Situasi Berbahaya

"Oh, jadi itu penyebab kenapa peri bodoh ini mempunyai fisik yang lemah. Kasihan sekali."

"Kau kasihan padanya?"

"Tentu saja iya. Lihat saja kondisinya. Serangan sekecil itu saja mampu membuatnya menderita semalam suntuk."

Mata Xiao Hua mengerjap pelan saat dia mendengar seperti ada orang yang sedang bertengkar di sampingnya. Dia ingin sekali bangun, tapi anggota tubuhnya seperti menolak melakukan hal tersebut. Alhasil Xiao Hua hanya bisa berusaha untuk membuka kedua matanya. Ya meski pun hasilnya nihil.

"Kalau hatimu sesuci itu, kenapa tidak berpindah haluan saja menjadi bagian dari mereka?"

"Maaf, Yang Mulia. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ....

(Yang Mulia? Apa jangan-jangan yang sedang bertengkar di kamar ini adalah seorang raja? Tapi raja mana yang berkenan singgah di paviliun sesepi ini. Aneh.)

Mo Shing Wang segera membuat isyarat agar Yan Tze diam saat menyadari kalau Xiao Hua terjaga dari tidurnya. Tak mau ketahuan, dia segera mengajaknya pergi menjauh dari sana. Tidak sampai keluar sih, hanya sekadar menghilangkan diri seperti yang dia lakukan saat berkunjung ke hutan peri.

"Apa yang terjadi, Yang Mulia?" tanya Yan Tze penasaran.

"Peri lemah itu sudah bangun. Aku khawatir dia mendengar percakapan kita kalau kita tidak segera pergi," jawab Mo Shing Wang sambil terus memperhatikan Xiao Hua yang masih terbaring di ranjang.

"Lalu gunanya kita menggunakan sihir ini apa? Xiao Hua kan bisa melihat kita?"

"Setidaknya ini jauh lebih baik untuk dijadikan alasan. Diamlah!"

Semenit berlalu. Lima menit, bahkan sampai ke menit-menit yang berikutnya peri itu tak kunjung membuka mata. Hal ini membuat Mo Shing Wang merasa heran. Bukankah tadi mata Xiao Hua sudah bergerak-gerak yang menandakan kalau dirinya sudah bangun? Tapi kenapa peri itu diam saja?

(Aneh. Sesuatu terjadi kah?)

Entah atas dorongan apa, kaki Mo Shing Wang tiba-tiba seperti diarahkan agar berjalan menuju ranjang. Dia penasaran mengapa Xiao Hua tak menunjukkan pergerakan umumnya orang bangun tidur. Setelah sampai, dia segera membungkukkan badan dan menatap wajah Xiao Hua dari jarak yang tidak terlalu dekat. Dan ....

"Wajahnya pucat sekali. Dia sakit?" gumam Mo Shing Wang sedikit kaget saat mendapati wajah Xiao Hua yang pucat seperti mayat. Kembali didera rasa penasaran, dia segera menempelkan punggung tangan ke dahinya. "Hmmm, dingin."

Yan Tze memperhatikan dari kejauhan apa yang sedang dilakukan oleh raja iblis. Selama menjadi jendral, baru kali ini dirinya melihat sisi lain dari seorang Mo Shing Wang. Raja yang terkenal dengan sikap dinginnya itu tiba-tiba menunjukkan kepedulian pada seseorang yang adalah musuh klan mereka. Anggaplah ini aneh, tapi Yan Tze tak memiliki keberanian untuk memastikan.

"Peri ini sakit," ucap Mo Shing Wang sembari menatap Yan Tze. "Hari belum terlalu siang. Carikan air embun dari tujuh puluh tujuh kelopak bunga seperti yang kemarin."

"Baik, Yang Mulia!"

Xiao Hua melenguh lirih. Samar-samar, dia mulai bisa membuka mata. Tadi ketika ada benda hangat yang menempel di keningnya, tubuh Xiao Hua memberikan respon yang sedikit aneh. Rasa sakit di sekujur badan seolah mereda dengan sendirinya. Dan sekarang dorongan untuk menyentuh benda tersebut begitu kuat memaksa. Xiao Hua lalu menggerakkan tangan hendak menjangkau benda hangat tersebut.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Mo Shing Wang bingung sendiri melihat tangan Xiao Hua seperti ingin menggapainya.

"Hangat. Aku dingin," jawab Xiao Hua asal.

Ekpresi di wajah Mo Shing Wang terlihat datar sekali saat mendengar jawaban Xiao Hua. Dia lalu menatap punggung tangan yang tadi ditempelkan di kening peri ini. Mungkinkah sentuhan itu menghadirkan rasa hangat ditubuh Xiao Hua yang sedang kedinginan? Mo Shing Wang sanksi.

"Hangat," ....

"Kau ingin aku menyentuhmu seperti tadi?"

Tanpa pikir panjang Xiao Hua menganggukkan kepala. Persetan dengan identitas orang ini. Tubuhnya sedang sangat membutuhkan rasa hangat tersebut. Dia ingin.

"Apa begini sudah cukup?" tanya Mo Shing Wang sambil menempelkan tangan ke kening dan pipi Xiao Hua. Karena posisinya kurang nyaman, dia memutuskan untuk duduk di tepi ranjang.

"Hangatnya," celetuk Xiao Hua kesenangan. Rasa hangat ini seperti obat penawar yang selama ini dia cari-cari. Takut hilang, dengan cepat dia meraih tangan orang ini lalu memeluknya erat. "Hangat sekali. Rasa sakitnya jadi berkurang."

(Apa rasa hangat ini muncul karena efek api neraka yang ada di tubuhku? Makanya dia merasa hangat saat kulit kami bersentuhan. Tapi kenapa bisa seperti ini?)

Merasa kurang puas dengan rasa hangat yang mengalir ke tubuhnya, dengan gerakan yang cukup kuat Xiao Hua menarik tangan orang ini hingga membuatnya jatuh ke dalam pelukan. Setelah itu dia bergegas mengalungkan kaki ke pinggangnya dengan maksud agar orang ini tidak bisa melarikan diri.

"Xiao Hua, kau sadar tidak dengan yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya Mo Shing Wang syok sekaligus canggung. Posisi mereka sekarang cukup intim. Salah bergerak sedikit saja itu bisa menimbulkan getaran yang sangat berbahaya. Apalagi pakaian yang dikenakan oleh peri ini terhitung tipis. Situasi ini benar-benar sangat berbahaya.

"Biarkan aku memelukmu sebentar. Tubuhmu sangat hangat. Rasa sakit di badanku jadi berkurang saat kita bersentuhan seperti ini," jawab Xiao Hua tanpa menaruh rasa canggung sedikit pun. Tak puas dengan posisi itu, dia mengeratkan pelukan hingga tubuh mereka sama sekali tak berjarak. "Kau jangan diam saja. Cepat peluk aku. Jangan khawatir. Nanti aku akan membuatkan cemilan enak untukmu setelah tenagaku pulih sempurna. Ayo cepat!"

Andai saja Xiao Hua tahu siapa yang tengah dipeluknya, dijamin dirinya tak akan berani bicara seperti itu. Memeluk paksa sosok asing dan mendesaknya agar membalas pelukan, tidakkah ini sangat gila? Tentu saja. Bahkan orang yang dipeluknya pun sampai tercengang syok. Seorang wanita dengan polosnya meminta laki-laki normal untuk memeluknya dengan posisi mereka yang sangat intim sekali. Siapa yang tidak kaget coba.

"Nyaman sekali. Aku jadi mengantuk," ujar Xiao Hua sembari menggesekkan pipi di dada orang yang dipeluknya. Tak butuh waktu lama, dirinya sudah berada di alam mimpi. Xiao Hua tertidur.

"Yang Mulia, aku ....

Yan Tze seperti melihat hantu saat mendapati raja iblis sedang berbaring di atas ranjang sambil memeluk Xiao Hua. Matanya terbelalak lebar, sedang air embun yang telah susah payah dia dapatkan tumpah begitu saja di lantai ketika melihat pemandangan tersebut. Keintiman macam apa yang sedang berlangsung dihadapannya? Raja iblis ... seorang cabul kah?

"Buang jauh-jauh pikiran burukmu tentangku. Ini semua tidak seperti yang kau bayangkan!" ucap Mo Shing Wang jengkel sekali melihat cara Yan Tze menatapnya.

"Kalian ... akan bercinta kah?" tanya Yan Tze kelepasan bicara. Saking kaget melihat keintiman Xiao Hua dan raja iblis, otaknya sampai blank dan tidak bisa berpikir jernih.

Mo Shing Wang menggeretakkan gigi. "Aku akan membunuhmu setelah ini!"

***

Terpopuler

Comments

Asih Ningsih

Asih Ningsih

hati2 xiao hua entar ke bablasan loya.

2023-12-13

0

Asih Ningsih

Asih Ningsih

hajaha kmu bisa aja xiao hua

2023-12-13

0

Yunia Afida

Yunia Afida

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣raja iblis kan rajanyavsetan ya punya sisi cabulnya

2023-12-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!