Evan tertawa smirk lalu berkata kepada istrinya dengan sinis. "Kamu pikir aku bakal mau memperkosa kamu? Nggak usah tinggi-tinggi mimpinya. Entar jatuh baru tahu rasa. Lagipula apa yang menarik dari seorang gadis seperti kamu. Hanya pria bodoh yang mau mendekatimu!"
Rania terlihat santai menanggapi ucapan sang suami. Ia pun tidak mau ambil pusing dengan meladeni ucapan Evan yang baginya hanya sebuah angin lalu.
"Pria bodoh! Ya, mungkin kamu benar. Untung saja selama ini tidak ada pria bodoh yang mendekatiku. Aku hanya berteman saja dengan mereka, bahkan berpacaran pun tidak pernah. Tapi, bukankah sekarang pria bodoh itu sudah aku temukan dan herannya dia membanggakan dirinya sendiri dengan menyebut dirinya bodoh!" ucap Rania menyindir sang suami.
"Apa maksudmu!" Evan tampak serius menatap wajah istrinya.
"Kenapa bertanya? Bukankan kamu sendiri yang bodoh! Mau-maunya kamu berada di sini bersamaku? Apalagi kamu mau menikahiku," jawab Rania sambil beranjak tidur.
"Heh, itu beda lagi. Aku menikah karena wasiat itu. Bukan karena kamu. Tidak usah terlalu manis jadi cewek. Sampai kapanpun kamu itu bukan siapa-siapa aku. Istriku cuma Rina, hanya dia yang aku cintai. Jadi, tidak akan pernah ada rasa untuk cewek macam kamu!" ucapan Evan seketika membuat Rania menjadi marah. Gadis itu berdiri di depan suaminya dengan menatapnya nanar.
"Ya aku pun sama, aku menikah karena wasiat itu. Demi janjiku kepada mbak Rina, aku harus mengorbankan masa gadisku untuk menjadi istri seorang pria yang sangat menyebalkan. Aku harus mengorbankan segalanya, kesenanganku, kebebasanku hanya untuk bersama seorang pria seperti kamu!" balas Rania dengan menunjuk wajah suaminya dengan tajam.
Mendengar jawaban dari istrinya. Evan menyunggingkan senyumnya. Lantas, pria itu semakin mendekati sang istri dan Rania menjadi gugup. Gadis itu berjalan mundur saat Evan terus melangkahkan kakinya dengan menyingsingkan lengan kemejanya.
Tak terasa, Rania bersandar pada dinding kamar dan tidak bisa kemana-mana lagi. Sedangkan Evan semakin mendekati gadis itu dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding di sisi tubuh istrinya.
"Apa kamu bilang! Kamu mengorbankan kesenanganmu, kebebasanmu, kegadisanmu hanya untukku? Aku tidak meminta itu semua darimu. Jika kamu mau kamu masih bebas pergi dengan teman-temanmu itu. Kamu bebas pergi kemanapun yang kamu suka. Aku tidak peduli. Percuma saja aku menasehatimu, karena kamu adalah gadis yang liar. Seorang perempuan seharusnya bergaul dengan sesama perempuan, bukan dengan laki-laki. Dari dulu kamu tetap liar tidak berubah sama sekali. Gadis liar tetaplah liar!" ucapan Evan cukup membuat Rania geram.
"Tutup mulutmu! Hati-hati dengan bicaramu, Evan! Tidak usah sok tahu tentang kehidupan pribadiku! Aku memang sering bergaul dengan teman laki-laki. Tapi aku tetap menjaga batasanku dalam bergaul dengan mereka," sahut Rania dengan nada yang mulai emosi.
Evan semakin tertawa mengejek. Pria itu justru mengatakan sesuatu yang membuat Rania lebih marah lagi. "Bullshiit! Omong kosong, kamu pikir aku percaya? Sayangnya aku tidak pernah percaya. Bisa jadi kamu sudah berbuat macam-macam dengan mereka, atau jangan-jangan kamu sudah tidak gadis lagi ...."
Seketika sebuah tamparan melayang dari tangan Rania ke wajah Evan. Pria itu sampai memalingkan wajahnya karena tamparan Rania sangat keras mengenai wajahnya.
"Cukup! Aku sudah muak dengan ucapanmu! Ternyata, selama ini pria yang sangat dicintai oleh mbak Rina adalah laki-laki yang bermulut tajam dan ngawur. Semudah itu kamu memfitnahku, minggir!"
Rania mendorong tubuh suaminya dengan keras. Sehingga membuat tubuh pria itu sedikit terdorong. Rania saat itu benar-benar tengah merajuk.
Gadis itu langsung tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia tidak lagi memperdulikan Evan. Sesak rasanya difitnah tak perawan lagi oleh pria yang kini menjadi suaminya.
Setelah kejadian itu, Evan menjadi tidak tenang. Ia duduk di sebuah sofa yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur. Terdengar Rania yang sedang menangis lirih. Gadis itu sangat tersinggung dengan tuduhan Evan kepadanya.
"Dia menangis?" pikir Evan saat mendengar rintihan suara Rania.
"Apa kata-kataku sudah keterlaluan? Tapi itu sesuai dengan pergaulannya, dia selalu pergi dengan gengnya Ryan. Bahkan saat sekolah dulu mereka selalu pergi bersama. Apa aku salah jika berkata seperti itu?"
Semalam suntuk Evan berada di sofa dan Rania di atas tempat tidur. Tak ada kata-kata di antara mereka. Rania yang terlanjur kecewa dan Evan yang gengsi untuk minta maaf. Sampai akhirnya mereka ketiduran.
*
*
*
Keesokan harinya, baik Rania dan Evan sama-sama terbangun di pagi yang masih subuh. Tidak ada kata selamat pagi atau sekedar menyapa. Kedua mata Rania terlihat sembap karena menangis semalam.
Evan yang hendak ke kamar mandi. Ia menyempatkan diri untuk berkata kepada sang istri. "Aku ambil air wudhu dulu, setelah itu kita sholat berjamaah," ucapnya tanpa menatap wajah Rania.
Gadis itu terdiam. Meskipun ia tidak menjawabnya, setidaknya Rania cukup senang karena Evan mengajaknya untuk sholat berjamaah. Ada kekaguman dari diri Rania kepada mantan kakak iparnya itu. Meskipun Evan di mata Rania adalah pria yang menyebalkan. Namun, Rania kagum karena Evan selalu melaksanakan ibadahnya dengan baik.
"Sebenarnya dia cowok yang taat. Cuma ya itu, selalu saja bikin kesel!" umpat Rania.
Tak berselang lama, Evan keluar dari kamar mandi dan Rania sudah menyiapkan perlengkapan untuk sholat berjamaah. Lagi-lagi, mereka tidak saling menatap dan Rania segera masuk ke kamar mandi sesaat sang suami keluar dari sana.
Sejenak, Evan melirik ke belakang dan melihat wajah istrinya sekilas. Keduanya saling menatap hingga akhirnya Rania langsung memalingkan wajahnya saat Evan menatap dirinya.
Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir keduanya. Mereka tetap melakukan sholat berjamaah untuk kali pertama. Meskipun sedikit canggung keduanya tetap melaksanakan perintah sholat dengan tertib.
Setelah itu, Evan pun melanjutkan kegiatannya pergi ke kantor. Sementara itu Rania berada di rumah sambil mengantarkan anak sambungnya ke sekolah.
Dilanjutkan dengan rencana hari ini. Yakni mengantar Evan ke dokter. Sore pun tiba, Junior mengajak Rania untuk mengantarkan sang papa ke dokter. Meskipun ia masih sangat kesal kepada suaminya. Demi tidak ingin membuat bocah itu bersedih. Rania tetap menuruti permintaan sang anak.
Tentu saja Junior sangat bahagia bisa pergi bersama dengan keluarga barunya meskipun hanya sekedar pergi ke dokter. Selama dalam perjalanan, Evan dan Rania sama-sama diam. Sehingga membuat bocah itu memperhatikan keduanya dengan aneh.
"Papa dan mama kenapa? Kok diem aja!" ucap Junior dengan polosnya.
Rania tersenyum dan berkata. "Enggak ada apa-apa kok, mama hanya ngantuk saja," jawab Rania basa-basi.
"Ngantuk? Oh iya Junior mengerti sekarang. Pasti semalam papa sama mama nggak bisa bobo iya, kan?" sahut Junior yang seketika membuat keduanya menoleh ke arah sang bocah.
"Memangnya Junior tahu kalau papa nggak bisa bobo?" sahut Evan penasaran dengan ucapan anaknya.
"Ya tahulah. Pasti mama khawatir dengan kepala papa yang masih benjol, makanya nggak bisa bobo dan sekarang ngantuk. Sama juga dengan papa, Junior yakin pasti papa juga nggak bisa bobo karena kepalanya masih nyut-nyutan, kan!"
Ucapan lugu bocah itu seketika membuat Evan dan Rania tertawa kecil. Ada-ada saja ulah Junior agar bisa membuat kedua orang tuanya tertawa.
"Tuh kan, malah diketawain!"
"Siapa sih yang ngetawain anak papa yang ganteng ini!" ucap Evan yang mulai memeluk putranya.
"Kamu lucu banget sih, Sayang!" begitu juga dengan Rania yang ikut memuji Junior sambil memeluknya juga.
Akhirnya, baik Evan dan Rania sama-sama memeluk sang bocah. Sehingga membuat keduanya terkejut dan saling menatap. Junior terlihat sangat senang karena bisa membuat sang papa dan mama Rania semakin dekat.
*
*
*
Sesampainya di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Rania mengantarkan Junior ke kamarnya. Namun, sebelum itu, Rania meminta putra sambungnya untuk setor hafalan Al-Qur'an kepadanya. Di balik itu, Evan tersenyum dan bahagia meskipun dirinya sedang tidak akur dengan Rania. Karena Rania sangat telaten mengasuh putranya dengan menyemangati Junior agar bisa meraih cita-citanya untuk menjadi hafidz.
Mama Rose melihat putranya yang sedang duduk ruangan tengah sambil memeriksa pekerjaan kantor. "Bagaimana, Van! Apa kata dokter?" tanya sang mama tentang benjolan di kepala Evan.
"Tidak apa-apa, Ma. Ini cuma benturan biasa."
"Oh ya sudah mama lega. Oh ya, di mana Rania? Dari tadi mama belum melihatnya?"
"Dia sedang di kamar Junior." jawab Evan yang masih fokus pada laptop di depannya.
"Oh, pasti Rania sedang menyimak hafalan Junior. Gadis itu memang pintar. Di balik sifatnya yang tomboi tapi Rania pinter loh ngajinya. Kamu beruntung memiliki istri seperti dia, Van!" ucap mama Rose.
Evan tidak memberikan reaksi. Pria itu masih menatap layar laptopnya. Sampai akhirnya, Rania keluar dari kamar sang anak. Mama Rose menghampiri sang menantu dan berkata. "Junior sudah tidur, Nak?" tanya mama Rose.
"Sudah, Ma."
"Ya sudah, kamu sebaiknya istirahat. Sudah malam. Evan! Kamu juga cepetan istirahat. Jangan terlalu malam tidurnya." seru mama Rose sambil berkata kepada sang anak.
"Iya, Ma. Nanggung bentar lagi!" jawab Evan yang sebenarnya malas untuk pergi ke kamarnya.
Mama Rose akhirnya pergi ke kamar dan Rania pun juga pergi ke kamar. Sementara itu Evan masih menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.
Tepat pukul 10 malam. Evan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun beranjak pergi ke kamarnya. Evan membuka pintu kamar dan melihat Rania yang sedang kirim pesan dengan teman-temannya.
Evan menutup kembali pintu kamar dan meletakkan laptopnya di atas meja. Evan beranjak untuk beristirahat di sofa. Sama seperti hari kemarin dirinya tidur di sofa.
Evan melihat ekspresi wajah istrinya yang sedang senyum-senyum. Seolah gadis itu sedang mengobrol asyik dengan seseorang.
"Chattingan sama siapa dia? Kenapa senyum-senyum sendiri?" batin Evan penasaran.
Saat itu, Rania sedang mengobrol dengan teman semasa sekolahnya dulu yang sangat dibenci oleh Evan yakni Ryan.
"Hai, Ran! Nggak nyangka ya jika kamu nikah sama Evan!"
"Hmmm ini karena pesan almarhum mbak Rina,"
"Aku turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya,"
"Iya, terima kasih banyak!"
"Maaf jika aku tidak datang ke pemakaman Rina. Karena saat itu istriku sedang melahirkan. Jadi aku tidak bisa ke sana!"
"Iya, nggak apa-apa. Oh ya ngomong-mgomong anakmu cewek apa cowok?"
"Cewek!"
"Alhamdulillah, aku ikut senang!"
"Iya, terima kasih, Ran. Aku juga berdoa semoga kamu juga segera nyusul punya anak cewek,"
Rania tersenyum membaca balasan chat dari Ryan. Saat itu Ryan ditemani oleh sang istri saat mengobrol dengan Rania.
"Oh ya, Ran. Dapat salam dari istriku. Dia penasaran ingin bertemu sama kamu!"
"Waalaikum salam. Benarkah!"
"Iya tentu saja. Katanya kamu cewe yang sangar dan berbeda dari kebanyakan gadis-gadis di luar sana."
"Bisa saja istrimu, salam balik ya sama dia!"
"Oh iya tentu saja. Baiklah Ran, aku akhiri dulu ya. Salam untuk Evan. Kapan-kapan kita reuni yuk. Kangen pingin ketemu kalian semua!"
"Tentu saja, Yan."
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam."
Akhirnya percakapan mereka pun berakhir. Namun, ada seseorang dengan tatapan yang tajam sedang melihat Rania yang baru saja meletakkan ponselnya di atas meja.
"Chating sama siapa?" tanya Evan tiba-tiba.
Rania terkejut dan menjawabnya dengan dingin. Karena ia masih kesal dengan ucapan Evan kemarin.
"Dari Ryan!"
"Apa? Dari Ryan?" Evan terkejut bukan main saat Rania menyebut nama teman sekolahnya yang dulu sering pergi bersama Rania.
"Iya, oh ya tadi Ryan kirim salam sama kamu!" ucap Rania. Evan pun menjadi kesal karena dari dulu dirinya sangat tidak suka jika Rania pergi dengan Ryan yang notabenenya memiliki geng beberapa anak cowok. Dan Rania bergabung dengan mereka bersama beberapa teman cewek.
"Waalaikum salam!" jawaban Evan cukup tidak enak didengar dan terkesan tidak suka.
"Kok kamu jawabnya gitu sih. Kayak nggak iklhas!" seru Rania.
"Kamu ngapain chatan sama dia? Kamu masih berhubungan dengan Ryan?" tanya Evan yang mulai emosi.
"Kamu tuh kenapa sih! Aku cuma chat biasa aja. Tadi dia hubungi aku karena dia tahu kalau kita udah nikah," jawab Rania menjelaskan. Namun, penjelasan Rania tidak digubris oleh Evan.
"Halah! Alasanmu saja, kan! Supaya kamu bisa dekat lagi dengan Ryan!"
Mendengar ucapan Evan yang terkesan mendramatisir. Rania pun tak terima. "Kamu ini ngomong apa sih, Van! Nggak jelas banget!"
"Bilang saja kalau kamu masih ingin bebas pergi dengan Ryan, kan. Pasti tadi kalian ngobrol mesra!"
Rania merasa sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Ia pun berkata dengan lantang jika Evan sudah salah faham.
"Dengerin ya! Aku dan Ryan tidak membicarakan apa-apa. Lagipula dia bersama istrinya tadi. Kamu jangan gila dong! Kamu cemburu ya!" seru Rania yang sontak membuat Evan tidak bisa menjawabnya.
Pria itu tidak membalas ucapan sang istri. Justru dirinya beranjak pergi ke luar kamar. Dengan sedikit membanting pintu, Rania cukup kaget dan ia pun tidak habis pikir dengan sikap Evan.
"Huh dasar pria aneh! Bilang saja kalau cemburu ... eh beneran nggak sih dia itu cemburu?? Hhh bodo amat!" umpat gadis itu kesal sambil memukul-mukul tempat tidur.
Sementara di luar. Evan yang terlanjur emosi, ia memutuskan untuk tidur di ruang tengah.
"Sialan! Bisa-bisanya dia bilang aku cemburu. Nggak ada kata cemburu untuk gadis itu. Tapi kenapa aku marah ya! Seharusnya aku tidak peduli dia bicara dengan siapa. Dah lah bodo amat, mending tidur di sini. Malas lihat wajahnya!" gerutu Evan sambil berbaring di sofa ruang tengah.
Pria itu tidur dengan meringkuk karena tidak menggunakan selimut, hawa ruangan yang dingin membuat Evan kedinginan. Baru saja Evan memejamkan matanya. Tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara Junior yang sedang membangunkannya.
"Pa, papa bangun! Ngapain papa tidur di sini?" seru sang bocah sambil membalikkan tubuh sang papa yang sedang tidur dengan posisi meringkuk.
Evan akhirnya terbangun dan melihat putranya sedang duduk di sampingnya. "Eh Junior, kenapa kamu bangun, Nak? Seharusnya kamu tidur. Ini masih malam, besok Junior harus sekolah," seru Evan sambil mengusap rambut sang anak.
"Junior haus, Pa. Mau ambil minum eh lihat papa tidur di sini. Kenapa Papa tidur di sini nggak di kamar. Kasihan kan mama Rania sendirian. Ayo balik lagi, Pa!" ucap sang bocah sambil menarik-narik tangan sang papa.
"Eh Junior, papa sengaja tidur di sini karena ... karena gerah, iya gerah. Duh panas sekali hawanya. Jadi papa tidak bisa tidur di kamar. Di sini kan enak sejuk. Jadi, Papa bisa tidur dengan nyenyak!" alasan Evan seketika membuat bocah itu mengerutkan keningnya.
"Gerah? Hmmm ... tapi kenapa papa tidurnya kayak kedinginan gitu? Seharusnya Papa senang karena di sini udaranya dingin!"
Seketika Evan bingung harus menjawab apa. Pertanyaan sang anak selalu membuatnya harus mencari jawaban yang tepat.
"Emmm ... iya tentu saja Papa kedinginan. Karena papa kan nggak pakai selimut!"
"Ya udah, Papa minta diselimuti mama Rania saja. Pasti Papa nggak kedinginan lagi!" ucapan Junior sontak membuat Evan tersenyum paksa.
"Astaga nih anak. Bisa-bisanya berkata seperti itu!"
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuli Yuli
dblang cemburu g mau kok marah" 🤣🤣
2024-03-05
1
Nuryati Yati
mulut Evan pedes banget..
2023-12-27
1
Dina imutzzz
janggal sm peran junior..terlalu bersikap dewasa..anak 5 thn mana tau namanya pengantin baru..dan kebiasaan apa yg dilakukan pengantin baru..keknya lebih cocok junior usia 15thn
2023-12-23
4