9. Berusaha Terima

Tuan Indrawan menyelesaikan tugasnya sebagai penyampaian pesan surat wasiat yang akhirnya disetujui oleh Revan walaupun ia harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami yaitu menghadirkan seorang pewaris dan tentu saja harus Khadijah yang menuai benihnya, di rahim gadis bercadar itu.

Jauh dalam hati kecil Khadijah, ia ingin merasakan menjadi seorang ibu untuk menemani hari-hari sepinya di rumah.

"Ya Allah. Mudahkan hamba untuk mendapatkan bayi mungil yang akan menghiasi hari-hariku. Aku tidak mau hidup sendirian di dunia ini.

Jika Engkau memberikan anugerah itu, aku akan mewakafkan anak-anakku di jalanMu.. aaamiin," gumam Khadijah membatin.

"Ok tuan Revan. Kita bertemu lagi setelah pewaris kerajaan bisnis Darmawan lahir." Bangkit berdiri dan menyalami ketiga pemuda di depannya.

"Terimakasih tuan Indrawan. Tapi, bagaimana kalau istriku mandul?" tanya Revan seakan ingin menghindari kewajibanya sebagai suami.

"Dan bagaimana kalau kamu yang mandul?" balas tuan Indrawan tanpa ingin menjawab pertanyaan Revan.

"Apa konsekuensi untuk itu?" tanya Revan lagi.

"Harta dan kekayaan orangtuamu di alihkan ke negara untuk kepentingan pendidikan anak-anak Indonesia yang berprestasi khususnya anak-anak yang tidak mampu secara finansial," jelas tuan Indrawan.

"Tapi peraturan itu tidak tertulis dalam wasiat ayah," bantah Revan.

"Memang tidak tertulis namun semua ada rekamannya di ponsel ayahmu dan juga ponsel aku untuk berjaga-jaga saja jika ada pertanyaan tak terduga seperti ini darimu," balas tuan Indrawan.

Pikiran Revan mulai mentok. Tidak ada usaha apapun yang bisa ia tempuh saat ini. Hanya ada satu cara yaitu menerima pernikahannya dengan Khadijah walaupun tanpa cinta.

"Baiklah. Terimakasih untuk penjelasannya."

Revan sudah jengah dengan drama surat wasiat ayahnya yang membuatnya merasa tersudutkan. Ia merasa dipaksa untuk mencintai Khadijah apapun keadaannya.

Beberapa menit kemudian, ruangan itu terasa hening karena Andika dan asisten Gavin sudah kembali ke tempat mereka masing-masing. Yang ada hanya Revan dan Khadijah yang terlihat sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Revan menatap Khadijah yang nampak berzikir sambil menunggu apa perintah suaminya untuk selanjutnya padanya.

"Apakah kamu merasa senang dengan isi surat wasiat itu? kamu kira surat jebakan ayahku itu akan membuat aku bertekuk lutut padamu?" sinis Revan.

"Aku tidak tahu rencana Allah seperti apa untuk kita ke depannya, Revan. Bisa jadi kamu mencintaiku seiringnya waktu.

Ayolah...! Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri yang bakal membuatmu menyesal suatu hari nanti. Daripada kita berdebat, kenapa kita tidak memberikan kesempatan kepada hubungan kita untuk mengenal satu sama lain," saran Khadijah.

"Apaa..? Mengenali dirimu? Awal pernikahan kita saja sudah dimulai dengan tragedi. Bagaimana aku mau memberikan kesempatan itu padamu?" sarkas Revan.

"Berhentilah menyalahkan takdir Allah padaku. Tanpa kamu menikahi aku, takdir kematian kedua orangtuamu sudah tercatat di lauhul mahfudz. Kebetulan kematian mereka bertepatan di hari pernikahan kita.

Semuanya atas hak Allah. Malaikat maut saja tidak tahu kematian manusia karena semuanya rahasia Allah. Malaikat maut hanya diperintahkan untuk mencabut nyawa manusia saja," ucap Khadijah.

"Tapi kamu pemicunya," sergah Revan.

"Kenapa kamu tidak sekalian saja menuntut aku di polisi dengan kasus gadis pembawa sial yang menyebabkan kematian kedua orangtuamu?" balas Khadijah.

"Jika negara ini punya undang-undang itu, sudah dari kemarin aku pasti akan melaporkanmu."

"Negara saja tidak berani membuat aturan itu. Apalagi kamu. Itu adalah pemikiran orang jaman jahiliah atau dengan kata lain jaman kebodohan dan kegelapan. Rosulullah datang mencerahkan sempitnya hati dan pikiran mereka dengan membawa Islam.

Apakah kamu mau termasuk dalam golongan mereka? Jahiliah jaman modern," ketus Khadijah.

Ingin rasanya Khadijah meminta cerai dari Revan, namun bibirnya tidak mampu mengucapkan kata-kata itu karena permintaan kedua orangtuanya Revan yang saat itu sudah membeberkan bagaimana arogannya Revan padanya.

"Khadijah. Ibu mohon kepadamu, apapun yang terjadi pada pernikahan kalian nanti, jangan sampai kamu meminta cerai dari Revan kecuali dia melakukan kekerasan padamu di luar kemampuanmu untuk melawannya.

Hanya kamu yang bisa menjinakkan putraku. Ibu sangat yakin sayang kalian berdua adalah pasangan dunia akhirat," ucap nyonya Hani saat melamar Khadijah. Khadijah mengenang sesaat ucapan ibu mertuanya itu.

"Sekarang kamu boleh pulang. Naik taksi saja...! Aku tidak bisa antar," ketus Revan.

"Terimakasih. Assalamualaikum suamiku..!" mengulurkan tangannya hendak mencium tangan suaminya.

Walaupun marah, Revan masih mau disalim oleh Khadijah. Entah kenapa pria tampan ini sulit untuk menolak kebiasaan Khadijah padanya.

Khadijah menahan bulir bening yang hampir saja tumpah. Namun segera di sekanya dengan cepat. Para karyawan berpapasan dengannya dan menegur Khadijah.

Khadijah menyalami mereka satu persatu sambil berkenalan dengan mereka.

"Hallo..! Namaku Khadijah dan aku istrinya Revan, bos kalian. Terimakasih sudah bekerja untuk suamiku. Semoga selalu semangat dan betah bekerja di sini," ucap Khadijah santun.

"Oh...! Maafkan kami nona...! Kalau kami tidak mengenal nona sebagai istrinya tuan Revan."

"Tidak apa. Sekarang sudah kenalkan? Sapa saja saya kalau seandainya bertemu di mana saja," ucap Khadijah ramah.

Lift terbuka. Khadijah menundukkan kepalanya sedikit setiap kali menyapa karyawan suaminya sebagai bentuk hormat.

Ia lalu memesan taksi online. Namun dicegah oleh Andika yang sengaja menunggunya.

"Khadijah. Ayo aku yang antar kamu pulang..!" tawar Andika.

"Terimakasih kak. Maaf...! Biar aku pulang sendiri saja dengan taksi," ucap Khadijah.

"Aku juga mau pulang. Sekalian lewat depan komplek perumahan kita," ucap Andika.

"Bukan masalah itunya kak. Kakak adalah kakak iparku. Kata Rosulullah, ipar itu seperti setan jadi jangan berkhalwat atau berdua-duaan dengan ipar agar tidak terjadi fitnah," jelas Khadijah.

"Insya Allah. Aku tidak mungkin seperti itu kok. Percayalah padaku Khadijah...!" ucap Andika.

"Aku pasti percaya pada kakak namun tidak dengan setan karena dia ada diantara kita," imbuh Khadijah lagi.

"Ya Allah. Sebegitunya kamu Khadijah. Ya sudahlah. Aku mengerti jika kamu bersikap seperti itu. Jaga dirimu...! Jika terjadi sesuatu pada kamu karena Revan, katakan saja padaku...!" ucap Andika.

"Tidak padamu atau siapapun karena Allah tempat aku mengadu. Hanya Allah yang menyelesaikan permasalahan hambaNya," balas Khadijah.

"Tapi, manusia juga adalah bagian dari wali Allah untuk menolong sesamanya. Termasuk aku, Khadijah.

"Jika itu ada, aku harus mendatangi orang yang tepat yaitu orang-orang yang berilmu. Mencurahkan permasalahan pada orang yang berilmu dan ahlinya, baru ada solusinya.

Kalau pada orang yang tidak berilmu, yang ada hanya mendengar hasutan dan kita sudah menyebar aib kita sendiri pada orang lain.

Lagi pula sejauh ini hubungan aku dan Revan baik-baik saja. Maaf ya kak, aku harus pulang." Berlari keluar ketika melihat taksi online pesanannya datang.

"Ya Allah...Khadijah. Kamu adalah gadis yang sangat sholehah, kenapa mau saja menikah dengan Revan," keluh Andika sambil melihat Khadijah yang masuk ke dalam taksi itu.

Revan yang menyaksikan keduanya dari jauh, begitu marah. Dadanya terasa sangat sesak dan tidak rela Andika sengaja menahan istrinya untuk ngobrol entah apa yang mereka bicarakan.

"Dasar sialan....! Dari dulu kamu selalu mengambil apa saja yang aku miliki. Tidak cukupkah kasih sayang kedua orangtuaku yang kamu curi dariku?" kesal Revan yang sudah dendam pada Andika sejak mereka masih kanak-kanak.

Andika adalah anak adopsi yang diambil oleh tuan Alviano saat istrinya belum juga dikaruniai keturunan di 7 tahun pernikahan mereka.

Setelah tiga bulan mengadopsi Andika dari panti asuhan, tidak lama kemudian nyonya Hani hamil Revan.

Perbedaan usia Andika dan Revan terpaut 4 tahun. Itulah sebabnya kedua orangtuanya Revan sangat sayang pada Andika.

Terpopuler

Comments

Mbah Darmo

Mbah Darmo

dengan mewakafkan anak, maka anak tidak akan punya masa depan yang sesuai dengan keinginannya sendiri.
kenapa tidak sekalian saja dimasukkan ke gereja biar jadi biarawati yang melayani tuhan dan umat.
secara lisan maupun tulisan memang terdengar bagus mewakafkan anak dijalan Tuhan, tapi akan sulit untuk di praktekkan.

2024-01-13

0

Wirda Lubis

Wirda Lubis

lanjut

2024-01-07

0

jhon teyeng

jhon teyeng

lhah knp marah td km suruh naik taxi skg ada yg bcr sm istri km ngomel kayak tawon

2023-12-14

1

lihat semua
Episodes
1 1. Gawat...!
2 2. Mencoba Melunak
3 3. Gadis Pembawa Sial
4 4. Menantang
5 5. Sentuhan Lembut
6 6. Untung Suami Ya Allah...!
7 7. Kehebatan Khadijah
8 8. Persyaratan Gila
9 9. Berusaha Terima
10 10. Ajakan Makan Malam
11 11. Ketahuan Curang
12 12. Tak Tersentuh
13 13. Pertemuan Dengan Mantan Pujaan
14 14. Telat Pulang
15 15. Bergetar Hatiku
16 16. Wanita masa Lalu
17 17. Dia Milikku...!
18 18. Gemas
19 19. Salah Sasaran
20 20. Godaan Yang Tidak Tepat
21 21. Rahasia Sebenarnya
22 22. Makin Cinta
23 23. Aku Mencintaimu...!
24 24. Mengerikan
25 25. Tidak Sabar
26 26. Penuh Cinta
27 27. Dikerjain
28 28. Tetap Seperti Ini
29 29. Dilindungi
30 30. Selalu Saja Ada Gangguan
31 31. Ternyata Primadona
32 32. Makin Dendam
33 33. Tak Bisa Ditembus
34 34. Cukup Sampai Disini...!
35 35. Tidak Semudah Itu
36 36. Tes Hamil...
37 37. Hamil
38 38. Menolak
39 39. Hadiah
40 40. Menapa Menangis...?
41 41. Teror
42 42. Hampir Saja
43 43. Menculik
44 44. Syok Berat
45 45. Petunjuk
46 46. Penyelamatan
47 47. Terperangkap
48 48. Pelukan Kerinduan
49 49. Keputusan Sulit
50 50. Merindukan Rumah
51 51. Rutinitas Khadija
52 52. Gugup
53 53. Keisengan Revan
54 54. Manjur
55 55. Sang Pelakor
56 56. Ketegangan
57 57. Malam Sunyi
58 58. Kesempatan Kedua
59 59. Membuang Sial
60 60. Tewas
61 61. Akhirnya Bahagia
Episodes

Updated 61 Episodes

1
1. Gawat...!
2
2. Mencoba Melunak
3
3. Gadis Pembawa Sial
4
4. Menantang
5
5. Sentuhan Lembut
6
6. Untung Suami Ya Allah...!
7
7. Kehebatan Khadijah
8
8. Persyaratan Gila
9
9. Berusaha Terima
10
10. Ajakan Makan Malam
11
11. Ketahuan Curang
12
12. Tak Tersentuh
13
13. Pertemuan Dengan Mantan Pujaan
14
14. Telat Pulang
15
15. Bergetar Hatiku
16
16. Wanita masa Lalu
17
17. Dia Milikku...!
18
18. Gemas
19
19. Salah Sasaran
20
20. Godaan Yang Tidak Tepat
21
21. Rahasia Sebenarnya
22
22. Makin Cinta
23
23. Aku Mencintaimu...!
24
24. Mengerikan
25
25. Tidak Sabar
26
26. Penuh Cinta
27
27. Dikerjain
28
28. Tetap Seperti Ini
29
29. Dilindungi
30
30. Selalu Saja Ada Gangguan
31
31. Ternyata Primadona
32
32. Makin Dendam
33
33. Tak Bisa Ditembus
34
34. Cukup Sampai Disini...!
35
35. Tidak Semudah Itu
36
36. Tes Hamil...
37
37. Hamil
38
38. Menolak
39
39. Hadiah
40
40. Menapa Menangis...?
41
41. Teror
42
42. Hampir Saja
43
43. Menculik
44
44. Syok Berat
45
45. Petunjuk
46
46. Penyelamatan
47
47. Terperangkap
48
48. Pelukan Kerinduan
49
49. Keputusan Sulit
50
50. Merindukan Rumah
51
51. Rutinitas Khadija
52
52. Gugup
53
53. Keisengan Revan
54
54. Manjur
55
55. Sang Pelakor
56
56. Ketegangan
57
57. Malam Sunyi
58
58. Kesempatan Kedua
59
59. Membuang Sial
60
60. Tewas
61
61. Akhirnya Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!