Menjadi Peserta

(Dewa Fu'er di sebelah mana ya? Ramai sekali,)

Begitu sampai di istana langit, Xiao Hua tak langsung bergabung dengan para peri yang lain. Dia malah mengendap-endap sambil mencari keberadaan Dewa Fu'er.

Puk

"Waaaaaaa!"

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Xianzi cetus. Dia lalu menatap penampilan Xiao Hua dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Jangan bilang kau datang kemari karena ingin mengikuti seleksi pemilihan peri. Apa benar?"

"Me-memangnya kenapa kalau iya? Aku kan juga bagian dari alam peri. Tidak masalah bukan kalau aku mengikuti perlombaan ini?" jawab Xiao Hua terbata. Rasa gugup langsung bergelayut dihati ketika berhadapan dengan Lu Xianzi. Xiao Hua takut sekali akan dibully.

"Tidak masalah kau bilang? Hahahaha,"

Xianzi dan teman-temannya menertawakan jawaban Xiao Hua yang sangat menggelikan. Mengikuti lomba? Yang benar saja. Dengan kondisinya yang lemah akankah peri ini mampu menghadapi permainan yang telah disediakan? Rasanya mustahil sekali.

"Kenapa kalian tertawa? Ada yang lucu?"

"Xiao Hua, aku tahu kau begitu ingin menjalani kehidupan seperti kami. Akan tetapi kau harus sadar dengan kondisimu sendiri. Lemah, penyakitan, juga tak berpengetahuan. Yakin ingin melawan kami?" ejek salah satu peri dengan pongahnya.

"Iya benar. Kalau aku jadi kau, aku akan lebih memilih untuk tetap berdiam diri di Paviliun Leng. Paman Yuan pasti akan merasa malu sekali jika kau pulang dengan membawa kekalahan di awal permainan. Benar tidak teman-teman?"

"Benar sekali. Itu pasti akan sangat memalukan untuk Paman Yuan. Kasihan. Hahahaha!"

Raut wajah Xiao Hua seketika berubah mendung saat dirinya diolok-olok oleh sekelompok peri tersebut. Ingin rasanya dia menangis, tapi mati-matian dia tahan. Susah payah Xiao Hua mendapatkan ijin untuk mengikuti seleksi ini. Dia tak mau menyerah. Biarlah dirinya dijadikan bahan ejekan oleh mereka. Asal bisa bertemu dengan Dewa Fu'er, dihina pun Xiao Hua rela.

"Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Kenapa tidak berkumpul di aula?"

Seorang dewi menegur beberapa peri yang sedang bergerombol tak jauh dari pintu masuk aula langit. Saat memperhatikan wajah mereka, dia dibuat kaget oleh keberadaan Xiao Hua. Kedua alisnya nampak saling bertaut. Cukup menjelaskan akan rasa kebingungan yang muncul di dalam pikiran.

(Apa yang sedang Xiao Hua lakukan di sini? Apa mungkin dia berniat mengikuti seleksi? Ini tidak benar. Aku harus segera melapor pada raja langit!)

Belum sempat Xianzi menjawab teguran, dia sudah lebih dulu dibuat heran oleh sikap sang dewi yang langsung pergi tanpa mengatakan apa pun. Penasaran, segera dia menyusulnya menuju aula.

"Aku ikut," ucap Xiao Hua sembari berlari kecil menyusul peri-peri yang lain.

Dan tanpa diketahui oleh siapa pun, Mo Shing Wang dan Yan Tze menyaksikan bagaimana peri-peri sok suci itu membully Xiao Hua. Tadinya Yan Tze berniat membantu, tapi tak mendapat ijin dari raja iblis. Alhasil mereka hanya diam menonton sambil sesekali mengumpat ketika melihat kesombongan sekelompok peri yang membully klan mereka sendiri. Sungguh pemandangan yang sangat menjijikkan.

"Bahkan pada anggota sendiri pun mereka mampu bersikap kejam. Pantas mereka tutup mata atas apa yang dialami oleh rakyat Kerajaan Cangyuan. Cihhh!" geram Yan Tze sambil menggeretakkan gigi. Geram.

"Itulah kenapa kita dilarang menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Kita memang iblis, tapi belum tentu kita akan bersikap tega seperti mereka. Terlebih pada klan sendiri. Aku rasa hanya makhluk munafik saja yang mampu melakukannya!" sahut Mo Shing Wang tak kalah geram.

"Lalu Xiao Hua? Bukankah keputusanmu sama artinya dengan mencelakai peri itu?"

Sriinggg

Yan Tze menelan ludah saat menyadari telah salah bicara. Perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dan akibat dari kecerobohan tersebut membuat raja iblis menjadi tersinggung. Yan Tze merasa tubuhnya seperti sedang dikuliti hanya dengan menerima tatapan tajam si raja iblis. Sangat mencekam.

"Aku tidak menyentuhnya. Hanya menggunakan kebodohannya untuk menerobos masuk ke istana langit. Kau harus membedakan kedua hal tersebut, Yan Tze. Mengerti?" jelas Mo Shing Wang dingin.

"Mengerti, Yang Mulia. Aku minta maaf karena sudah lancang menuduhmu. Aku salah!" sahut Yan Tze seraya membungkukkan badan.

"Hmmmm."

Sementara itu di aula istana langit, para peri saling berbisik sambil melayangkan tatapan heran ke arah Xiao Hua. Mereka bertanya-tanya mengapa peri lemah tersebut bisa muncul di tempat seleksi akan digelar.

"Raja langit, apakah benar Xiao Hua akan mengikuti perlombaan ini?"

"Ya, Lin Yuan sudah mendapatkan ijin dariku." Raja langit menatap Xiao Hua sekilas. Dia lalu menghela napas. "Biar bagaimana pun dia adalah bagian dari alam peri. Akan sangat tidak adil jika aku tidak memberikan kesempatan untuknya ikut bergabung."

"Tetapi apa hal ini tidak akan membahayakan nyawanya? Kondisi Xiao Hua tidak sama dengan peri-peri yang lain. Aku khawatir dia akan menjadi sasaran mereka!"

"Kita pantau saja dari sini. Sekiranya mengancam nyawa, salah satu dari kalian harus segera membawanya keluar dari arena permainan. Karena dibalik kondisinya yang lemah, Xiao Hua sangatlah penting bagi alam peri. Dia ....

Perkataan raja langit terjeda ketika Dewa Fu'er melangkah masuk ke dalam aula. Sebagai dewa paling tampan yang tinggal di istana langit, sangat wajar sekali jika para peri menjadi heboh ketika melihat kehadirannya. Raja langit yang sudah terbiasa dengan kehebohan tersebut hanya diam membiarkan. Dia lalu memperhatikan ke mana arah mana pandangan Dewa Fu'er tertuju.

"Ekhmmm!"

Fu'er kaget. Segera dia memberi hormat pada raja langit kemudian menyapa dewa-dewa yang lain.

(Fyuuh, hampir saja aku ketahuan. Tapi tadi aku tidak salah lihat 'kan? Xiao Hua ... dia mengikuti seleksi ini?)

"Dewa Fu'er, dalam seleksi kali ini kemungkinan besar kita akan dibuat repot oleh satu kejadian. Mohon kewaspadaannya dalam memantau perlombaan yang akan segera dilaksanakan," ucap raja langit.

"Dibuat repot oleh suatu kejadian?" Fu'er mengerutkan kening. "Maaf, raja langit. Tapi ini maksudnya apa ya? Aku kurang paham."

"Bai He Hua ikut menjadi peserta dalam seleksi ini. Karena kondisinya berbeda dari peserta yang lain, kita semua harus extra waspada saat mengawasinya. Kau tahu siapa dia, bukan?"

"Ya, aku tahu. Baiklah, aku akan mengikuti perintah yang kau berikan. Terima kasih sudah menjelaskan."

Saat peri-peri yang lain mulai fokus pada pembagian nomor peserta, Xiao Hua dengan polosnya hanya berdiri diam sambil menatap Dewa Fu'er. Ketakutan yang tadi membayang dipikiran, seketika hilang begitu melihat sang pujaan hati datang.

"Dewa Fu'er tampan sekali. Mungkin tidak ya aku terpilih sebagai pelayannya?" gumam Xiao Hua berandai-andai sendiri. Tak lama setelah itu dia dibuat kaget oleh senggolan kuat di pinggang. Xiao Hua menoleh. "Ada apa?"

"Dewi memanggil namamu. Cepat maju ke depan dan ambil nomor pesertanya. Dasar lelet!"

"Iya-iya maaf. Tapi ... terima kasih ya sudah mengingatkan."

"Huh."

(Xiao Hua, semoga kau beruntung. Entah mengapa aku sangat ingin kau tinggal di kediamanku. Semoga kita berjodoh)

***

Terpopuler

Comments

Melia_Fu

Melia_Fu

xiao hua, emang bener2 lu ye. fokus neng

2023-12-11

0

Melia_Fu

Melia_Fu

betul raja iblis. kadang yg penampiilannya baik justru merekalah penjahat yg sebenarnya.

2023-12-11

0

Melia_Fu

Melia_Fu

dekingnya xiao hua kuat coy, jangan sombong dulu kalian

2023-12-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!