Junior berlari ke arah sang Oma dengan wajah sedihnya. Tentu saja mama Rose terkejut melihat sang cucu datang tiba-tiba dengan memeluknya.
"Junior, ada apa, Sayang? Kenapa kamu bersedih gitu!" tanya mama Rose sambil mengusap-usap rambut sang cucu.
"Junior sedih, Oma." jawab bocah itu.
"Sedih? Sedih kenapa? Ngomong dong sama Oma!"
Mama Rose mengajak cucunya duduk di sofa. Sambil memeluk bocah itu, mama Rose berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang cucu kesayangan.
"Sekarang katakan sama Oma. Kenapa Junior bersedih? Apa mama dan papa bertengkar lagi, hmm!"
Junior menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa dong?"
"Mama dan papa tidak bertengkar, Oma. Hanya saja mereka tidak mau buatin Junior dede bayi. Junior sedih sekali," jawab bocah itu dengan lugunya.
Mama Rose tertawa kecil lalu memberikan pengertian dan dukungan untuk sang cucu. "Junior pingin dede bayi?"
"Pingin, Oma. Semua teman-teman Junior sudah punya adik. Hanya Junior saja yang nggak punya. Tapi mama dan papa nggak mau bikinin Junior dede bayi. Mereka tega sekali sama Junior huhuhu!"
Bocah itu pun akhirnya menangis di depan sang Oma. "Cup cup jangan menangis dong. Masa anak cowok menangis. Sebenarnya Oma juga ingin punya cucu lagi, biar rumah ini tambah rame. Kamu juga ada temannya. Tapi, papa dan mama kamu kan baru menikah beberapa hari. Ya pasti nggak bisa langsung jadi dede bayinya. Nunggu beberapa bulan lagi, Sayang. Kamu yang sabar ya! Nanti pasti mereka buatin Junior dede bayi," ucap mama Rose memberikan pengertian kepada sang cucu.
"Benar begitu, Oma?" ucap bocah itu mulai senang. Ia pun mengusap air matanya sendiri dengan tangan. Seolah ucapan sang Oma adalah harapan untuknya.
"Iya benar. Masa Oma bohong!"
"Tapi ... ada teman Junior yang adiknya masih di dalam perut mamanya, Oma. Katanya, adiknya masih belum lahir tapi sudah jelas dia bakalan punya adek. Junior juga lihat perut mamanya gede banget kayak ada balonnya, Oma!" sahut Junior yang seketika membuat mama Rose lagi-lagi tertawa kecil.
"Iya, itu namanya hamill. Mamanya teman Junior itu sedang hamil adeknya teman Junior dan sebentar lagi dede bayinya akan lahir," terang sang Oma.
"Oh gitu ya! Terus, mama Rania kapan kayak gitu, Oma? Hamil dedenya Junior?"
"Emmm ... mungkin satu atau dua bulan lagi. Tapi, perut mama Rania nggak langsung besar seperti itu. Harus menunggu 9 bulan baru deh dedenya Junior lahir!"
"9 bulan? Kok lama banget ya, Oma? Nggak bisa besok gitu lahirnya. Junior udah pingin banget gendong dede bayinya!" sahut Junior yang akhirnya membuat mama Rose tertawa terbahak-bahak.
"Aduh, Sayang! Kamu itu memang lucu banget sih! Ya nggak bisa gitu dong, Junior. Hamil itu butuh waktu berbulan-bulan. Nunggu dede bayi besar dulu di dalam perut mama Rania. Dulu, Oma waktu hamil papa kamu juga gitu. Menunggu 9 bulan dulu, baru deh papa kamu lahir!"
Junior manggut-manggut mendengar penjelasan dari sang Oma. Ia pun akhirnya bisa mengerti. "Oh jadi gitu ya, Oma!"
Tak berselang lama, Rania datang menghampiri sang anak yang saat itu sedang bersama mama Rose.
"Junior, kamu ada di sini, Sayang! Mama cari-cari kesana kemari ternyata kamu ada di sini!" ucap Rania sambil duduk bersama mereka.
Lantas, Junior pun mendekati Rania lalu berkata. "Ma, tadi Oma bilang kalau mama dan papa pasti buatin dede bayi untuk Junior. Tapi nggak bisa langsung soalnya mama dan papa baru saja menikah. Jadi, nanti Junior akan menunggu sampai mama hamil. Kata Oma, bulan depan udah bisa dilihat mama udah hamil atau belum. Junior berdoa semoga bulan depan mama segera hamil. Asyik, mudah-mudahan saja mama hamil beneran. Junior mau bilang papa dulu ah!"
Setelah mengatakan itu kepada Rania. Junior pun segera pergi ke kamar sang papa agar segera membuat mamanya hamil. Namun, sebelum bocah itu bertemu dengan Evan. Sang papa sudah ada di sana dan sedang mencari dirinya. Karena Evan sendiri khawatir dengan sang anak yang sedang merajuk.
"Papa, untunglah papa ada di sini. Sini deh, Pa. Papa duduk di samping mama. Junior mau ngomong sebentar," seru bocah itu sambil menarik tangan sang papa untuk duduk di samping Rania.
Evan yang melihat Rania duduk sambil menatapnya sinis, ia pun meminta untuk duduk di samping mama Rose saja.
"Papa duduk di sini saja. Sama aja, kan!" ucap Evan sambil berhenti di samping mama Rose.
"Jangan dong, Pa. Papa tuh harus duduk di samping mama Rania. Kata teman-teman jika pingin dibuatkan dede bayi, mama dan papa harus sering-sering bersama biar dede bayinya cepat jadi!" ucapan polos sang bocah tentu saja membuat mama Rose tertawa kecil. Sementara Evan dan Rania terlihat salah tingkah sambil memijit pelipis masing-masing.
Terpaksa Evan mengikuti permintaan sang anak dan akhirnya mereka duduk bersampingan. Namun, tetap saja tidak ada senyum dan sapa dari keduanya. Justru Rabia terkesan duduk dengan membelakangi Evan.
Sontak, Evan menyindir sang istri dengan berkata. "Heh! Kamu pikir aku ini kusir yang naik delman!"
Rania langsung menjawabnya sambil menoleh ke kiri. "Maksud kamu apa?"
"Ya kali kalau duduk nggak usah membelakangi suamimu. Jadi kayak kusir delman kan jadinya!" ucap Evan yang semakin membuat Rania penasaran.
"Kusir delman? kamu ini ngomong apa sih, nggak jelas!" sahut Rania yang masih duduk dengan posisi yang sama. Lantas, Evan pun mulai mendekati telinga Rania lalu membisikkan sesuatu. "Aku kusir delmannya dan kamu kudanya! Mau aku tabok lagi!" Evan tersenyum smirk setelah mengatakan hal itu.
Seketika Rania pun langsung merubah posisi duduknya sambil menggerutu. "Enak aja dibilang kuda. Dasar duda mesum!"
Mama Rose dan Junior hanya melongo melihat sikap keduanya yang tidak bisa diam. Setelah itu, Rania dan Evan pun duduk dengan tenang dan menunggu Junior berkata kepada mereka.
"Junior, kok malah diem. Cepat apa yang ingin kamu katakan, Sayang! Mama dan papa sudah siap mendengarkan. Iya kan, Pa!"
Bukan seorang Rania jika ia tidak bisa membalas perbuatan sang suami. Rania berpura-pura menggandeng tangan sang suami namun jari-jarinya tiba-tiba mencubit lengan Evan sehingga membuat pria itu meringis kesakitan.
"Aduhhh!!" Evan seketika menoleh ke arah sang yang sedang menatapnya dengan sinis. Karena benar-benar merasa sakit. Evan pun menatap tajam wajah sang istri. Rania merasa jika suaminya sedang marah. Rania pun mulai panik ketika Evan membalasnya dengan merangkul pundak Rania dengan mesra.
Kemudian Evan berbisik di telinga Rania. "Jangan coba-coba membuatku kesal. Atau aku akan membuatmu menyesal!"
Rania masih terdiam mendengar suara sang suami yang sedang mengancamnya. Hatinya benar-benar dag dig dug karena Evan begitu dekat dengannya. Selama ini dirinya tidak pernah sedekat ini dengan mantan kakak iparnya itu.
Sementara itu, Junior pun mulai berkata kepada kedua orang tuanya yang sedang berbisik-bisik.
"Baiklah, sekarang Junior mau ngomong sama mama dan papa. Mama dan papa tenang dulu dong! Dari tadi berisik sendiri, heran!"
Seketika Evan dan Rania diam saat mendengar seruan dari sang anak.
"Nah gitu dong! Kalau diem kan cakep. Junior mau ngomong sama mama dan juga papa. Junior minta maaf ya jika tadi udah maksa kalian untuk buatin dede secepatnya. Untung saja tadi ada Oma yang jelasin jika butuh waktu 9 bulan untuk hamil dede bayi. Sedangkan mama dan papa menikah baru beberapa hari saja. Jadi, mana mungkin bisa secepatnya buatin dede bayi. Tapi, tadi Oma juga bilang jika dalam waktu satu bulan lagi katanya mama Rania sudah bisa hamil. Jadi, Junior tunggu bulan depan ya berita kehamilan mama!"
Baik Evan maupun Rania mendengarkan ucapan sang bocah sambil saling melirik.
"Hehe satu bulan lagi?" sahut Rania sambil tersenyum paksa. Junior pun mengangguk cepat. Evan hanya tersenyum smirk melihat ekspresi wajah Rania.
"Iya, Ma. Satu bulan lagi. Junior akan selalu menunggu kabar jika mama beneran hamil. Mulai hari ini Junior ngga akan bobo bersama kalian lagi. Biar mama dan papa lebih cepat bikinin dede bayinya." jawab Junior yang kata-katanya bak orang dewasa.
Mama Rose mendengar ucapan sang cucu hanya bisa tersenyum kecil. Apalagi melihat wajah anak dan menantunya yang seperti sedang diinterogasi oleh polisi dan hanya bisa pasrah menuruti permintaan sang anak.
Sampai akhirnya Junior mengatakan sesuatu yang membuat Evan dan Rania menepuk jidat mereka.
"Oh ya, Pa. Satu hal lagi. Kalau bisa nanti dede bayinya dapat kembar ya, Pa. Biar Junior punya banyak teman di rumah. Kembar 2, 3 atau lima juga nggak apa-apa kok. Iya kan, Oma!"
"Betul itu, Oma sangat setuju!" sahut mama Rose dengan senang.
Seketika Evan melototkan matanya dan langsung menjawab ucapan sang anak. "Kembar lima, kamu pikir lahiran kucing! Satu aja susahnya setengah mati. Ini minta kembar lima. Yang benar aja dong, Junior! Ah kamu bikin Papa pusing aja. Ada-ada saja permintaannya!"
"Ya kali Papa kan kucing garong!" sahut sang bocah yang membuat mama Rose tertawa terbahak-bahak mendengar percakapan anak dan cucunya.
"Lah nih anak jawab aja!" sahut Evan.
Bukan cuma mama Rose, Rania pun tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Gadis itu tidak bisa lagi menahan rasa ingin tertawanya mendengar jawaban konyol sang suami.
"Ya Allah, kenapa mbak Rina memberikan suami se-ucul ini sih! Bisa-bisanya aku ketawa!" batin Rania sambil mengatur napasnya.
Evan melihat wajah sang istri yang terlihat memerah karena menahan tawa. Pria itu tampak tersenyum kecil melihatnya. "Dia bisa ketawa juga. Eh dia manis juga sih kalau senyum. Kenapa baru nyadar ya!"
Tanpa sadar Evan senyum-senyum sendiri melihat Rania yang sibuk mengusap air mata yang membasahi sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.
*
*
*
Kini, Junior tidak mau lagi tidur dengan kedua orang tuanya. Ia memberanikan diri untuk tidur di kamarnya. Berharap ia segera dibuatkan dede bayi. Namun, apa yang menjadi harapan bocah itu mungkin tidak akan terwujud. Nyatanya Evan dan Rania masih tidur terpisah meskipun dalam satu kamar.
Satu hari, dua hari bahkan sampai sebulan Junior menunggu saat-saat di mana sang mama dinyatakan hamil.
Hari ini tepat satu bulan Junior meminta kepada kedua orang tuanya agar segera dihadirkan dede bayi di perut sang mama. Namun, Junior harus dibuat kecewa lantaran Rania mengatakan jika dirinya belum hamil.
Tentu saja sang bocah berusaha untuk tetap tegar meskipun ia sudah dibuat kecewa di awal.
"Maafin mama ya, mama belum hamil, Sayang!" ucap Rania dengan wajah bersedih.
"Belum ya, Ma. Baiklah, Junior akan menunggu bulan depan. Siapa tahu mama sudah hamil!" jawab sang bocah yang masih memiliki harapan dan semangat.
Sebenarnya Rania tidak tega melihat sang anak yang sangat mengharapkan dirinya hamil. Lalu bagaimana lagi jika dirinya dan Evan tidak pernah akur bahkan keduanya setiap hari selalu saja bertengkar dan bertengkar.
Waktu berjalan semakin cepat. Satu bulan berlalu. Junior pun lagi-lagi bertanya kepada sang mama tentang kehamilan Rania. Namun, lagi-lagi Junior dibuat kecewa sampai akhirnya bocah itu jatuh sakit.
Junior sudah demam selama 3 hari. Membuat semua isi rumah panik karena demamnya tidak mau turun.
Evan pun tidak bisa bekerja dengan tenang jika teringat akan putranya yang sakit. Begitu juga dengan Rania yang selalu mendampingi Junior. Belum lagi Junior yang tidak mau makan sehingga membuat kondisi bocah itu kian kurus.
"Junior sembuh ya, Nak! Mama sedih kalau Junior sakit," ucap Rania sambil tidur di samping putra sambungnya. Junior masih diam dengan wajah yang pucat.
Mama Rose dan papa Raymond pun ikut khawatir dengan kondisi cucu mereka. Bahkan, berita tentang sakitnya Junior sampaikan terdengar di telinga ayah dan ibu Rania di kampung.
Tentu saja kedua orang tua Rania datang ke kota hanya untuk menjenguk cucu mereka yang sedang sakit. Bu Aisah dan pak Handoko datang ke rumah Evan untuk melihat cucu kesayangan mereka.
Tentu saja kedatangan bu Aisah dan pak Handoko mendapat sambutan yang hangat dari besan mereka, terutama Evan yang selalu menghormati kedua mertuanya.
"Sebenarnya Junior sakit apa, Bu?" tanya bu Aisah kepada sang besan, mama Rose.
Mama Rose yang sejatinya sudah tahu jika Junior sakit lantaran tidak juga mendapatkan sang mama hamil. Mama Rose pun menceritakan semuanya kepada bu Aisah jika anak-anak mereka tidak mau punya anak dulu. Sehingga membuat Junior menjadi kepikiran dan drop.
"Astaghfirullah, Rania. Kenapa dia tega sekali kepada Junior. Biar saya yang bicara dengan anak saya, Bu." ucap bu Aisah yang akhirnya memanggil anaknya untuk membicarakan tentang permintaan Junior.
"Sepertinya kita harus menasehati anak-anak kita, Bu. Saya juga akan bicara dengan putra saya," sahut mama Rose.
Rania dan Evan didudukan bersama dengan kedua orang tua mereka juga ada di sana. Sementara itu Junior sudah tidur sehingga sang bocah tidak akan bisa mendengar percakapan mereka.
"Kamu itu kenapa sih! Kamu tidak kasihan melihat Junior seperti itu! Ibu sudah tahu semuanya dari Bu Rose. Tega kamu ya!" ucap bu Aisah kepada putrinya.
"Maafkan Rania, Bu. Tapi Rania belum siap ...." jawab Rania sambil menunduk.
"Belum siap belum siap. Lalu siapnya kapan? Nunggu linggis ngambang? Pernikahan kalian sudah sah secara agama dan hukum. Apa susahnya sih nuruti permintaan Junior. Apa gunanya coba almarhum kakamu memberikan wasiat ini! Jika bukan karena dia ingin kamu membahagiakan Junior. Ya Allah, Rania. Coba hilangkan egomu, Nak. Ibu mengerti bagaimana perasaanmu kepada Nak Evan. Tapi, pikirkan lagi tentang Junior sebelum kamu menyesal!"
Ucapan sang ibu seperti sebuah medan magnet yang besar untuk Rania. Gadis itu meminta maaf kepada kedua orang tuanya jika sudah membuat mereka bersedih.
Begitu juga dengan Evan. Ia pun mendapatkan sesuatu yang benar-benar membuat hatinya tergugah untuk membahagiakan putranya dari almarhum sang istri pertama.
"Junior sangat menyayangi kalian! Junior hanya ingin bertemu dengan almarhumah Rina dan bilang jika kalian sudah membahagiakan nya. Lalu, kalian menolaknya? Coba bayangkan bagaimana perasaan Junior saat ini. Sampai tubuhnya tidak kuat dan akhirnya dia sakit. Singkirkan keegoisan kalian. Cobalah berdamai dengan waktu. Dulu kalian boleh bermusuhan tapi sekarang? Kalian adalah pasangan suami istri. Seharusnya kalian saling berdampingan untuk membahagiakan Junior."
Kata-kata mama Rose terasa begitu nyes di hati Evan.
Setelah keduanya mendapatkan ceramah dari orang tua masing-masing. Akhirnya baik Evan maupun Rania memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Meskipun mereka harus sekuat tenaga untuk menghilangkan egoisme mereka masing-masing.
"Baiklah, aku akan mencoba berdamai dengan waktu dan aku akan berusaha untuk menerima Evan sebagai suamiku, semua ini aku lakukan demi Junior, tidak lebih!" Rania sedang berusaha untuk menerima kenyataan.
"Mungkin sudah saatnya aku mengatakan hal itu kepadanya. Tentang sebuah rasa yang sudah aku pendam sangat lama. Rasa yang tidak bisa pudar meskipun aku sudah menikah dengan Rina!" Evan bertekad untuk mengucapkan sebuah kalimat yang dulu belum sempat terucap dari bibirnya karena sifat cemburunya yang terlalu berlebihan kepada Rania.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
junior, cerdas utk anak umur 5 thn, nmnya juga anak millenial 🥰
2025-03-07
1
Yuli Yuli
perutku sakit junior...wooo trnyata Evan dl sukanya SM Rania tah
2024-03-05
1
Iqlima Al Jazira
😀😀
2023-12-29
1