Khadijah masih termangu menatap wajah Revan yang berkabut birahi. Hubungan keduanya yang selama ini dingin dan membeku harus mencair di tempat yang tak pantas untuk melakukan hal yang terlarang walaupun halal bagi mereka.
"Khadijah...! Ayolah buka celanaku...!" pinta Revan terdengar manja dan serak menatap Khadijah dengan penuh damba.
Khadijah menelan salivanya yang terasa seret di tenggorokannya kini. Rasanya mulutnya mendadak sariawan hingga lidahnya tiba-tiba kelu.
"Pakailah baju dulu agar kamu tidak kedinginan..!" pinta Khadijah meraih switer milik Revan dan membantu suaminya untuk mengenakannya.
Dengan begitu handuk putih itu bisa menutup area terlarang Revan agar Khadijah tidak langsung bertemu dengan sahabat kecilnya itu yang mungkin sebentar lagi menjadi mainan kenikmatannya.
Wajah Khadijah yang memerah menahan malu dan gugup juga rasa penasaran. Ia perlahan membantu menanggalkan bagian celana panjang Revan dan bagian segitiga pelindung yang sudah basah kuyup.
Walaupun tertutup dengan baik namun adik kecil Revan itu memperlihatkan kegagahannya yang sempurna hingga terlihat jelas tonjolan panjang dan besar itu tercetak bagaimana bentuknya yang membuat tubuh Khadijah gemetaran bukan karena kedinginan hujan di luar sana ataupun AC mobil Revan tapi lebih kepada godaan terbesar yang selama ini ia harapkan untuk bertemu langsung dengan alat tempur pemuas suami istri itu.
Khadijah mengambil training dan celana d**m baru untuk Revan agar pria itu mengenakannya sendiri. Revan sedikit kecewa karena momen panas yang ia inginkan dari istrinya nampak berlalu begitu saja karena ketidaksiapan Khadijah.
Khadijah membereskan pakaian basah milik Revan yang dimasukkan ke dalam plastik. Khadijah tidak bisa melakukan hal yang lebih karena dia sendiri saat ini sedang haid.
Bagaimana kalau suaminya menginginkan unboxing, bukan itu akan merepotkan Revan nantinya yang hanya bisa mengeras tapi tidak bisa meledak.
Keduanya kembali saling menatap dalam diam dan Revan mulai mendekati ke wajah Khadijah untuk menyambar bibir pink itu yang bergetar makin membuatnya gemas.
Khadijah memejamkan matanya ingin merasakan bagaimana sentuhan lembut bibir suaminya. Namun sayang ada saja pengganggu saat ini yang salah paham pada pasangan ini.
Tok....tok ...tok....
Gedoran pada jendela mobil kembali menghalangi hubungan mereka. Revan merasa geram karena sedari tadi ia tidak bisa menyalurkan hasratnya padahal lautan birahi itu sudah menyeruak ke ubun-ubun.
"Sial....! Ada saja pengganggu...!" umpat Revan dan Khadijah mengatupkan bibirnya menahan tawa. Gadis cantik ini buru-buru mengenakan cadarnya.
Revan menurunkan kaca mobilnya dan melihat wajah orang yang menggedor jendela mobilnya yang ternyata satpam kawasan perumahan elite itu.
"Maaf pak ...! mengapa berhenti di sini?" tanya salah satu satpam itu sambil melihat keadaan di dalam mobil.
"Ban mobil saya bocor dan saya harus menggantinya. Apa ada masalah?" tanya Revan.
"Apa kami bisa memeriksa KTP tuan dan nona?" tanya satpam yang curiga pada pasangan ini yang saat ini mungkin saja sedang melakukan zinah.
Khadijah mengeluarkan KTPnya dan diberikan kepada suaminya yang juga sudah mengeluarkan KTPnya juga. Satpam itu menyalakan ponselnya dan memeriksa alamat keduanya ternyata sama. Ia kembalikan lagi KTP pada pasangan itu.
"Silahkan jalan tuan ...! Karena di larang berhenti di sini...!" ucap pak satpam itu yang berniat memeras Revan yang dikira pasangan itu bukan muhrim dan sedang melakukan zinah di dalam mobil.
"Ayo kita pulang Khadijah...! Sudah azan magrib," ajak Revan.
"Baik." Khadijah turun dari mobilnya Revan dan menuju mobilnya sendiri. Keduanya meninggalkan tempat itu menuju rumah mereka.
Walaupun begitu, degup jantung keduanya belum usai. Ada hasrat yang masih menggebu di hati Revan.
Rasanya dia ingin terbang ke rumahnya untuk kembali menjamah tubuh sang istri. Ia tidak bisa lagi mengontrol dirinya. Entah ke mana lapisan ego yang ia bangun bak tiram yang sulit ditembus.
Berbeda dengan perasaan Revan yang disibukkan dengan hasrat, Khadijah malah merasa ada di taman bunga kini. Hatinya, jiwanya dan apapun yang ada dalam dirinya saat ini seakan ditumbuhi rimbunan bunga yang sedang bermekaran menebarkan aroma wangi.
Karena mobil Khadijah berada di depan, gadis ini mulai perintah google untuk melakukan tugasnya di dalam rumah sana.
Bahkan ia meminta google untuk memanaskan sup iga sapi yang sengaja di simpan di microwive dan mesin pembuat kopi agar menghangatkan makanannya dan memanaskan air dan membuat kopi di mana cangkir sudah ia letakkan di bawah kran mesin kopi itu.
Setibanya di rumah, begitu masuk dalam rumah, tubuh Khadijah langsung di dekap oleh Revan saat gadis ini hendak menyiapkan makan malam dan kopi yang sudah siap di hidangkan di atas meja makan.
"Jangan lakukan apapun dan menyentuh mereka. Aku menginginkanmu saat ini," bisik Revan terdengar parau menahan tekanan yang menghimpit syahwatnya yang hampir meledak.
Ingin rasanya Khadijah mengatakan kalau saat ini dia tidak bisa melakukan tugasnya sebagai istri, namun ia tidak sanggup mengucapkan kata itu.
Jilbab Khadijah sudah di hempas ke sembarang tempat. Tangan Revan tidak bisa diam untuk melepaskan gamis Khadijah. Namun sayang, saat wajah keduanya berhadapan dan siap menyatukan bibir, tiba-tiba Revan bersin.
Sekali, dua kali dan terus saja begitu hingga hidung dan matanya berair. Khadijah mengulum senyumnya. Suaminya gagal lagi menyentuhnya.
Seakan saat ini Revan mendapatkan hukumannya karena sudah menyiksa batin Khadijah selama ini. Khadijah mengusap kening Revan yang mulai terasa hangat. Untung saja gamisnya tidak jadi dilepas oleh Revan.
"Ya Allah. Kamu demam Revan. Ayo kita ke kamar....!" ajak Khadijah seraya meraih air hangat yang sudah ia siapkan untuk Revan.
"Astaga....! Kenapa sekarang sakitnya...?" keluh Revan yang merasa tubuhnya tiba-tiba drop.
Khadijah mencari kotak obat demam, batuk dan flu untuk Revan.
"Kamu harus makan dulu sebelum minum obat Revan...!" turun lagi ke lantai bawah untuk mengambil makan malam untuk suaminya.
"Jangan lama-lama...! Aku tidak mau sendirian," rengek Revan seperti anak kecil.
"Secepatnya sayang...! Cup...!" Khadijah mengecup bibir Revan singkat.
Bola mata Revan membeliak. Seakan demamnya berangsur turun dengan panggilan sayang dan kecupan bibir lembut Khadijah seakan stempel yang melekat di bibirnya. Ia menyapu bibir dengan lidahnya seakan merasakan manisnya sentuhan bibir lembut Khadijah.
"Oh... jantungku....!" Revan tersenyum sendiri merasakan betapa dirinya telah melewatkan banyak hal bersama istrinya.
Dalam beberapa menit, Khadijah sudah menyuapi makanan untuk Revan yang sedang kedinginan hingga tidak ingin melepaskan selimutnya dari tubuhnya.
Ia melahap makanannya dengan cepat dan Khadijah memberikan obat untuk diminum Revan.
"Sekarang kamu tidurlah sebentar. Aku mau makan malam dulu ya ...!" membenahi selimut Revan.
"Hmm..!"
Khadijah berlalu begitu saja tanpa memberinya ciuman." Ck...!" padahal aku ingin dicium lagi seperti tadi," keluh Revan. Revan yang sudah terpengaruh obat itu dalam sekejap tertidur juga.
Khadijah menyelesaikan makan malamnya di bawah sana dan meletakkan piring kotor dan beberapa wadah kotor lainnya ke dalam mesin cuci piring agar segera dicuci oleh mesin itu. Khadijah kembali ke kamarnya setelah dapurnya sudah kembali rapi.
Ia ingat dengan bunganya yang ada di mobil yang belum ia turunkan. Khadijah ke garasi mobil dan mengangkat bunga dan pohon buah dan sayuran yang ia beli dan di letakkan di tempat yang bisa tersiram air hujan.
"Aku akan mengurus kalian besok pagi. Sekarang aku harus menemani bayi besarku."
Khadijah kembali ke kamarnya. Ia melihat Revan makin menggigil kedinginan. Khadijah menyentuh kening dan leher Revan yang makin demam tinggi.
"Ya Allah. Kenapa demamnya makin tinggi?" cemas Khadijah. Khadijah menanggalkan semua pakaiannya kecuali bera dan celana d**mnya karena ia sedang haid.
Ia kemudian masuk ke dalam selimut memeluk Revan agar demam Revan berkurang dengan ia memeluk bayi besarnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Lubis
lanjut.
2024-01-08
0
Aqella Lindi
nma ny revan baru kna hujan udh jd revi
2023-12-23
1
jhon teyeng
ada bahasa aneh lg, mengeras tdk bisa meledak
2023-12-14
1