Setelah Junior selesai buang air kecil. Bocah itu segera keluar dari kamar mandi. Sang bocah terperangah karena ia keluar disuguhkan dengan pemandangan yang membuat Junior senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau bukan melihat mama dan papanya yang saling berpelukan.
"Cieee papa dan mama mesra sekali. Uhhhhh junior jadi iri deh! Kok aku nggak dipeluk juga!" ucapan sang bocah sontak membuat Evan dan Rania langsung membuka kedua matanya.
"Lah, aku lagi ngapain. PD banget aku nyium dia!"
"Dihhh! Najis tralala dicium cowok sombong kek dia!"
Dua-dua saling menggerutu sampai akhirnya Evan dan Rania mulai tersadar jika keduanya sudah terhanyut dalam suasana itu. Sontak, Rania langsung mendorong tubuh suaminya sehingga tubuh Evan sedikit terdorong sampai mentok ke dinding.
"Aduhhh!" pekik Evan sambil merasakan punggungnya yang sedikit sakit karena Rania cukup keras mendorongnya.
Junior langsung menghampiri sang papa dan membantu pria itu. "Papa nggak apa-apa? Mama jangan keras-keras dong sama papa, kasihan pasti punggungnya sakit!" ucap bocah itu sambil memeluk sang papa.
Rania pun terlihat salah tingkah. Gadis itu bingung harus berbuat apa, khawatir jika saja Junior menangis karena ulahnya. "Emm iya, mama minta maaf, Sayang! Mama tidak sengaja tadi. Iya kan, Pa!" Rania pura-pura ikut membantu Evan agar Junior tidak jadi bersedih.
Baginya bocah laki-laki itu adalah pengganti almarhumah Rina. Rina meninggalkan sesuatu yang sangat berharga bagi Rania yakni bocah kecil itu adalah Junior. Sehingga membuat Rania teramat sayang kepada Junior.
Evan pun juga mengikuti sandiwara sang istri dan berpura-pura baik-baik di depan putranya. "Mamamu benar, papa nggak apa-apa kok! Biasa lah, Papa dan Mama memang sering bercanda iya kan, Ma!" Evan berkata dengan membalas perlakuan Rania padanya dengan memukul pantat sang istri cukup keras.
Plaaaakkk!!!
"Sialan! Berani-beraninya dia pukul pantat aku. Dasar duda mesum!" umpat Rania spontan sambil melirik sinis pada wajah suaminya.
"Noh mampus! Itu akibatnya jika terlalu kasar denganku. Baru tahu kan tepok pantat ala-ala Evan!" gumam Evan sambil tersenyum smirk.
Rania langsung melototkan matanya dan menatap wajah Evan dengan sangat kesal. Namun, ia terpaksa harus merubah ekspresi wajahnya lantaran Junior masih saja memperhatikan mereka.
Rania yang tidak pernah puas jika tidak membalas perlakuan suaminya. Ia pun menangkup wajah Evan dengan jari-jemarinya yang siap mencubit rambut cambang pria itu.
Evan waspada dengan perlakuan manis Rania yang tiba-tiba. Bisa saja Rania tengah melakukan sesuatu untuk membalasnya.
"Papamu benar, Sayang! Kami memang sedang bercanda. Itu sudah biasa kami lakukan. Benar kan, Pa!!!"
Benar saja Rania langsung menarik rambut cambang sang suami sehingga membuat pria itu menjerit kesakitan. Namun, Evan yang sudah waspada dengan apa yang akan Rania lakukan. Tangannya langsung menarik pinggang sang istri dan menggelitiknya dengan jari-jari tangannya.
Sontak, Rania melepaskan cubitannya dan ia justru sibuk tertawa geli saat Evan menggelitik pinggangnya.
"Awwww, Evan! Lepaskan aku!" pekik gadis itu sembari menggeliat dan berusaha untuk lepas dari suaminya.
"Sebelum kamu bilang ampun. Aku tidak akan melepaskanmu!" seru Evan yang masih menggelitik pinggang sang istri.
"Enggak, aku nggak mau!" sahut Rania yang mulai kelelahan menghadapi Evan yang cukup kuat membalasnya.
"Dasar keras kepala! Sampai besok pun aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu minta maaf!"
"Bodo! Aku nggak bakalan mau!"
Junior yang sedang melihat tingkah keduanya. Bocah tampan itu hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. "Ya ampun mama dan papa kayak kucing dan tikus aja!"
Karena Rania merasa ia tidak akan bisa melepaskan diri dari cengkeraman sang suami. Rania pun tidak kehilangan akal dengan menendang kaki Evan. Namun sayang, tendangan kaki Rania meleset dan mengenai sesuatu yang paling berharga milik Evan.
"Aaarrrgggghhhh!"
Evan sontak melepaskan Rania dan ia langsung mendekap miliknya yang terkena tendangan bebas dari sang istri.
"Aduhhh telurku ceplos!" pekik pria itu sambil meringis kesakitan.
Junior melongo dan tidak mengerti maksud sang papa dengan telur ceplos.
"Telur apa yang ceplos, Pa? Telur ayam apa telur bebek? Terus ngapain Papa sembunyi in telur di situ?" sahut sang bocah yang langsung membuat Evan bingung untuk menjawabnya. Karena Junior bertanya sambil menunjuk pada arah di antara kedua pangkal pahanya.
"Eh telur ... itu telur ayam, iya telur ayam hehehe! Kalau telur bebek kebesaran!" jawab Evan dengan ekspresi wajah yang masih bingung. Sedangkan Rania antara bingung dan ingin sekali tertawa mendengar jawaban Evan atas pertanyaan anaknya.
"Telur ayam? Ngapain Papa naruh telur ayam di situ?" lagi-lagi pertanyaan Junior semakin membuat Evan pusing untuk menjawabnya.
Melihat Evan yang bingung dengan pertanyaan sang suami. Ia pun berusaha untuk mengalihkan pertanyaan Junior.
"Em Junior! Junior belum sholat subuh, kan? Bagaimana kalau kita sholat subuh berjamaah, bagaimana?" seru Rania.
"Waaahhhh asik, Ma. Junior mau sholat bareng papa dan mama. Ayo kita sholat!" bocah itu dengan semangatnya segera pergi untuk mengambil air wudhu dan tidak lagi bertanya kepada sang papa tentang telur ayam.
Akhirnya Evan bisa menghela nafasnya dengan lega. Ia tidak perlu lagi menjabarkan panjang lebar tentang telur ayamnya yang ceplos.
Rania menatap wajah sang suami yang sedang berusaha menenangkan dirinya karena rasa sakit yang baru saja menimpa telurnya.
"Sorry, aku nggak sengaja menendangnya. Kamu sendiri yang nggak mau ngelepasin aku. Ya udah! Jangan salahkan aku jika aku berontak dan lakukan itu padamu!" ucap Rania sebelum dirinya beranjak untuk mengambil air wudhu.
Evan menatap tajam kedua bola mata gadis itu. Wajah Rania memang sangat mirip sekali dengan almarhum Rina. Namun, Rania lebih memiliki tatapan mata yang tajam ketimbang kakak kembarnya. Bukan cuma itu saja, apapun yang dimiliki oleh Rania lebih besar daripada apa yang dimiliki oleh Rina. Sehingga membuat Evan semakin penasaran dengan mantan adik iparnya itu.
"Kenapa menatapku seperti itu? Jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta ya padaku, hah! Dah lah, kita sholat subuh dulu. Junior sudah menunggu kita!" sahut Rania dengan tertawa kecil sambil meninggalkan Evan yang masih terdiam di sana.
"Jatuh cinta!! Hhmm kamu baru berpikir itu sekarang!"
*
*
*
Akhirnya, mereka bertiga melaksanakan sholat subuh berjamaah. Tentu saja Junior sangat senang dan bocah itu terlihat khusyuk saat berdoa.
Rania melihat kesungguhan sang bocah saat berdiri dan tiba-tiba saja membuat Rania terharu.
"Ya Allah, tolong jangan pisahkan mama Rania dan papa Junior ya! Junior ingin selalu bersama mereka. Junior sudah iklhas dengan kepergian mama dan sekarang Junior tidak ingin kehilangan mereka berdua. Kabulkan doa Junior ya ya Allah. Aamiin!"
Baik Evan dan Rania mendengar doa dari bocah polos itu. Keduanya saling salah tingkah dan sesekali saling menatap.
Junior yang selesai berdoa. Bocah itu melihat wajah kedua orang tuanya yang tampak saling diam.
"Loh, papa dan mama kok diem-dieman lagi! Ayo cium tangan Papa, Ma!" titah bocah 5 tahun itu.
"Mencium tangan papa!" sahut Rania.
"Iya, Ma. Memangnya Mama harus mencium tangan Junior!"
Rania tertawa kecil mendengar ucapan konyol sang anak. Ia pun terpaksa harus mencium tangan sang suami demi tidak ingin membuat bocah itu bersedih.
Setelah Rania mencium tangan sang suami. Lantas, ia pun beranjak untuk pergi ke dapur melanjutkan aktivitasnya untuk memasak. Namun, tiba-tiba saja Junior meminta Rania untuk berhenti karena sang papa lupa memberikan ciuman di kening.
"Loh, Mama kok pergi! Papa kan belum mencium kening Mama. Ayo cium, Pa!" seru Junior yang lagi-lagi membuat keduanya bingung.
"Eh harus dicium ya keningnya! Tadi kan sudah dicium di bibir. Masa sekarang lagi!" protes Evan.
"Ya nggak apa-apa dong, Pa. Mencium Mama, Papa nggak bakalan dosa. Malahan dapat pahala. Papa ingin masuk surga tanpa ribet, kan! Ya udah Papa harus nyenengin Mama dulu. Dimulai dari hal terkecil yaitu mencium tangan atau kening!" ucapan Junior benar-benar seperti orang dewasa.
Evan tidak bisa berkata-kata. Terpaksa dirinya mencium kening istrinya di depan bocah itu. Tentu saja Junior sangat senang sekali melihat kedua orang tuanya yang selalu tampil mesra.
Rasa gugup mulai menyelimuti kembali perasan Rania ketika wajah Evan berada dekat sekali dengan dirinya. Evan pun mulai mencium kening Rania dengan kecupan lembut.
"Nah, gitu dong. Junior seneng banget lihatnya. Mama di surga juga pasti ikut bahagia. Nanti, Junior ingin selalu melihat mama dan papa selalu bersama. Papa harus mencium kening Mama setiap hari sebelum berangkat kerja!"
"Ta-tapi, Nak?" sahut Evan protes. Haruskah dirinya setiap hari mencium kening gadis itu.
"Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya mulai detik ini Junior ingin melihat Papa mencium mama sebelum berangkat kerja, titik!"
Sontak, ucapan Junior membuat Rania dan Evan kembali simalakama. Bocah kecil itu selalu saja membuat keduanya tidak bisa untuk tidak menolak.
Benar saja, Junior pun menerapkan perkataannya. Ia pasti menangis jika Evan tidak mencium kening Rania sebelum berangkat ke kantor.
Meskipun Evan berusaha untuk menghindarinya. Tetap saja Junior selalu bisa membuat sang papa harus mencium mamanya.
Peristiwa itu terjadi setiap hari dan jika Evan tetap tidak mau maka Junior dipastikan tidak akan mau berangkat ke sekolah.
Setiap kali Evan mencium kening sang istri. Rania tampak memejamkan matanya rapat-rapat. Begitu juga dengan Evan, ia pun hanya menyentuh sedikit ujung bibirnya dengan kening sang istri.
Meskipun begitu. Junior dan mama Rose sangat bahagia melihat pemandangan itu.
"Kamu memang hebat, Sayang. Lihat mereka! Oma berharap mereka bisa akur seperti itu ya!" seru mama Rose kepada Junior.
"Iya dong, Oma. Junior harus bisa membuat Mama senang di surga. Junior sayang mereka semua!"
*
*
*
Setelah beberapa hari mereka menikah. Baik Evan dan Rania masih saling bersikap dingin dan sering bertengkar urusan kecil. Namun, mereka akan berubah jika ada Junior di antara mereka.
Di kantor, Evan pun kadang senyum-senyum sendiri jika mengingat tingkah konyolnya yang selalu bertengkar dengan Rania. Padahal di kantor, ia terkenal dengan bos yang dingin dan sangat arogan. Bahkan, Evan kerap sekali salah dalam memeriksa dokumen yang ada di tangannya sehingga membuat sang sekretaris selalu mengingatkannya.
"Maaf, Pak Evan. Saya cuma mau mengatakan jika tanda tangan ini harus ada nama terang Anda. Tapi, kenapa ini ada nama Rania? Bukankah ini nama istri Anda?" seru sang sekretaris.
"Astaga! Dasar aku sinting! Bisa-bisanya aku tidak konsentrasi seperti ini! Kenapa aku jadi menulis nama wanita itu?"
"Iya iya, aku lupa, maaf!" jawab Evan dengan wajah malu. Sang sekretaris pun tersenyum dan berkata. "Sepertinya pak Evan sedang terngiang-ngiang nama istri tercinta. Sampai-sampai namanya tertera di bawah tanda tangan! Saya bisa maklumi, Pak. Karena bapak kan pengantin baru. Jadi, wajar saja itu terjadi!"
Wajah Evan terlihat memerah saat sang sekretaris berkata demikian. "Memangnya kenapa jika aku pengantin baru?" tanya Evan penasaran.
"Ya pengantin baru kan identik dengan manja-manjaan, sayang-sayangan. Duhh senangnya jadi pengantin baru. Saya doakan semoga pak Evan dan istri segera punya momongan dan memberikan adik untuk Junior!"
Mendengar ucapan sang sekretaris. Evan justru tertawa. "Kok Bapak malah ketawa? Apa saya salah?" seru sang sekretaris.
"Tidak, kamu tidak salah. Lagipula apa yang kamu bilang tidak seperti apa yang sebenarnya terjadi. Aku dan dia tidak pernah merasakan menjadi pengantin baru!"
"Maksud Bapak!"
"Iya, seperti yang kamu dengar. Aku dan istriku biasa-biasa saja! Jadi, darimana kami bisa memiliki momongan!" ungkap Evan sambil tertawa.
"Maksud pak Evan. Anda dan istri Anda belum pernah cup cup gitu!" seru sang sekretari yang terkejut.
"Hmm kamu benar! Aku tidak pernah mencintai istriku. Lagipula aku belum bisa menerima dia sepenuhnya untuk menggantikan almarhumah Rina. Itu sangat sulit!"
"Ya ampun pak Evan. Jangan bicara seperti itu, Pak. Nanti bapak menyesal loh! Istri Anda sekarang itu kan adik kandung almarhumah istri pertama Anda. Pasti mereka berdua memiliki banyak kesamaan, secara wajah mereka pasti sangat mirip. Belum lagi lain-lainnya. Pasti hampir sama lah!" ungkap sang sekretaris.
"Enggak juga! Meskipun mereka kembar. Tapi ada perbedaan yang sangat mencolok. Istri pertamaku sangat feminim dan istri keduaku sifatnya kayak cowok. Kalau sedang dandan mode cowok, aku kalah keren. Tapi, ada perbedaan yang sangat-sangat mencolok dari mereka berdua. Istri pertamaku cukup kecil padahal dia cewe feminim. Tapi istriku yang sekarang, meskipun tomboi tapi lebih dan sangat besar dari istri pertamaku!" ungkap Evan.
"Maksud pak Evan apanya yang kecil dan besar? Badannya!" sahut sang sekretaris yang penasaran.
"Bukan, tapi ukuran dadanya!"
"What!! Dadanya kata Bapak. Itu artinya Anda sudah melihatnya iya kan, Pak! Tapi herannya pak Evan kok kuat sih menahannya!"
Evan yang keceplosan. Pria itu tampak salah tingkah dan langsung menyuruh sang sekretaris pergi.
"Hah sudah-sudah! Kamu boleh pergi. Aku mau sendiri!"
"I-iya Pak. Maaf, saya permisi dulu! Saya doakan semoga segera unboxing ya, Pak!" ucap sekretaris Evan sebelum wanita itu pergi dari ruangan Evan.
Setelah sang sekretaris pergi. Evan menyandarkan punggungnya pada kursi sambil memejamkan matanya dan terlihat senyum terukir dari bibir pria itu tentang obrolannya dengan sang sekretaris mengenai Rania.
*
*
*
Sedangkan di rumah. Rania yang saat itu sedang makan Snack, tiba-tiba saja bibirnya tergigit sendiri dan berdarah.
"Aduhhh! Bisa-bisanya bibirku tergigit. Kata orang tua dulu. Pasti ada yang sedang membicarakan aku. Hmmm siapa ya! Berani sekali dia mengghibah aku!" umpat Rania sambil berkaca melihat bibirnya yang terluka karena ulahnya sendiri.
Tiba-tiba saja Junior datang dan pulang sekolah lebih awal. Tentu saja Rania sangat terkejut lantaran Junior belum waktunya untuk pulang.
"Junior, kamu sudah pulang, Nak!" Rania menghampiri putra sambungnya dan mengajaknya untuk duduk.
"Sudah, Ma!" jawab bocah itu lesu.
"Loh, Junior kenapa kok lemes! Junior lapar ya! Mama ambilkan makan, ya!" tawar Rania yang melihat Junior yang kurang semangat. Tidak seperti biasanya bocah itu terlihat aktif dan lincah.
"Nggak mau, Ma. Junior sedih aja!" jawabnya sambil tiduran di pangkuan Rania.
Rania membelai rambut sang bocah sambil bertanya apa sebenarnya terjadi.
"Eh tumbenan sih Junior kek gini! Ada apa, Sayang! Cerita dong sama mama!" Rania terus mendesak Junior untuk berkata jujur.
Sontak, bocah itu menangis sambil berkata kepada Rania. "Tadi di sekolah temen-temen Junior ngata-ngatain Junior, Ma. Junior sedih banget huhuhu!"
"Eh siapa yang berani ngata-ngatain Junior? Bilang sama Mama. Nanti Mama bilangin ke mamanya! Memangnya mereka bilang apa sama Junior?" seru Rania.
"Mereka bilang, Junior tuh payah karena nggak punya adek. Semua teman-teman Junior selalu menceritakan tentang adik mereka. Junior malu, Ma!" Tangisan bocah laki-laki itu sangatlah membuat Rania bersedih.
"Cup cup sayang. Junior nggak boleh nangis dong! Anak cowok nggak boleh nangis!" seru Rania sambil mengusap air mata sang bocah.
Tiba-tiba saja keluar dari mulut Junior sebuah permintaan yang membuat Rania kembali dirundung dilema.
"Ma!"
"Iya, Sayang!"
"Mama sayang aku, nggak?"
"Ya sayang dong! Junior adalah anak kesayangan mama!"
"Kalau begitu, Junior minta satu hal dari mama boleh, nggak!"
"Junior minta apapun pasti mama berikan. Memangnya kamu minta apa sih? Mau ice cream? Jalan-jalan ke luar negeri? Atau berlibur ke Bali? Ngomong aja! Nanti Mama pasti bilang sama papa Junior!"
"Bukan itu, Ma!"
"Lalu apa dong!"
"Junior minta dibuatkan adek, Ma. Biar sama kayak teman-teman. Biar Junior tidak diledekin terus!"
"Hah! Minta dibuatkan adek??"
Seketika Rania lemas dan bingung harus menjawab apa. Sedangkan dirinya tidak mungkin bisa untuk memiliki anak dari pria yang selama ini menjadi musuhnya.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Mariana Frutty
✖️
2024-06-10
0
Yuli Yuli
ya Evan kceplosan x, tu ada pr LG buat Rania SM Evan junior mnta adik🥰🥰
2024-03-05
2
Vellafeb
katanya bos dingin dan arogan tp kok gk sinkron sm mulutnya yg lemes bgt nyeritain rumah tgganya
2023-12-28
3