Hari demi hari Evan melihat Rania yang masih dalam kondisi Moody. Sesuai janjinya, Evan akan mengajak anak dan istrinya untuk berlibur di saat dirinya menang tender. Itu Evan lakukan juga untuk menghibur sang istri.
Diam-diam Evan menatap kalender yang ada di atas meja kerjanya dan menghitung hari di mana sang istri mengalami haid untuk kali pertama.
"Dia dapet di tanggal 5, sekarang udah tanggal 15. Udah dapet 10 hari dong. Waaahhhh tinggal dikit lagi dia selesai. Dia bilang paling lama 14 hari, tapi nggak mungkinlah sampai genap selama itu. Kalau besok aku ajak berlibur 2 atau 3 hari, mungkin aku punya kesempatan untuk bulan madu di rumah mertua, di sana suasananya sangat mendukung dan dingin. Asyiiik semoga saja dikabulkan! Enak empuk-empuk dingin!" ucap Evan yang berharap sang istri selesai masa haid saat ia mengajaknya pergi ke rumah kedua orang tua Rania yang terletak di daerah pegunungan yang dingin.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja sang sekretaris datang mengetuk pintu, dan Evan pun segera mengizinkannya untuk masuk.
Sang sekretaris terkejut melihat bosnya yang sedang merenungkan sesuatu dan kelihatannya serius.
"Permisi, Pak. Saya minta tanda tangan Bapak di sini!" seru sang sekretaris sembari menyodorkan sebuah laporan kepada Evan.
"Hmm!" jawab Evan yang masih menatap kalender di depannya. Sang sekretaris tampak mengerutkan kening melihat sang bos yang sangat serius menatap kalender itu.
"Maaf, Pak? Memangnya ada apa ya dengan kalendernya? Kok Bapak serius amat lihatnya?" tanya sang sekretaris yang bernama Vini.
"Oh iya Vin, enggak ada. Aku cuma sedang menghitung," jawab Evan.
"Menghitung apa, Pak? Menghitung hari? Kayak lagunya Krisdayanti aja, Pak." seloroh sang sekretaris sambil tertawa kecil.
"Memang aku sedang menghitung hari! Oh ya, aku mau tanya sesuatu sama kamu!" seru Evan yang penasaran ingin tahu berapa lama sekretarisnya mengalami haid, apakah lama juga seperti istrinya.
"Bapak mau tanya apa?" balas Vini.
Evan pun memberanikan diri bertanya tentang apa yang belum ia mengerti dari seorang wanita. Apalagi sang istri sekarang sedang mengalami.
"Kalau boleh aku tahu. Berapa lama biasanya kamu haid? Maaf jika pertanyaanku sedikit privasi. Karena yang aku tahu dulu almarhum istriku cuma 7 hari udah suci," ucap Evan yang sedikit tidak enak bertanya itu kepada sekretarisnya.
"Oh nggak apa-apa, Pak. Saya tuh biasanya kalau haid paling lama 5 hari, nggak mesti juga sih kadang 3 atau 4 hari," jawab Vini.
"Oh, kok cepat ya cuma 5 hari paling lama," sahut Evan heran.
"Ya emang seperti itu biasanya saya, Pak. Beda lagi dengan wanita lain, setiap wanita itu punya kondisi yang beda-beda. Ada yang cuma 3 hari paling cepat, ada yang lama juga sampai 14 hari." terang Vini. Evan pun tampak menyimak dengan baik.
"Oh begitu ya! Pantesan!" sahut Evan yang akhirnya bisa mengerti. Sang sekretaris pun akhirnya menangkap kenapa sang bos tiba-tiba bertanya seperti itu, apalagi Evan terlihat sedang memperhatikan kalender
"Oh sekarang saya mengerti kenapa pak Evan tanya ini. Apa istri Bapak sedang haid dan haidnya lama?" pertanyaan Vini seketika membuat Evan tersenyum malu.
"Iya, iya begitulah!" jawabnya singkat.
"Owalah, jadi pak Evan disapih nih ceritanya. Eh bukannya kemarin bapak cerita jika bapak dan istri belum cup cup! Aduh maaf pak nggak bermaksud sok tahu!" seru Vini yang terlihat kikuk.
Evan tersenyum dan ia pun mengiyakan pertanyaan sang sekretaris. "Iya kamu benar. Kami memang belum melakukannya. Tapi di saat kami sudah berdamai dan rukun. Eh ada tamu tak diundang! Mana tamunya lama banget lagi, 14 hari loh bayangkan coba!" jawaban Evan sontak membuat Vini ikut tertawa kecil.
"Saya dulu juga gitu Pak sama suami. Kami malam pertama ya puasa dulu karena kebetulan dua hari sebelum nikah saya sedang dapet."
"Terus suami kamu gimana?"
"Ya biasa aja dia. Dia sabar nunggu sampai saya selesai," jawab Vini sambil tersenyum malu.
"Lah suamimu enak nunggu cuma 5 hari. Sedangkan aku, 14 hari!" sahut Evan.
"Iya juga sih, Pak. Eh tapi Pak. Bisa jadi istri bapak udah selesai siapa tahu aja, kan! Dia bilangnya kan paling lama 14 hari. Bisa jadi sucinya kurang dari itu. Coba Bapak tanyakan!"
"Sudah aku tanyakan. Tapi jawabannya belum!" sahut Evan dengan wajah kecewa.
"Ya ampun kasihan sekali Anda. Sabar ya, Pak. Ditunggu saja nanti juga Bapak dapat kok!" ucap Vini.
"Ya sudah sangat sabar aku ini!" Lagi-lagi sang sekretaris tertawa kecil mendengar pengakuan dari sang Bos. Baru kali ini selama bekerja sebagai sekretaris Evan. Vini melihat wajah bosnya yang sedang gelisah galau merana.
*
*
*
Sementara itu di rumah, Di saat sedang di kamar mandi, Rania sudah tidak mendapati darah haid yang keluar di pakaian dalamnya. Padahal biasanya ia paling lama 14 hari, tapi sekarang 10 hari sudah berhenti.
"Tumben udah selesai, ini kan masih hari ke sepuluh. Mungkin aku tunggu sampai besok saja hingga darahnya benar-benar berhenti dan aku bisa mandi wajib dengan segera," ucapnya sembari memeriksa dan mengecek warna bekas darah yang masih berwarna merah kekuningan. Itu pertanda jika dirinya masih belum suci dari haid.
Untuk sejenak Rania tersenyum. Mungkin berita ini akan membuat sang suami bahagia karena Evan setiap hari menanyakan tentang itu.
"Kayaknya aku diem dulu deh nunggu benar-benar suci," ucap Rania sambil membayangkan bagaimana ekspresi sang suami saat tahu jika dirinya akan selesai masa haid.
Sepulangnya dari kantor. Evan mengatakan kepada Rania dan Junior bahwa besok pagi Evan akan mengajak mereka berdua berlibur ke kampung halaman kakek nenek Junior. Yakni di rumah kedua orang tua Rania di desa.
"Waah asik besok kita ke rumah nenek!" seru Junior yang kegirangan saat sang papa mengajaknya liburan yang bertepatan dengan weekend.
Evan menatap wajah istrinya dan berkata. "Apa kamu suka jika aku ajak menginap di rumah ayah dan ibu?"
"Ya suka dong! Makasih banyak ya Sayang. Aku juga sudah lama nggak nengok rumah ayah dan ibu sejak kita menikah. Aku kangen dengan suasana di sana. Udara dinginnya dan suasananya yang sangat tenang dan sejuk!" jawab Rania yang terlihat begitu senang.
"Iya, aku juga berharap liburan kita kali ini akan membawa kesan yang indah. Setidaknya kita bisa honeymoon di sana. Pasti kamu sudah selesai, kan?" jawab Evan sambil berbisik.
Rania pun hanya tersenyum malu dan ia masih belum bisa mengatakan bahwa dirinya hampir selesai masa haid, karena saat ini ia masih belum benar-benar selesai. "Emmm berdoa saja!" jawab Rania.
"Aku berdoa semoga besok kamu sudah siap!" balas Evan sembari mencium pipi sang istri.
Benar saja, keesokan harinya Evan pun merealisasikan rencananya untuk mengajak istri dan anaknya pergi berlibur ke rumah kedua orang tua Rania. Tentu saja Rania sangat bahagia karena ia bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.
Junior pun sangat gembira, dia bisa pergi bersama kedua orang tuanya untuk berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di kampung.
Di saat mobil sudah sampai di area perkampungan yang terletak di kaki gunung. Udara dingin pun sudah terasa. Kawasan lereng gunung yang sejuk dan nyaman. Sejenak membuat Evan membayangkan jika dirinya dan sang istri sedang berduaan. Apalagi Evan melihat banyak villa yang dibangun di sana.
"Bagus ya Villanya." seru Rania sambil menunjuk ke arah sebuah villa mewah di pinggir jalan.
"Hmm sepertinya cocok untuk kita," jawab Evan yang sontak membuat Rania menoleh.
"Cocok untuk kita maksudnya?"
"Hmm, Villa itu cocok untuk pasangan pengantin baru. Apalagi dengan hawanya yang dingin sangat mendukung untuk berkembang biak!"
Jawaban Evan yang konyol tanpa sengaja didengar oleh sang anak. Junior menoleh ke arah sang papa yang sedang berbicara sambil melihat Villa-villa yang berjejer di sepanjang jalan.
"Apanya yang berkembang biak, Pa?" pertanyaan Junior seketika membuat Rania mencubit lengan suaminya.
"Kamu ngomongnya hati-hati dong! Didengar Junior tuh!" bisik Rania di telinga sang suami. Seketika Evan cengar-cengir sambil garuk-garuk kepalanya saat sang anak menatap dirinya.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuli Yuli
Evan msok gt dtnyain SM skrtarianya🥰🥰 yg brkembang biak kecebong junior🤣🤣
2024-03-05
0
Bzaa
anak kecil memang kritis, 😆
2023-12-16
0
Rahmi Miraie
belum saatnya kamu tau jun..itu papa kmu kalau ngomong suka ga liat sikon😂
2023-11-22
3