setiap kali bosnya itu bicara kepada Revan. Dalam beberapa menit mereka tampak asyik bicara hal-hal yang tidak begitu penting.
Sementara nyonya Eliot memperhatikan bagaimana cara Khadijah makan dengan tidak menyingkirkan cadarnya.
"Aku ingin sekali melihat wajahmu, nona Khadijah," pinta nyonya Eliot.
Saat Khadijah hendak menjawabnya langsung, tuan Ven buru-buru menerjemahkannya sehingga Khadijah kembali terdiam.
"Bilang padanya...! Aku terlalu cantik dan aku begitu takut suaminya nanti terpesona melihat wajahku," iseng Khadijah yang ingin mengetes bagaimana tuan Ven menerjemahkan ucapannya dalam bahasa Jerman untuk majikannya.
"Gadis ini mengatakan kalau wajahnya terlalu jelek hingga dia sangat minder pada anda yang terlalu cantik nyonya," ucap tuan Ven membuat Khadijah begitu murka.
"Astaghfirullah halaziiim. Sepertinya tuan Ven membalikkan ucapanku. Dasar pria licik...!" maki Khadijah yang mulai waspada pada tuan Ven yang mungkin mau mengambil keuntungan dari pertemuan bisnis ini.
"Kasihan sekali. Padahal kalau dilihat dari matanya, gadis ini sangat cantik," ucap nyonya Eliot.
"Kalau dia cantik, mana mungkin dia akan menutupi wajahnya," balas tuan Ven.
Khadijah menyalakan perekam untuk merekam semua obrolan mereka malam ini.
Usai makan malam, pelayan datang memindahkan semua piring kotor dan menggantinya dengan makanan penutup. Obrolan bisnis di mulai.
Awalnya Khadijah ingin ngobrol dengan nyonya Eliot namun melihat tuan Ven yang ingin mengambil kesempatan untuk mencurangi suaminya dalam pembagian hasil kedua perusahaan itu, iapun menajamkan pendengarannya sambil bicara dengan nyonya Eliot yang hanya bisa bicara bahasa inggris seadanya.
"Begini tuan Revan, saya ingin keuntungan kita di bagi 70 persen buat tuan Revan dan sisanya untuk saya jika dalam waktu tiga bulan nanti keuntungan perusahaan melebihi angka yang signifikan dari perkiraan awal," ucap tuan Kasparov.
Rupanya tuan Ven menerjemahkannya berbeda dengan ucapannya tuannya.
"Kata tuan Kasparov kalau keuntungan bisnis ini lancar hasilnya dibagi dua," ucap tuan Ven memancing amarahnya Khadijah.
Khadijah tidak tahan lagi dengan ulah tuan Ven yang menambahkan dan mengurangi beberapa persyaratan yang tidak sesuai yang disampaikan oleh tuan Kasparov pada suaminya dalam investasi itu.
Revan hanya mengangguk dan saling berbincang dengan asisten Gavin.
"Kalau tuan Revan sudah setuju, silahkan ditandatangani surat persetujuannya yang sudah kami buat," ucap tuan Ven mewakili tuan Kasparov seraya menyerahkan beberapa berkas yang perlu ditandatangani oleh Revan.
"Tunggu suamiku...! Jangan menandatangani apapun karena tuan Ven ini sedang memanipulasi kalian berdua," cegah Revan.
Revan menatap wajah cantik istrinya dengan perasaan tidak suka.
"Tahu apa kamu dengan urusan bisnisku. Aku mengajakmu ke sini bukan ikut campur urusan pekerjaanku," datar Revan pada Khadijah yang masih setia dengan kesabarannya.
Wanita cantik ini langsung menegur tuan Ven yang pucat saat mengetahui Khadijah bisa bahasa Jerman.
"Hei kau...! Jangan harap kau bisa menipu suamiku dengan terjemahanmu yang asal jadi. Kau manfaatkan ketidaktahuan suamiku agar kamu mengambil keuntungan 20 persen dari hasil yang didapatkan perusahaan suamiku bukan?" sergah Khadijah.
Tuan Kasparov dan istrinya ikut bengong melihat Khadijah yang sangat fasih dengan bahasa mereka.
"Apa katamu nyonya Khadijah? Jadi penerjemah ku ini menipu kami berdua?" tegas tuan Kasparov.
"Benar tuan. Dia ingin mengambil keuntungan yang tadi tuan menyebutkan keuntungan 70 persen untuk suamiku malah dia bilang 50 persen atau bagi hasil antara kedua perusahaan ini," ucap Khadijah.
"Maaf nyonya Khadijah. Pasti anda salah dengar? Tidak seperti itu yang saya katakan tadi," bantah tuan Ven.
"Saya sudah merekam ucapan anda. Dan saya bisa meminta teman saya yang orang Jerman yang juga bisa bahasa Indonesia untuk mentranslate ulang ucapanmu dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia," ancam Khadijah.
"Begini saja nona Khadijah. Tolong baca berkas perjanjian bisnis kedua perusahaan kami yang kebetulan tuan Ven yang membuatnya dalam bahasa Indonesia. Apakah sama yang aku katakan pada suamimu atau tidak?" ucap tuan Kasparov membuat tuan Ven keringat dingin karena kecurangannya ketahuan oleh istrinya Revan.
Khadijah membaca setiap poin yang tercantum dalam perjanjian kerjasama kedua perusahaan itu.
"Benar tuan Kasparov. Tuan Ven sudah berniat jahat dari awal. Lihatlah angka ini...! walaupun anda tidak mengerti bahasa Indonesia, setidaknya anda bisa baca angka ini yang tidak bisa berbohong bukan? Di sini tertera bagi hasil yaitu 50 persen," ucap Khadijah menunjukkan angka itu pada tuan Kasparov yang juga diikuti oleh istrinya nyonya Eliot yang melihat angka yang tertera di dalam surat perjanjian kerjasama kedua perusahaan itu.
"Tuan Ven...! Apa yang kau lakukan kepadaku? Jadi selama ini kamu mengambil keuntungan dari setiap perjanjian kerjasama antara perusahaanku dengan perusahaan negara manapun di mana aku selalu menanam saham pada perusahaan asing?" tegur tuan Kasparov membuat tuan Ven rasanya ingin pingsan.
"Pecat saja dia sayang...! Mungkin sekarang Tuhan sudah mengungkapkan kelicikan tuan Ven melalui nona Khadijah," pinta nyonya Eliot.
"Tuan, nyonya..! Jangan lakukan itu padaku..! Aku mohon maaf. Aku...-"
"Kamu dipecat dan segera pergi dari sini...!" bentak tuan Kasparov dengan wajah kelam.
Revan dan asisten Gavin hanya menatap bengong bagaimana Khadijah berperan menyelamatkan perusahaannya. Mendengar Khadijah bisa bicara bahasa Jerman dengan cengkok khas Jerman itu membuat Revan hampir tidak percaya ternyata Khadijah sangat cerdas.
"Astaga....! Ternyata diam-diam istriku banyak menyimpan misteri tentang hidupnya. Apakah ada lagi kelebihannya yang lain selain mengusai bahasa Jerman," batin Revan yang diam-diam mengakui kehebatan Khadijah.
"Suamiku. Jangan tandatangani apapun karena berkas perjanjian kerjasama perusahaan kalian tidak sesuai dengan ucapan yang disampaikan oleh tuan Kasparov.
Entar mereka akan buat ulang secepatnya. Dan tuan Kasparov akan meminta aku yang merubah semuanya isi perjanjiannya kedua perusahaan kalian," ucap Khadijah.
Asisten Gavin tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Khadijah. Ia langsung tepuk tangan yang diikuti oleh tuan Kasparov dan nyonya Eliot namun tidak dengan Revan yang tetap menyembunyikan rasa kagumnya pada sang istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
lanjut
2024-01-08
0
jhon teyeng
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mestinya lempar aja pake sepatu biar sadar diri, beda lengkuas ama kunir aja paling revan jg gak tau
2023-12-14
1
Lovita BM
emang boleh secengo itu Revan ,
emang boleh 🙄
2023-11-28
2