Revan mendekati Khadijah yang langsung menggeleng tak suka. Ia tidak bisa melakukannya hanya untuk memenuhi tantangan suaminya.
Revan menyeringai puas melihat keberanian Khadijah cuma isapan jempol. Tubuh Revan yang terlihat sangat atletis membakar jiwa sucinya namun bukan itu yang saat ini ia inginkan. Tapi sentuhan penuh cinta yang ia damba dari suaminya
Saat tubuh Khadijah sudah berada dalam kungkungan-nya, Revan ternyata sedang mempermainkan istrinya.
"Kau kira dengan menatangku, aku dengan suka rela menyentuhmu, hmm?! Jangan-jangan setelah menyentuhmu, nasibku juga sial sama seperti kedua orangtuaku." Ucapan Revan barusan seakan melemparkan Khadijah ke dalam bara api.
Namun ia buru-buru menyangkal tuduhan Revan agar tidak terpancing emosinya apalagi merasakan sakit hati.
"Nauzubillah mizalik," ucap Khadijah mendorong tubuh Revan sekuat mungkin hingga Revan jatuh dari tempat tidur.
Brukkk....
"Menjauhlah dariku...! Kau sedang kerasukan setan," ucap Khadijah segera keluar dari kamar untuk bergabung dengan para asisten rumah tangga di bawah sana.
Revan merasakan punggungnya seakan mau patah karena dorongan Khadijah.
"Ternyata tenaganya kuat juga. Kelihatannya kecil tapi sangat kuat. Apakah dia punya tenaga dalam? Tidak mungkin.
Jalannya aja lemah gemulai begitu, mana mungkin belajar tenaga dalam. Mungkin aku yang tadi tidak siap didorong olehnya ," sangkal Revan seraya duduk di tepi ranjangnya sambil meringis kesakitan.
Saat terdiam, Revan teringat lagi kepada kedua orangtuanya. Kesedihan kembali menyapanya. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Adanya Khadijah setidaknya sedikit membuatnya terhibur walaupun ia harus beradu mulut dengan gadis itu setiap saat.
"Jika tidak ada gadis itu, aku benar-benar sendirian di rumah sebesar ini. Ayah, ibu. Kenapa begitu cepat kalian meninggalkan, aku? Aku sangat kesepian, ayah," lirih Revan kembali menangis seperti anak kecil.
Sementara di bawah sana, Khadijah memanggil pelayan Dwia untuk menanyakan banyak hal pada pelayan yang berusia 40 tahun itu.
"Ada apa non?" tanya Dwia berdiri di depan Khadijah yang duduk di kursi meja makan.
"Aku butuh informasi darimu. Aku ingin tahu makanan kesukaan suamiku dan apa saja yang tidak ia sukai dan mungkin ada makanan yang membuat dia alergi. Bisa kamu mencatat semuanya untukku?" tanya Khadijah.
"Saya sudah menyiapkan semuanya untuk anda nona. Ada kebiasaan tuan Revan saat berada di rumah ini.
Ada juga yang membuatnya terganggu akan sesuatu, sudah saya catat semuanya untuk nona," ucap pelayan Dwia seraya mengeluarkan nota kecil yang ia simpan di kantong apron yang dipakainya.
"Masya Allah. Kamu hebat sekali mbak Dwia. Semoga Allah memberimu banyak rejeki dan panjang umur. Maafkan sikap suamiku yang tiba-tiba saja memecat kalian semua," ucap Khadijah.
"Apakah non mau memasak untuk tuan muda? Sejak semalam dia belum makan apapun. Begitu juga tadi pagi dia tidak sarapan malah langsung merokok dan minum kopi," ucap pelayan Dwia.
"Justru rokok dan kopi itu sarapannya mbak." Khadijah tersenyum dan Dwia terkekeh mendengar candaan garing Khadijah.
Keduanya menuju dapur. Menyiapkan makan siang bersama. Khadijah terlihat sangat cekatan dalam memasak. Ia juga memilih menu masakan yang singkat dengan bumbu masakan yang ringan.
Sekitar 20 menit kemudian, tercium aroma masakan itu sudah memenuhi semua ruangan hingga menyusup ke luar jendela dapur. Revan yang duduk di sekitar balkon kamarnya mencium aroma masakan itu yang membuatnya tergiur.
"Masak apa para pelayanku hari ini? Tidak biasanya tercium aroma masakan selezat ini?" gumam Revan merasakan cacing dalam perutnya sedang berontak kelaparan.
Khadijah menyajikan sendiri masakannya itu di piring dan mangkuk cantik di atas nampan besar untuk mereka berdua.
"Biar aku sendiri yang akan mengantarkan makanan ini ke kamarku. Kami mau makan siang bersama di kamar saja," ucap gadis bercadar ini.
"Biar aku saja yang mengantarnya, nona!" tawar pelayan Dwia.
"Tidak perlu mbak. Aku harus bisa sendiri karena mulai besok kalian sudah tidak ada lagi di sini. Dan aku harus belajar mandiri lebih awal," pukas Khadijah menaiki anak tangga dengan membawa baki besar yang sudah penuh dengan makanan dan minuman.
"Hati-hati ya non..!!" pelayan Dwia mengikuti langkah Khadijah karena takut gadis itu tersandung dengan gamis panjangnya.
"Terimakasih mbak."
"Ya Allah. Baru kali ini kami diperlakukan seperti manusia," batin pelayan Dwia begitu hangat dengan akhlak Khadijah yang memanggilnya dengan sebutan mbak.
Tiba di kamar, Khadijah sudah meletakkan makanan itu di atas meja kecil yang ada di kamarnya. Revan yang tergugah dengan aroma masakan istrinya langsung masuk ke kamarnya dan mendapati beberapa hidangan lezat.
"Apakah kamu memasaknya sendiri?" Revan duduk di meja makan seraya meraih sendok dan garpu di samping piringnya.
"Aku hanya sedang belajar memasak untukmu. Latihannya hari ini. Sekarang makanlah. Beri komentar yang sopan dan elegan tentang masakanku sekalipun kamu tak suka," Khadijah mengingatkan suaminya membuat Revan tersenyum tak terlihat oleh Khadijah.
Cara penyajiannya saja sudah seperti ala restoran. Bagaimana Revan tidak tergiur untuk menikmati makan siangnya.
Satu kali suap, dua, tiga dan selanjutnya. Entah lapar atau lezat, tidak lagi dipikirkan Revan. Lidahnya benar-benar dimanjakan oleh kelezatan masakan istrinya.
Ingin memuji, itu akan menurunkan gengsinya. Satu-satunya yang dilakukan Revan saat ini, makan dengan tenang dan merasakan kenikmatan setiap gigitannya.
Tanpa komentar dari suaminya, Khadijah sudah tahu kalau suaminya puas dengan hasil masakannya hari ini.
"Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah, Engkau telah membimbing tanganku ini dengan membuat masakan yang lezat untuk suamiku," batin Khadijah penuh rasa syukur.
Kini Revan menikmati buah anggur dan jeruk yang sudah di siapkan Khadijah di dalam mangkuk. Porsinya cukup untuk mencuci mulut.
"Apakah ada yang kamu butuhkan? Mau mandi atau langsung tidur?" tanya Khadijah benar-benar ingin melayani suaminya.
"Mau tidur," singkat Revan menghampiri tempat tidur dan merebahkan tubuhnya yang lelah.
Khadijah memeriksa suhu ruangan dengan memastikan tidak begitu dingin di dalam kamarnya. Khadijah menunggu sesaat sambil membereskan piring kotor bekas makan mereka.
Setelah melihat Revan tidak lagi bergerak, Khadijah menghampiri suaminya. Ia memberanikan diri mengecup lembut kening suaminya.
"Semoga Allah mengangkat kesedihanmu, suamiku," lirih Khadijah meninggalkan kamarnya untuk mengantar piring kotor ke dapur.
Revan membuka matanya. Merasakan kecupan bibir lembut Khadijah seakan mengalir langsung ke hatinya yang terasa sangat sejuk. Tanpa terasa air matanya spontan mengalir.
Perlakuan Khadijah sama seperti ibunya yang diam-diam selalu mencuri ciuman saat dirinya mulai terlelap dan Revan tahu itu ibunya.
Dan sekarang tugas itu sudah digantikan istrinya. Karena keangkuhannya, Revan tetap menganggap itu suatu yang tak berarti baginya. Iapun melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh ciuman Khadijah.
"Aku akan membuatmu pelan-pelan jatuh cinta padaku, Revan. Aku tahu kau menyukaiku entah dengan cara seperti apa karena matamu tidak bisa membohongiku. Aku menantikan momen bahagia itu, sayang." Senyum Khadijah terbit indah dibalik cadarnya.
"Nona. Biar saya saja yang mencucinya. Ini masih tugas kami hingga besok pagi," ucap Dwia.
"Terimakasih mbak Dwia. Mbak baik sekali. Kalau begitu aku ingin membongkar semua isi kulkas dan kitchen set. Aku ingin mengatur kembali manejemen dapur ini sesuai keinginanku," ucap Khadijah.
"Nona. Bagaimana mungkin engkau mengurus sendiri rumah sebesar ini?" tanya Dwia santun.
"Aku bisa karena ada doa dzikir yang tidak akan membuatku lelah," santai Khadijah.
"Dzikir apa nona?" tanya Dwia penasaran.
"Subhanallah, walhamdulilah, Walla ilahaillah, Allahuakbar," sahut Khadijah.
"Apakah sanggup mencuci, menyapu, mengepel, memasak dan mengurus yang lainnya sambil berdzikir seperti itu?" ragu Dwia.
"Jika dilakukan dengan ikhlas, insya Allah itu tidak menjadi beban bagiku. Ini rumah suamiku, warisan dari mertuaku.
Aku akan melakukannya dengan baik karena aku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Lagi pula itu adalah ucapan Rosulullah untuk putrinya Fatimah Az-Zahra saat ia meminta pelayan untuk membantu pekerjaannya.
Terimakasih mbak Dwia. Aku mau ke kamarku dulu untuk menyusun rencana pekerjaanku esok hari." Khadijah berjalan menuju tangga.
Baru saja Khadijah melangkah menaiki anak tangga, seorang pria tampan dan gagah menyapanya.
"Assalamualaikum wahai adik ipar...!"
Deggggg....
"Dia...?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
siapa yang datang menyapa khadijah
2024-01-07
0
jhon teyeng
Lady selalu bikin yg tdk terduga, bikin reader......
2023-12-14
1
Sukhana Ana Lestari
Makanya kenalah biar tau siapa istrimu.. Jangan nyalahin dia mulu yg ada nti nyesel baru nyaho luh...
2023-11-15
2