Ciuman manis

Setelah beberapa jam berlalu. Rania terbangun di saat mendengar suara adzan subuh. Gadis itu sudah terbiasa bangun di saat adzan dikumandangkan. Kedua matanya mulai bergerak-gerak secara perlahan namun belum terbuka sempurna.

Ada sesuatu yang membuat gadis itu merasakan hal yang aneh. Ia merasa jika tangannya sedang menyentuh sebuah benda keras yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.

"Apa ini? Kok keras sih!" Masih dalam mode terpejam, Rania masih belum sadar jika tangannya berada tepat di atas milik sang suami yang setiap pagi selalu rutin melakukan upacara dengan hormat menghadap ke atas.

Karena penasaran Rania memijit-mijit dan merremas-rremas benda itu dengan jari-jemarinya.

"Idih apaan sih ini? Jadi geli sendiri!" gumam Rania.

Sedangkan di sisi lain, ia merasakan jika ada sesuatu yang menggerayangi kedua cup bra yang sedang dipakainya.

Bukan cuma Rania. Evan pun antara sadar dan tidak sadar. Ia merasakan jika sedang menyentuh benda yang kenyal-kenyal bak jelly.

"Apa ini! Kok kenyal-kenyal!" dalam pikiran alam bawah sadarnya yang masih lima puluh persen. Evan juga tampak sedang memijit-mijit benda yang seperti jelly itu.

Seketika Rania dan Evan yang akhirnya sadar. Mereka membuka mata dan melihat wajah masing-masing dengan posisi saling berhadapan. Untuk sejenak tangan mereka sama-sama berhenti dan merasakan sesuatu yang juga berhenti.

Selang beberapa detik. Kembali tangan keduanya memijit-mijit lagi hingga akhirnya keduanya sama-sama sadar jika tangan keduanya sedang saling menyentuh milik masing-masing.

"Huwaaaaa!!!"

Teriakan Rania di pagi buta itu sontak membuat Junior terbangun. Keduanya sama-sama melepaskan tangan mereka dan sedikit menjauh.

"He ... he ... bisa diam nggak sih! Ngapain kamu teriak-teriak! Berisik!" seru Evan sambil menutupi bagian tubuh bawahnya yang masih melakukan upacara di pagi hari.

"Hiiihh pergi kamu! Ngapain kamu sentuh-sentuh aku! Kamu kurang ajar sekali. Dasar pria mesum!" seru Rania sambil mendekap kedua buah semangka miliknya.

"Kamu ini ngomong apa sih! Siapa juga yang menyentuh kamu. Kamu yang sudah berani pegang-pegang aku. Ngaku nggak! Jadi kebangun, kan!"

"Halah masa bodo! Kamu yang sudah berani pegang-pegang dadaku. Ngaku nggak! Kurang ajar sekali. Hiiii aku benci kamu, benci!" Rania tampak memukuli Evan dengan bantal. Di atas ranjang tidur itu bukannya mereka sedang bermesraan. Namun keduanya sedang bertengkar.

Anehnya, Evan tidak membalasnya. Pria itu pasrah saat Rania memukulinya dengan bantal.

"Eh eh, berhenti! Aku nggak terima. Ini kdrt namanya. Aku nggak ngapa-ngapain kok dibilang megang-megang!"

"Iya, kalau bukan kamu siapa lagi? Setan! Dasar kamu cari-cari kesempatan, huuuuhhh rasain!" Rania terus memukuli sang suami dengan bantal.

Junior yang terbangun karena suara ribut dari pertengkaran mereka. Bocah kecil itu menjadi bersedih saat melihat sang papa dan mamanya yang sedang bertengkar.

"Kenapa mereka bertengkar sih! Jadi sedih lihatnya!" ucap Junior dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Evan dan Rania tidak memperhatikan Junior yang sedang melihat mereka bertengkar. Sampai akhirnya, Junior menangis keras melihat pertengkaran kedua orang tuanya.

"Huwaaaaa!"

Sontak Rania menghentikan pukulannya dan menoleh ke arah Junior yang sedang menangis. Pun sama, Evan pun terkejut saat mendengar putranya tiba-tiba menangis.

"Ya ampun Junior, kamu kenapa, Sayang! Kenapa kamu menangis!" seru Rania sambil menghampiri putra sambungnya itu.

"Kenapa Mama dan Papa bertengkar? Junior jadi sedih!" jawab bocah itu sambil menangis sesenggukan. Baik Evan dan Rania saling menatap seolah keduanya saling menyalahkan.

"Ini semua gara-gara kamu!" seru Rania sambil menunjuk suaminya.

"Kok aku sih! Ya kamu lah!" sahut Evan tak terima.

"Ihh kamu tuh dibilangin keras kepala sekali. Jelas-jelas kamu yang salah!"

Rania yang tak mau kalah dia selalu saja bisa membalas ucapan dari Evan. Karena dirinya sendiri merasa tidak melakukan apapun kepada sang suami.

Melihat itu, Junior semakin keras menangis sehingga membuat keduanya semakin panik.

"Aduh Junior, Sayang! Diem dong, Nak. Jangan nangis lagi!" Rania selalu berusaha untuk membuat bocah itu diam. Namun kali ini rasanya Rania akan sedikit kesusahan untuk menenangkan Junior yang terlanjur menangis.

"Junior sedih. Kalau seperti ini lebih baik Junior ikut mama ke surga saja daripada lihat mama Rania dan Papa bertengkar terus!" ucapan bocah itu seketika membuat Rania dan Evan terpaksa harus saling mengalah.

"Junior jangan bilang gitu dong! Mama sayang sekali sama kamu, Nak. Mama sudah cukup kehilangan mama kamu, sekarang Mama tidak ingin kehilangan orang yang mama sayangi lagi. Mama tidak mau!" Rania terlihat begitu bersedih sang bocah berkata seperti itu.

Evan pun juga tidak suka jika Junior berkata demikian. "Jangan bicara seperti itu, Jun. Jika kamu ikut sama mamamu ke surga. Terus siapa yang menemani Papa? Papa pasti sendirian dan kesepian. Papa bisa gila jika kamu juga pergi!"

"Ya udah. Kalau begitu mama dan papa baikan dong! Jangan bertengkar lagi kayak anak kecil!" sahut sang bocah yang seketika membuat keduanya membulatkan matanya.

"Hah, baikan?" seru keduanya berbarengan.

"Iya, kalau Mama dan Papa tidak berbaikan. Maka junior akan berdoa kepada Allah supaya lebih cepat dipertemukan dengan mama di surga. Biar Junior nggak bisa lihat Mama Rania dan Papa bertengkar terus!"

Ucapan polos sang bocah ibarat sebuah magnet besar yang menarik Evan dan Rania harus berpura-pura baik di hadapan Junior.

"Emm iya deh, Mama akan baikan dengan Papa. Iya kan, Pa!" seru Rania sambil menghampiri sang suami dan pura-pura memeluknya. Bukan hanya memeluk, Rania juga memberikan cubitan kecil di pinggang Evan agar pria itu mengikuti sandiwaranya dengan memberikan kode cubitan.

"Aduhhh nggak usah dicubit segala dong! Iya aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan!" balas Evan dengan suara berbisik.

Evan pun mulai melakukan sandiwaranya di depan Junior. Untuk lebih meyakinkan Junior, Evan merangkul pundak sang istri dan sesekali tersenyum kepada Rania.

"Oh tentu saja kita sudah baikan. Tadi Mama dan Papa cuma bercanda. Kami sedang latihan untuk lomba tujuh belasan nanti. Iya kan, Sayang!" sambung Evan sambil tertawa mesra di hadapan Rania. Sedangkan gadis itu tampak menyengir sambil membatin. "Eh pede banget dia panggil aku Sayang! Huh, kalau bukan karena Junior, ogah aku peluk-peluk dia,"

Junior pun akhirnya bisa tersenyum melihat kedua orang tuanya yang juga sedang tersenyum. Namun, Junior masih belum puas jika belum melihat sang papa dan mamanya berciuman.

"Tuh kan, kami berdua baik-baik saja dan tidak bertengkar. Ya sudah, Papa mau ke kamar dulu. Papa mau sholat subuh!" Evan tampak merangkul pundak sang istri dan seolah-olah keduanya saling akrab.

Evan yang pamit untuk kembali ke kamarnya. Namun, tiba-tiba saja Junior melarang sang papa pergi. Karena Junior ingin sekali melihat papa dan mamanya berciuman.

"Papa, tunggu dulu dong!"

"Apa lagi, Jun!" Evan berhenti di tengah pintu saat Junior memanggilnya lagi.

"Papa nggak mencium mama dulu? Ayo dicium dong, Pa. Setelah papa mencium mama, maka Junior percaya jika Papa memang sudah baikan dengan Mama!"

Lagi-lagi permintaan di luar nurul Junior. Membuat Rania dan Evan saling menatap.

"What? Mencium gadis bar-bar itu. Bisa-bisa bukannya dicium tapi bibirku bisa berdarah karena ulahnya. Emangnya dia bisa teknik mencium dengan baik dan benar! Bullshit! Itu tidak mungkin!" batin Evan dengan tersenyum smirk.

Sementara itu, Rania juga komat-kamit dalam hatinya lantaran harus melakukan adegan yang sangat di bencinya. Yakni adegan berciuman.

"Aduhhh! Bisa-bisanya Junior minta itu? Dicium sama pria seperti Evan. Rasanya aku mau bersembunyi di kutub Utara saja dan nggak usah ketemu lagi dengan pria menyebalkan seperti dia!"

Keduanya sama-sama berbicara dalam hati. Sedangkan Junior tampak menangis karena Evan dan Rania tidak juga melakukan keinginannya.

"Huwaaaaa!"

Evan dan Rania yang mengerti arti tangisan Junior. Mereka berdua pun langsung saling berhadapan dan bersiap untuk melakukan keinginan sang anak.

"Oke oke. Papa akan mencium mama. Tapi Junior berhenti nangis ya. Jangan nangis lagi, oke!" seru Evan sambil menatap wajah Rania.

Rania yang kelihatan gugup. Gadis itu tampak menatap kedua bola mata Evan dengan tajam.

Junior pun berhenti menangis dan melihat sang papa yang sedang bersiap mencium Rania. Rania yang langsung memejamkan matanya erat-erat. Gadis itu menunggu saat-saat Evan akan menciumnya.

"Ayo cium, Pa!" seru Junior.

"Iya iya, ini sedang bersiap-siap!" sahut Evan yang mulai gugup.

"Sialan! Apa aku harus mencium gadis ini! Benar-benar mati kutu dibuat Junior. Aku nggak bisa berbuat apa-apa!"

"No no, aku nggak mau disosor sama dia ya Allah! Aduhhh gemetaran nih badan!" Rania dibuat gemetaran ketika Evan bersiap menciumnya. Hingga akhirnya Evan terpaksa memberikan ciuman di pipi untuk Rania.

"Kok menciumnya cuma di pipi sih, Pa?" protes Junior.

"Terus! Kalau bukan di pipi di mana lagi dong? Oh kamu minta Papa menciumnya di kening? Okeh tak masalah!" ucap Evan yang bersiap mendaratkan kecupannya di kening Rania.

"Astaghfirullah, muka aku diubek-ubek sama mulut dia. Idiihhh bisa-bisanya dia cium aku!" Rania semakin tidak tahan dan ingin sekali pergi dari hadapan Evan.

"Aduhhh papa payah! Bukan di kening, Pa. Tapi di bibir. Seperti papa saat mencium almarhum mama dulu. Sekarang, mamanya Junior kan udah ganti. Jadi, Papa harus mencium bibir Mama Rania dong!"

Sontak, ucapan Junior membuat keduanya saling melototkan matanya.

"Hah! Ciuman bibir!!" Keduanya sama-sama menyahuti ucapan Junior.

"Iya, Junior ingin melihat Mama dan Papa saling menyayangi dan mencintai. Ayo Pa, Cium!"

Rania tampak melototkan matanya saat Evan menatap dirinya.

"Eh, jangan melotot gitu dong! Serem sekali mukamu!" seru Evan.

"Jangan berani macam-macam!" jawab Rania dengan suara berbisik.

"Boro-boro berani macam-macam. Lihat wajahmu saja sebenarnya aku malas!"

"Bodo!"

"Udah diem! Junior sedang melihat kita. Kamu harus bisa berakting seolah-olah kita sedang berciuman, mengerti!" seru Evan sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Rania.

"Eh eh mau apa kamu!" Rania kaget karena apa yang dilakukan oleh Evan membuat tubuh mereka begitu dekat dengan kedua tangan Rania berada pada dada sang suami.

"Aduhhh lama banget. Ayo pa cepetan!" sahut Junior yang membuat keduanya semakin gugup.

"Iya iya, kamu sudah siap! Anggap saja kita sedang berciuman dengan tembok!"

Setelah mengatakan hal itu. Evan dan Rania mulai saling menyentuh bibir masing-masing. Untuk sejenak, Rania membatin sambil mencengkram erat kerah baju sang suami."Hmm bibir aku yang mungil dan masih suci. Akhirnya ternoda oleh pria seperti dia, ya Allah maafkan hamba mu ini!"

"Hmmm bisa-bisanya aku mencium bibir gadis ini. Eh tapi anget juga sih!"

Di saat yang bersamaan, sebelum Junior puas melihat kemesraan mama dan papanya. Bocah itu mendadak ingin buang air kecil.

"Aduhhh kebelet pipis!" pekik Junior sambil memegangi celananya.

Tanpa Evan dan Rania sadari, Junior langsung pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sementara itu Rania dan Evan masih dalam posisi saling berciuman.

Sampai akhirnya di detik-detik selanjutnya. Ciuman yang awalnya hanya ujung bibir yang saling bersentuhan. Entah kenapa lama-lama sentuhan itu berubah menjadi sebuah ciuman manis yang membuat keduanya secara tidak sadar terhanyut dalam suasana. Ada sebuah perasaan yang meledak-ledak dalam diri mereka yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Baik Rania maupun Evan. Keduanya saling memejamkan mata dan menikmati rasa manis di pagi hari. Ingin rasanya mengakhiri ciuman itu. Tapi nyatanya baik Evan maupun Rania sudah merasa nyaman.

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

nyosor2 an kaya soang aja 🤣

2025-03-06

1

Yuli Yuli

Yuli Yuli

nyosor trus Van🤣🤣🤣

2024-03-05

1

Nuryati Yati

Nuryati Yati

jd ketagihan ya

2023-12-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!