Mengajak ke Villa

Evan yang sudah sangat senang. Pria itu pun kembali menutup pintu lalu segera pergi untuk mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Tak lupa ia berdoa mengucap syukur karena kini sang istri sudah bebas ia sentuh. Perjuangannya menunggu sudah selesai.

Pagi itu juga, Evan sudah menyiapkan sesuatu untuk sang istri. Diam-diam ia menghubungi seseorang dan Evan terlihat serius berbicara di telepon.

Setelah Rania melaksanakan sholat subuh. Lantas ia membangunkan sang anak. "Junior sayang, ayo bangun, Nak. Sholat dulu yuk!"

Perlahan Junior membuka kedua matanya dan melihat wajah sang ibu yang sedang tersenyum kepadanya. Ada sesuatu yang membuat Junior terkejut ketika melihat wajah sang ibu kali ini.

"Mama! Tumben mama cantik sekali pagi ini?" puji Junior sambil beranjak bangun.

"Masa sih! Mama biasa aja kok cantik dari mananya?" jawab Rania sambil memegangi wajahnya.

"Beneran, Ma. Beda banget nggak seperti biasanya," ucap Junior lagi.

"Hmm ... kamu ada-ada saja. Ya sudah, cepetan wudhu gih! Keburu waktunya habis. Mama mau bangunin papa dulu di luar,"

Junior pun menuruti perintah sang ibu. Bocah itu segera pergi ke kamar mandi. Sedangkan Rania akan membangunkan sang suami yang diketahui sedang tidur di ruang depan bersama ayahnya.

Namun, di saat Rania membuka pintu kamar, ia dikejutkan dengan sang suami yang tiba-tiba berdiri di depan pintu dengan tatapan matanya yang dalam.

"Astaghfirullah haladzim, Evan! Ngagetin aku aja!" seru Rania sambil mengusap-usap dadanya.

"Selamat pagi, Sayang. Apa Junior sudah bangun?" Evan mengalihkan perhatian dengan bertanya tentang putranya.

"Sudah, dia sedang di kamar mandi. Kamu sudah sholat?" tanya Rania kepada suaminya.

"Sudah tadi, dan kamu sudah sholat belum? Oh ya aku lupa jika kamu masih datang bulan, maaf!" ucap Evan yang sengaja pura-pura tidak tahu.

Rania pun tersenyum, ia pun hendak mengatakan kepada sang suami bahwa dirinya sudah selesai. Namun, Evan tidak membiarkan istrinya untuk mengatakannya terlebih dahulu karena sebenarnya ia sudah tahu jika sang istri sudah suci dari haidnya.

Evan langsung memotong pembicaraan sang istri sehingga Rania tidak punya kesempatan untuk menjelaskannya. "Evan sebenarnya aku sudah ...."

"Oh ya, Sayang! Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke Villa yang kemarin kita lihat, apa kamu mau?" seru Evan yang berharap istrinya bersedia.

"Ke Villa? Ngapain kita ke sana?" tanya gadis itu sambil berpikir.

"Ya kita lihat-lihat aja pemandangan di sana. Bagaimana view nya di sana. Soalnya aku lihat pemandangan di sana cantik banget. Aku ingin mengabadikan momen kebersamaan kita di sana, bagaimana?" ungkap Evan penuh harap.

"Lalu Junior? Kita ajak dia juga, kan?" Tanya Rania. Evan pun garuk-garuk kepalanya karena hari ini ia berencana untuk mengajak istrinya saja tanpa sang anak.

"Waduh kenapa harus mengajak Junior sih! Kalau ajak Junior bisa-bisa rencanaku gagal total!"

"Emmm Junior ... kalau Junior ikut ya nggak ...." belum selesai Evan merampungkan kata-katanya. Tiba-tiba suara sang anak mengejutkan keduanya. Junior baru saja keluar dari kamar mandi dan secara tidak sengaja mendengar obrolan papa dan mamanya.

"Junior nggak ikut, Pa. Junior di rumah saja bersama kakek dan nenek. Junior masih ingin main congklak bareng kakek," seru sang bocah yang tentu saja membuat Evan akhirnya bisa bernafas dengan lega.

"Alhamdulillah, kamu anak yang pintar, Junior. Tahu saja kalau papamu ini butuh charger baterai."

"Loh, kamu nggak ikut? Waaahhhh sayang sekali ya, padahal papa pingin banget ngajak kamu. Tapi karena kamu nggak mau ya sudah, Papa tidak akan memaksamu. Biar Papa pergi sama mama saja," seru Evan yang berpura-pura sedih putranya tak ikut dengannya.

"Iya, Pa. Papa pergi saja sama Mama, Junior nggak apa-apa kok!" jawab bocah polos itu.

"Yakin Junior nggak ikut? Nanti kalau nyariin mama gimana hayo!" ucap Rania kepada putranya.

"Enggak dong, Ma. Junior kan udah pinter. Lagipula Papa dan Mama nggak lama, kan?" tanya bocah itu.

"Ya enggak lah! Ngapain kami pulang lama-lama. Paling cuma lihat-lihat doang! Siang nanti juga sudah pulang," jawab Rania sambil tersenyum kepada sang anak.

Pada akhirnya, Evan pun berpamitan kepada kedua mertuanya untuk mengajak sang istri pergi ke Villa. Sementara itu, Junior sudah asyik bermain dengan teman-teman sebayanya yang ada di kampung, sehingga membuat bocah itu tidak tertarik dengan ajakan sang papa. Ia lebih memilih bermain dengan teman-teman barunya di sana.

Setelah berpamitan kepada kedua mertuanya dan sang anak. Evan pun dengan perasaan yang senang langsung mengajak sang istri untuk pergi ke sebuah Villa mewah yang sengaja Evan sewa dadakan demi bersama sang istri.

Namun, ada sesuatu yang membuat Rania tidak habis pikir dengan sang suami. Evan pergi dengan memakai sarung bukan celana. Sehingga membuat Rania tertawa kecil melihat penampilan sang suami dengan sarung yang dipakainya.

"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku sudah kelihatan tampan?" seru Evan dengan percaya diri saat sang istri menatap dirinya.

"Kamu itu sedang pergi jalan-jalan apa mau disunat? Ngapain pakai sarung seperti itu? Masa kamu jalan-jalan pakai sarung sih! Nanti sarungnya melorot di jalan bagaimana, burungnya bisa lepas tuh!" seru Rania.

Evan tersenyum smirk mendengar ucapan dari sang istri. "Kalaupun burung ku memang lepas. Maka, sebagai seorang istri, mau tidak mau kamu yang harus menangkapnya," ucap Evan sambil tersenyum nakal.

Rania pun tampak tersipu malu-malu mendengar ucapan dari sang suami. Bukan hanya Evan saja, Rania pun tiba-tiba memakai rok panjang dan lebar, padahal ia tidak pernah sekalipun memakai rok seperti itu, Rania selalu memakai celana.

Evan memperhatikan sang istri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada sesuatu yang membuat pria itu tersenyum. Karena sang istri terlihat sedikit berbeda dari biasanya.

"Kamu sendiri, tumben memakai rok? Bukannya kamu sangat tidak suka memakai pakaian wanita? Apa kamu sudah berubah pikiran?" sontak ucapan sang suami mulai membuat Rania salah tingkah.

"Oh ini. Aku lagi pingin aja pakai rok, emangnya nggak boleh aku pakai rok? Nggak pantas ya! Ya udah kalau nggak pantes biar aku ganti saja!" sahut Rania.

"Ohhh jangan-jangan! Kamu lebih anggun kalau memakai baju itu. Aku malah tambah seneng karena pastinya bisa masuk dengan mudah," ucap Evan yang sontak membuat Rania mengerutkan keningnya.

"Hah! Apanya yang masuk?"

"Hehehe iya itu anu ... ya masuk akal lah kamu pakai rok. Kamu kan seorang cewek!" jawab Evan sambil cengar-cengir.

Akhirnya, Rania pun masuk ke dalam mobil sang suami. Evan pun langsung membawa sang istri ke sebuah Villa. Tak butuh waktu lama akhirnya mobil Evan tiba di depan villa mewah tersebut.

Evan dan Rania turun dari mobil. Rania sangat menyukai lokasi villa tersebut. Terlihat sangat asri dan sejuk. Tentu saja udara dingin sangat kental dan sangat menusuk kulit. Sesekali Rania meniup-niup telapak tangannya karena udara dingin itu cukup membuatnya kedinginan.

"Ayo kita masuk!" ajak Evan sambil mengulurkan tangannya kepada sang istri. Rania pun langsung menerima uluran tangan sang suami dan segera mengikutinya dari belakang.

Evan membawa sang istri masuk ke dalam villa tersebut. Rania melihat dekorasi ruangan di villa itu sangatlah cantik. Ia pun sangat menyukainya.

"Di sini nyaman banget ya kayaknya!" seru Rania sambil melihat-lihat ruangan yang ada di villa itu.

"Hmmm ... ayo kita ke dalam, kita lihat-lihat ruangan yang di dalam!" ajak Evan yang selalu menggenggam tangan istrinya. Karena di sana Evan sudah menyiapkan kejutan untuk sang istri.

Sesampainya di ruangan dalam. Rania melihat sebuah kamar yang cukup membuatnya tertarik. Ia pun mengajak sang suami untuk melihat ke dalam kamar tersebut.

"Van, kita ke sana yuk! Kok aku penasaran sih dengan kamar itu!" ucap Rania sambil menunjuk ke salah satu kamar yang ada hiasan bunga di depan pintunya.

Evan pun tersenyum smirk mendengar permintaan sang istri. Ia pun dengan senang hati masuk ke dalam kamar yang dimaksud oleh Rania.

Sesampainya di depan pintu kamar tersebut. Evan membuka pintunya dan mempersilakan sang istri untuk masuk. Dengan senang hati, Rania pun masuk lantaran dirinya sangat penasaran dengan isi di dalamnya.

"Masuklah dulu!" titah Evan. Rania pun masuk ke dalam kamar tersebut dan dirinya sangat terkejut dengan dekorasi kamar yang seperti kamar pengantin.

"Wow, cantik sekali kamarnya!" puji Rania ketika ia melihat hiasan bunga-bunga segar dengan tirai-tirai berwarna putih yang menjuntai indah. Ranjang tidur dengan bertaburan bunga mawar. Belum lagi lilin-lilin yang menyala di sudut ruangan. Seakan-akan kamar itu sengaja dibuat untuk pengantin baru.

Rania sangat senang melihat pemandangan di kamar itu. Ia pun segera membalikkan badannya seraya berkata. "Van, kenapa kamar ini dihias seperti kamar pengantin?" tanyanya kepada sang suami yang saat itu berdiri di samping pintu menatap Rania dengan penuh gairah.

Evan tidak menjawabnya, ia hanya menatap tajam wajah sang istri dengan perlahan ia menutup pintu dan menguncinya. Seketika Rania terkejut saat sang suami tiba-tiba menutup pintu tersebut.

"Evan, kenapa pintunya di tutup? Kita belum melihat ruangan sebelah!" tanya Rania yang terlihat cemas. Setelah mengunci pintu, Evan membalikkan badannya dan menatap wajah sang istri dengan tersenyum nakal.

Rania merasa tatapan mata sang suami tampak berbeda. Apalagi Evan berjalan menghampirinya dan tidak pernah melepaskan tatapan matanya dari sang istri.

"Dia kenapa sih! Aku kok deg-degan!" Rania gugup setengah mati. Apalagi Evan sudah berdiri tepat di depannya.

"Untuk apa kita lihat ruangan lain? Kamar ini khusus aku persembahkan untukmu. Kamar ini akan menjadi saksi bisu disaat aku dan kamu bersatu!" ucap Evan sambil meraih pinggang istrinya dan membawa Rania ke dalam pelukannya.

"A-apa maksudmu! Kamu sengaja melakukan ini untuk kita?" Rania sangat gugup karena ia benar-benar merasakan debaran jantung Evan yang teraba oleh tangannya. Evan tersenyum dan semakin mempererat pelukannya lalu membalasnya. " Tentu saja, aku sudah tahu jika kamu sudah selesai. Jadi, tidak ada alasan kamu untuk menolakku, Sayang!"

"Dari mana kamu tahu? Aku belum bilang, kan?" sahut Rania yang terkejut bagaimana sang suami tahu jika dirinya sudah suci dari haid.

"Tidak usah tanya dari mana aku tahu. Sekarang tugasmu adalah menangkap burungku yang akan terbang hari ini juga! Aku akan menjadikanmu sebagai istri yang sempurna," jawab Evan dengan senyum seringainya.

Rania tidak bisa lagi mengelaknya. Bagaimana pun juga tugasnya harus ia tunaikan sebagai seorang istri. Evan mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke atas ranjang tidur pengantin yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga mawar. Tangan Evan pun mulai melepaskan apapun yang menutupi tubuh istrinya.

Ranjang tidur yang dikelilingi oleh tirai berwarna putih itu, semakin menambah kesan romantis bagi keduanya.

"Evan jangan!" pekik Rania saat sang suami melakukan sesuatu kepadanya.

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Evan antene nya udh SMP k ubun2 Rania, sakit tuh kepala ya van🤪

2025-03-07

1

Yuli Yuli

Yuli Yuli

Evan Uda ngu brhari" kok jgn ran, emge knp kok jgn tu ran ksian tu Evan Uda ngu brhari" 🤔🤔

2024-03-05

1

Rahmi Miraie

Rahmi Miraie

jangan apa ran?jangan setengah" atau jangan berhenti?😂😂

2023-11-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!