"Ya udah Papa masuk gih ke kamar!" titah bocah itu lagi.
"Aduh, Papa nggak bisa, Nak. Papa beneran nggak bisa tidur di kamar. Lagipula mamamu pasti sudah tidur. Papa nggak mau ganggu dia. Kamu tidur lagi ya, besok harus sekolah!" seru Evan kepada sang anak. Junior pun akhirnya pergi ke kamarnya.
Evan tampak garuk-garuk kepalanya. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh putranya memang benar. Udara di ruang tengah sangat dingin karena penyejuk ruangan disetel cukup besar. Sehingga membuat Evan merasa kedinginan. Apalagi malam itu turun hujan yang sangat deras. Semakin menambah suhu ruangan semakin beku.
"Aduhhh dinginnya, hujannya gede banget lagi. Mana sih remote controlnya. Dari tadi nggak nemu-nemu!" Evan tampak sibuk mencari remote control untuk mematikan AC ruangan. Namun, sialnya ia tidak juga menemukan keberadaan remote tersebut.
Evan terpaksa tidur dengan posisi meringkuk karena kedinginan. "Nasib nasib! Hujan-hujan gini paling enak tidur di kamar di bawah selimut yang hangat. Tapi sekarang di kamar ada dia. Seharusnya aku tidur di kamarku. Malah aku tidur di sini, sial!" umpat pria itu sebelum dirinya tertidur.
Akhirnya, Evan tidur di ruangan tengah semalaman. Keesokan harinya, seperti biasa Rania bangun pada subuh hari. Ia melanjutkan dengan melaksanakan sholat subuh. Namun, kali ini Rania kepikiran tentang sang suami yang dari semalam belum kembali ke kamar.
"Evan tidur di mana? Apa dia pergi karena pertengkaran kami semalam?" pikir gadis itu setelah ia melaksanakan sholat sampai ia belum sempat melepaskan mukena yang dipakainya.
Rania bergegas untuk pergi ke luar kamar dan memastikan jika suaminya berada di rumah. Di pagi buta di mana orang-orang rumah belum ada yang beraktivitas. Benar saja, Rania mendapati suaminya tidur di sofa ruang tengah dengan keadaan meringkuk dan menggigil.
Rania curiga jika suaminya sedang kedinginan karena tubuh Evan terlihat gemetaran. Gadis itu menghampiri sang suami dan melihat wajah Evan yang terlihat pucat.
"Astaghfirullah, dia pucat sekali! Evan, bangun, Van!" seru Rania membangunkan suaminya. Evan pun akhirnya membuka kedua matanya pelan-pelan dan ia melihat keberadaan Rania yang masih memakai mukena berwarna putih.
Seketika pria itu melototkan matanya dan kaget melihat Rania yang dikiranya adalah sosok penampakan. "Haahh ... han ... hantu!!" Evan berteriak sekeras-kerasnya sehingga membuat Rania langsung menutup mulut sang suami dengan telapak tangannya.
"Ssssttt diam! Aku bukan hantu. Ini aku, Rania!" ucap gadis itu sambil membuka mukena yang menutupi tubuhnya.
Lantas, mengetahui jika itu adalah istrinya. Evan segera menyingkirkan tangan Rania dan berkata. "Aku kira setan. Yang bener aja dong, kalau keluar nggak usah dipakai tuh mukenanya. Untung saja aku tidak punya penyakit jantung. Kalau aku jantungan bisa-bisa kamu membunuhku saat ini juga!" umpat pria itu sambil menggigil.
Rania melihat wajah suaminya yang terlihat pucat. Ia tidak peduli dengan omelan sang suami. "Kamu sakit! Mukamu pucat banget loh! Kamu pasti masuk angin!"
"Iya, masuk angin lah. Gimana nggak masuk angin aku tidur di luar. Kamu enak-enakan tidur di dalam. Mana semalam hujan, AC nyala juga ... huekk!"
Akhirnya, Evan merasa perutnya sangat mual karena masuk angin dan meriang.
"Eh eh ya udah kamu ke kamar aja. Istirahat di sana. Biar aku buatkan teh hangat!" titah Rania.
"Terus, aku musti berjalan ke kamar sendiri!" sahut Evan tanpa menatap wajah istrinya.
"Ya iya, masa gitu aja nggak bisa jalan? Apa perlu dipapah, atau digendong? Evan Evan gitu aja manja banget!" seru Rania bercanda.
"Ya harus dipapah dong! Kalau aku tiba-tiba jatuh gimana? Bisa-bisa patah semua nih tulang!"
"Iya iya, sebenarnya aku tuh malas antar kamu karena aku tuh masih gedek, sumpah! Dah lah ayo cepetan, jangan lelet!" Akhirnya Rania pun terpaksa mengantar suaminya yang lemas untuk pergi ke kamar.
"Iya bentar, pelan-pelan dong ah! Jadi cewek kasar banget. Yang kalem gitu loh!" protes Evan sambil merangkul pundak sang istri.
Keduanya terlihat sangat dekat, sebenarnya Rania masih sangat canggung saat Evan merangkul pundaknya. Sesekali ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Evan agar pria itu tidak bisa menyentuh bagian sensitif dari tubuhnya.
Begitu juga dengan Evan. Ia juga masih kikuk lantaran ia dan Rania sebenarnya masih perang dingin.
Sesampai di dalam kamar. Rania mengantarkan sang suami ke tempat tidur. Karena tubuh Evan yang berat dan Rania tidak bisa mengimbanginya. Gadis itu tampak ikut terjatuh di atas tubuh sang suami.
"Awwww!"
"Ehhh!"
Lagi-lagi kedua mata mereka saling bertemu. Sejenak keduanya masih terdiam dengan posisi Rania di atas tubuh Evan. Tentu saja tubuh keduanya sangat dekat bahkan kedua dada Rania langsung terhimpit oleh dada Evan.
Evan memejamkan matanya sambil menelan ludahnya susah-susah. Lantaran rasa sesak di dadanya bukan karena tubuh Rania jatuh ke arahnya. Tapi ada sesuatu yang membuat dadanya begitu tertekan.
"Sepertinya hangat dan empuk!" ucap pria itu lirih. Sontak Rania tidak sengaja mendengar ucapan Evan baru saja. Gadis itu langsung beranjak dari tubuh sang suami dan menjauhkan dirinya dari sana.
"Apa kamu bilang? Nggak usah mesum ya! Awas saja!" seru Rania.
"Siapa yang mesum? Kamu aja yang ke GR an. Maksudku hangat dan empuk itu kasurnya. Tahu sendiri semalam aku tidak tidur di kamarku!" jawab Evan. Rania masa bodo dan beranjak pergi dari kamar.
"Ya sudah! Kamu tunggu di sini! Aku ambilkan minum!" Rania bergegas pergi ke dapur untuk membuatku teh hangat. Sementara itu Evan beranjak duduk sambil menghela nafasnya dan sesekali melihat ke arah pintu di mana baru saja Rania pergi.
"Lihat dia marah asyik juga!" Ada senyum smirk terlihat dari bibir pria itu. Lantas, ia pun pergi ke kamar mandi untuk melakukan sholat subuh yang belum ia kerjakan.
Tak berselang lama, Rania datang membawa secangkir teh hangat. Tanpa sengaja ia melihat suaminya yang sedang melaksanakan sholat subuh. Gadis itu tersenyum saat melihat Evan yang sedang mengerjakan sholat.
Di saat Rania hendak meninggalkan kamar. Tiba-tiba Evan memanggilnya. "Mau kemana kamu?"
Rania berhenti dan membalikkan badannya. "Aku mau ke dapur! Sudah aku buatkan teh hangat di atas meja. Kamu minum agar badanmu lebih hangat," jawab Rania.
"Kamu tidak boleh ke dapur. Kamu di sini saja!" sahut Evan sambil melepaskan bajunya dan hanya bertelanjang dada dan langsung menarik tangan sang istri.
"Eh eh kamu mau ngapain? Jangan macam-macam ya! Kamu mau memperkosaku, hah!" sahut Rania panik. Evan terus memegangi tangan istrinya yang memberontak untuk segera dilepaskan.
Evan mengajak sang istri untuk duduk di tempat tidur. Lantas, Evan pun mengambil minyak angin dan sebuah koin untuk diberikan kepada sang istri.
"Apa ini?" tanya Rania ketika melihat koin uang perak yang diberikan oleh sang suami.
"Itu koin dan minyak urut. Jika aku sedang masuk angin, mama biasanya kerokin aku. Sekarang kamu yang harus melakukannya. Gara-gara kamu aku jadi masuk angin, cepat lakukan!" titah Evan sambil duduk membelakangi Rania.
Mau tidak mau, Rania terpaksa mengikuti permintaan sang suami. Ia pun mulai mengerok punggungnya Evan dengan koin tersebut.
"Eh eh jangan keras-keras dong! Nanti bisa lecet nih punggungku!" rintih Evan sambil menggeliat kegelian.
"Udah diem!"
"Eh beneran ya, kamu tuh kasar banget sih jadi cewek. Nggak kayak Rina yang selalu kalem dan lembut sama aku!"
Mendengar Evan membanding-bandingkan dirinya dengan sang kakak. Tentu saja Rania menjadi bersedih. Gadis itu tiba-tiba berhenti dan meninggalkan Evan yang masih dalam keadaan bertelanjang dada.
"Hei, kamu mau kemana? Ini belum selesai!"
Rania tetap diam dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Evan lagi-lagi dibuat kesal dengan sikap Rania yang selalu membuatnya penasaran.
*
*
*
Perang dingin diantara Rania dan Evan pun terus berlanjut sampai beberapa hari. Evan masih tidur di luar dan Rania tetap tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada suaminya.
Sampai di suatu malam. Junior yang saat itu tidur sendirian. Tiba-tiba saja bocah itu terbangun dari tidurnya. Junior bermimpi buruk sehingga membuat sang bocah ketakutan.
"Papa ... Mama ... Juniors takut!" teriak bocah itu sambil pergi dari kamarnya. Ia berlari hendak pergi ke kamar Evan dan Rania. Namun, terlebih dahulu ia harus melewati ruang tengah di mana sang papa tengah beristirahat di sana.
Evan yang setiap malam susah tidur, ia melihat putranya yang berlari sambil menangis. "Junior, kamu kenapa Sayang?"
Evan menarik tangan sang anak dan segera memeluk putranya yang ketakutan.
"Junior mimpi buruk, Pa. Juniors takut!" jawab bocah polos itu.
"Oh Papa kira kamu kenapa, ya sudah. Nanti Papa temani kamu tidur, ya!" seru Evan menenangkan anaknya.
"Junior pingin bobo ditemani papa dan mama aja,"
"Eh sama Papa aja kan sama aja! Mamamu pasti sudah tidur," sahut Evan keberatan.
"Nggak mau, pokonya Junior mau tidur ditemani sama papa dan mama, titik! Junior panggil mama dulu!"
Bocah itu segera berlari ke kamar Rania. Sementara itu Evan tidak bisa mencegahnya lantaran Junior sudah berlari kencang.
"Jun ... Junior! Aduhhh!" pekik Evan sambil garuk-garuk kepalanya.
Tak berselang lama, Junior datang bersama sang mama menghampiri Evan.
"Eh Junior, ngapain ajak Papa kamu. Biar mama aja yang menemani tidur," ucap Rania saat Junior berhenti di samping sang ayah.
"Pokonya, Junior maunya bobo ditemani mama dan papa. Biar mimpi buruk itu nggak berani datang lagi!" sahut sang bocah yang tetap bersikukuh untuk ditemani oleh keduanya.
"Aduhhh, Junior. Kenapa harus pakai tidur sama papa kamu sih, Nak. Papa kamu nyebelin setengah mati!"
"Kenapa sih Junior ajak dia! Malah nggak bisa tidur kalau bareng tuh cewek. Pasti banyak tingkah dia!"
Keduanya sama-sama membatin. Demi tidak ingin membuat Junior bersedih. Terpaksa keduanya memenuhi permintaan sang bocah. Pada akhirnya, Evan dan Rania menemani Junior tidur di kamarnya.
"Yeeeyy, asyik ada mama dan papa di sini, Junior jadi nggak takut lagi!" ucap bocah itu saat ia berada di tengah di antara Evan dan Rania.
Sedangkan keduanya tampak kikuk karena baru kali ini setelah menjadi suami istri mereka tidur dalam satu ranjang.
"Ya sudah, Junior tidur ya, mama akan tetap di sini!" seru Rania sambil mencium kening sang bocah.
"Benar, Junior harus tidur. Nanti kalau mimpi buruknya datang lagi. Biar papa hilangkan dan Papa hajar tuh setan-setan pembawa mimpi buruk!" sambung Evan.
Pada akhirnya, Evan dan Rania pura-pura tidur agar Junior segera ikut tidur. Rencananya, setelah Junior tidur, baik Evan maupun Rania akan pergi dari kamar sang bocah dan tidur di tempat masing-masing seperti semula.
Namun, siapa sangka jika Evan dan Rania benar-benar tertidur bersama Junior. Keduanya terlihat sangat pulas dan seolah sangat nyaman.
Tiba-tiba saja di tengah malam. Junior merasa ingin sekali buang air kecil. Karena tidak ingin papa dan mamanya kerepotan maka Junior pergi sendiri ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Dengan sangat pelan, bocah kecil itu turun dari tempat tidur agar sang papa dan mamanya tidak terbangun.
"Aduhhh kebelet pipis!" pekik Junior sambil berlari kecil ke arah kamar mandi.
Pada akhirnya, tinggal Evan dan Rania yang berada di atas tempat tidur. Keduanya belum menyadari jika Junior tidak ada di tengah-tengah mereka.
Beberapa menit kemudian, Junior selesai dari kamar mandi. Bocah itu keluar dengan keadaan yang masih sangat mengantuk. Berkali-kali ia menguap dan berjalan dengan sempoyongan saking ngantuk nya. Sampai akhirnya, Junior berhenti di sebuah sofa yang dikiranya adalah kasur tempat tidurnya.
Bocah itu langsung tertidur di atas sofa tanpa sadar jika tempat tidurnya bukan itu. Sehingga Evan dan Rania hanya tidur berdua.
Siapa sangka, baik Evan dan Rania yang tidak sadar jika mereka tidur berdua saja. Reflek gerakan tubuh mereka membawa mereka dalam posisi yang saling berpelukan.
Evan melingkarkan tangannya pada pinggang Rania, begitu juga dengan Rania yang tidur seolah mencari kehangatan sehingga ia mendekati Evan dan menaikkan satu kakinya pada kaki sang suami.
Dalam semalaman mereka tidur dengan posisi yang begitu mesra. Bahkan, tanpa sadar tangan Rania berada di atas sebuah benda yang sangat sensitif milik suaminya. Sedangkan tangan Evan juga tanpa sadar menyusup ke dalam piyama sang istri.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
junior jadi pembatas menghilang ya udh bablas deh tangan pd bergerilya 😛
2025-03-06
1
Yuli Yuli
junioooooorrrrr🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-03-05
1
Bzaa
😆😆😉
2023-12-16
0