Makan ular

Evan harus benar-benar bersabar. Di hari ketiga istrinya menstruasi, ia pun semakin dibuat pusing karena Rania selalu tidur dengan memeluknya. Bagaimana Evan bisa tidur dengan nyenyak jika kaki Rania menindih tubuh sang suami dalam ketidak sadarannya.

"Aduhhh! Kenapa kakinya harus ada di situ sih!" batin Evan sambil melihat ke arah kaki sang istri yang tepat berada di atas pahanya.

Rania tak sadar jika dirinya sudah membuat sang suami cenat cenut. Karena merasa tidak nyaman. Evan mencoba menurunkan kaki sang istri dengan pelan-pelan, agar Rania tidak sampai terbangun.

Dengan sangat pelan sekali. Evan mengangkat kaki sang istri. Berharap Rania tidak bangun dan tetap tidur. Namun, tiba-tiba saja Rania bergerak dan berganti posisi dengan tidur terlentang dengan gaya yang menggoda.

Evan dibuat menelan ludahnya susah-susah lantaran posisi itu sangat membuatnya semakin panas dingin.

"Astaghfirullah astaghfirullah! Kuatkan iman hamba ya Allah. Aku harus kuat. Tapi lihat istriku tidur dengan posisi seperti ini. Rasanya pingin banget aku peluk." gumam Evan sambil mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan.

Di saat itu, baju Rania tidak sengaja tersingkap dan memperlihatkan kedua gunung yang menjulang tinggi miliknya. Gunung kembar yang pernah Evan jelajahi. Namun, Evan masih belum terlalu puas menikmatinya karena Rania keburu kedatangan tamu bulanan.

Sementara itu burung Evan yang berada di dalam sarung sudah mendesak-desak sedari tadi dan meronta-ronta ingin segera keluar dari sangkarnya. Tapi sebisa mungkin pria itu harus menahannya meskipun sebenarnya ia sangat tidak tahan untuk tidak menyentuh sang istri.

Dalam kondisi Evan yang mulai tidak tenang bak terkena putting beliung. Tiba-tiba saja Rania terbangun. Ia tampak kesakitan dengan mendekap perut bagian bawahnya.

"Aduh!" rintih Rania.

Evan langsung tersadar dari buaian nakalnya lalu mendekati sang istri dan bertanya tentang apa yang terjadi.

"Kamu kenapa?" Evan pun mulai panik.

"Perutku sakit," jawab Rania.

"Memangnya kamu makan apa sampai sakit seperti itu? Pasti kamu makan kodok ya!" seru Evan yang masih sempat-sempatnya becandain sang istri.

"Dihhh makan kodok, bukan lah! Tapi makan ular, puas!" sahut Rania yang menjawab kekonyolan suaminya.

"Eh makan ular? Aku juga mau dong ularku dimakan sama kamu!"

"Ihhh Evan apa-apaan sih! Jail banget!" sahut Rania.

Evan terkekeh dan ia pun kembali serius.

"Iya iya maaf, Sayang. Becyanda! Lah terus kamu makan apa dong sampai perut mu mules gitu?"

"Aku tidak makan apa-apa. Ini sudah biasa saat aku datang bulan, pasti aku mengalami nyeri seperti ini!" jawab Rania apa adanya.

Evan pun merangkul pundak sang istri dan menenangkannya. "Apa perlu kita periksa ke dokter?"

"Tidak usah, nanti juga hilang sendiri. Tapi di saat hari-hari pertama gini memang sakit banget!" jawab Rania sambil menyandarkan kepalanya pada pundak suami.

"Sakit sekali ya!"

"Banget. Kadang aku pingin pingsan saking sakitnya." pengakuan sang istri seketika membuat Evan kasihan kepada istrinya. Pria itu mengusap rambut Rania dan mencium keningnya sekilas.

"Kenapa kamu belum tidur?" tiba-tiba Rania bertanya kepada sang suami.

"Sejak dua hari ini aku tidak bisa tidur, aku juga nggak tahu kenapa," jawab Evan.

"Kenapa? Apa di kamar ini hawanya panas? Kamu bisa kok tidur di luar!" sahut Rania sambil tertawa kecil.

"Kamu ngusir aku?" Evan spontan menatap wajah sang istri yang sedang tertawa.

"Loh, bukannya kemarin-kemarin kamu pernah tidur di luar karena di kamar gerah iya, kan! Kamu bilang sendiri tuh sama Junior, udah lupa?" Rania mengingatkan sang suami saat mereka masih sering bertengkar dulu.

Evan tertawa kecil sambil garuk-garuk kepalanya. "Hehehe iya sih! Sekarang males lah kalau tidur di luar. Nggak enak, di luar dingin!" jawab Evan.

"Di sini juga dingin kok. Kan ada penyejuk ruangannya juga,"

"Iya sih! Tapi di kamar ini kalau aku kedinginan kan ada kamu yang bisa aku peluk!" sahut Evan sambil mencubit pipi sang istri.

"Halah gombal!"

"Kok gombal, benaran. Hanya saja sekarang aku belum berani peluk kamu."

"Kenapa?" Rania mendongak menatap wajah suaminya.

"Karena percuma saja. Bisa peluk doang tapi nggak bisa masuk!"

Rania spontan mencubit pinggang suaminya karena ucapan Evan yang tentunya sudah ia fahami.

"Iya maaf, itu kan bukan kemauanku, Van. Mungkin belum rejeki kamu. Tunggu saja beberapa hari, nggak sabaran banget sih!" sahut Rania.

"Kamu tahu aku orangnya nggak bisa sabaran!" ucap Evan. Rania tersenyum sambil mencium pipi sang suami. Setelah itu ia merasakan perutnya kembali nyeri.

"Aduhhh sakit banget, Van!"

"Sakit! Aku ambilkan obat anti nyeri ya, tunggu di sini!"

Rania pun merasakan sikap dingin yang Evan tunjukkan sebelum mereka akur. Ternyata berbanding terbalik saat mereka sudah saling dekat.

"Rupanya, Evan sangat perhatian sekali. Aku sudah salah menilainya selama ini," batin Rania sembari memperhatikan sang suami yang ikut panik dengan keadaannya.

Evan khawatir dengan kondisi sang istri saat ini. Karena tak biasanya ia melihat Rania seperti itu. Gadis tomboi yang seolah tidak bisa merasakan sakit. Terlihat kuat namun sebenarnya Rania juga butuh perhatian dan sentuhan lembut dari dirinya. Evan pun turun dari tempat tidur dan segera mencari obat nyeri untuk istrinya.

Setelah Evan mendapatkan obat tersebut. Ia pun segera memberikannya kepada sang istri untuk diminum.

"Minumlah! Supaya nyerinya sedikit berkurang," titah Evan sambil memberikan segelas air putih untuk minum obat tersebut. Rania pun meminum obat anti nyeri yang diberikan oleh sang suami.

Setelah itu, Rania kembali merebahkan tubuhnya dengan selalu didampingi oleh sang suami.

"Sekarang istirahatlah! Besok, kamu jangan terlalu kecapekan. Biar Junior dijemput oleh pak supir. Aku mau kamu istirahat saja di rumah," ucap sang suami.

"Hmm iya!" jawab Rania sambil meletakkan kepalanya pada dada sang suami. Ia pun kembali memejamkan matanya untuk tidur. Untuk membuat sang istri agar tetap tenang. Evan pun mengusap perut Rania dengan lembut. Agar rasa sakit itu segera mereda.

Rania semakin membenamkan wajahnya pada dada Evan dan ia merasa nyaman saat berdiri di dalam pelukan sang suami. Keduanya pun sama-sama tertidur pulas sampai di pagi hari.

*

*

*

Tak cukup sekali dua kali saja Evan menanyakan tentang kapan Rania selesai masa haidnya. Meskipun Rania sudah mengatakannya jika ia cukup lama dalam masa menstruasi. Tapi, bagi Evan menunggu adalah sesuatu yang membosankan. Sehingga pria itu selalu bertanya berkali-kali kepada sang istri.

Evan pun harus menghadapi mood Rania yang kadang suka berubah. Terkadang Rania sedikit emosi karena wanita yang sedang mengalami haid pasti akan mengalami perubahan mood.

Sang istri yang biasanya ceria dan suka bawel. Tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang cukup pendiam bahkan sangat manja.

Apalagi saat Evan pamitan untuk berangkat kerja.

"Aku berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah, hmm!" seru Evan sambil mengusap wajah sang istri.

"Kamu pulang jam berapa?" Rania terlihat mulai manja.

"Seperti biasa, memangnya kenapa?"

"Jangan pulang malam-malam!" ucap Rania dengan suara manjanya.

"Nggak lah! Nanti sore aku akan pulang secepatnya. Kamu mau dibelikan apa kalau aku pulang? Martabak, kue, pizza atau kamu mau makan makanan kesukaanmu apa, biar aku belikan!" tawar Evan yang ingin membelikan makanan kesukaan sang istri.

"Nggak usah dibelikan apa-apa. Kamu pulang lebih awal saja aku sudah senang." jawab gadis itu sembari mencium tangan suaminya.

"Iya, tentu saja. Aku pasti pulang secepatnya untukmu. Doakan hari ini pekerjaanku lancar. Jika nanti aku dapat tender, nanti aku ajak kamu liburan bersama Junior. Biar kamu tidak bosan di rumah, hitung-hitung kita pergi honeymoon," ucap Evan dengan tersenyum.

"Aamiin, tentu saja aku selalu berdoa untuk keberhasilanmu. Aku juga berdoa supaya kamu selalu kuat menungguku."

Evan lagi-lagi tersenyum jika dirinya harus selalu bersabar menanti waktu itu tiba.

"Iya aku akan selalu bersabar meskipun setiap malam aku harus melek seperti mata ikan. Entah sampai kapan kesabaranku ini diuji ya Allah!" sahut pria itu sambil menghela nafas panjang. Rania tertawa mendengar keluhan suaminya yang tidak pernah bisa tidur nyenyak setiap malam.

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

Yuli Yuli

Yuli Yuli

imannya si kuat imronnya yg g kuat ya Van🥰🥰, AQ JD kwtir takut tar g bsa pnya keturunan inget Rania klo dtang bln smpe kyak gt

2024-03-05

0

Bzaa

Bzaa

lman mah kuat, Imin nya yg gak kuat😆

2023-12-16

1

Fitri

Fitri

kk keren 😍😍😍

2023-11-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!