Rania tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sang suami. Sebuah ungkapan perasaan yang lama terpendam membuat Evan begitu bergejolak. Pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk memiliki gadis yang telah lama ia dambakan.
Darah mereka berdesir dalam sebuah kehangatan yang teramat romantis. Kedua tangan Evan mencengkram erat tangan istrinya. Sementara ia menyentuh bibir sang istri dengan penuh gairah.
Sentuhan yang berasal dari bibir, mulai merambat ke seluruh jiwa. Cukup lama Evan berpuasa sebagai seorang pria tulen. Sejak Rina sakit-sakitan. Evan sudah jarang mendapatkan nafkah batin dari Rina. Selama satu tahun lebih, Evan harus menahan dirinya demi kesembuhan sang istri. Namun sayang, takdir berkata lain karena Rina akhirnya dipanggil oleh sang Kuasa.
Tentu saja kondisi itu membuat pria yang sudah berpengalaman dalam masalah ranjang itu. Terlihat lebih dominan daripada Rania yang masih belum berpengalaman sama sekali.
Sejenak, Evan melepaskan ciumannya dan menatap wajah sang istri yang saat itu terlihat begitu cantik.
"Kenapa menatapku seperti itu?" seru Rania sambil mengatur napasnya.
"Kamu cantik sekali!" jawab Evan dengan suara berbisik. Namun, Rania justru tertawa mendengar pujian dari sang suami.
"Oh ya? Aku cantik! Bukannya kamu bilang aku ini nggak ada cantik-cantiknya. Aku ini gadis bar-bar dan tidak lembut sama sekali," jawab Rania sambil menggerak-gerakkan bola matanya.
Evan tersenyum nakal. Lantas, ia pun membelai wajah sang istri dengan tatapan matanya yang sendu.
"Itu memang terucap dari bibirku. Apa kamu percaya?" Evan balik bertanya.
"Emmm ya itu kan kamu sendiri yang bilang. Masih teringat dengan jelas, aku tidak akan pernah bisa lupa. Awwww kamu berat banget, Van!" jawab Rania sambil menahan berat badan sang suami yang sedang berada di atas tubuhnya.
Evan sedikit merenggangkan dadanya agar sang istri tidak terlalu sesak saat tubuh besarnya mendidih Rania.
"Pernah denger pepatah mengatakan lain di mulut lain di hati?" ucap Evan sambil membuka satu persatu kancing baju istrinya.
"Munafik dong?" sahut Rania sambil memegangi tangan suaminya yang sedang membuka kancing bajunya.
"Hmmm, apapun pendapatmu tapi nyatanya memang seperti itu. Di bibir, aku selalu bilang bahwa kamu jelek, kamu bar-bar, gadis yang pecicilan, tomboi. Tapi sebenarnya, aku sangat memujimu. Ada kekaguman dari dirimu yang tidak bisa aku jelaskan. Tapi sayangnya kamu tidak pernah merasakannya. Kamu tidak memperdulikanku!" ucap Evan yang akhirnya berhasil membuka seluruh kancing baju istrinya. Sehingga belahan dada Rania yang menantang menggoda Evan untuk menyelaminya.
"Salah sendiri kamu tidak ngomong. Jangan salahkan aku jika aku tidak peka. Karena aku menganggap semuanya teman meskipun kadang aku melihatmu sebagai cowok yang aneh dan lucu!" ucap Rania sambil tersenyum.
"Aneh! Kenapa bisa kamu berkata aku cowok yang aneh!" jawab Evan dengan tangan nakalnya yang mulai menyusup ke dalam cup bra sang istri.
"Iya, kamu tuh cowok kutu buku yang lucu dengan kacamata tebal. Pendiem banget dan susah diajak ngomong. Pokonya kamu tuh beda banget sama cowok yang lainnya dan ... emmmppttt Evan stop!"
Seketika Evan mengangkat wajahnya setelah ia berhasil membenamkan wajahnya di antara kedua pegunungan yang indah itu. Rania melihat wajah mesum suaminya yang berhasil mengeluarkan isi cup bra miliknya.
"Apa yang kamu lakukan?" sahut Rania sambil menutupi kedua pegunungan itu dengan tangannya.
"Aku cuma ingin menciumnya, apa tidak boleh? Karena aku sangat penasaran!" jawab Evan dengan tersenyum nakal.
"Jangan!" sahut Rania sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Geli!"
Mendengar jawaban dari sang istri, Evan pun semakin menggoda sang istri dengan melanjutkan aktivitasnya menjelajahi pegunungan Himalaya yang besar itu. Rania memejamkan matanya dan sesekali ia menggigit bibir bawahnya.
Sementara itu Evan memuaskan dirinya untuk berselancar di pegunungan yang tempo hari sudah pernah ia lihat di saat ia memergoki sang istri yang sedang berganti pakaian. Memang lebih besar dan lebih berisi dari milik Rina.
Rania pun mulai merasakan sesuatu yang mendesak-desak di bawah sana. Sesuatu yang belum Evan keluarkan karena pria itu masih sibuk naik turun gunung.
Rania terlihat kalang kabut Baru kali ini ia disentuh oleh lelaki. Sikap tomboi nya pun hilang saat Evan berhasil membuatnya terlena.
"Ya Allah, apa ini yang mengeras! Aku takut!" pikir Rania yang berusaha untuk menenangkan dirinya.
Sambil menikmati sensasi baru. Rania tak sengaja melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Ia pun teringat jika sang suami belum melaksanakan sholat isya. Dengan cepat Rania mengangkat kepala sang suami yang saat itu sedang asyik bermain di atas pegunungan miliknya.
"Berhenti dulu, Van!"
Evan terkejut saat istrinya meminta dirinya untuk berhenti.
"Ada apa? Apa kurang nikmat?"
"Evan, bukan itu?"
"Lalu?"
"Kamu pasti belum sholat isya, kan?"
Pertanyaan Rania sontak membuat Evan teringat jika dirinya memang belum sholat isya.
"Astaghfirullah haladzim! Bagaimana bisa aku lupa. Maafkan aku ya Allah!"
Seketika Evan beranjak dari tubuh sang istri dan ia terlihat sedang mengatur nafasnya untuk menenangkan dirinya sekaligus menenangkan miliknya yang sudah tegang.
"Ya sudah, kamu sholat dulu gih!" titah Rania sambil merapikan bajunya yang berantakan karena ulah sang suami.
"Kamu sudah sholat?" Evan balik bertanya.
"Ya sudah dong dari tadi!"
"Baiklah, aku tinggal sholat dulu. Kamu tunggu aku di sini! Setelah itu kita lanjutkan kembali!" ucap pria itu dengan tatapan matanya yang nakal.
Rania hanya bisa tersenyum malu-malu sambil memperhatikan suaminya yang pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba ia melihat sarung sang suami yang lupa dibawa.
"Sayang!" panggil Rania kepada Evan. Sontak, Evan langsung cengar-cengir saat Rania memanggilnya dengan panggilan sayang.
"Iya!"
"Sarung kamu!" Rania memberikan sarung sang suami dengan menghampiri Evan yang saat itu hampir saja masuk ke kamar mandi.
Evan langsung menerimanya dengan senang dan tidak lupa tangan jailnya tiba-tiba menepuk pantat sang istri.
"Awwww Evan! Dasar nakal!"
Evan tertawa lantas Rania segera mendorong suaminya untuk segera mengambil air wudhu.
"Udah cepetan buruan sholat!"
"Iya iya eh eh nanti setelah aku sholat tidak usah pakai celana dalaam ya! Langsung buka aja!" ucapan nakal Evan sebelum dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Rania tertawa kecil sambil menepuk jidatnya menghadapi sikap nakal suaminya.
Akhirnya, Evan mengambil air wudhu sebelum dirinya melaksanakan kewajibannya kepada sang Khaliq. Sebelum dirinya melaksanakan kewajibannya kepada sang istri.
Rania menunggu suaminya dengan duduk di atas ranjang tidur. Tak berselang lama, Rania melihat Evan yang sudah keluar dari kamar mandi dengan penampilannya yang sudah memakai sarung meskipun belum memakai baju.
Setelah itu, Evan mengambil baju koko yang sudah Rania persiapkan. Sesekali Evan melihat ke arah sang istri yang sedang memperhatikan dirinya. Evan tersenyum dan memberikan ciuman jauh untuk sang istri.
Rania pun langsung tertawa kecil melihat tingkah konyolnya Evan yang selalu saja membuatnya menggelengkan kepala.
Setelah memberikan ciuman jauh. Evan pun segera memasang peci dan melaksanakan sholat. Rania memperhatikan sang suami yang sedang sholat isya.
Rania tidak menyangka jika dirinya dan Evan menjadi seperti ini. Gadis itu senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana dulu mereka yang seperti anjing dan kucing. Tidak pernah akur sedikitpun. Ternyata itu semua Evan lakukan untuk menutupi perasaannya kepada dirinya.
Setelah beberapa saat, Evan pun selesai melaksanakan sholat isya. Setelahnya ia berdoa dan mengucap syukur karena akhirnya ia mendapatkan cinta dari wanita yang sangat diharapkannya. Setelah ia berdoa, pria itu pun sudah tidak sabar untuk segera menghampiri sang istri yang sudah menunggu dirinya di atas ranjang.
Evan membalikkan badannya dan menatap wajah sang istri yang saat itu sedang tersenyum kepadanya.
Evan mulai melepaskan baju kokonya sehingga nampaklah dada bidang pria itu yang membuat Rania menundukkan wajahnya karena malu.
Setelah itu, Evan berjalan mendekati ranjang asmara yang akan menjadi saksi bisu percintaan mereka yang indah di malam ini.
Evan yang masih memakai sarung. Ia beranjak naik ke atas ranjang dan mendekati istrinya dengan tatapannya yang mulai nakal.
Benar saja, Evan tidak ingin lama-lama untuk segera mempersatukan cinta mereka. Ia pun langsung memberikan ciuman di bibir Rania lebih ganas dari sebelumnya.
Rania tidak bisa menolaknya karena sang suami yang sudah berada pada ketegangan tinggi. Apapun yang Evan lakukan Rania tidak menepisnya. Sampai akhirnya Rania tidak sengaja menyentuh benda di dalam sarung sang suami yang terasa mengeras.
"Sayang, ini apa?" tanya Rania sambil melepaskan ciumannya.
"Kamu nanya ini apa! Sini aku jelaskan! Ini akan menjadi milikmu dan ini akan masuk ke dalam sini sebagai tanda kita adalah suami istri!"
Evan pun memberikan pengertian dengan menyentuh sesuatu yang paling berharga milik Rania. Namun, Evan terkejut ternyata sang istri masih belum melepaskan pelindung miliknya.
"Loh, kok belum dilepas!"
"Emm oh iya, aku lupa. Sebentar ya, aku lepas dulu di kamar mandi. Aku juga mau pipis! Kamu tunggu di sini!"
"Aku akan selalu menunggumu!" jawab Evan dengan bahagianya.
Rania pun turun dari tempat tidur lalu ia segera pergi ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Rania segera melepaskan celana dalaam miliknya. Setelah celana dalaam itu terlepas. Rania menghela nafas panjang karena malam ini Evan terpaksa harus menunda malam pertama mereka.
"Ya Allah. Kenapa datangnya harus sekarang! Hmmm maafkan aku suamiku! Sepertinya kita belum bisa melakukannya!"
Ternyata, detik itu juga Rania kedatangan tamu bulanannya. Ia pun terpaksa harus mengatakannya kepada sang suami jika mereka harus menundanya untuk beberapa hari.
Evan yang sudah cengar-cengir menunggu kedatangan sang istri. Pria itu pun sudah melonggarkan sedikit sarungnya. Supaya ia lebih mudah untuk bersarang di tempatnya.
Tak berselang lama, Rania keluar dengan sedikit menundukkan wajahnya. Evan pun sumringah karena apa yang dinanti-nanti akan tiba.
Rania berjalan mendekati tempat tidur mereka. Evan yang sudah tidak sabar, pria itu segera menarik tangan sang istri dengan cepat. Kini, Rania sudah berada dalam pelukannya dan Evan tidak akan pernah melepaskannya.
"Akhirnya, aku sudah tidak sabar lagi, Sayang. Ayolah!" bisik Evan yang sudah sangat menegang. Namun tiba-tiba, Rania menahan gairah Evan yang sudah berada di ubun-ubun.
"Sayang, aku mau bicara!"
Evan yang saat itu bersiap mengeluarkan senjata pamungkasnya, tiba-tiba terhenti karena permintaan sang istri.
"Ada apa?"
Terpaksa Rania harus mengatakannya meskipun ini akan membuat sang suami kecewa.
"Sepertinya, hari ini kita tidak bisa melakukannya. Aku datang bulan. Aku minta maaf!"
Seketika Evan lemas. Bukan cuma tubuhnya yang lemas. Tapi adik kesayangannya juga ikut lemas mendengar pengakuan dari sang istri.
"Jadi, hari ini kita gagal!"
"Aku minta maaf, aku janji deh. Setelah aku selesai masa suci aku pasti akan memberikannya kepadamu. Tapi untuk sekarang sepertinya kamu harus puasa dulu!"
Sontak, Evan jatuh terhempas di atas ranjang tidur sambil tidur dengan posisi tengkurap. Rania mendekati sang suami dan melihat wajah Evan yang dibenamkan pada kasur.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku sedang sibuk menidurkannya. Kamu tidurlah!" jawaban Evan terdengar begitu menyedihkan. Terpaksa dia harus menunda malam pengantinnya hanya karena ada tamu tak diundang.
Malam itu, Rania pun tidur dengan memperhatikan sang suami yang terlihat memelas.
Keesokan harinya. Baik Rania dan Evan terlihat malu-malu setelah kejadian semalam. Evan pun irit berbicara bukan karena mereka sedang bertengkar. Karena Evan sangat malu lantaran dirinya harus disapih untuk beberapa hari. Apalagi saat itu dia sudah sangat menggebu-gebu.
Begitu juga dengan Rania. Mereka berdua terlihat canggung meskipun semalam mereka sangat mesra. Apalagi Rania sudah tahu bagaimana bentuk dan ukurannya.
Namun, Rania tetap melayani suaminya dan menyiapkan baju dan sarapan. Rania juga mengikat dasi di leher sang suami.
Evan menatap wajah istrinya yang terlihat menundukkan wajahnya.
"Sayang sekali aku harus menunggunya lagi." ucap Evan yang mengarah pada kegagalannya semalam.
"Tidak apa-apa, ya bagaimana lagi sudah kodrat wanita." jawab Rania sambil tersenyum.
"Berapa lama aku harus menunggu?"
"Emmm paling lama 14 hari!"
"Apa! 14 hari??"
Evan melototkan matanya. Entah dirinya bisa kuat atau tidak menunggu 14 hari sang istri selesai masa haid.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuli Yuli
ya slse haid dpke lgsg JD deh Dede bayinya buat junior💪💪
2024-03-05
1
aisya_
itu haud apa nifas lama amadd😁😁😁😁
2024-01-04
1
Vellafeb
itu datang bulan apa nifas? lama bgt🤣
2023-12-28
1