Di saat Rania sudah naik ke punggung sang suami. Ia pun menyempatkan untuk berbisik seolah tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya. "Jangan berpikir macam-macam! Awas saja kalau kamu coba-coba mesum!"
Evan pun membalasnya sambil berjalan perlahan menuju ke kamar mereka yang ada di lantai dua. "Siapa coba yang mesum! Kamu pikir aku suka seperti ini. Kalau bukan karena Junior yang maksa, aku ogah gendong kamu. Mending aku seret. Mana berat banget lagi!" jawab pria itu dengan nada cuek.
Rania berusaha merenggangkan dadanya agak sedikit menjauh dari punggung suaminya. Namun, ia tidak bisa mengendalikan keseimbangannya sehingga terpaksa Rania berpegang pada leher sang suami dengan sangat kuat.
Sontak, apa yang dilakukan oleh Rania membuat leher Evan terasa seperti dicekik. "Ehhhh ... lepasin tanganmu! Kamu mau membunuhku!" pekik Evan dengan kepala yang memerah. Seketika Rania mulai sedikit melepaskan tangannya dari leher sang suami.
"Ma-maaf!" ucapnya gugup.
"Maaf maaf! Pegangan yang bener dong, tapi nggak usah mencekik leher segala! Kamu sengaja ya!" sahut Evan kesal.
"Ihh aku kan udah minta maaf!" sahut Rania yang tidak dipedulikan oleh sang suami.
Akhirnya, Rania tidak punya pilihan lain lagi selain menempelkan dadanya pada punggung sang suami. Sehingga tangannya tidak terlalu susah untuk berpegangan. Sementara itu di lantai bawah, Junior senyum-senyum sendiri melihat sang papa dan mama barunya pergi ke kamar.
Mama Rose yang sudah membawakan obat untuk Rania, ia mendekati sang cucu dan bertanya kepada bocah lucu itu. "Junior kamu kenapa, Sayang! Mana mamamu?"
"Oma, coba lihat itu!" seru bocah itu sambil menunjuk ke arah Evan yang sedang menggendong istrinya. Mama Rose ikut tertawa melihat pemandangan itu.
"Ya ampun itu kok gendong di punggung gitu sih, Seharusnya digendong di depan lah, aduh papamu payah! Eh tapi kok bisa papamu mau gendong mama Rania?" tanya sang Oma yang saat itu sedang membawakan obat untuk sang menantu.
"Ya mau lah Oma. Junior yang paksa!" ucap bocah itu sambil tersenyum.
Sang Oma memeluk cucunya dengan senang. "Hmm kamu cucu Oma yang pinter banget, kalau bisa bikin mereka bersama setiap hari. Biar nggak bertengkar mulu. Kamu tahu sendiri dari dulu papa kamu dan mama Rania nggak pernah akur iya, kan!"
"Iya dong, Oma. Sekarang mama Rania adalah mamanya Junior. Mama di surga pasti senang jika Junior bisa mempersatukan mereka. Doakan Junior ya, Oma. Biar nanti Junior bisa ketemu sama mama lagi di surga dan bilang sama mama bahwa Junior bahagia dan papa juga bahagia, semuanya bahagia!"
Ucapan sang cucu seketika membuat mama Rose terharu. Wanita itu memeluk sang cucu penuh kasih, "Tentu saja, Sayang. Oma pasti berdoa untuk semuanya agar bisa bertemu lagi dengan mamamu di surga. Junior jadi anak yang baik ya, jangan lupa sholat dan hafalan Al-Qur'an nya jangan sampai lupa!"
"Tentu saja, Oma. Junior tidak akan lupa. Mama Rania selalu menyimak hafalan Junior kok. Jika Junior nggak setor hafalan, pasti mama Rania marah!" ucap bocah lugu itu.
"MasyaAllah, Rania memang pengganti yang tepat untuk menantuku Rina. Dia memang gadis yang tomboi. Tapi, dia sangat rajin beribadah. Ya Allah, semoga kelak Evan segera menyadari jika ia telah mendapatkan istri yang baik dan Solehah pengganti almarhum Rina. Terima kasih banyak Rina, semoga keikhlasanmu ini membawamu ke surga Nya," ucap mama Rose yang tidak bisa menahan air mata bahagianya.
*
*
*
Sementara itu di dalam kamar. Evan yang sudah sampai di kamarnya. Pria itu segera menurunkan tubuh istrinya cukup kasar. Sehingga membuat Rania sedikit terjatuh di atas lantai.
"Aduh! Hati-hati dong! Kasar banget sih!" pekik Rania yang akhirnya mampu mengimbangi tubuhnya agar tidak sampai terjatuh.
Evan dengan sikap datarnya. Pria itu tidak peduli dan langsung pergi meninggalkan sang istri untuk ke kamar mandi. Rania melihat kepergian sang suami yang tanpa basa-basi.
"Huh! Dasar kulkas!" umpat gadis itu sembari berjalan menuju ke tempat tidur. Ia duduk dengan perlahan sambil menahan rasa sakit di kakinya.
Tak berselang lama, sang ibu mertua mengetuk pintu untuk memberikan obat untuk luka lecet di kaki Rania. Rania mempersilakan sang ibu mertua untuk masuk.
Mama Rose melihat menantunya yang sedang duduk sambil memijit kakinya. "Rania, bagaimana keadaanmu?" tanya mama Rose sambil mendekati sang menantu.
"Mama, Rani baik-baik saja kok, Ma. Cuma sedikit lecet! Nanti juga sembuh sendiri," ucap gadis itu. Mama Rose melihat kaki menantunya dengan prihatinnya.
"Ya ampun, meskipun begitu. Harus tetap diobati. Ini mama bawain salep kulit untuk mengeringkan lukanya. Sini, biar mama oleskan!"
"Tidak usah, Ma. Biar nanti Rani obati sendiri!" tolak Rani yang tidak enak karena sang ibu mertua yang harus mengoles salep itu di kakinya.
"Sudah, tidak apa-apa!" sahut mama Rose sambil berjongkok dan mengoleskan salep pada kaki Rania. Gadis itu merasa tidak nyaman karena ia masih merasa sungkan kepada mertuanya.
Tak berselang lama, Evan keluar dari kamar mandi dan melihat sang mama ada di kamarnya sedang mengobati luka di kaki Rania. Pria itu seakan tak perduli dan langsung menuju ke lemari bajunya. Rania pun hanya melihat sekilas sang suami yang keluar dari kamar mandi yang hanya memakai handuk yang dililitkan pada pinggangnya. Tentu saja bentuk tubuh Evan terlihat begitu nyata di depan Rania.
"Ya ampun, nih orang! Bisa-bisanya pamer aurat di depanku! Dikiranya aku tertarik apa, dihhh!" batin Rania yang langsung memalingkan wajahnya dari pandangannya ke sang suami. Begitu juga dengan Evan yang sekilas melirik ke arah sang istri. Seolah mereka sedang curi-curi pandang.
"Ck! Ngapain juga mama obati kakinya. Manja banget jadi cewek!" Evan pun membatin sembari melirik kearah Rania. Namun, tiba-tiba saja kaki Evan terpeleset karena ia tidak mengeringkan kakinya dengan benar. Sehingga sisa air yang masih membasahi kakinya membuat lantai menjadi licin dan ia pun akhirnya terpeleset.
"Aduhhh!" pekik Evan yang hampir terjatuh namun ia masih bisa berpegang pada dinding. Sontak Rania tertawa melihat suaminya terpeleset sehingga membuat lilitan handuknya sedikit melorot tapi tidak sampai terlepas dari tubuhnya.
Sementara itu sang mama terkejut dan langsung melihat Evan yang sedang terpeleset. "Ya Allah, Evan. Hati-hati dong!" seru sang mama sambil menggelengkan kepalanya.
Evan yang kepalang malu. Ia pun berusaha tetap bersikap cuek di depan Rania agar nampak terkesan dingin. "Oh, Evan nggak apa-apa kok, Ma. Biasa cuma terpeleset!" jawab pria itu sambil membenarkan handuknya kembali dengan ekspresi datar.
Mama Rose melihat kebiasaan putranya yang jarang sekali keset sehabis dari kamar mandi sehingga hal seperti itu sang mama tidak heran lagi. "Kamu juga sih! Dari dulu sampai sekarang masih aja kebiasaan nggak keset dulu habis mandi!" ucap mama Rose.
Sementara itu Rania masih menahan rasa ingin tertawanya saat melihat akrobat yang baru saja dilakukan Evan cukup membuatnya geli dan tertawa. Evan melihat wajah Rania yang sepertinya tengah menertawakan dirinya. "Sialan! Pasti dia sedang ngetawain aku!" umpat Evan yang langsung pergi begitu saja mengambil pakaiannya dari dalam lemari.
"Kamu tahu, Ran. Anak mama satu ini dari dulu punya kebiasaan nggak pernah keset. Jadi, nanti kamu jangan kaget ya dengan kebiasaannya itu!" ucap mama Rose mengingatkan. Rania hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, sepertinya lukamu sudah beres. Kalau begitu mama keluar dulu ya, kamu istirahat saja!" ucap mama Rose pamit. Namun, sebelum ia pamit mama Rose melihat putranya yang sedang mencari-cari baju sambil garuk-garuk kepalanya.
"Evan! Kamu sedang ngapain di situ?"
"Evan mau cari kemeja kantor. Tapi Evan bingung pakai yang mana!" jawab pria itu.
"Kemeja kantor? Memangnya kamu mau ke kantor? Hari ini kamu baru saja nikah loh. Masa langsung ke kantor sih!" ucap mama Rose.
"Tadi ada telepon dari pak Nolan, Evan disuruh ke kantor sebentar ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan. Ada klien dari Saudi Arabia ingin ketemu. Tapi Evan bingung harus pakai baju apa yang cocok. Acaranya nggak terlalu resmi sih, Ma. Cuma undangan makan malam biasa, pakai apa ya kira-kira?" ucap pria itu sambil berpikir.
Di saat yang bersamaan, papa Raymond memanggil mama Rose. Terpaksa, mama Rose harus meninggalkan kamar putranya.
"Mama pergi dulu, sepertinya papa cariin mama. Ya udah kamu minta tolong Rania saja untuk pilihkan baju! Dah mama pergi!"
Akhirnya, mama Rose keluar dari kamar pasangan pengantin baru itu. Evan yang masih bingung dengan baju yang akan dipakainya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Rania yang diam-diam berdiri belakangnya.
Evan yang belum sadar jika sang istri tengah berdiri di belakangnya. Pria itu membalikkan badannya tiba-tiba sehingga tanpa sengaja menabrak Rania hingga akhirnya mereka terjatuh di atas ranjang tidur.
"Awwww!" pekik Rania saat Evan berada di atas tubuhnya. Seketika mereka berdua saling menatap untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Rania berteriak. "Ngapain kamu woi! Kamu mau mesum ya!"
Sontak Evan tersadar dan langsung beranjak berdiri dan menjauhi istrinya. Tanpa berkata apa-apa, Evan pergi begitu saja dengan salah tingkah. Rania bangun dan melihat sang suami yang masuk kembali ke kamar mandi.
"Sial! Ngapain juga pakai jatuh segala lagi!" umpat Evan saat dirinya kembali masuk ke kamar mandi. Evan kembali mencuci muka sembari menenangkan dirinya.
Sementara itu, Rania menghela nafas panjang. Gadis itu bergegas bangun dan mengambilkan baju untuk suaminya. Setelah ia memilihkan dan menyiapkan baju yang cocok untuk acara makan malam Evan dan kliennya. Ia pun bergegas menuju ke kamar ganti untuk melepaskan baju pengantin yang masih menempel pada tubuhnya.
Rania masuk ke ruangan ganti dan berharap Evan tidak melihatnya saat berganti pakaian. Ia melepaskan satu persatu perintilan aksesoris pengantin yang ada di kepalanya, setelah itu ia melepaskan gaun pengantinnya dengan sangat pelan tanpa terkecuali. Di saat yang bersamaan, Evan keluar dari kamar mandi dan ia tidak melihat keberadaan sang istri di sana. Ia berpikir jika Rania sedang keluar dari kamarnya.
"Kemana tuh cewek! Pasti dia sedang keluar. Eh dia sudah pilihkan baju rupanya. Hmm kayaknya lumayan cocok, ganti dulu!" pikir Evan sambil menuju ke ruang ganti.
Dengan santainya Evan masuk ke dalam sana hingga akhirnya. "Huwaaaaa!!" suara teriakan Rania yang tiba-tiba menggelegar saat Evan masuk ke sana.
"Shiiit! Besar dan ... bersih!" gumam pria itu yang terkejut melihat pemandangan yang tiba-tiba ia lihat di depan mata.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
lucu jugaberdua sama2 gengsi tapi butuh 😘
2025-03-06
1
Fi Fin
pasangan gokil nih Rania sama Evan 😅😅
2024-04-27
1
Nuryati Yati
wow apanya yg besar dan bersih 🤔
2023-12-27
1