Rencana membuat dede bayi

"Iya, Ma. Bisa kan Mama buatin adek untuk Junior?" bocah itu bertanya lagi kepada Rania yang bingung harus menjawab apa.

"Emm ... gini ya, Sayang! Mama dan papa tuh sebenarnya belum siap untuk membuatkan adek untuk Junior. Karena ... karena ...."

"Karena apa, Ma?" desak bocah itu.

"Karena mama belum siap untuk punya Dede bayi sendiri. Mama masih ingin merawat dan membesarkanmu, Sayang! Jika nanti Junior punya adek. Maka kasih sayang mama dan papa akan dibagi 2, apa Junior mau?" bujuk Rania yang mencoba untuk merayu putranya.

"Ya nggak apa-apa, Ma. Junior bisa mengerti kok. Junior juga akan sayang dengan Dede nanti. Ayo dong, Ma. Buatin ya!" rengek bocah itu dengan mata yang berkaca-kaca.

Wajah melas sang bocah tentu saja membuat Rania lagi-lagi dibuat dilema. Mana mungkin dirinya bisa memberikan adik jika hubungannya dengan Evan seperti air dan minyak. Tidak akan pernah bisa bersatu meskipun dalam satu wadah.

Rania pun mencoba memberikan pengertian lagi kepada Junior agar sang bocah tidak lagi meminta dibuatkan adik. "Mama ngerti perasaan Junior. Ya udah jangan dengerin omongan teman-teman! Mereka itu sengaja membuat Junior sedih dengan bilang Junior payah karena nggak punya adek. Siapa bilang Junior payah! Meskipun tanpa punya adek, Junior tetap keren kok. Pokoknya jangan dengerin omongan teman-teman kamu ya. Sekarang Junior mandi, setelah itu Mama akan ambilkan makanan kesukaan kamu, oke Sayang!" ucap Rania yang masih belum bisa membuat putra sambil itu tersenyum.

Junior memang menuruti perintah sang mama. Namun, wajahnya masih menunjukkan kesedihan. Bocah itu segera pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan apapun. Seolah ia sangat kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Rania.

Rania melihat kepergian putra sambungnya dengan wajah bersedih. "Maafkan mama, Junior. Selama ini mama sudah berusaha mengalahkan ego demi menuruti permintaanmu. Mama berusaha berdamai dengan diri mama sendiri dengan berusaha dekat dengan papamu yang menyebalkan itu. Tapi, untuk masalah ini, mama tidak bisa melakukannya, maafkan mama!" ucap Rania lirih, ia masih berdiri di tempatnya menyaksikan kepergian Junior yang sangat membuatnya tak tega.

Tiba-tiba saja sang ibu mertua menghampiri Rania dan bertanya kepada Rania yang sedang menatap kepergian Junior yang saat itu terlihat menundukkan wajahnya, tidak seperti biasanya sang cucu yang selalu aktif dan periang. "Ada apa, Nak? Ada apa dengan Junior? Mama lihat Junior bersedih!"

Rania terkejut saat melihat kedatangan sang mama mertua. Ia pun berusaha untuk tetap tersenyum meskipun dalam hatinya ia sedang dilema.

"Mama, tidak ada apa-apa, Ma." jawab Rania.

"Tapi mama lihat, sepertinya Junior sedang bersedih. Nggak biasanya loh dia gitu!" mama Rose tampak penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Sebenarnya bukan masalah serius sih, Ma. Tadi Junior bilang di sekolah teman-temannya pada ngeledek dia. Mereka bilang Junior payah karena tidak punya adik. Jadi, tadi Junior merajuk minta dibuatin adik gitu, Ma." terang Rania sambil tersenyum paksa.

"Oh mama kira apa, ya sudah buatin aja! Apa susahnya!" ucap mama Rose yang justru membuat Rania garuk-garuk kepalanya.

"Dibuatin, Ma! Ini bukan buat kue loh, Ma. Tapi bikin bayi!"

"Lah memang kenapa? Sah sah saja kan kalau kalian punya anak lagi. Apa salahnya, Junior benar, mama juga setuju sama dia. Udah waktunya Junior punya adek," ucap mama Rose sambil tersenyum.

"Tapi masalahnya saya belum bisa, Ma."

"Belum bisa apa? Halah, gampang kok buatnya. Masa gitu aja pakai tutorial, si Evan tuh udah bisa, tuh buktinya udah ada si Junior! Minta bantuan sama dia, pasti bisa!"

Mendengar ucapan dari ibu mertuanya. Rania cuma bisa menyengir hingga akhirnya ia pura-pura ingin ke kamar mandi.

"Aduhhh kenapa bisa jadi gini. Mama mertua malah ngedukung. Kabur ah sebelum diseriusin!"

"Em ... Ma, saya ke kamar mandi dulu, kebelet pipis!" Rania pura-pura ingin buang air kecil. Nyatanya ia hanya ingin menghindari obrolan seputar Junior yang ingin adek bayi. Mama Rose pun mempersilakan sang menantu untuk pergi.

Mama Rose tampak tersenyum sumringah saat mendengar permintaan Junior yang ingin dibuatkan adek bayi.

"Hmm entahlah, aku merasa kalian berdua memang pasangan yang sudah digariskan berjodoh. Mungkin sekarang kamu masih bimbang, Ran. Tapi, mama yakin jika kalian berdua pasti akan memberikan cucu lagi untuk mama," ucap mama Rose begitu senang.

*

*

*

Malam pun tiba, Evan kembali ke rumah sekitar pukul 7 malam. Kesibukannya sebagai bos muda membuatnya lebih lama di kantor. Hari itu ia pulang disambut oleh sang istri. Seperti biasa, Rania menyambut kedatangan suaminya dengan wajah datar. Tidak ada senyum mesra meskipun ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.

Sehingga membuat Evan menyindir sang istri yang sangat susah menunjukkan senyumnya.

"Besok kita ke dokter gigi ya!" seru Evan sambil menyingsingkan lengan kemejanya.

"Untuk apa?" sahut Rania dengan tatapan matanya yang penuh tanda tanya.

"Buat periksa gigi kamu!"

"Dihhh ngapain periksa gigi aku! Gigiku baik-baik saja kok!" jawab Rania sedikit menyolot.

"Bohong!"

"Ya udah dibilangin juga!"

"Kalau gigimu tidak bermasalah kenapa kamu tidak pernah tersenyum saat menyambutku pulang kerja. Mbok ya tersenyum dikit kenapa! Jangan merengut terus, kayak aku nggak pernah kasih uang belanja aja, sepet mata lihat kamu nggak bisa senyum!" protes Evan.

"Wo iya, kah! Bukannya dari dulu kamu selalu bilang nggak bakalan suka lihat mukaku apalagi senyumku? Udah lupa ya! Atau kamu udah amnesia? Memangnya mukaku terlalu buruk sampai-sampai kamu tidak mau lihat?" sahut Rania yang mengingatkan momen di saat suaminya berkata seperti itu.

"Masa sih! Kapan aku bilang seperti itu, kapan!" Evan menatap kedua bola mata sang istri dengan tajam.

"Kamu nanya!! Oke, aku bakal ingetin kamu. Saat itu hari Selasa pagi, tanggal 27 Oktober tahun 2012 pukul 9 lewat 5 menit 45 detik masih teringat jelas di kepalaku saat kamu berbicara di depan kelas. Di hadapan semua teman-teman kamu mengejekku dan bilang jika mukaku ini tak ada cantik-cantiknya. Dan kamu juga bilang jika kamu tidak akan pernah mau melihat aku tersenyum karena menurutmu aku ini seperti cowok. Kamu juga banding-bandingkan aku dengan mbak Rina yang kalem dan jauh beda dengan aku. Aku dan mbak Rina punya sifat masing-masing meskipun kami saudara kembar. Sekarang kamu sudah ingat! Itulah kenapa sampai detik ini aku tidak mau menunjukkan senyumku padamu. Senyumku sangat mahal untuk cowok sombong seperti kamu!" ungkap Rania yang membuat Evan tidak menyangka jika sang istri masih mengingat kejadian yang terjadi sepuluh tahun silam itu di saat mereka masih menempuh pendidikan SMA.

Di saat yang bersamaan, datang Junior yang melihat Rania dan Evan sedang bersitegang. Junior berjalan mendekati keduanya dan bertanya. "Papa dan Mama kenapa? Jangan marahan lagi dong!" ucap sang bocah dengan wajah sedihnya dan hampir menangis.

Sontak keduanya pun menoleh bersamaan ke arah Junior yang terlihat begitu bersedih.

"Junior!" seru keduanya bersamaan.

Terpaksa, karena tidak ingin melihat bocah itu sampai menangis. Baik Evan maupun Rania berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Keduanya pun terlihat saling merangkul dan saling melempar senyum.

"Papa dan mama tidak sedang marahan kok. Tuh kami baik-baik saja, kan!"

"Papamu benar, Sayang! Kami berdua nggak marahan kok!" sambung Rania.

"Tapi kenapa mama dan papa kayak serius gitu? Sedang ngomongin apa sih!" tanya sang bocah yang penasaran.

Rania pun mulai mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Junior.

"Oh ... emmm ... kita berdua tuh sedang membicarakan tentang ... tentang ...!"

Di saat Rania masih berpikir jawaban apa yang tepat untuk membuat Junior percaya. Tiba-tiba saja sang bocah berkata sesuatu yang membuat keduanya membulatkan mata.

"Oh ... Junior tahu, pasti mama dan papa sedang membicarakan tentang rencana membuat dede bayi untuk Junior ya!"

Baik Evan dan Rania melongo dan saling menatap. "Hah! Rencana membuat dede bayi??" ucap keduanya bersamaan.

Evan yang masih bingung, pria itu langsung bertanya kepada sang bocah. "Maksud kamu apa, Jun? Membuat dede bayi apa!"

"Oh iya, Junior lupa kalau belum ngomong sama papa!" ucap lugu Junior.

Junior lantas mengatakan kepada sang papa jika dirinya ingin dibuatkan adek bayi karena teman-temannya di sekolah selalu meledeknya. Tentu saja permintaan sang anak tidak mungkin dikabulkan oleh Evan.

"Boleh ya, Pa. Buatin Junior dede bayi. Biar teman-teman Junior nggak ngata-ngatain lagi!" seru sang bocah dengan wajah melasnya. Sementara itu Rania masih tidak tega melihat wajah melas putra sambungnya itu.

Sang papa pun akhirnya mengajak Junior untuk duduk dan memangku bocah itu. "Sini papa bilangin. Bukannya papa nggak mau. Bikin dede bayi itu nggak gampang, Sayang! Harus ada persiapan matang, lagipula Junior kan masih kecil, masih belum pantas untuk punya adek. Nanti deh kalau Junior sudah gede dan udah ngerti, pasti bisa punya adek bayi!" ucapan sang papa rupanya semakin membuat bocah itu bersedih.

Tanpa bicara apapun, Junior langsung turun dari pangkuan sang papa dan bocah itu berlari pergi meninggalkan keduanya.

"Junior!!" panggil Evan. Pria itu terlihat mulai pusing karena permintaan sang anak. Sedangkan Rania tampak berusaha mengejar sang anak yang berlari ke arah mana Rose. Namun sebelum Rania menghampiri putra sambungnya ia berkata kepada Evan. "Junior tunggu, Sayang! Tuh kan Junior sedih lagi, ini gara-gara kamu sih!" gerutu Rania.

"Kok gara-gara aku! Aku bener kan ngomongnya! Memangnya kamu bisa memberikan dia adek bayi? Kalau bisa sana bikin sendiri. Kalau aku nggak mau ya punya anak sama kamu! Mau jadi apa nanti anakku. Setelah lahir dia pasti pusing yang mana emaknya yang mana bapaknya. Karena emak dan bapaknya nggak bisa dibedakan," ucap Evan menyindir tentang sifat tomboi istrinya.

"Dihh kamu pikir aku juga mau punya anak dari kamu? Deket-deket sama kamu aja nggak pernah terpikirkan di kepala. Bisa-bisa nanti kamu bakal menurunkan gen kesombongan pada bayiku, nggak punya perasaan dan mulutnya asal ngomong aja!" gerutu Rania yang masih sangat kesal dengan ucapan sang suami tempo hari tentang keraguan Evan mengenai ke-virginan nya.

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

seru juga, Evan terlalu frontal sih tuh mulut, blm tentu org tomboy itu gampangan, enak aja kalau bicara evan ngk di ayak dulu😁

2025-03-07

1

Yuli Yuli

Yuli Yuli

duh Evan ngmognya kok g pke filter si asal jeplak aja, tar klo Uda kna tau rasa kmu nyesel, tar JD bucin angkot tau rasa

2024-03-05

1

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

eh berantem mulu, aku yang baca aja cape, apalagk junior yang ngalamin langsung. ini manusia berdua cuma bikim mood jelek aja deh. kalau cewe cerewet agak wajar, emang kebnyakan sifatnya cewe gitu, kalau cowo yang cerewet, pasti ceretmya ga jelas kayak evan ini mulutnya kayak mulut perempuan, mulutnya ga ada manis2nya, mana mau rania jatuh cinta sama kamu yang mulut perempuan, evan.

2023-11-19

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!